on adhd.
dari sekian banyak ujian hidup yang hadir, ini yang ternyata salah satu yang cukup sulit dibendung dan baru akhir-akhir ini aja ketemu jalan keluarnya. bayangin, sehari-hari punya mood yang sangat rendah. rasanya benci sama sekitar, benci sama diri sendiri, benci sama banyak hal.
aku punya banyak banget hal yang mau dilakuin, ideku membludak, segalanya ide hadir sahut-sahutan di kepala. tapi, dilalah, jarak tempuh antara ide dan realisasi ternyata sejauh bumi dan matahari. semuanya nggak bisa aku capai.
aku hadir di atas duri-duri "idealisme" yang aku bangun sendri. dunia di kepalaku semuanya utopis --sesederhana mau sikat gigi sebelum tidur aja, rasanya sangat utopis, berat, sulit. aku nggak bisa bergerak. percaya nggak percaya, emang nggak bisa bergerak. mau bangun dan beraktivitas aja rasanya "harus" nangis dulu sambil doa sama Allah, "Ya Allah, bantu aku buat nyelesain hal yang udah aku mulai".
rasanya, aku ngejalanin hidup selama 28 tahun secara autopilot. aku menyanggupi untuk tetap hidup karena ya memang harus hidup saja; harus sekolah, harus bersosialisasi, harus belajar yang rajin, harus baik sama orang, dan lain-lain. tentang hidup bermakna? jauh dari angan-angan. gimana mau hidup bermakna kalau aku sendiri aja bingung aku tuh kenapa?
aku selalu sadar kalau ini ada "sesuatu" tapi aku tepis begitu aja karena selain punya mood yang rendah, aku juga punya oposisinya, yaitu mood yang ceria seceria-cerianya. aku bisa nyanyi tanpa jeda dan malu, lalu tertawa bersama teman-teman tanpa rasanya punya peluh. tapi, sontak semua suasana berubah saat aku "gagal" melakukan banyak hal; gagal menyelesaikan pekerjaan, gagal ingat hal penting, gagal on track, dan kerap bikin susah orang lain.
aku habisin waktuku dari satu masa ke masa untuk menunggu; menungguh waktunya tiba dan simsalabim aku bisa jadi kayak orang lain yang bisa tepat waktu, yang nggak lupaan, yang bisa ngerawat diri dengan baik, bisa ngelakuin banyak hal dan ngga terganggu dengan eksekusinya, dan juga punya "identitas" yang ajeg terhadap dirinya.
aku selalu nunggu, jangan-jangan momen simsalabim ini hadir pas aku udah SMP, atau SMA, atau kuliah, atau pas kerja, atau pas pindah kerja?
well, semuanya nggak ada yang kejadian. sampai suatu saat rasa sebelku ke diri sendiri divalidasi oleh orang lain yang menyerangku dengan brutal; berkali-kali bilang kalau aku pelupa, timku nggak bener, timku nggak beres, dan hal-hal menyakitkan lainnya.
rasanya, semua stigma negatif ke diri sendiri langsung terinternalisasi dengan cepat. rasanya lemas bukan main. jangankan untuk percaya sama diri sendiri, buat bangun dari tempat tidur aja rasanya aku ngerasa nggak mampu. aku lupa rasanya menikmati waktu pagi karena setiap matahari muncul, seketika itu pula sekujur tubuhku gemetar. takut hadir di meeting, takut dimarahin lagi, takut dengan segala takut yang pernah ada di dunia.
perasaan itu nggak pernah hilang, bahkan sampai sekarang, sampai aku udah ngejalanin terapi kurang lebih dua tahun. tapi, momen itu lah yang jadi momen titik balikku. aku beraniin diri buat ke psikiater karena aku ngerasa kalo aku butuh ditolong. aku ngga punya ekspektasi apa-apa, aku cuma butuh ditolong.
terapi demi terapi aku jalanin; selalu nggak mudah. dulu, aku selalu ngira kalau ke psikiater itu seperti halnya kalau kita sakit demam lalu dikasih parasetamol dan sembuh. makanya, pas aku udah ngerasa "baik-baik aja", aku selalu urungkan niatku buat kembali lagi. "buat apa? toh aku udah baik-baik aja".
setelah dokterku tau kalau aku punya niat buat meneruskan studi master, dia bilang harus rajin terapi satu bulan sekali. aku dengarkan pesannya dan aku datang tiap bulan tanpa absen. ternyata, aku membaik secara signifikan. aku minum obat dengan rajin dan aku lakuin terapi-terapi yang diresepkan. sampai di suatu sesi terapi, dokterku bilang, "huda, setelah dokter lakukan asesmen panjang, yang huda alami ini adalah ADHD. ADHD yang tidak terdiagnosis saat anak-anak biasanya bawa komorbid baru dan di huda, komorbidnya adalah dysthimia, diagnosis yang selama ini diberikan ke huda".
aku nggak tau aku harus ngerespons apa, yang pasti, aku langsung nangis. ada perasaan kesal dalam diri, "kenapa ketauannya baru sekarang? aku udah capek banget begini dari dulu!". tapi juga ada perasaan, "akhirnya, aku bisa tau apa yang terjadi sama diriku dan bisa dapet treatment yang pas dan sesuai, semoga".
ADHD yang nggak terdiagnosa dari kecil ini sangat menyiksa. aku nangis karena aku kasian sama huda di waktu SD, di waktu SMP, di waktu SMA, dan di banyak fase-fase dalam hidup. rasanya, aku mau peluk huda kecil dan bilang, "nggak perlu bingung dan mengutuk diri segitunya.. memang ada yang 'beda' aja di otak kamu".
aku kasian sama huda yang hidup kayak nggak punya identitas diri; sehari-sehari cuma dihabisin buat "kepingin" jadi orang lain dengan cara berpikir yang sistematis dan terstruktur. aku udah jauh berjalan dari dunia yang abstrak. untungnya, kakiku berpijak di dunia pendidikan; di dunia yang mengharuskan aku berpegang pada struktur, tapi juga menghargai empati dan kreativitas untuk bisa terus berjalan dan berkembang.
sampai tulisan ini dibuat, aku masih rutin terapi. aku lagi mulai untuk "memulai hidup" dengan membuat peta yang cocok untuk ditempuh dengan alat-alat yang aku punya. aku nggak mau lagi kepingin jadi orang lain dan maksa diri buat lewat hutan belantara buat sampai ke tujuan. kalau bisa pakai pesawat, lewat jalan-jalan raya lainnya, kenapa harus berlagak ksatria hanya agar terlihat "sama"?
aku bisa bilang, ADHD nggak semenyenangkan dan selucu yang diberitakan media-media: yang suka nyanyi-nyanyi lagu sepotong, goyang-goyangin kaki, ngomong belibet, atau kelupaan bawa kunci rumah. ada konsekuensi logis di balik hal-hal tersebut, yaitu diri yang terus-terusan membenci karena kesulitan berfungsi.













