mengerjakan dan memikirkan
kita mungkin sudah pernah mendengar kisah tentang segelas dan seteko air. kalau kamu belum tahu, begini kira-kira cerita itu.
seorang dosen psikologi membawa segelas dan seteko air ke dalam ruang kuliahnya. beliau bertanya kepada para mahasiswa: mana yang lebih berat, segelas air atau seteko air? dengan mudah, para mahasiswa menjawab bahwa seteko air tentu lebih berat.
kini, pertanyaannya diubah menjadi percobaan. seorang mahasiswa diminta untuk memegangi seteko air selama satu menit. mudah saja, tantangan itu mulus dituntaskan.
selanjutnya, mahasiswa yang sama diminta memengangi segelas air. kali ini, selama setengah jam. baru setengah waktu dari yang ditentukan, mahasiswa itu ingin menyerah.
kembali kepada pertanyaan mana yang lebih berat, kini semua memahami bahwa yang menjadikan sesuatu berat, lebih utama bukanlah berat mutlaknya, melainkan seberapa lama kita memeganginya, memikulnya. prinsip yang sama berlaku bagi masalah-masalah dalam hidup, dalam urusan-urusan sehari-hari.
belakangan–dengan banyaknya pekerjaan yang terasa menumpuk–saya teringat akan cerita segelas dan seteko air. saya menjadi tersadar bahwa beberapa hal terasa begitu berat bukan karena sesuatu tersebut sungguh-sungguh berat, melainkan karena saya tak kunjung menyelesaikan dan meletakkan gelasnya.
sebisa mungkin, saya menyuruh diri sendiri untuk meletakkan secepat mungkin semua gelas yang harus saya pegangi. ternyata, inilah yang bekerja bagi saya:
pertama, saya menghindari multitasking. dulu, saya pernah merasa bangga jika bisa melakukan banyak hal secara bersamaan. setelah belajar dan mengalami, saya menyadari bahwa itu adalah salah satu bentuk menumpuk masalah dan memegangi gelas untuk waktu yang lebih lama. ini kira-kira hitungannya.
misalnya kita punya 100 energi setiap hari dan kita harus menyelesaikan lima pekerjaan yang masing-masingnya butuh 100 unit energi agar bisa selesai. jika kita mengerjakan semua pekerjaan setiap hari, maka di akhir hari pertama, tidak ada pekerjaan yang selesai. yang ada adalah lima pekerjaan yang masing-masing dua puluh persen selesai. kalau kita mengerjakan dua pekerjaan di hari pertama, maka di akhir hari pertama, tidak ada pula pekerjaan yang selesai. yang ada adalah dua pekerjaan yang setengah selesai dan tiga pekerjaan yang tersentuh sama sekali. bagaimana jika kita hanya mengerjakan satu saja? satu pekerjaan akan tuntas selesai, artinya gelas sudah bisa diletakkan. meskipun masih ada empat lagi, paling tidak yang satu sudah.
kedua, saya membaca bahwa ada penelitian yang menyebutkan: kebanyakan orang terlalu banyak membuat rencana/resolusi yang tidak bisa dipenuhi dalam satu hari, tetapi terlalu sedikit membuat rencana/resolusi yang bisa dipenuhi dalam satu tahun. maka, saya pun mengganti penggalan waktu rencana dan resolusi hidup. rencana harian menjadi mingguan. resolusi tahunan menjadi kuartalan (per tiga bulan).
ketiga dan yang paling utama bagi saya adalah mengerjakan dan memikirkan–alih-alih memikirkan dan mengerjakan. mengapa begitu? saya belajar bahwa di dunia ini segala sesuatu membutuhkan gerakan. buku tidak akan pernah jadi tanpa betul-betul ditulis, misalnya. kita tidak akan pernah sampai di garis akhir dalam lomba maraton jika kita tidak melangkah. maka, bergerak saja dulu! bergerak adalah bagian dari berupaya, bagian dari merayu Tuhan agar kemudahan dan inspirasi diberikan kepada kita.
ingin menulis? coba buka dulu halaman kosongnya, lalu tulis apa saja. pada mulanya akan terasa sulit karena kita belum punya rencana, tak ada yang dipikirkan. lama-lama, mungkin yang berpikir adalah jari-jari kita, begitu mengalir kita menulisnya.
semangat ya. semangatlah menata hidup. semangat meletakkan gelas satu per satu. mungkin gelas itu skripsimu, naskah bukumu, laporan-laporan yang harus kamu buat, apa pun itu.
semangat! jangan lupa untuk meletakkan gelasmu.