PRIDE & PREJUDICE (2005) dir. Joe Wright
NASA
styofa doing anything
DEAR READER

No title available
Alisa U Zemlji Chuda

blake kathryn
tumblr dot com
cherry valley forever

pixel skylines
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
art blog(derogatory)

PR's Tumblrdome
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor
AnasAbdin
dirt enthusiast
Sweet Seals For You, Always
i don't do bad sauce passes

titsay
seen from Ukraine
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Armenia

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Australia

seen from Netherlands

seen from Russia
seen from Romania

seen from Germany
seen from United States
@imajinarium
PRIDE & PREJUDICE (2005) dir. Joe Wright
Pride and Prejudice (2005) + tumblr posts (part 1)
Avengers Endgame Deleted Scene - Avengers honor Tony after his sacrifice.
ok universe, i’m ready to feel good things. make me feel good things.
whenever i post this it works reblog if u want to feel good things & the universe will bring u something sweet
Such A cute scene I’m dying!!
Anne with an E (2018)
I love this series so damn much
Human beings are unable to be honest with themselves about themselves. They cannot talk about themselves without embellishing. This script portrays such human beings–the kind who cannot survive without lies to make them feel they are better people than they really are… You say that you can’t understand this script at all, but that is because the human heart itself is impossible to understand.
Akira Kurosawa memoir “ Something Like an Autobiography“ (1982) about his film Roshomon (1950) via https://www.topic.com/rashomon-and-the-problem-with-truth
The Quran, verse 2:286
Source: feeqah87, via IslamicArtDB
“I want to stop running away from everything. I want to find something to run toward.”
— Hannah Harrington, Saving June (via theliteraryjournals)
Neil Gaiman on Libraries and Librarians.
“CYBER SASTRA” – ANCAMAN ATAU PELUANG?
“Puisi Cyber, Genre atau Tong Sampah” – dari segi judulnya saja, kita sudah bisa merasakan konotasi buruk terhadap Cyber-sastra tanpa perlu menghabiskan seluruh isi artikel tersebut. Kalimat pembuka tadi adalah judul artikel yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda (redaktur koran Republika) terbit tahun 2001. Dengan keras ia mengemukakan, bahwa Cyber-sastra tak lebih dari produk ‘gagal’ – yaitu karya yang mencari media lain karena gagal tertampung atau ditolak jajaran editor media sastra cetak.
Tudingan soal rendahnya kualitas Cyber-sastra juga bukan hadir tanpa alasan. Cyber sastra – yaitu aktivitas sastra yang memanfaatkan internet sebagai medianya – tumbuh bebas tanpa ‘diadili’ terlebih dulu layak tidaknya oleh para ‘hakim’ di media sastra cetak. Internet – tempat dimana orang bebas mengemukakan apapun, melakukan apapun, mengakses apapun, membuat para pelaku sastra di media ini juga sesuka hati melahirkan berbagai karya sastra. Tak adanya editor sebagai ‘penyaringan’, membuat sastra yang ditulis; baik dari segi isi maupun orisinalitas – tidak dapat ditentukan. Seperti contohnya kasus Dear Nathan, novel teenlit karya Erisca Febriani yang lahir dari situs wattpad (situs menulis daring mirip seperti blog namun dibuat dalam format buku) – begitu popular di kalangan remaja – dibaca dan diberi votes jutaan kali sampai mencuri perhatian salah satu penerbit yang kemudian menerbitkan versi cetaknya. Bahkan, novel ini sampai diangkat ke layar lebar dengan mengusung aktor-aktor papan atas. Namun ternyata, novel ini mendapat banyak kritik pedas dari para pembaca sekaligus pengguna akun goodreads (situs jaringan sosial yang mengkhususkan pada katalogisasi buku). Di kolom yang disediakan untuk ulasan buku ini, banyak ditemui pembaca yang memberi kritik dan penilaian rendah (1/5 bintang). Jika yang memberi penilaian rendah hanya satu-dua orang, hal itu disebabkan karena perbedaan selera dan takkan menjadi persoalan. Namun ternyata, tak satu dua orang yang memberikan kritik pedas baik dari segi isi (alur, tokoh, latar, kausalitas dan kelogisan cerita), format penulisan (EYD dan kesalahan penulisan), dan harga (99 ribu untuk novel yang seperti di copy-paste dari versi wattpadnya tanpa editing sama sekali) – bahkan lebih parah lagi, tak satu dua orang pula menuding bahwa karya ini adalah hasil plagiat Jingga dan Senja karya Esti Kinasih.
