Kangen bapak pas ramadhan lebih berasa dibanding hari2 biasa yg sibuk sama duniawi.
Keni
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price
will byers stan first human second
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
DEAR READER
we're not kids anymore.
RMH
wallacepolsom
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Peter Solarz
Claire Keane

JVL
dirt enthusiast
tumblr dot com
Not today Justin
$LAYYYTER

祝日 / Permanent Vacation
seen from United Kingdom

seen from Brazil
seen from Brazil

seen from Germany

seen from United States
seen from Russia
seen from South Korea

seen from Malaysia

seen from Singapore

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Japan
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from Germany

seen from Germany

seen from United States
@liabsurdum
Kangen bapak pas ramadhan lebih berasa dibanding hari2 biasa yg sibuk sama duniawi.
Shameless people being shameless.
…orangtua, suami, dan istri, hanyalah manusia biasa dengan masing-masing 'setannya’.
Doa mama untuk adik, disayang dengan sama besarnya seperti yang kakak terima. Menjadi manusia yang kuat dan baik hati. Punya stok kesabaran dan kelapangan yang banyak sekali untuk membhadapi dunia (termasuk kami, supportermu).
Ada sepasang suami istri. Suami melakukan financial abuse dan keluarga asal yang jahat terhadap istri. Sementara istri yang mampu menyokong diri secara finansial melakukan verbal abuse terhadap suami.
Semua disimpan masing-masing, bertahun-tahun, berpuluh tahun bertahan entah karena apa. Kalau karena anak, seharusnya anak (terutama si sulung) tidak dijadikan samsak pelampiasan emosi negatif istri yang tidak teregulasi dengan baik. Kalau karena anak, seharusnya anak-anak cukup jadi alasan untuk tidak melakukan affair dengan orang ketiga. Kalau karena anak, seharusnya anak tidak dewasa lebih cepat.
Bertahun-tahun hidup dalam pernikahan yang dibayangi kalimat, “seandainya…”.
Iya, seandainya. Seandainya keluarga (suami) tidak bergegas menjadi ‘sukarelawan’ dalam permasalahan yang harusnya diselesaikan berdua. Seandainya suami paham prioritas. Seandainya istri mau lebih empati.
Menikah itu sulit. Anak-anak seringkali dijadikan alasan (yang terlanjur). Anak-anak yang suatu hari akan menjadi istri, suami, dan orangtua dari anak lainnya. Anak-anak yang akan meneruskan siklus buruk itu, atau akan babak belur dalam proses melawan diri sendiri agar tidak meneruskan siklus itu.
Jatinangor, 22 Desember 2017.
Dalam perjalanan ke masa lalu yang selalu menguras energi psikis; dan menyadari bahwa orangtua, suami, dan istri hanyalah manusia biasa dengan masing-masing 'setannya’.
Allah is the best planner (8:30)
“Di-planning dong kalau punya anak itu”
“Terus kamu kapan mau bla bla bla nya?”
“Gak KB ya kamu?”
“Itu terus nanti gimana?”
Anak kedua kami datang lebih cepat dari perkiraan. Kami semua kaget. Saya bingung, anton senang, Ley (sepertinya selalu) happy, mertua senang dan menunggu kesempatan menculik Ley, sementara orangtua saya (mama) tampak kecewa. Itu di atas adalah reaksi mama saya.
Ley usia 14 bulan, saya baru berani ke dokter obgyn buat kroscek apakah benar ini rejeki berupa adiknya Ley atau justru suatu masalah baru. Ternyata adiknya Ley, dan sudah 10 minggu, trimester 1 bahkan hampir selesai. Di tengah emosi negatif saya, adik tetap tumbuh dengan kuat. Terima kasih dik.
Saya sudah berusaha dengan beberapa cara sekaligus untuk memberi jarak harapannya biar Ley bisa menyusui sampai 2 tahun, senang dengan kasih sayang yang tidak terbagi, dan menjadi primadona sendirian di dua pihak nenek-kakek. Tapi rencana saya tidaksesuai dengan rencana Allah untuk saya. Begitulah kan, Allah-lah sebaik-baiknya pembuat rencana. Dan saya belum tahu rencana apa yang disiapkan-Nya dengan menitipkan adik.
