لَا تَقْتَرِبْ مَا دُمْتَ لَنْ تَبْقَى
Jangan coba coba mendekat,
kalau kehadiranmu tidak untuk menetap
Lint Roller? I Barely Know Her

❣ Chile in a Photography ❣
$LAYYYTER
Mike Driver
hello vonnie
Keni
trying on a metaphor
Show & Tell
i don't do bad sauce passes
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
taylor price

祝日 / Permanent Vacation

PR's Tumblrdome

Origami Around

Discoholic 🪩

Janaina Medeiros
Jules of Nature
I'd rather be in outer space 🛸

Kaledo Art
occasionally subtle

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Belgium
seen from Philippines

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Lithuania
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Philippines

seen from Canada

seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from France
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
@itepsaepul
لَا تَقْتَرِبْ مَا دُمْتَ لَنْ تَبْقَى
Jangan coba coba mendekat,
kalau kehadiranmu tidak untuk menetap
برّ الوالدين دِين ودَين فالاولى تأخذك إلى الجنة والثانية يرده لك ابنائك Berbakti kepada orangtua adalah urusan agama & hutang. Agama; sebab ia akan membawamu ke Surga. Hutang; akan dikembalikan kelak oleh anak-anakmu. *** Semoga Allah menjadikan kita anak yang bisa berbakti pada kedua orangtua kita.
HASRAT HATIKU Apabila telah tiba masaku Untuk segera mengakhiri lajangku Dengan segenap kemampuan Allah berikan Insya Allah janjiku segera kutunaikan Tapi bila kuraba dalam hati Kadang seruntun pertanyaan silih berganti Adakah semua kulakukan terlalu dini Berdegup jantung di dada kendalikan diri Namun pernikahan begitu indah kudengar Membuatku ingin segera melaksanakan Namun bila kulihat aral melintang pukang Hatiku selalu maju mundur dibuatnya Akhirnya aku segera tersadar Hanya pada Allah-lah tempat aku bersandar Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar Insya Allah azzamku akan terwujud lancar Lagu nasyid ini populer di dekade tahun.2000 an. dinyanyikan oleh Grup nasyid Acapella Suara Persaudaraan.
28 Butir Pengingat tentang “Komitmen terhadap Al Quran”
Dari Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc:
1. Sebaik baiknya liqo adalah ketika hadir bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya.
2. Jangan sampai sekedar hadir liqo menjadi prestasi.
3. Kader dakwah bisa menjadi ruhul jadid bagi dakwah jika Al Quran akrab dengan mereka.
4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktifitas kita.
5. Jangan malas menghafal Quran karena usia.
6.Lihat Surah Azzumar 23 tentang manhaj interaksi dengan Al Quran yang benar.
7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang. القرآن مأدوبة اللّٰه "Al Quran adalah hidangan Allah “
8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya.
9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget.
10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan.
11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian ,hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya ( Alhadist ).
12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari.
13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga.
14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran ,maka kita tidak akan mendapatkannya.
15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan memudahkannya.
16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi saw tingkatannya hanya hasan ,sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu.
17. Kita sering takjub dengan ciptaan-Nya, namun kita jarang takjub dengan perkataanNya.
18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik.
19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang. Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi alai rabbikuma tukadziban ” dalam surah ar-rahhman ,maka ayat yang lain di mana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis. Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang.
20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia , dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.
21. Siapa yang sudah hafal juz 30 ,maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29 , dan seterusnya.
22. Jangan remehkan ketidakhadiran kita bersama ikhwah.
23. Mungkinkah rizqi kita berkurang ,karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firman-Nya ?
24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.
25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain.
26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain , karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu.
27 .Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat.
28. Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah ,maka ia akan merasakan lelah di akhirat .
