Kadang, aku kasian padamu, sekaligus pada diriku. Kok bisa sih kita bodoh sama-sama? Meski bedanya aku bodohnya lebih dulu daripada kamu dan sudah tersadarkan, kamu bodohnya baru sekarang-sekarang.
Padahal aku yakin kamu cukup pinter loh.
Oh, aku ya yang kasian? Yakin?
Kalau tiba-tiba muncul didepanmu dan memberitahukan segala hal yang (mungkin) kamu butuh tau, rasanya kamu nggak akan percaya begitu aja. Kan kamu pintar. Makanya pasti akan hati-hati menerima berita dari orang yang baru kamu ketahui.
Oh iya, tapi kamu juga naif. Menelan berita cuma dari satu sumber. Sama seperti mamak-mamak yang nonton tipi dan nelan beritanya mentah-mentah hanya karena kamu sering nonton stasiun TV itu. Sama seperti tante - tante yang suka ghibah dan nelan mentah-mentah ghibahan dari orang lain, cuma karena kamu satu genk dengan mereka.
Makanya aku kasian, sama diriku yang dulu.
Eh, tidak ding. Aku yang dulu nggak se-naif itu. Bukan kasian pada diriku yang dulu, bukan pula yang sekarang. Oh, iya, maksudnya kasian ke kamu. Kamu yang terlalu naif, tapi tidak cukup pintar (meski kuakui kamu punya sisi pintar)
Semoga, setelah kamu baca suratku ini, kamu bisa sedikit lebih pintar. Bukan untukku sih, tapi untuk kamu dan masa depanmu. Aku sih nggak akan untung apa-apa juga kalau kamu lebih pintar. Hidupku di masa depan belum tentu bersinggungan denganmu. Cuma kebetulan aja kita ketemu dijalan curam ini.
Bintang menutup laptopnya dan duduk didepanku. Lututnya menyentuh lututku dan ia menghela nafas.
“Aku nggak ngerti apa yang ada di pikiran kamu by. Kamu pikir ini main-main? Kamu pikir urusan pernikahan itu cuma urusan dua orang? Kamu gila by. Mereka udah mau nikah satu bulan lagi dan kamu kirim surat itu ke Razan” Bintang menghela nafas lagi. Ia terlihat seperti berpikir keras.
“Kamu dapet email itu darimana? Kok bisa ada sama kamu” Aku terpojok. Kalau Bintang tau, bisa marah besar dia. Aku tau dia selalu mendukungku untuk urusan apapun, tapi nampaknya, kali ini ia tidak setuju dengan keputusanku.
“Razan kirim ke aku, dia tanya maksud kamu kirim email gitu ke dia apa? Kamu sengaja mau bikin Razan ragu?” Bintang meninggikan suaranya kali ini. Ia benar-benar marah nampaknya. Matanya terlihat berair. Memang terlihat seperti Bintang ketika marah, sesaat setelah meninggikan suara, air matanya akan mengalir deras.
“Aku cuma nggak mau kamu disalahkan lagi By, udah cukup aku lihat sahabat aku disakiti kayak kemarin, jangan lagi kamu bikin hatimu lebih sakit dengan ngelakuin hal ini by” Bintang menangis, air matanya mengalir dengan deras. Aku cuma bisa terdiam, berharap ada waktu untuk menjelaskan semuanya.
Lima menit terdiam, tangis Bintang semakin kencang. Entah apa yang ada dipikirannya, sepertinya kebiasaan “overthink”-nya muncul lagi.