Tuduhan plagiat tadi tidak dianggap serius. Para penggemar karya Esti hanya bisa mengamuk sebatas di kolom komentar dan Dear Nathan masih tetap dicetak ulang dengan kesalahan penulisan yang masih bertebaran. Mungkin kasus seperti inilah yang membuat beberapa penggelut sastra – terutama para senior – geram. Hal ini membuat mereka memperlakukan Cyber sastra seperti tumbuhan liar yang musti segera dipangkas, karena dianggap tidak akan memberikan dampak apa-apa terhadap kesusastraan Indonesia.
Meskipun begitu, Cyber sastra juga punya sisi positifnya sendiri yang tak bisa dipungkiri. Cyber sastra – dimana orang bebas mengunggah karya sastranya, bebas mengeksplorasi tema karya sastra yang ditulisnya, dan dibaca dengan mudah pula oleh para pembacanya – menumpas keeksklusifan karya sastra yang selama ini dikuasai media cetak. Dengan Cyber sastra, para penulis pemula dapat memulai perjalanannya dengan mengunggah karya-karyanya dan mendapat timbal balik dari pembacanya – tidak seperti halnya mengirim ke media cetak dan kadang tidak mendapat kepastian apakah naskahnya akan diterbitkan atau ditolak, pula tidak mendapat timbal balik atas karya yang telah ditulisnya dengan susah payah. Dengan Cyber sastra, penulis dapat menghadirkan eksistensi dirinya bahkan memperluas kemungkinan karyanya dibaca oleh pembaca dari berbagai belahan dunia lain. Para pembaca juga dapat memberikan kritik secara terbuka dan langsung dapat dibaca oleh penulisnya sendiri, baik dari segi resensi menyeluruh maupun seperti kolom-kolom ulasan yang tersedia di fitur goodreads. Selain itu, Cyber sastra juga menawarkan alternatif lain dari perpustakaan yang selama ini memiliki kesan monoton.
Dampak negatif dan positif dari Cyber sastra itu seperti menempatkan kita dalam dilema. Jadi sebenarnya, apakah Cyber sastra itu sesuatu yang baik atau buruk bagi kesusastraan Indonesia? Apakah Cyber sastra ini ancaman bagi kesusastraan Indonesia? Terlepas dari fakta bahwa memang Cyber sastra tidak ada proses penyaringan layaknya media cetak, apakah karya sastra yang datang dari media internet ini lantas rendah selalu kualitasnya? Hal itu juga membuat kita harus kembali bertanya: apa sebenarnya yang menjadi penentu kualitas karya sastra?
Jawaban itu, sampai saya menulis barisan kalimat ini, belum saya dapatkan. Namun, artikel yang ditulis Fajar Setiawan Roekminto berjudul “PERLUKAH DAN MUNGKINKAH SASTRA DI INTERNET?” memberi poin-poin jelas yang sekiranya dapat menjadi jawaban dari problematika ini. Pertama, penemuan internet tidak pernah dikehendaki oleh sastra. Tuduhan bahwa tidak adanya filter di dunia cyber sastra memang sesuatu yang berlaku di internet, mengingat sifat internet yang bebas, lepas, dan tanpa batas. Kedua, sastra mempunyai otonominya sendiri yang tidak didapatkan dari disiplin ilmu lain. Menuding bahwa kualitas karya cyber sastra tidak bermutu dan murahan dianggap Fajar sebagai suatu pengkhianatan terhadap eksistensi sastra – karena menurutnya sastra tidak pernah menuntut dimana ia dilahirkan.
Sastra tidak pernah menuntut dimana ia dilahirkan – seolah menyadarkan kita bahwa kualitas kembali lagi kepada penulis sebagai induk dari suatu karya sastra; bukan persoalan medianya. Karena jika kualitas disandarkan kepada penulisnya, tak peduli medianya internet atau cetak, penulis akan berusaha memberikan karya orisinal terbaik. Lalu, alasan tidak adanya penyaringan di dunia Cyber sastra memang sesuatu yang tak terhindarkan karena itulah cara kerja dunia Cyber. Cyber sastra sendiri, sebagai dampak dari pesatnya teknologi, bukan sesuatu yang harus dan tidak mungkin ditumpas. Oleh karenanya, setiap penggiat sastra – baik penulis, pembaca, dan para kritikus, bukan saatnya untuk saling tuduh mana yang paling berkualitas, melainkan bersama-sama menjawab tantangan Cyber sastra ini.
