HATTA JEJAK YANG MELAMPAUI ZAMAN
HATTA JEJAK YANG MELAMPAUI ZAMAN merupakan salah satu seri buku Tempo yang membahas biografi Mohammad Hatta yang merupakan salah satu founding father Indonesia. Alasan saya membeli buku ini dibandingkan buku biografi Hatta lainnya karena di buku terbitan Tempo ini, sebagaimana kita ketahui, Tempo memiliki gaya penulisan yang mudah dicerna, singkat, padat dan jelas. Isi buku yang tidak terlalu tebal, sekitar 172 halaman, sudah membuat saya mengetahui kehidupan Hatta secara mendalam.
Dari buku biografi Hatta ini ada beberapa catatan menarik yang perlu saya garis bawahi. Pertama, Hatta adalah seorang pemimpin yang memiliki kecintaan begitu tinggi terhadap buku. Sejak kecil Hatta rajin membaca buku dan hingga akhir hayat terbukti jumlah koleksi bukunya sebanyak 30.000 buku. Buku-bukunya banyak ia beli saat 11 tahun tinggal di Belanda. Buku-buku berkualitas baik tentu harganya tidaklah murah, namun Hatta tetap dapat memiliki buku tersebut dengan menggunakan mekanisme pembayaran cicilan perbulan tidak lebih dari 10 f. Mekanisme pembayaran cicilan ini ditawarkan langsung oleh pemilik toko karena mengetahui bahwa Hatta adalah mahasiswa yang miskin.
Hatta pernah diasingkan ke Digul, Irian, karena tulisan-tulisannya yang menentang imperialisme Belanda. Saat diasingkan tersebut Hatta tidak lupa membawa 16 peti bukunya di lokasi pengasingan. Sungguh, 16 peti buku itu adalah jumlah yang banyak sekali untuk ia bopong ke lokasi pengasingan. Kecintaannya terhadap buku membuat Ia mendapatkan sindirian, istri pertama Hatta adalah buku, istri kedua Hatta adalah buku, dan istri ketiga Hatta adalah Rahmi Rachim. Bahkan saat Hatta menikahi Rahmi Rachim, maskawin yang diberikan adalah buku karangannya berjudul “Alam Pikiran Yunani”. Buku tersebut berisi pemikiran Yunani kuno seperti Pythagoras, Plato, Aristoteles, dan Sokrates.
Kedua, Hatta adalah pemimpin yang memiliki bakat menulis luar biasa, hal tersebut dikarenakan timbunan bacaannya yang kian meluap. Hatta tau bahwa Ia adalah pria dengan tubuh yang kecil, wajah yang dingin dan berkacamata tebal, serta gaya bicara yang membosankan. Namun Hatta mengkompensasi itu semua dengan kekuatan menulisnya. Penyebab Hatta di penjara dan diasingkan oleh pemerintah Belanda adalah karena tulisannya yang tajam mengenai imperialisme.
Saat Soekarno menerapkan Demokrasi Terpimpin dan Hatta kemudian memilih mundur sebagai Wakil Presiden, selama pensiun itu Hatta tetap aktif memberi masukan kepada pemerintah melalui tulisannya di media massa yang hingga akhirnya membuat media tersebut di bredel. Tidak berhenti disitu, Hatta mengubah cara memberikan masukan/kritikannya itu dengan cara rutin menulis surat langsung kepada Soekarno. Soekarno tau kedalaman pemikiran Hatta, dari masukan/kritikan yang diberikan tidak pernah sekalipun Soekarno menolak kritikan Hatta, Soekarno selalu membalasnya dengan ucapan terima kasih atau bahkan mengundang Hatta untuk berdiskusi langsung. Ya, Hatta adalah orator besar seperti halnya Soekarno. Tapi bukan lewat pidato dengan suara bariton yang penuh wibawa, melainkan lewat tulisan-tulisannya yang tajam dan menggetarkan.
Ketiga, bagaimana seseorang menjadi pemimpin besar memang tidak terlepas dari keluarga yang mendidiknya dan dengan siapa ia belajar saat kecil. Hatta lahir di Bukittinggi, pada 12 Agustus 1902, dari dua perpaduan keluarga terkemuka yakni pemuka agama dan saudagar. Kakek Hatta memang seorang ulama besar dari pemuka agama ternama di Sumatera Barat pada masa itu: Syekh Abdurrachman, yang juga dikenal sebagai Syekh Batu Hampar. Hatta bukanlah sosok pemimpin yang berkoar-koar tentang kejayaan islam. Namun seluruh perilaku kesehariannya, pandangan ekonomi, politik, dan budayanya selalu selaras dengan value islam. Walau ia belajar di negeri Belanda, namun yang ia ambil adalah budaya disiplin, hal yang terkait budaya tarian, wine, atau kebarat-baratan tidak ia terapkan mentah-mentah. Penampilan Hatta memang layaknya seorang muslim yang lurus, mendekati wanita saja sangat kaku dan menjaga jarak. Hatta memang layaknya sufi yang menjaga pandangan dan perilakunya, menjaga ketulusan, keikhlasan, kesederhanaa, kerendahan hati, dan kedalaman pikiran. Hal ini karena sejak kecil ia telah belajar agama dengan begitu kuat dari Syeikh Muhammad Djamil Djambek, salah seorang pembaru Islam di Minangkabau, dan Haji Abdullah Ahmad, juga seorang pelopor pembaru Islam di daerah tersebut. Sejak kecil pemahaman agama Hatta telah kuat.
Sebenarnya banyak sekali hal yang menarik dari sosok Hatta seperti ia baru menikah pada 1945 setelah Indonesia merdeka, Hatta memang berjanji baru akan menikah setelah Indonesia merdeka. Ia pun akhirnya menikah di usia 43 tahun dengan Rahmi Rachim, 19 tahun, yang menerima pinangan Hatta melalui Soekarno. Hal menarik lain pun seperti Hatta memiliki pandangan cukup sosialis namun ia sangat menolak komunis. Dari sini kita dapat melihat bahwa Hatta sangat rasional sekali dalam memandang ideologi, tidak semuanya ia telan bulat-bulat, hanya yang membawa keadilan dan kesejahteraan rakyatlah yang ia ambil. Dari sekian banyak hal yang menarik, tiga poin penjabaran diataslah yang bagi saya pribadi benar-benar berkesan mengenai pribadi Hatta. Selamat menjadi Hatta-Hatta lainnya, semoga tulisan ini bermanfaat.
Kebon Jeruk, 5 Maret 2017