Halryannell Heyerdahl: The Abominable Mess
Oh my God. This gon’ be a very long trip down memory lane (that I somehow avoid to remember).
ORIGIN
Registrasi
Salah satu yang terkenal dari chara perdanaku di NIH ini adalah namanya yang susah, yang dikatain macem syahadat sekte sesat (cr. Tamara Winston). How did I get to pick such unspellable name, I’m not here to talk about, LOL.
Anyway, Halryannell Heyerdahl atau biasa dipanggil Ryan, sebenarnya adalah failed reborn-nya Brian X. Keith, anakku dulu waktu di IH. Hufflepuff. Ever-smiling. Kind and selfless. I wanted Halryannell to be exactly like him, terutama karena dari dulu aku udah perceived sang visu (Greyson Chance) sebagai bocah yang inosen dan tipe boy-next-door banget. Maka dengan tekad ke-newbie-an diri ini, aku pun regis Halryannell di term pertama NIH, 1795.
Background keluarga singkatnya, Halryannell lahir dari hasil incest. Bgst silsilahnya juga sulyd dijelaskan orz.
Dia punya nenek pureblood (Paulina Jose-Wellington) yang hamil di luar nikah sama seorang muggle (Felix Heyerdahl). Setelah Paulina ngelahirin Ferdinand, ayah Halryannell, Kakek Heyerdahl ini disingkirkan sama keluarga Paulina. Ferdinand juga diasingkan dan ga boleh tinggal bareng keluarga Jose-Wellington karena dia halfie. Udah gitu, Paulina dijodohin lagi sama pureblood, Alistair Avarest. Mereka nikah dan punya anak 1, Celeste Jose-Wellington Avarest, ibu Halryannell. Celeste dan Ferdinand ga tau kalau mereka punya adik/kakak. Terus mereka ga sengaja ketemu, jatuh cinta, ditentang, kabur, balik-balik dah punya bocah, disuruh pulang, bocahnya diambil, mereka disiksa sampe mati.
Halryannell akhirnya diurus sama kakeknya, Alistair. Setelah Alistair meninggal, dia diurus kakak Paulina, Hester, yang dia kira neneknya. Hester dan semua keluarga Jose-Wellington tuh love-hate relationship sama Halryannell, tapi dia seringnya diperlakukan ngga menyenangkan. Halryannell ngga tau apa-apa tentang silsilahnya sampai dia umur 12 tahun.
Basic Traits
Ryan (sebenernya aku selalu manggil Halryannell dengan “Halryannell”, bukan “Ryan” wkwk, tapi mari kita panggil Ryan aja demi kemaslahatan umat manusia) …. Jadi, Ryan basically dibekali dengan personality sbb: sweet, kind, patient, tapi kadang curigaan dan agak pemalu. Tapi, mungkin karena ada andil dari feel-ku waktu terakhir main RP as Aracheilla (IH, Slyth, emo dan pemarah), jadi waktu aku nulis Surtama tuh si Ryan tiba-tiba jadi pemarah dan violent =)) But I didn’t dig deep into it, dan nerusin basic personalities dia yang di-bold itu.
Semuanya berjalan baik-baik saja sebelum masuk Hogwarts, dan karena aku awalnya beneran pengen reborn, aku juga udah nargetin dia buat masuk Hufflepuff. But something told me to try Slytherin, ga tau kenapa??? Di IH, aku emang punya masing-masing 1 chara di tiap asrama, tapi semuanya chara cowok, kecuali Slytherin. Aku jadi kepo aja sih, gimana rasanya mainin chara cowok Slytherin. Ya udah deh, banting setir.
Ternyata pas bersosialisasi, dikit-dikit kegali sifat stubborn-nya dia, terutama waktu main sama wife-to-be Cessiyvone Flanders di Diagon Alley. Dan karena I was no pro in sniffing any Slytherin trait except them being all moody/feisty/snarky/etc., aku kuatin sifat holier-than-thou-nya Halryannell, sampai bahkan waktu selesma juga aku nekenin “Slytherin trait”-nya di sana.