Hal pertama yang bisa dilakukan adalah merubah paradigma kita tentang Cyber sastra – yaitu menganggapnya sebagai suatu peluang yang menjanjikan, yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan, bukan diperlakukan seperti ancaman yang mesti dilawan. Peluang Cyber sastra yang pertama adalah peluang berdiri sendirinya Cyber sastra sebagai sebuah genre – seperti yang diidamkan Donny Anggoro yaitu menjadikan Cyber sastra sebagai sastra teknologi. Masalah yang perlu dijawab adalah menemukan kekhususan Cyber sastra itu, karena kini Cyber sastra masih tidak jauh berbeda dengan sastra cetak (kontennya sama, hanya perbedaan media – tidak seperti televisi dan radio yang mempunyai kekhususan masing-masing). Selain itu, hal yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan fleksibilitas dari Cyber sastra sendiri demi menggembar-gembokan kembali sastra kepada masyarakat agar sastra kembali diminati dan dicintai – sehingga besar harapan tumbuh banyak penulis yang berkualitas, pembaca yang mempunyai kemampuan reseptif yang bagus, dan kritikus sastra yang kritis.
Cyber sastra pun mengingatkan kita kembali, bahwa kehidupan ini dinamis dan perubahan-perubahan pesat dan serba cepat yang diakibatkannya, mau tak mau, suka tak suka, mesti kita hadapi. Oleh karena itu, di jaman serba canggih ini, hendaknya kita selalu bersikap terbuka namun tetap kritis, karena hal-hal baru – bukan hanya Cyber sastra – pasti akan terus bermunculan dan menuntut kesiapan kita.***Tasya Isarina Maghfira
Menjelajahi Lorong Waktu “iaku”
Identitas buku
Judul: iaku Buku Puisi
Penulis: Ari Kpin
Penerbit: Rumput Merah
Tahun terbit: September 2018
Tebal: 112 halaman+iv
ISBN: 978-602-60309-3-1
Jika manusia butuh sembilan bulan untuk terbentuk sampai akhirnya lahir ke pangkuan ibu, ke-99 puisi iaku butuh tigabelas tahun untuk akhirnya dapat menjejakkan kakinya di pangkuan pembaca dalam satu genggaman saja. Tepatnya pada bulan September 2018 lalu iaku terbit menyapa para penikmat sastra – khususnya penikmat puisi. Tentu, tigabelas tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal bisa terjadi dalam rentang waktu tersebut, tak terkecuali gaya kepenulisan penyair.
Sebagai perbandingan, puisi “Seperti Kupu-Kupu” (2018) dan puisi “Pusara Tanpa Doa” (2005) memiliki perbedaan yang sangat terasa. Berikut penggalan kedua puisi tersebut:
sastra itu cinta
cinta itu indah
seperti kupu-kupu
selagi seperti ulat
apa masih indah?
Ya bagi sebagian
Tidak bagi sebagian lain
Ari Kpin, “Seperti Kupu-Kupu“ (2018)
Pemilihan diksi pada puisi “Seperti Kupu-kupu” sangat sederhana (cinta, ulat, indah). Analogi yang dipakai pun lumrah dan familiar bagi pembaca, sehingga makna konotasi dari puisi ini kiranya langsung dapat dipahami tanpa perlu penafsiran lebih.
separuh waktu ini untukku
karena bulan masih mawar
di cawanmu
bila hujan nanti mengebiri matahari
barulah usai sepotong musim
kulumati
Ari Kpin, “Pusara Tanpa Doa” (2005)
Pemilihan diksi pada “Pusara Tanpa Doa” (2005) memang masih sederhana (bulan, hujan, matahari, musim), namun makna konotasi pada puisi ini jelas berbeda dengan “Seperti Kupu-kupu” (2018). ‘bulan masih mawar di cawanmu’ tentu butuh penafsiran lebih daripada ‘cinta itu indah seperti kupu-kupu’. Pada “Pusara Tanpa Doa”, suatu nomina dijelaskan lagi dengan nomina, (bulan masih mawar) sementara pada “Seperti Kupu-kupu”, nomina dijelaskan dengan adjektiva (cinta itu indah) sehingga makna dari “Seperti Kupu-kupu” bisa langsung terbayang dibanding “Pusara Tanpa Doa”.
