Memahami Gaya Komunikasi Pasangan dalam Pernikahan
Komunikasi selalu mempunyai peran penting untuk merawat hubungan, tidak terkecuali dalam pernikahan. Jika komunikasi berjalan dengan baik maka akan menciptakan keharmonisan, namun jika komunikasi tidak terjalin dengan baik maka dapat menyebabkan konflik ataupun kesalahpahaman. Dengan kata lain komunikasi bisa dijadikan salah kunci untuk menghadirkan keharmonisan dalam rumah tangga. Bagaimana tidak, ada banyak pernikahan yang retak atau bahkan kandas karena minimnya komunikasi antara pasangan suami istri.
Komunikasi dalam hubungan pernikahan menjadi salah satu bagian yang sangat penting. Dengan berkomunikasi seseorang bisa saling memahami satu sama lain, baik memahami karakter, perasaan ataupun masalah yang sedang terjadi. Jika ada permasalahan dalam rumah tangga maka sebaiknya jangan dibiarkan melainkan harus dikomunikasikan. Pentingnya komunikasi ini ada dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya:
“Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut” (Qs. Thaha [20] : 44)
Ayat tersebut menjelaskan jika ada permasalahan komunikasikanlah dengan lemah lembut. Pemilihan kata yang santun dan penyampaian yang lemah lembut akan lebih diterima dan dipahami oleh hati si pendengar. Komunikasi yang lembut akan menjadi solusi dalam memecahkan masalah dalam keluarga, karena antara suami dan istri akan terjalin rasa saling memahami ketika keduanya mengawali komunikasi mereka dengan perkataan yang santun dengan mendahulukan kepentingan pasangannya.
Komunikasi yang baik dapat menjadi kunci tercapainya keharmonisan dalam pernikahan. Namun untuk menjalin komunikasi yang baik tidaklah mudah, berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan pasangan, yaitu :
1. Cara berkomunikasi perempuan dan laki-laki berbeda
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan karakter yang berbeda-beda. Ketika disatukan dalam hubungan pernikahan, maka tentu terdapat perbedaan diantaranya dalam cara berkomunikasi. Salah satu yang berpengaruh dalam komunikasi adalah ketika memahami bahwa perempuan dan laki-laki itu berbeda. Banyak pasangan yang sudah berumah tangga namun belum bisa berkomunikasi dengan baik karena menganggap laki-laki dan perempuan itu sama. Maka dengan memahami cara berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan bisa memudahkan untuk saling memahami satu sama lain dan membangun keluarga yang harmonis.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Robert Groski seorang ahli Neorologi dari Universitas California mengatakan bahwa dalam susunan otak perempuan terdapat protein Foxp2 atau protein bahasa yang lebih banyak dibanding laki-laki. Kemampuan perempuan untuk berkata-kata bisa mencapai 20.000 kata dalam setiap harinya. Sehingga tidak heran lebih banyak perempuan yang cenderung banyak bicara. Sedangkan laki-laki hanya sampai 7000 kata dalam setiap harinya. Oleh karena itu laki-laki cenderung diam tidak banyak bicara.
Jika dilihat dari kebutuhan berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan, perempuan lebih banyak bicara untuk mencurahkan isi hatinya agar lebih lega, berbeda dengan laki-laki yang berkomunikasi hanya untuk memecahkan masalah atau mencari informasi. Perempuan lebih senang bercerita sebagai cara berbagi perasaanya, bagi perempuan bicara merupakan cara untuk melepaskan masalahnya. Dan tak jarang apa yang mereka sampaikan tidak membutuhkan jawaban namun hanya ingin didengar. Sementara laki-laki ketika mendengarkan curhatan terdorong ingin memberikan solusi sehingga yang ada malah menimbulkan permasalahan baru disaat perempuan hanya ingin didengarkan saja. Oleh karena itu memahami cara berkomunikasi sangat diperlukan agar bisa meminimalisir kesalahpahaman.
Berbeda dengan laki-laki yang ketika ada masalah tidak langsung bercerita, laki-laki lebih membutuhkan ruang untuk menyimpannya terlebih dahulu. Namun jika sudah bercerita laki-laki menyampaikan masalahnya secara to the point. Sementara perempuan tidak langsung berterus terang dalam mengungkapkan masalahnya sehingga harus dipancing terlebih dahulu agar bisa terbuka.