Kupikir Ryan ga bakal masuk Slytherin karena post selesma yang kesannya maksa, tapi akhirnya masuk juga. Kata-kata Topi Seleksi, hebatnya, jadi salah satu batu loncatan buat aku as PM ngembangin Halryannell. It was simple yet powerful enough to keep me going:
Bukan dia tidak tahu apa yang sering dilakukan oleh bocah ini. Pembangkang, eh? Arogan? Lihat apa yang akan terjadi padamu di sekolah ini. Perjalanan masih panjang dan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Inilah kehidupan, terkadang kau sendiri tidak tahu apa yang terbaik untuk dirimu. Meski sang topi keberatan, dia akhirnya mengatakan: "SLYTHERIN!"
Whoo. I was SHOOK. Pokoknya satu paragraf dari ToSek itu mewakili perkembangan Halryannell as a whole deh. Bye.
Sifat dasar Halryannell yang terpampang di Digest awalnya adalah:
Tertutup, hati-hati, tidak banyak bicara, dan sedikit dingin. Namun, pelajaran moral yang kakeknya berikan selama sepuluh tahun tidak hilang begitu saja. Di dalam, dia adalah seorang anak yang ramah, tulus, rendah hati, serta peduli, tetapi hanya menunjukkan kepribadian ini kepada orang-orang atau saat-saat tertentu saja.
Yeah, okay. *rolls eyes*
Ya ampun kenapa esai ini terasa begitu sinis
THE JOURNEY
Truth be told, aku sebagai PM waktu itu sangat-sangat struggling nulis Halryannell, dari awal sampai akhir =)) Perjalanan penulisan dia di awal tuh sangat sulit, karena aku sama sekali merasa incapable nulis chara Slytherin. Tapi berkat bimbingan para senpai di sana, I started to flourish (I guess). Waktu itu ada CF Akbar di … mana ya? =)) Yahoo atau mIRC gitu, lupa. Terus itu jadi ajang brainstorming perkembangan chara masing-masing. Seseorang floor ide chara playboy ke CF, dan aku pun tertarik. Tentu saja itu akan jadi challenge karena aku belum pernah bikin chara cowo Slytherin apalagi cowo pleboi. Maka aku berguru sama Kak Manda dan Kak Blek, minta petuah dan playlist asik buat gali feel wkwkwk.
Halryannell ngga ujug-ujug jadi womanizer, tapi. Pada tahun pertama, kerasa banget dia tuh masih meek as a lamb, dan serbatakut buat coba apa pun. Ini dia mirroring PM-nya sih wkwk. IRP, dia sering kali nge-cover kerendahdiriannya dengan amarah dan keangkuhan. Bertahun-tahun di-abuse sama keluarganya, dikata-katain bahwa dia ga lebih dari halfblood samvah, Halryannell memendam emosinya terus-terusan sampai numpuk. Jadinya dia mudah terpantik. Dia selalu nyari waktu atau situasi buat membuktikan diri, tapi di saat bersamaan juga takut buat ngambil tantangan itu.
Contohnya, waktu di tret “ospek” Opa Hamish Fuller (HM Slytherin). Halryannell dkk diperangkap di jaring Acromantula, dan Opa Hamish ngasih dagger penyelamat mereka ke dia. Di situ sebenernya pergolakan batinnya udah mulai kerasa. Dia ngerasa conflicted: antara pede banget dan insecure abis. Ngerasa, kenapa aku yang dipilih? Apa kelebihanku dibanding yang lain? Is this even a trick to fool me into thinking that I’m somewhat valuable? Terlebih di asramanya juga kan ada keluarga tersohor kayak Sutton. Pokoknya banyak banget yang dia pikirin, sebelum akhirnya memutuskan buat nyelamatin dirinya sendiri terlebih dahulu. Dia mentingin dirinya sendiri dulu, daripada nyelamatin teman-temannya yang masing tergantung-gantung di jaring. Little did I know, this self-centrist trait would carry on.