Memang, tak semua puisi Ari pada rentang tahun 2014-2018 sesederhana puisi “Seperti Kupu-kupu”. Namun jika puisi “Mengenangmu” (2008) dengan “Isyaratmu” (2017), puisi “Mencarimu” (2008) dengan “Tentang Kesepian” (2018), puisi “Struk Cinta” (2017) dengan “Dewi Remang” (2012), “Pengakuan Seorang Perempuan Kepada Perempuan Lainnya” (2018) dengan “Seri Birahi” (2010), “Pacaran” (2017) dengan “Aku Tutup Kelopak Matamu” (2012), “Opsih” (2016) dan “Sisi Gelap” (2011) dibandingkan kembali, perbedaan seperti pada puisi “Seperti Kupu-kupu” (2018) dan “Pusara Tanpa Doa” (2005) dapat dijumpai kembali.
Perbedaan diksi ini mungkin banyak dipengaruhi oleh perubahan suasana sebagai dampak dari makin majunya teknologi. Mungkin juga ini usaha penyair secara sengaja agar puisinya lebih ‘kekinian’ dan lebih dapat diterima kaum milenial. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah perbedaan ini faktor kesengajaan dari penyair atau memang faktor waktu punya pengaruh lebih?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya kita perlu meninjau kembali teori asal mula penciptaan seni, yaitu Theory of magi and religi (untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan spiritual demi kelangsungan hidup kolektif), Theory of utility (untuk pemenuhan kebutuhan praktis baik yang bersifat fungsional maupun estetis semata), dan Theory of play (hanya untuk bersenang-senang tanpa dibebani kepentingan lain). Penyair mungkin punya tendensi yang berbeda untuk setiap puisi yang ia tulis, sehingga itu berpengaruh pada puisi yang ditulisnya. Mungkin pada puisi yang memiliki diksi sederhana dengan makna konotatif yang langsung bisa ditebak maknanya, penyair ingin bersenang-senang semata. Atau bisa saja, ada maksud spiritual di sana, hanya saja dikemas dalam bentuk yang lebih sederhana. Pada intinya, maksud dari si penyair sendirilah yang paling mempengaruhi estetika puisi. Namun, maksud tersebut kiranya pasti sedikit banyaknya dipengaruhi juga oleh perkembangan zaman. Hal ini mencerminkan bahwa waktu, tak bisa dipungkiri, punya andil meskipun mungkin penyair sadar betul gaya kepenulisannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Perbedaan puisi lalu dan kini bukan hanya dari struktur, tapi secara tema yang diangkat. Puisi pada rentang tahun 2005-2012 seperti puisi “Taufik Ismail” (2011), “Rendra” (2009), “Sketsa untuk Susu Anakku” (2010), “Banaspati” (2010), “Wakil Rakyat I” (2005) syarat akan tema sosial. Sementara puisi pada rentang tahun 2013-2018 didominasi tema cinta seperti pada puisi “Tentang Rindu” (2015), “Hujan Kehilangan Basah” (2015), “Bon Senyuman” (2017), “Isyaratmu” (2017), “Hari Baru Tanpamu” (2018).
Dalam rentang waktu tigabelas tahun pun tercermin usaha penyair untuk mencoba hal baru, seperti mencampur puisi dengan sepenggal dua penggal kalimat berbahasa Sunda. Puisi campuran itu dapat ditemui pada puisi “Fragmen Nyamuk” (2018), “Aku Hanya Ingin Mengecup” (2018), dan “Kuseduh Senyummu” (2017). Puisi berbahasa Sunda ini hanya dapat ditemui pada tahun 2017-2018, artinya gaya menulis ini belum pernah dicoba pada tahun-tahun sebelumnya (setidaknya, yang terdapat pada antologi ini).
Lewat rentang waktu yang iaku habiskan hingga ia bisa sampai jadi satu kesatuan utuh, pembaca seperti disadarkan kembali bahwa puisi – dan karya sastra pada umumnya – tidak stagnan. Penyair sebagai indung dari karya sastra juga makhluk sosial yang hidup dan berubah seiring zaman, dan hal itu berakibat pula pada karya-karya yang dikandung dan dilahirkannya.
Mungkin juga, perubahan-perubahan yang terjadi selama tigabelas tahun “iaku” dikandung ini membuat “iaku” sulit ditentukan tema besarnya. Kadang meratapi kekasih, kadang mengutuk pemerintah, kadang berupa luapan keresahan. Oleh karenanya, pembaca yang berekspketasi akan membaca sepaket puisi cinta, atau ingin membaca puisi-puisi perjuangan, kiranya memadamkan dulu segala ekspektasi-ekspektasi tersebut agar dapat menikmati perjalanan waktu iaku sampai akhir.***Tasya Isarina Maghfira