Point 24
Allah akan membimbingmu jika kamu memang siap untuk dibimbing. Allah akan mempertemukan jika kamu memang siap untuk dipertemukan. Allah akan meneguhkanmu menjadi sebenar-benar Imam jika kamu memang sudah siap dengan atribut yang melekat pada diri seorang Imam. Begitu juga dengan cita-citamu menjadi madrasah terbaik. Allah akan jadikanmu salah satu yang terbaik diantara ibunda penerus generasi ulama dan mujahid, jika kamu meneguhkan hatimu untuk senantiasa bersiap, tanpa mencari alasan bahwa esok atau lusa adalah waktu yang tepat untuk bersiap.
©Quraners (via quraners)
Hahaha… Ini wish buat tahun 2017 ta, mas @quraners ??
#MasQuranersSiapNikah2017
(via bringmetojannah)
Saya ketawa baca pertanyaan di atas. No no, I think it’s still a long journey for me to complete a half of deen. #soksokan #sokkuat ngejomblo
(via quraners)
T-Shirt “KHULAFAUR RASYIDIN” Series :
• Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (hijau army) • Khalifah Umar bin Khattab (navy) • Khalifah Utsman bin Affan (marun) • Khalifah Ali bin Abi Thalib (hitam)
Harga : Rp. 90.000 Order : 085721640625
Spesifikasi : Size M L XL XXL Cotton soft combet 30s Rubber/Glitter ink.
Limited stock!
Ready Stock Kembali...
LELAKI YANG INGIN SAYA MINTA DOANYA
"Mintalah doa keampunan untukmu dari Uwais Al Qarni wahai Umar dan Ali." Sabda Rasulullah di suatu ketika.
Maka Sejak itu tidak pernah terlewat satu tahun pun kecuali Umar bin Khattab berteriak lantang kepada setiap jamaah haji yang berasal dari Yaman:
"Adakah diantara kalian yang bernama Uwais Al Qarni?"
Siapakah dan Apakah keutamaan Uwais Al Qarni?
Dia hanya lelaki sangat-sangat biasa. tidaklah berasal dari keturunan rupawan nan dermawan. tubuhnya pernah terkena penyakit kusta hingga kulitnya supak hingga kemudian Allah sembuhkan dan hanya menyisakan tanda sebesar 1 keping dirham.
Dialah lelaki sangat-sangat biasa, yang bila kehadirannya tidak dianggap dan kehilangannya tidak dicari. bajunya terbuat dari wol kasar. pekerjaan sehari-harinya adalah berkhidmat kepada ibunya. bila dia melamar maka dia akan ditolak, rambut dan pakaiannya biasa berdebu.
Dialah lelaki yang sangat -sangat biasa namun di balik itu semua doanya sangat luarbiasa.
atas dasar apa doanya luar biasa?
Atas kesabarannya dalam menerima takdirnya yang sangat-sangat biasa saja.
Dan sesungguhnya di dunia ini begitu banyak pemuda yang bernasib seperti Uwais Al Qarni.
Terlahir biasa saja. bukan keturunan berada, kadang memiliki cacat atau Allah uji dengan penyakit menahun, lalu harus menanggung ibu dan ayahnya, sering juga hidup begitu sederhana, namun begitu gigih dan bersungguh2 dalam menjalankan sunnah.
Mereka yang hidup sederhana dan bertakdzim kepada ibunya, berniat menikah karena Allah lalu di tolak berkali-kali karena ketidak hebatannya di mata manusia inilah yang sejatinya selayak Uwais Al Qarni.
Mereka yang sering berjumpa dengan saya lalu ketika saya tanyakan pertanyaan sederhana : "Tidak berniat menikah bang?"
"Niat ada bang. cuma saya orang miskin. sudah berkali-kali melamar di tolak terus. lagian saya mesti menanggung ibu saya"
Tidak ada gadget mahal ditangannya, yang ada malah gerobak sorong yang berisi jajanan untuk anak SD.
kepada merekalah, yang kumal, yang tidak berharta, yang belum menikah bukan karena kemalasannya bekerja apa adanya. sungguh-sungguh saya ingin berkata:
"Doakan keampunan bagi saya wahai saudaraku. karena doamu sungguh lebih berharga daripada dunia dan seluruh isinya."
---- Ust. Rahmat Idris
Jika cintamu padaNya pamrih, bersiaplah hatimu perih. Jika cintamu padaNya bersyarat, maka cintamu berkarat.