Terus, ketika ngetret privat sama Cessi dan Angelica Dawson, sifat lainnya ke-unlock: ketika udah capek ngeladenin orang, Halryannell bisa switch mode ke smooth-talking. Di sini aku nemuin start buat ngembangin dia buat jadi pleboi seperti wacana sebelumnya. Unexpectedly bisa latihan dulu sama Cessi dan Angel wkwk.
Di samping itu, dia tetap bertahan dengan sifat inosen kekanakannya dan keramahannya, yang nanti juga akan berkembang jadi lebih sinister #heh. Dia masih suka memperlakukan orang dengan baik, kayak waktu ngerayain ulang tahun Daisy Derington secara privat. He liked to see other people happy, because of him. Despite being unconsciously selfish, dan terlepas dari insiden jaring Acromantula, menurutnya dia harus mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini tuh ditanam sama keluarganya, bahwa Halryannell ga pernah dan ga boleh jadi prioritas. Makanya dia di luar seolah selalu ngutamain orang lain, treating mereka dengan sangat-sangat baik, padahal itu semua dilakukan buat dirinya sendiri juga, supaya dia meninggalkan impresi yang baik. Supaya, orang-orang itu merasa berutang budi sama dia. And once they think they owe him one, he’ll come back to claim it.
THE AWAKENING
Pada musim dingin 1796, something snapped. Karena tugas Sejarah Sihir-nya, Halryannell jadi tahu sejarah kelam keluarganya, nasib kedua orang tuanya, dan silsilahnya. He’d awaken the monster buried within. Dia merasa tak bertempat, merasa semua orang ngga lebih dari pengkhianat, pembunuh, dan pembohong. Dia berusaha lari dari kenyataan, tapi malah berubah violent: physically and verbally. Halryannell menemukan cara buat menyalurkan kemarahannya, yaitu dengan menghancurkan/membakar sesuatu, supaya dia ga usah deal with it himself. Dan ketika dia ketahuan lagi emosional, dia ngamuk.
Kemampuannya buat smooth-talking itu berubah jadi negatif, ketika dia dengan sadar menyakiti orang dengan kata-katanya, tanpa merasa bersalah sama sekali. He developed this satisfaction to see people (esp women, lol) crumble because of what he said. He loved seeing them get hurt, and would even use it as his method of destruction. He laid out these layers of violence to avoid being seen as weak or even being seen as having emotion at all.
Beriring waktu, sebenarnya Halryannell juga sadar kalau ada beberapa cewek yang suka sama dia, and he took it to his advantage. Dia suka dengan perhatian-perhatian yang mereka kasih, soalnya dari kecil emang kurang kasih sayang #sad. But then again, he never took any of them seriously. Dia suka sama perhatian mereka, maka dia juga memperlakukan mereka dengan sangat baik, to keep the attention coming. Dia merasa superior, seolah dengan ditaksir cewek-cewek begitu, dia bisa membuktikan sesuatu. He even deemed the girls unworthy, just because they had these innocent feelings for him, hingga akhirnya dia beneran jatuh cinta.
Dari sekian crushes yang ada, cinta pertamanya tuh Marie Saint-Claire. Waktu itu Marie udah tunangan sama seorang Maitland. Jelas Halryannell merasa kerdil dan susah buat ngebuktiin kalau dirinya jauh lebih baik daripada klan besar itu. Dia ga punya pilihan selain tetap jadi temannya Marie, sambil diem-diem nyinyir dan marah-marah sendiri. Tapi akhirnya, karena sering bareng, mereka jadi saling jatuh cinta juga.
It was the happiest year of his life, ever, when they finally got together. Bahkan memorinya bareng Marie jadi pemantik patronusnya kelak. Meskipun gitu, Halryannell tetep ga bisa nurunin pride dan egonya, apalagi ketika dia dipilih jadi Prefek Slytherin. Whoo~ His pride took off, meskipun tetep ada insecurity yang nyempil. Walaupun di satu sisi bagus sih, dia jadi lebih bisa menghargai dirinya sendiri karena at least now he meant something, di sisi lain egonya dikipasin terus karena seolah dia megang segala kuasa. He wouldn’t stop playing around, sama sekali ngga mengindahkan perasaan Marie yang waktu itu udah jadi pacarnya. He kept playing the single man, selalu menghindar kalau Marie atau siapa pun udah ngungkit-ngungkit tentang hubungan mereka.