Oleh karena itu ketika kita mengetahui laki-laki mempunyai masalah, berikan mereka waktu beberapa saat untuk memikirkan masalahnya dan tidak memaksakan mereka untuk menceritakannya dengan segera. Laki-laki menenangkan pikirannya dengan berdiam diri tidak ingin diganggu. Adapun ketika kita mengetahui perempuan mempunyai masalah maka berikan waktu kita untuk mendengarkannya sebagai cara memahami perasaanya. Namun ketika mereka bercerita dengarkanlah terlebih dahulu dan tidak memberikan solusi secara langsung.
2. Memilih waktu yang tepat
Pilihlah waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan pasangan, lihatlah keadaan terlebih dahulu agar setiap pembicaraan bisa mendapat respon yang baik. Jangan sampai salah dalam menentukan waktu, misalnya saat pasangan sibuk mengerjakan sesuatu atau saat pulang kerja lalu secara tiba-tiba kita langsung curhat permasalahan yang terjadi. Jika begitu yang ada bukan mendapatkan solusi melainkan memunculkan permasalahan baru.
Robert Grosky dalam penelitiannya menemukan bahwa corpus callosum pada otak perempuan lebih tebal dibanding laki-laki. Corpus callosum ini adalah penghubung antara otak kanan dan kiri, sehingga jika corpus callosum lebih tebal maka bisa membuat lancarnya penyebaran implus antara otak kanan dan kiri. Dengan begitu perempuan bisa mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu walaupun pekerjaan tersebut tidak saling berhubungan. Sehingga perempuan lebih terlihat multitasking dalam mengerjakan sesuatu, bahkan ketika perempuan diajak bicara saat mengerjakan pekerjaannya mereka masih bisa menanggapinya dengan segera. Tapi jika untuk hal-hal penting lebih baik pilihlah waktu berkomunikasi yang tepat.
Sementara laki-laki mempunyai corpus callosum yang lebih tipis sehingga lebih memusatkan perhatiannya pada satu hal yang khusus saja dan hanya bisa fokus pada satu pekerjaan. Tapi kalaupun mereka bisa fokus dalam beberapa hal, itupun membutuhkan effort yang sangat besar. Dan dalam menanggapi sesuatu, laki-laki bisa memusatkan fokusnya di sepuluh menit pertama. Misalkan ketika menonton TV apabila diajak bicara di sepuluh menit awal akan bisa menanggapi dengan baik. Namun di sepuluh menit berikutnya, fokus mereka terhadap pembicaraan menjadi menurun dan lebih fokus pada pekerjaan yang didahulukan.
Oleh karena itu memilih waktu yang tepat sangat diperlukan agar bisa menciptakan komunikasi yang hangat. Jika merasa keadaan tidak memungkinkan, lebih baik menundanya terlebih dahulu dibanding harus mengungkapkannya.
3. Bahasa kasih setiap orang berbeda
Menurut Garry Chapman terdapat lima bahasa kasih yang perlu dipupuk agar menciptakan komunikasi yang baik dengan pasangan. Pertama, quality time dengan pasangan. Kedua, memberi kata-kata pendukung atau pujian. Ketiga, memberikan pelayanan yang tidak selalu harus besar tetapi juga pelayanan kecil yang bermakna. Keempat, memberikan hadiah yang tidak harus mewah namun berupa surprise. Dan kelima, sentuhan fisik.
Setiap orang mempunyai ke lima bahasa kasih tersebut, namun urutannya tidak selalu sama tergantung mana yang lebih dominan. Ada orang yang lebih menyukai quality time sebagai bahasa kasihnya, ketika pasangannnya memberikan sebuah hadiah ia menanggapinya biasa saja. Bisa jadi karena permasalahan yang sederhana seperti itu menjadi permasalahan besar. Oleh karena itu penting untuk mengetahui bahasa kasih mana yang sesuai dan disukai oleh pasangan, kerena dengan begitu akan menciptakan komunikasi yang baik dan juga membangun keharmonisan.
#komunikasipernikahan #komunikasipasangan