ERDOGAN BUKAN SEORANG NABI
"Aku heran dengan kelakuan sebagian orang yang kuat dalam berislam dan padanya ada kebaikan. Mereka menyerang Erdogan dan menuduhya sebagai sekuleris. Maka aku katakan pada mereka: 1). Wajib untuk kita membedakan antara HARUS untuk dikerjakan dan MEMUNGKINKAN untuk dikerjakan. 2). Erdogan mewarisi pemerintahan Turki yang sedemikian sekuler selama masa 70 tahun hingga masyarakat DIPAKSA hidup dalam kekufuran. Dan inilah realita yang nyata yang Erdogan jalani. 3). Tidak mungkin bagi seorang muslim yang taat dalam waktu sebelum 10 tahun terakhir untuk menunjukkan identitas keislamannya secara terang-terangan kecuali ia harus berhadapan dengan penjara. Maka dalam keadaan terpaksalah Erdogan mengakui dirinya seorang sekeluris, Allah yang akan menilai niatnya, dan apa yang lakukan untuk agamanya. Erdogan telah mengubah Turki dari kekufuran di bawah paksaan menjadi kufur karena pilihan (negara tidak ikut campur-edt). Hingga orang-orang yang taat dengan keislamannya mendapatkan kemerdekaannya. Adapun sekarang setelah Erdogan meraih kekuasaan, iapun menyatakan diri sebagai murid dari Najmuddin Erbakan. Semua tahu siapa beliau. Hari ini Erdogan berbahagia dengan dibangunnya masjid-masjid, maraknya halaqah-halaqah penghafal Alquran, dan pusat-pusat kajian keislaman. Sesungguhnya Erdogan bergerak dengan kecerdasannya. Hingga ia bisa memberikan manfaat untuk agama dan ummatnya. Seorang laki-laki yang jika engkau melihatnya saat shalat, engkau tidak akan percaya bahwa ia adalah seorang pemimpin besar yang memiliki banyak urusan sehingga melalaikannya dari mengingat Allah dan khusyu' di dalam sholatnya. (Engkau dapatkan sebagian orang yang taat namun tiada kekhusyuan padanya padahal ia hanya punya sedikit urusan, bahkan sebagian lagi enggan berjamaah di masjid) inilah yang membuat Erdogan dicintai rakyatnya. Akupun merasa Erdogan lebih taat dari kebanyakan orang yang taat, juga lebih besar semangatnya untuk memperjuangkan Islam. Dia mewarisi kesepakatan-kesepakatan masa lalu dengan Eropa dan Israel, yang ini sangat memberatkan hatinya. Namun ia adalah pemimpin yang bijak, menempatkan sesuatu dengan pertimbangan yang jernih. Ia terus berusaha untuk mengangkat belenggu penjajahan Yahudi di atas Palestina, terutama Gaza. Aku berbicara banyak hal tentang kepemimpinan Turki saat ini. Dengan sigapnya mereka dalam membantu proyek-proyek keummatan, dan ikut memberi solusi mengatasi problema ummat Islam-Palestina, Suriah, Uyghur, Mesir, Rohingnya dan lain-lain. Ini merupakan realisasi dari ucapan Erdogan di Mahr Jan, dan aku hadir waktu itu. Ia berkata, "Kami bangga menjadi kader Najmuddin Erbakan yang telah berencana untuk mengabdi demi kepentingan bangsa Turki dan kaum muslimin." Dari sinilah Erdogan akan menjalankan proyek keummatan meski jalan di hadapannya masihlah panjang. **** Oleh : Muhammad bin Nashir al Hazhimi, diterjemahkan oleh Ihsanul Faruqi http://www.risalah.tv/2015/11/erdogan-tetaplah-bukan-seorang-nabi.html?m=1
TENTANG IMPIAN Impian apapun yang berhasil engkau gapai di dunia, semuanya akan berakhir dengan kesedihan: sedih karena ia menghilang darimu atau engkau yang menghilang darinya, kecuali amal-amal baik yang kau lakukan karena Allah... (Ia tidak akan pernah hilang darimu, dan engkau tidak akan pernah hilang darinya) Ibnu Hazm al-Andalusi dalam al-Akhlaq wa as-Siyar: 48
ANTARA SHALAHUDDIN DAN AL GHAZALI