Owing everything to his family, and basically letting them own him, bikin Halryannell melihat suatu hubungan sebagai rantai pengekang. Ngga cuma romantically, tapi socially. Waktu itu dia ngga pernah benar-benar menganggap teman-temannya teman, tapi cuma alat buat mencapai tujuannya buat dilihat, diakui. Soalnya dia berpikir kalau it’s a matter of owing someone something, by being in any relationship, dan dia ga mau begitu.
Sampai akhirnya, Halryannell terlalu terlena dengan perasaan superiornya; dia ga sadar bahwa “aset-asetnya” pada melepaskan diri satu persatu. He was left by the people who paid him attention and fed his ego, dan semuanya terjadi karena kesalahannya sendiri. Ketika sadar, dia jadi mikir bahwa dia beneran ga pantes buat merasa lebih baik, buat ada di spotlight. Dia mikir bahwa emang harusnya dia diem aja melungker di pojok, ga terkenali, ga berarti. It was his fault to take all the limelight, and let it consume him.
So, he thought, why not cut all the ropes at once? Sebelum orang-orang terdekatnya beneran ninggalin, dia semacam ngusir mereka duluan, dengan cara-cara yang jahat dan nyakitin (basically physical harassment, tbh). Setelah itu, dia bener-bener ngerasa kosong dan sendirian.
Pada tahun kelima, he finally lost himself and everything he believed in. Di sini Halryannell sempet losing grip beberapa lama (dan PM juga sempet kehilangan muse nulis, LOL), sampai akhirnya pelan-pelan dia mulai bangkit lagi. He took off his rose-coloured glasses and began to reconsider his surroundings. Dia jadi lebih menghargai orang lain, mulai melihat teman-temannya sebagai teman sungguhan, bahkan saudara. Dia mencoba nurunin pride dan berdamai dengan orang-orang yang pernah disakitinya, and even treated them as equals (kudos, Carmine Russet!), meskipun ada sebagian relasi yang udah telanjur terbakar dan ga bisa disulam ulang.
THE DEPARTURE
Setelah field practice, Halryannell mulai merancang masa depannya. Dia ngga mau menetap di kediaman keluarganya, apalagi waktu Hester udah ngegadang-gadang acara perjodohan, setelah sebelumnya “ngga sengaja” ngebunuh Paulina. Semenjak kejadian itu, Halryannell udah merasa sama sekali bukan bagian dari Jose-Wellington yang udah membesarkannya, dan dia pengin hengkang. He thought he’d made too many damages, there’s no other way than to run away, far away. He was so consumed with learning manipulation (and other spells and curses), karena dia emang berusaha buat benar-benar mengamalkannya kelak.
Akhirnya, setelah kelulusan, Halryannell turned full evil when he massively Obliviated his family. Ini tuh sebenernya super god-mode ga sih, meskipun IRP juga aku ngerunutin kalau dia sebenernya udah sering praktik =)) to keep it subtle, however, aku ngga secara jelas deskrip kalau mantra Halryannell berhasil. Pokoknya dia cuma ngemantrain aja, terus pergi =))
Karmanya datang berwujud Cessiyvone Flanders, cewek yang dari dulu head over heels sama dia. Dari awal, Halryannell udah bersumpah ga bakal suka sama Cessi, tapi takdir berkata lain. Di setiap kesempatan, Cessi selalu ada, dan ga pernah benar-benar meninggalkan. Ketika Halryannell sadar kalau dia mulai suka sama Cessi, dia marahnya ga ketulungan. Mati-matian dia nyangkal, bahkan sampai main tangan waktu Cessi confront dia soal ini. Denial-nya parah abis sampai kayak kerasukan =)) In this case, he still thought himself too superior to fall for his most inferior (maafkan aq, Cessi). Tapi akhirnya, mau segimanapun ngelak, dia kalah juga.