Sementara saya kebingungan dengan pikiran-pikiran soal melahirkan dan bagaimana cara mengurus dua anak yang masih sangat kecil, mama lebih memikirkan kapan saya akan mulai berkarir. Saya mendapat kesan bahwa mama menganggap anak adalah hambatan dalam berkarir. Apa yang sebenarnya ingin mama buktikan? Apa yang sebenarnya mama inginkan? Untuk apa dan siapa?
Saya cuma ingin dikuatkan kalau lahiran adik akan baik-baik saja, kami berdua akan baik-baik saja. Ley akan senang dengan kehadiran teman. Saya butuh emotional support dari orang yang biasanya kita anggap paling berperan dalam hidup kita : ibu kandung. Tapi mungkin saya terlalu berharap. Atau saya berharap pada orang yang salah. Entahlah. Entah siapa diantara kami yang lebih dulu memutus ikatan emosional itu dulu sekali.
Hal ini membuat saya kembali tidak percaya diri menjadi ibu. Bisa kah saya menjadi ibu yang punya kelekatan dan ikatan yang kuat dengan Ley dan adik? Bisa kah saya memberi Ley dan adik hal-hal yang tidak saya dapat dari mama?
Saya berencana dan berkompromi dengan ekspektasi2 mama, pelan-pelan mulai menyusun target kapan akan melakukan ini, mencapai itu… seperti yg mama inginkan, bahwa anaknya ‘menjadi orang’, disegani karena karirnya. Karena pencapaian ini, itu, dihargai kemampuannya dalam satuan mata uang. Saya berkompromi biarpun saya tidak yakin apa itu yg saya ingin lakukan dalam menghabiskan umur saya.
Tapi, Allah kan sebaik-sebaiknya pembuat rencana? Hm? Setuju kah mama?
Tempohari saya di lobby hotel nungguin mama mertua yg habis belanja, sambil gendong Ley, liat2 dan tunjuk-sebut segala macam. Ada sekelompok orang2 yang sebaya dengan saya kayaknya. Duduk sambil ngobrol. Saya rasa sih peserta rapat yang di aula. Nah sampai akhirnya saya denger ada yang bilang, "gendong-gendong anak kemana-mana, bla bla bla..." dengan intonasi yang bernada negatif. Obrolan berlanjut pada topik wanita-wanita uneducated dan imbasnya pada tatanan sosial bermasyarakat. Di satu sisi, saya mak2 gendong. Di sisi lain, saya educated. Paling nggak sarjana mah udah lah, biarpun lulusnya dengan merintih-rintih selama 5 tahun dan dikatain hijet1000 saking lambatnya kasih progress skripsi. Intinya saya educated, dan saya memilih gendong-gendong anak kemana-mana (biarpun alasan awalnya karena Ley histeris ditaro di stroller). Sila dicek manfaat babywearing apa aja. Sampai akhirnya ada seorang mbak-mbak keluar dari aula dan ternyata teman saya. Oh sempitnya dunia ini. Kami ngobrol bentar, lalu dia ke meja mbak-mbak dan mas-mas yang bilang kalau (disimpulkan) 'nggak ada ibu yang educated gendong-gendong anak kemana-mana'. Saya harus memasang kuping ekstra sampai akhirnya terdengar si teman bilang, "sekampus cuma beda jurusan". Ya, alhamdulillah saya educated mbak, mas. Hahahaha. Dan gendong-gendong anak kemana-mana.
Ketika ternyata kamu tahu bahwa orang (orang) yang pernah dekat denganmu ternyata kadang masih teringat soal kamu itu… Rasanya membingungkan. Saya sih jadi banyak pertanyaan. Setelah semuanya ternyata begitu. Dan sadar-sadar, kami mungkin sebenarnya merasa move on, tapi tidak juga.
Kami dekat dan banyak hal menyenangkan bersama, dan saya yakin, mereka pasti mengingat hal-hal konyol itu sebagai memori yang menyenangkan dan akan membawa senyum kalau diingat. Lalu, kejadian demi kejadian selanjutnya akan mulai teringat juga, dan itu cukup bikin sesak.
Dalam pertemanan, atau persaudaraan dengan jumlah 3 orang, satu pasti akan tersisih atau merasa tersisih. Karena biasanya memang begitulah.