Film Kingdom of Heaven arahan Ridley Scott cukup berhasil menampilkan sosok pahlawan Islam Shalahuddin al-Ayyubi secara lebih obyektif. Wajar, jika film yang menampilkan sisi-sisi hitam sejarah Kristen itu memeranjatkan banyak orang di Barat. Sebab, selama ini sosok Shalahuddin memang dipersepsikan sebagai “momok”, yang dibenci. Jenderal Geraud, saat berhasil menaklukkan Damaskus, pada abad ke-20, menginjakkan kakinya di makam Shalahuddin, sambil berteriak: “Saladin, wake up. We are back!” Karen Armstrong, dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, menguraikan dampak Perang Salib dalam membentuk persepsi masyarakat Barat terhadap Muslim. Film Kingdom of Heaven mengungkap fakta yang sangat kontras antara sikap pasukan Kristen dan pasukan Islam saat merebut Jerusalem. Tahun 1099, saat menduduki Jerusalem, pasukan Salib membantai hampir semua kaum Muslim dan Yahudi. Sekitar 30 ribu orang dibantai di Jerusalem, sehingga di Masjid al- Aqsha terjadi genangan darah setinggi mata kaki. Tapi, saat Shalahuddin merebut kembali Jerusalem, ia membebaskan kaum Kristen untuk meninggalkan Jerusalem dengan aman. Sosok Shalahuddin, telah berabad-abad melegenda dalam tradisi masyarakat Barat. Jo Ann Hoeppner Moran Cruz, dalam tulisanya “Popular Attitudes towards Islam in Medieval Europe” (Lihat, David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, 1999), memaparkan cerita-cerita menarik seputar legenda-legenda yang hidup di kalangan masyarakat Barat pada Zaman Pertengahan terhadap Islam. Misal, legenda tentang Eleanor of Aquitaine yang diisukan memiliki affair dengan Shalahuddin al-Ayyubi, saat ia menemani suaminya, Louis VII, dalam Perang Salib II. Ada pula legenda tentang Shalahuddin yang dikabarkan merupakan keturunan dari anak perempuan Count of Ponthieu di Utara Perancis. Juga, legenda bahwa Shalahuddin telah dibaptis pada akhir hayatnya. Apa pun persepsi Barat tentang Shalahuddin, bagi kaum Muslim, Shalahuddin al- Ayyubi dipandang sebagai pahlawan. Hingga kini, banyak orang Muslim bangga memberi nama anaknya “Shalahuddin”. Kisah-kisah kepahlawanan Shalahuddin, Muhammad al-Fatih, dan penguasa-penguasa (umara) Muslim lainnya, telah memberikan inspirasi kepada banyak generasi Muslim, bahwa jalan kebangkitan umat Islam adalah dengan menunggu dan berusaha menghadirkan seorang pemimpin politik kenegaraan. Bahkan, terkadang, harapan itu begitu besar, saat Negara dan masyarakat dalam kondisi terpuruk, banyak yang berharap hadirnya pemimpin baru akan memberikan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Harapan itu sering kali berakhir sia-sia. Pemimpin baru yang tampil tak mampu berbuat banyak, atau bahkan seringkali menunjukkan kualitas jauh lebih rendah dari pada citra yang dimunculkan saat kampanye pemilihan kepemimpinan negara. Peran Ulama Kisah kebangkitan umat Islam dalam Perang Salib – setelah terpuruk dan dibantai Pasukan Salib dari Eropa – bisa menjadi pelajaran penting bagi umat Islam saat ini. Kebangkitan umat Islam ketika itu terjadi bukan melalui hadirnya seorang pemimpin hebat seperti Shalahuddin al-Ayyubi, tetapi justru terjadi melalui kerja keras para ulama – melalui madrasah-madrasah – yang berhasil melahirkan satu generasi yang hebat, yaitu “Generasi Shalahuddin” (Jiilu Shalahuddin). Kisah kebangkitan itu dipotret dan dianalisis dengan baik oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Aadat al-Quds. Buku ini memaparkan peran ulama- ulama seperti Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dan sebagainya, dalam mendidik dan melahirkan generasi Shalahuddin tersebut. Peran Imam al-Ghazali dalam kebangkitan umat Islam saat itu juga digambarkan dalam Kitab al-Jihad yang ditulis ‘Ali b. Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498 H), enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami bertemu dengan al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al- Sulami adalah imam di Masjid tersebut dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib. Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad. Ada dua kondisi yang harus disiapkan sebelumnya. Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum Muslim ketika itu. Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib. Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral” dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan the greater jihad (al- jihad al-akbar). Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib (Franks). Peran al-Ghazali dalam membangun moral kaum Muslim disebutkan oleh Elisseef. Bahwa, kelemahan spiritual di kalangan Muslim pada awal Perang Salib ditekankan oleh al-Ghazali, yang ketika itu mengajar di Damascus. Al-Ghazali menekankan jihad melawan hawa nafsu, melawan kejahatan, di atas jihad melawan musuh. Tujuannya adalah untuk membantu kaum Muslim mereformasi jiwa mereka. (The spiritual laxness existing in Islam on the eve of the Crusades was underlined by al- Ghazali, in 1096. The illustrious philosopher who, at the time, was teaching in Damascus, emphasized the priority of jihad of the soul, the jihad al-akbar (the major jihad) – struggle against evil – over the jihad al-aÎghar (the minor jihad), i.e. the struggle against infidel. His aim was to help the Muslim rediscover his soul. At this time, it was necessary to effect the reform of morals and beliefs and to create ways of combating the various heterodoxies existing in the very bosom of Islam). Faktanya, sekitar 50 tahun kemudian, di masa Nur ad-Din Zengi, kaum Muslim mampu melaksanakan jihad efektif. Elisseef mencatat: “The person who would realize the ideal of the jihad which as-Sulami, Ghazali, and the ‘ulama of Damascus had advocated, was Nur ad-Din.” Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zengi, ayah Nur al-Din. Dua tahun sesudah itu, Zengi wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187. Istilah jihad, secara yuridis Islam, kemudian berkembang menjadi makna khusus, dan telah dipahami oleh para sarjana Muslim dalam pengertian “perang” (qital). Dalam makna khusus dalam bidang fiqih inilah, istilah jihad memiliki makna syariat. Semisal, ada ketentuan-ketentuan hukum dimana orang yang matin dalam jihad – dengan makna qital – diperlakukan jezanahnya sebagai syahid. Namun, memang terdapat berbagai hadith Nabi saw yang menunjukkan berbagai jenis jihad dalam makna yang umum, seperti jihad dengan mengeluarkan kata-kata yang benar di depan penguasa yang zalim. Begitu juga dengan jihad melawan hawa nafsu, dengan lisan, dan harta. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dengan baik. Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menakankan pentingnya masalah ilmu. Ia membuka kitabnya itu dengan “Kitabul Ilmi”. Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama. Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar, yang dikatakan oleh Ali al-Sulami sebagai tahap “reformasi moral”. Tentu, tahap kebangkitan dan reformasi jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar? Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehansif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya Ulumuddin, dengan makna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya. Problema politik umat ketika itu merupakan masalah yang sangat serius. Tetapi, problematika keilmuan dan akhlak merupakan masalah yang lebih mendasar, sehingga solusi dalam bidang politik, tidak dapat dicapai jika kerusakan dalam bidang yang lebih mendasar itu tidak diselesaikan terlebih dahulu. Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya. Nabi Muhammad saw memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah saw mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah saw: Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim). Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah. Banyak kaum Muslimin yang berpikir bahwa jika aspek politik direbut oleh gerakan Islam tertentu, maka akan selesailah masalah umat. Pendapat ini sebagian benar. Tapi kurang sempurna. Kekuasaan politik adalah bagian dari masalah penting umat Islam. Sebab, ad-daulah adalah penyokong penting perkembangan agama. Bukan hanya Islam. Tetapi, juga agama-agama lain. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa atas jasa besar Kaisar Konstantin yang mengeluarkan Dekrit ‘Edict of Milan’ (tahun 313) dan Kaisar Theodosius yang menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara Romawi (Edict of Theodosius, tahun 392). Perkembangan agama Budha juga tidak lepas dari peran Raja Asoka. Begitu juga eksistensi dan perkembangan agama-agama lain, sulit dipisahkan dari kekuatan politik. Sama halnya, dengan ideologi-ideologi modern yang berkembang saat ini. Eksistensi dan perkembangan mereka juga sangat ditopang oleh kekuasaan politik. Komunisme menjadi kehilangan pamornya setelah Uni Soviet runtuh. Sulit membayangkan Kapitalisme akan diminati oleh umat manusia jika suatu ketika nanti Amerika Serikat mengalami kebangkrutan sebagaimana Uni Soviet. Tetapi, perlu dicatat, bahwa kekuasaan politik bukanlah segala-galanya. Banyak peristiwa membuktikan, bahwa pemikiran, keyakinan, dan sikap masyarakat, tidak selalu sejalan dengan penguasa. Di masa Khalifah al-Makmun, yang Muktazily, umat Islam lebih mengikuti para ulama Ahlu Sunnah, ketimbang paham Muktazilah. Di masa penjajahan Belanda, umat Islam tidak mengikuti agama penjajah, dan lebih mengikuti kepemimpinan ulama. Banyak lagi contoh lain. Karena itu, ulama dan umara memang dua tiang penyangga umat yang penting. Kedua aspek itu harus mendapatkan perhatian yang penting. Para aktivis politik umat harus memiliki pemahaman yang benar tentang Islam. Jika tidak, para pemimpin politik justru bisa menjadi perusak Islam yang signifikan. Karena ketidaktahuannya, bisa saja melakukan tindakan yang keliru. Sebagai contoh, mereka mati-matian merebut kursi kepemimpinan di daerah atau departemen tertentu, sedangkan kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah dianggap sepele. Ribuan orang dikerahkan untuk berdemonstrasi karena faktor kursi kekuasaan, tetapi tidak demonstrasi apa-apa ketika ada penyimpangan dalam aqidah Islam, semisal kasus Ahmadiyah, penyebaran paham Pluralisme Agama, atau kezaliman yang sangat mencolok, semisal pembangunan patung yang memakan dana rakyat milyaran rupiah, disaat rakyat sedang dililit kesulitan hidup dan berbagai penyakit yang mematikan. Jadi, tidaklah benar jika dalam perjuangan mengabaikan salah satu aspek kehidupan. Tetapi, semuanya harus ditempatkan dalam proporsi dan tempatnya. Itulah yang namanya adil. Nabi Muhammad saw memulai dakwah Islam dengan aspek ilmu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang konsep-konsep dasar dalam Islam, seperti konsep tentang Tuhan, Nabi, wahyu, adil, agama, dan sebagainya. Pondasi pemikiran (afkar), pemahaman (mafahim), standar-standar nilai (maqayis), dan ketundukan (qana’at), yang Islamiy ditanamkan secara kokoh oleh Nabi Muhammad saw kepada para sahabat ketika itu. Mereka tampil sebagai sosok-sosok ulama dan cendekiawan serta pejuang yang tangguh dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa dilihat, bagaimana hebatnya argumentasi Ja’far bin Abi Thalib ketika berdebat dengan Raja Najasyi dan orang-orang kafir Quraisy Mekkah di Habsyah. Ja’far dan kaum Muslimin yang sedang dalam kondisi terjepit meminta perlindungan kepadsa Najasyi, mampu memberikan argumen-argumen yang canggih seputar masalah Isa a.s. yang menjadi titik sentral kontroversi Islam dengan Kristen. Ringkasnya, perjuangan Islam dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat ini, perlu memadukan dan mensinergikan berbagai aspek, yakni aspek keilmuan, kejiwaan, harta benda, dan sebagainya. Jihad melawan hawa nafsu atau berjuang dalam bidang keilmuan, tidak perlu dipertentangkan dengan jihad melawan musuh. Semua perlu dipadukan, sebagaimana telah dilakukan di zaman Rasulullah saw, Perang Salib, dan sebagainya, sehingga kaum Muslim berhasil mengukir kemenangan yang gemilang dalam berbagai arena perjuangan. Rasulullah saw bersabda: “Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”. (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu, dan lisan-lisanmu). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa’i, Ahmad, al-Darimi, dengan sanad yang sangat kuat. Ibn Hibban, al-Hakim, and an-Nawawiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih. Melalui hadits tersebut, Rasulullah saw menekankan pentingnya kaum Muslimin melakukan jihad secara komprehensif, dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki, baik harta, jiwa, maupun lisan. Dalam arena perjuangan, atau arena jihad, sebenarnya tiga aspek: harta, jiwa, dan lisan, saling terkait satu dengan yang lain. Peperangan fisik adalah salah satu bagian dari sebuah perjuangan yang luas dan panjang antara al-haq dan al-bathil. Bahkan, dalam hadits lainnya, Rasulullah saw juga menekankan pentingnya jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah saw bersabda: “Al-Mujahid man jahada nafsahu fi- Allah ‘Azza wa-Jalla”. (Mujahid adalah seseorang yang melakukan jihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah). Al-Iraqiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih, dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Jadi, dalam arena perjuangan atau arena jihad, kaum Muslim sebenarnya diminta untuk menggabungkan seluruh kemampuan atau potensi – baik potensi jiwa, harta, maupun lisan (intelektual) dan menempatkan masing-masing pada proporsi yang sebenarnya. Kapan kekuatan fisik digunakan, kapan kemampuan intelektual, dan kapan potensi harta benda diperlukan. Semua itu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Semua potensi jihad itu tidak bisa digunakan jika manusia dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka, perang melawan hawa nafsu secara otomatis menjadi faktor penting dalam bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Jika kaum Muslim mampu menggabungkan semua potensi tersebut, maka dalam sejarahnya, kaum Muslim mampu tampil sebagai umat yang hebat, gemilang dan terbilang. Jika potensi itu terpecah belah dan tidak teratur dengan baik, maka kekalahan menimpa kaum Muslimin. Peran ilmu dan ulama Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam ditinggali dua perkara, yang jika keduanya dipegang teguh, maka umat Islam tidak akan tersesat selamanya. Keduanya, yakni, al-Quran dan Sunnah Rasululullah. Tapi, disamping itu, Rasulullah saw juga mewariskan para ulama kepada umat Islam. Ulama adalah pewaris nabi. Ulama-ulamalah yang diamanahkan untuk menjabarkan, mengaktualkan, membimbing, menerangi, dan memimpin umat dalam bidang kehidupan. Banyak ulama yang mensyaratkan ‘kemampuan berijtihad’ bagi kepala negara (khalifah). Adalah ideal jika ulama dan umara sama-sama baik. Dalam sejarahnya, Islam akan cepat berkembang jika ulama dan umaranya baik. Tapi, ada fase-fase dalam sejarah, dimana salah satu dari dua pilar umat itu bobrok atau rusak. Ketika itu, keberadaan ulama yang baik lebih diperlukan. Ketika Khalifah al-Makmun memaksakan paham Muktazilah, para ulama Ahlu Sunnah melakukan perlawanan yang gigih. Umat selamat, dan lebih mengikuti ulama ketimbang umara. Di zaman penjajahan Belanda, umaranya jelas rusak. Tetapi, ulama-ulama Islam ketika itu gigih mempertahankan ad-Dinul Islam. Alhamdulillah, meskipun Belanda berusaha sekuat tenaga menghancurkan Islam, umat Islam lebih mengikuti ulamanya. Maka, yang perlu diperhatikan dan dicermati, -- disamping kerusakan umara –adalah kerusakan ulama. Lahirnya ulama-ulama yang jahil, yang tidak kapabel keilmuannya, yang korupsi ilmu agama, yang berfatwa tanpa ilmu yang memadai, yang akhlaknya rusak, yang cinta dunia, dan sebagainya, adalah bencana terbesar yang dihadapi oleh umat Islam. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi, maka umat Islam harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan. Lebih rusak lagi jika para ulama sudah mencintai dunia, menjual agama dengan harta benda dunia, dan yang merusak ilmu-ilmu agama dengan dalih menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman. Adalah musibah dan fitnah besar, misalnya, jika dari Perguruan Tinggi Islam justru lahir orang-orang yang berpaham atheis atau yang gila dunia. Jika ilmu agama sudah dirusak, maka akan lahir ulama yang rusak (ulama as-su’); yakni ulama, yang harusnya menjadi penjaga agama, justru menjadi penghancur agama. Ketika ilmu-ilmu Islam dirusak, maka tidak ada jalan kembali bagi peradaban Islam untuk bangkit lagi. Karena itu sangat diprihatinkan, jika umat Islam membiarkan terjadinya serangan pemikiran yang akan merusak ilmu-ilmu agama. Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Al-Ilmu menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi” sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Hadid: 25). Penutup Sekelumit kisah kebangkitan umat Islam di era Perang Salib tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita, betapa pentingnya peran ulama dalam proses kebangkitan umat Islam. Ulama adalah pewaris Nabi. Maknanya, Nabi mewariskan perjuangannya pada kepemimpinan ulama. Jatuh bangunnya umat terletak pada baik atau tidaknya kualitas ulamanya. Jika ulamanya jahat atau jahil maka bencana besar menimpa umat. Jadi, sepanjang zaman, ulama harus senantiasa ada dalam jumlah yang memadai. Sebab, perjuangan Nabi tidak boleh berhenti. Ulama tidak dilahirkan dan tidak turun dari langit. Tapi, ulama lahir dari proses pendidikan. Ironis, jika di masa penjajahan, lembaga pendidikan Islam bisa melahirkan ulama-ulama hebat, tapi di masa kemerdekaan, justru tidak mampu melahirkan ulama-ulama hebat pewaris Nabi. Semoga musibah itu tidak menimpa lembaga pendidikan kita. Amin. ------ Dr. Adian Husaini
Kau tahu kesedihan terbesar itu apa?Saat kau tahu surga Allah itu seluas langit dan bumi, dan kau tak dapat tempat sama sekali
Lupakan. Lupakan cinta yang tak berakhir di Pelaminan
Ada yang harus kita mintakan kepada Allah tentang sebuah hati. Hati yang lembut, bersih lagi jernih. Yang ketika mendengar, berdiskusi, dan mencoba untuk menasihati, hati kita berkenan untuk memahami daripada menghakimi. Hati yang mudah mencari kekurangan diri, bukan hati yang mudah menilai karakter dan sifat orang lain dengan sudut pandang sendiri.
©Quraners (via quraners)
Sebenarnya..Saat bertambah umurmu, saat itu juga bertambah perlunya dirimu untuk lebih banyak memberikan perhatian dengan instropeksi diri, guna membangun akhiratmu. Dan terbukti bahwa detik-detik muhasabah di Masjid An-Nabawi merupakan hal yang memberikan efek yang istimewa.
@Ali_alshobaili - Dr Ali asy Syubaili, dosen di Universitas Imam Muhammad bin Su'ud. 29/11/2015 (via twitulama)
Muhasabah
(via quraners)
Rezeki itu jaminan Allah - Tausyiah Ustadz Salim A Fillah
***
Sebab rezeki adalah hak mutlak Allah. Dia telah menetapkanNya jauh-jauh hari sebelum engkau diciptakan. Dia berhak untuk melapangkan maupun menyempitkan untuk siapa yang dikehendakiNya
Serasa dan Serasi
Oleh : M. Anis Matta
Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanen bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya. Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.
Kira-kira itulah yang membuat Aisyah – Radhiyallahu ‘anha – sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu’minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab: “Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar”.
Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin ‘Ash untuk “menggiring” Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.
Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona an sich. Ibnu Hazm menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. “Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan”.
Ibnu Hazm, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaris dalam fiqh, hadits, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja di rumahnya. Ibnu Hazm bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak: “Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku”.
Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazm menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazm benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: “Oh, nyanyian itu seakan turun ke hatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia.”
Sumber : Majalah Tarbawi edisi 129