Dia ngaku kalah dan berserah sama perasaannya di malam kepergiannya. Niatnya datang cuma buat cari ketenangan, ngakuin perasaan, terus pamit pergi, tapi tentu saja itu tidak berjalan semudah kelihatannya. Cessi freaked out karena lagi-lagi Halryannell harus pergi, tapi kali ini jauh. Mereka berantem hebat, tapi Halryannell masih egois dan nuntut Cessi buat ngerti keadaannya. Ketika Cessi ga mau nurut, he actually did something unforgiven; he Stupefy-ed her. Halryannell berniat buat Obliviate Cessi, kayak apa yang dilakukannya ke keluarganya. His selfishness was overbearing that he couldn’t even spare his loved one(s). Untungnya Cessi ga jadi kena Stupefy, dan mereka pun pergi ke Swedia bareng-bareng. TOXIC BANGET KALIAN HEH. *kemplang Ryan+Cessi*
Kenapa Swedia? Karena deket Norwegia, tanah kelahiran kakek Heyerdahl-nya. Halryannell ga mau langsung ke Norwegia, menurutnya itu bakal kayak “crossing the line”.
Ryan dan Cessi menghabiskan 2 atau 3 tahun gitu di Swedia. Di sana, mereka hidup sebagai muggle. Cessi bercocok tanam di rumah, dan Ryan kerja jadi kaki tangan seorang pengusaha muggle, Bosse Månsson. Semuanya baik-baik aja sebelum egonya lagi-lagi kesentil waktu Ryan di-confront sama Månsson karena dia melakukan kesalahan fatal di kerjaannya, plus terus-terusan nolak buat dijodohin sama anak Månsson. Ryan selalu bilang kalau he’s promised to another girl (Cessi), tapi Månsson ga mau tau soalnya ga ada “collateral”. Månsson justru ngatain Cessi cewek ga bener karena mau-maunya tinggal berdua sama Ryan tanpa jaminan apa-apa.
Ryan flipped out. Dia mantrain Månsson, dan nyaris gagal melarikan diri dari hajaran anak buah-anak buah Månsson. Sampai di rumah, dia berantem hebat sama Cessi, sampai bahkan mereka nyaris memutuskan buat jalan masing-masing aja. This event transformed him so much more than he’d care to admit: gone was his pride, as he realized that he might never be good enough for Cessi. Halryannell bener-bener hancur waktu itu, ngerasa ga punya apa-apa (karena udah unemployed) dan ga punya siapa-siapa (karena Cessi bilang mau pulang sendiri aja).
Nyariiis … aja dia balik jahat lagi, nyaris beneran ngusir Cessi dengan kata-kata menyakitkannya (yang sebenernya cuma defense mechanism), tapi untungnya takdir berkata lain. They settled all of their problems in the Scandinavian Peninsula, dan akhirnya memutuskan buat balik dulu ke rumah, ke Inggris.
THE “NEW” LIFE
Setelah insiden Bosse Månsson dan keributannya sama Cessi di Swedia, Halryannell mulai mempertanyakan prinsip-prinsipnya soal hubungan dan kepemilikan. Karena udah di Inggris, dia jadi bisa ketemu sama teman-teman lamanya, kayak Elizabeth Blanchett, Alexander Pascoe, dan Albert Collier. Dia jadi sering konsultasi, terutama sama Elizabeth.
Akhirnya, tahun berapa aku lupa, Halryannell memutuskan buat ngelamar Cessi. It was a nice proposal, tapi tetep aja pride-nya masih ada, karena bahkan dia ga berlutut ngelamarnya =)) He stood tall, handing out the ring. Hadeuh. Segitunya ya u, Yan.