It’s getting too damn much, right? You’re letting all those pressures get to you, major and minor ones, this sadness has taken over you, and it all seems absolutely unbearable now. Everything annoys you, and everyone disappoints you, people seem to be so damn ridiculous and shallow, you can’t tolerate a single word from them, they don’t understand anything, they don’t understand you. No one cares enough for you, you keep telling them you’re breaking down and they don’t seem to take it seriously, nor do they seem to even care. Nothing in this world makes you happy anymore, and it’s been like that for years now. You’re tired, you feel consumed, worn out, everything makes you sad, breaks your heart, makes you cry. You’re always crying, either when you’re in actual tears, or when you’re crying on the inside, and you know it when your chest hurts so f*cking bad. There’s nothing to live for, no one to live for. You wanna die, don’t you? But you can’t end your life, you’d just be so damn glad if you knew it’s going to end so soon. So you wait, either to die, or to be saved.
highlypoetic (via wordsnquotes)
There are some people you’ll never see again. At least, not in the same way.
Iain Thomas (via fy-perspectives)
how do people get in relationships like how does that even happen how do u get the universe to align in ur favour like that
May you be fortunate enough to have the time and energy to do what you love, after you’ve spent your time and energy doing what you’ve had to do.
Bruce Adler (via shareaquote)
Before I fall in love again 1. I want us to be friends. Which means, I want to be able to eat my favourite cheese crust pizza with you, while having cheese all over my face and even in my hair, without feeling embarrassed or concerned about it. I want to be comfortable with you, I want to be okay about being messy, irritating, embarrassing, disgusting, petty while with you. Because I will be petty when I see my ex best friend post a happy picture and I will be messy during my finals and I will be embarrassing when I meet your parents for I suck at meeting parents. I want to be okay with being the way I am and the only way to be okay is to know that you’re okay with me being things other than beautiful, graceful and composed at all times. 2. I want to be able to have long and passionate conversations with you not just about existential things but also about what went wrong in the ending of that book and how kids are affected by media and how tomato basil combination always works. I want to have conversations where we may not always have the same views but our fundamental values always fall in place. I want to talk to you about the beauty of the stars but I also want to talk to you about the disgusting mentality behind certain societal norms. 3. I want to see how consistent your actions are with your words. I don’t want to fall for love letters or poems, for sweet Instagram captions or long birthday texts, I want to fall in love with you showing up on time and keeping your promises. 4. I want to take it slow. I want our story to work out in years, not months. I want to respect time and space this time. 5. I want to make sure I am not seeking love from you for the lack of love I have for myself. I want to make sure you aren’t a void I am filling in, you are not an alternative to the things I can’t give myself. I want to make sure you are not doing the same. 6. I want to work out with my insecurities and fears from the past. I don’t want to project them on you, I don’t want to subject you to the doubts, suspicion and anger I carry from the people I have known in the past. 7. Before I fall in love again, I want to make a mattress with you. Of understanding and respect and trust. So when we fall, it doesn’t hurt.
creatingnikki (via shareaquote)