Fast forward, Ryan nego-negolah ama keluarganya Cessi (yang tentu saja menentang), tapi karena tekad Yan-Cess udah bulet pengen kawin, mereka memutuskan buat nikah di kapel pribadi aja, cuma berdua, tanpa ngundang siapa-siapa. Udah deh, that struggling and toxic couple FINALLY united.
Terus, akun Halryannell kehapus. WAKAKAKAK.
THE SPAWNS
Sesungguhnya waktu akun Halryannell kehapus, aku sama sekali ga sedih (…….). Soalnya aku udah merasa tutup buku, kayak dia udah mencapai kebahagian hqq bersama pasangannya, jadi ya udah ga usah diterusin lagi. Tapi ternyata Ryan dan Cessi memutuskan buat beranak, dan lahirlah Madeleine. Aku sebenernya masih sulit membayangkan Ryan sebagai seorang bapak. Dia ngurusin diri sendiri aja masih belum bener, apalagi ngurusin bocah? Tapi waktu Maddy lahir, something blossomed in him, and he fell in love with his little girl.
Mungkin fatherhood memang setransformatif itu, soalnya Halryannell beneran jadi selfless banget. Prioritasnya sekarang adalah keluarga kecilnya, bukan dirinya sendiri lagi. Dia mencoba membangun hidup dan kariernya lagi dari awal, mengesampingkan semua idealismenya cuma supaya keluarganya bisa bertahan. Halryannell yang dari dulu ga pernah suka jadi budak korporat, memutuskan buat jadi apprentice Obliviator sebelum akhirnya jadi Obliviator di Kementrian (ini sebenernya ngga ada bukti IRP, cuma dicantumin di Student Digest Maddy aja, LOL).
Awalnya Ryan-Cessi berencana cuma punya 1 anak aja, tapi kemudian lahirlah Solitaire, ketika Ryan-Cessi lagi mesra-mesranya. They fell madly in love with each other all over again, every day, kurang-lebih kayak bapak-ibu Willoughby di film The Willoughbys, lah. Kadang emang separah itu.
Kalau waktu sama Maddy, Ryan macem all-prepared buat jadi bapak, sama Solitaire dia kelabakan. Pasalnya, dia sama sekali ngga punya sosok father figure dalam hidupnya. Mungkin ada kakeknya, tapi mereka sama-sama cuma beberapa tahun, dan karena kakeknya adalah bagian dari masa lalunya, Ryan perlahan juga mulai lupa sama kenangan-kenangan mereka. Dia juga ngga punya banyak temen cowok buat dijadikan panutan atau konsultan (elah, waktu itu Angkatan 1795 yang aktif cuma berapa coba, wkwkwk). Dia langsung merasa inadequate ngurusin anak cowok. Dia takut anaknya bakal jadi kayak dia. Makanya yang ngurus Solitaire lebih banyak Cessi, karena Halryannell lebih sering insecure =))
Seiring kedua anaknya tumbuh, situasi keluarganya sebenernya baik-baik aja. Bahagia, justru, kek ga ada konflik-konfliknya. Tapi Halryannell jatuhnya jadi macem pilih kasih; dia lebih sering ngobrol dan akrab sama Maddy, sementara Solitaire dicuekin—justru dia kayak takut kalau mau involve lebih jauh sama anak laki-lakinya. He’d do anything to protect Maddy from the evil outside world, but he’d do anything to protect Solitaire from the evil within himself. Halryannell ngga takut buat cerita ini-itu ke Maddy tentang masa lalunya, tapi dia sama sekali ga berani buat ngobrol apa pun sama Solitaire. Idk, he sees the boy as a threat and as the judge for all of his sins, ngerasa semua kesalahannya di masa lalu bakal keekspos sepenuhnya kalau dia membuka diri ke anak laki-lakinya. In short, he’s terrified of his own little boy.
Maddy and Solitaire’s lives took off, mereka masuk Hogwarts taun 1818 dan 1820 (respectively), terus mereka pun punya konflik kehidupan masing-masing. Di sisi lain, Halryannell dan Cessi juga mulai ga kerasan sama kehidupan mereka di Inggris. Semenjak pulang dari Swedia, sebenernya, mereka udah mengasingkan diri sama dunia luar, seolah mereka tuh bukan pulang, tapi merantau. Halryannell mulai frustrasi sama pekerjaannya, dan lama-lama dia juga jadi sering melihat hantu-hantu masa lalu berkeliaran. He thought the land was cursed. Menurutnya dia ngga bakal bisa benar-benar bahagia kalau masih di Inggris, masih berbagi napas sama orang-orang yang seharusnya udah ditinggalkannya. Dia jadi mikir, kalau selama ini tuh dia ngga memulai hidup baru, tapi mencoba menghidupi ulang kehidupannya yang lama.
The thought messed with his head, sampai sifatnya yang kasar dan meledak-ledak itu datang lagi dan jadi teror di keluarganya sendiri. Selama nyaris 20 tahun “sober”, Halryannell ngamuk lagi waktu ribut sama Cessi, mecahin barang-barang pake sihir di depan anak-anaknya, and basically fucked up. Dia mangkir dari rumah.
Tapi balik lagi, sih. Dia akhirnya ngusulin ke Cessi supaya mereka sekeluarga bener-bener pindah ke Norwegia. Iya, Norway, bukan Swedia. Menurutnya dia harus bayar dosa ke sana, semacam ngebalikin nama keluarga Heyerdahl yang udah astray ke tempat asalnya. Dia kasih tahu semua unek-uneknya ke Cessi, minta maaf karena udah meledak, blablabla. Tentu saja Cessi yang berjiwa besar itu memaafkan dan setuju buat pindah. Maddy juga setuju dan justru seneng karena ortunya udah ga bakal ribut lagi kalau mereka pindah, tapi Solitaire nolak dalam diamnya.
Di sini sebenernya Halryannell tahu bahwa amukannya waktu itu beneran ngerusak kesempatannya buat nge-restart hubungannya sama Solitaire, dan akhirnya dia memberanikan diri buat benar-benar ngobrol heart-to-heart sama Solitaire. Tentu saja itu cuma permulaan, dan “makrab” yang sebenernya bisa dinilai basa-basi doang, karena Halryannell punya banyak PR kalau mau restart semuanya. Tapi dia pikir itu bisa dilakukan nanti; mereka bakal punya banyak waktu kalau udah pindah ke Norwegia.
DAH AH. BANYAK BENER.
CONCLUSION
*menghela napas panjang*
Yang kupelajari dari Halryannell adalah … abuse is the root to his character. Dalam kasus Halryannell, dia udah mengalami abuse dari kecil, dan sayangnya ga bisa melarikan diri dari bayang-bayang itu sehingga dia sendiri juga jadi abuser. This revelation just dawned on me, tbh, after all these years. Bertahun-tahun, kekerasan itu membuat dia merasa rendah diri, tapi ketika dia punya power buat memutar balik keadaan, he abused the power itself. Dia menjadikan kekerasan sebagai tamengnya buat berlindung ketika merasa terancam—paradoks banget ga sih?? Tapi wajar juga ya :-? Dia ngga mau disakitin orang, maka dia yang nyakitin duluan.
Bahkan ketika udah diberkahi kasih sayang yang seharusnya bisa bikin dia normal, he abused the love too -__- Hadeh. Pokoknya ngga pernah ada yang cukup buat dia, karena justru dia bakal mengubah apa pun jadi berlebihan. Gimana ya. Bingung. Ga tau aku juga. Udah sebelas halaman Ms. Word nih.
POSITIFNYA APA WOI. Apa ya. He’s a fighter, I guess?? Dia selalu berjuang dan bertahan, ngga pernah bener-bener membiarkan dirinya jatuh ditimpa keadaan. Dia menganggap hidup itu permainan menang-kalah, dan dia bakal terus berusaha buat jadi pemenang.
Ya udahlah, gitu aja. ((((gitu aja))))
Have you been tuning in this far? Wkwkwk. Thank you :*