Saya menjauh karena hal-hal yang berlarut-larut dan saya rasa mereka tidak sadar telah melakukannya, tapi saya sadar sepenuhnya untuk mulai mencari kesibukan selain kegiatan bersama. Menjadi seorang yang tertinggal itu tidak menyenangkan. Sampai akhirnya suatu kejadian membuat saya merasa betul-betul disingkirkan. Dan mereka pikir karena saya tidak bilang ingin terus bersama-sama. Setelahnya banyak hal yang harus saya urus dan pikirkan sendirian. Keluarga dan ekonomi keluarga yang kacau membuat hal yang lain kacau. Akademik, kesehatan, relasi sosial, kesehatan mental.
Mereka menyadari perubahan saya, dan tidak mencoba menarik saya kembali. Itu kesalahan terbesar mereka menurut saya. Saya pun tidak biasa untuk menumpahkan hal-hal yang saya simpan begitu saja. Saya terbiasa menyimpannya sendirian, dan saya menunggu untuk mereka menarik dan membongkar paksa apa yang saya pikirkan. Tapi ekspektasi sering tidak sesuai realita bukan?
Kemudian, saya mulai kenal lawan jenis. Saya butuh sekali merasa bahwa ditengah-tengah dunia yang jahat, bahwa ada yang baik pada saya. Dan saya memanfaatkan kebaikan yang saya terima. Kebetulan dari lawan jenis. Saya hanya menerima kebaikan tanpa berusaha membalas karena saya yakin, kebaikan ini pasti ada motif terselubung. Jadi, akan lebih baik kan kalau kita berpura-pura naif dan menerima kebaikan itu seolah-olah kita melihat bahwa semua orang pasti berbuat kebaikan yang sama. Diri saya saat itu sungguh memuakkan.
Mereka pun pasti berpikir saya memuakkan. Kemudian semua berubah, tidak ada lagi sahabat-sahabat yang baik bagi orang yang memuakkan itu. Siapa yang akan menyayangi saya kalau bahkan saya benci pada diri sendiri?
Kekacauan demi kekacauan terjadi. Saat itu saya yakin pada dugaan saya kalau salah satu dari mereka menyukai si lawan jenis. Dugaan saya diperkuat oleh sikapnya terhadap si lawan jenis, sikapnya terhadap saya, dan bagaimana orang-orang lain juga punya persepsi yang sama. Kami akhirnya hanya saling melukai. Dia kecewa pada saya, dan saya membencinya. Karena kekanak-kanakan dan malas berpikir, kami mengambil kesimpulan termudah : semuanya disebabkan oleh lawan jenis. Saya rasa itu yang dia percayai sampai sekarang, itu yang dia yakini sebagai persoalan utama perusak hubungan kami.
Tapi mungkin itu yang ingin saya percayai bahwa dia pikir itulah perusak hubungan kami. Mungkin kami terlalu takut untuk mengakui bahwa perusak hubungan kami adalah rasa insecure kami.
Save your words, they fall on deaf ears.
Gideon, cost.
Though we are generally hate small talks.
Begini. Entah sejak kapan, ada benjolan sebesar kacang polong kecil di atas gigi seri kanan. Gak sakit, gak ganggu, seperti nggak ada, tapi keliatan kalau sedang nyengir lebar. Berulang kali Anton ngajak ke dokter, saya nggak mau. Takut. Saya paling takut ke dokter. Juga pernah 'dirampok' dokter (malas mikir) karena saya sok2an pakai ilmu famakologi abal-abal. Intinya, asam garam dunia mengunjungi dokter pernah saya alami. Dan bener2 paling takut ke dokter gigi sejak cabut gigi untuk pasang behel di sebuah rumah sakit pemerintah. Suntik biusnya aja alamak gede banget, lubang jarumnya bisa keliatan. Dikira mau ambil darah di gusi apa ya. Gila, kan! Nah. Akhirnya, senin kemarin datang lah kami ke dokter di rumah sakit swasta. Setelah mengikuti prosedur rujuk bagian sana sini, akhirnya diambil lah ini benjolan. Banyakan darahnya kayaknya daripada benjolannya. Soalnya yg keliatan kayak cuma serpihan2 kecil gitu ditaruh di botol disuruh cek lab, lihat ini tumor pasif atau agresif. Oh iya, itu benjolan tumor ternyata saudara-saudara. Sejak senin itu, rasanya habis makan suka kayak ada makanan nyangkut di gusi dan bibir dalam bagian depan, ganjel lah pokoknya. Pas dilihat benang jahit. Oh iya, itu luka dijahitnya pakai benang hitam yg mesti dicopot itu lho, bener2 gak estetis. Sebetulnya saya takut dan gemetar pas disuntik bius, tapi kenapa akhirnya saya bisa kayak biasa aja dan akhirnya duduk manis sambil mulut saya dikorek2 pisau? Karena saya pasrah, dan melahirkan lebih mengerikan lagi daripada ini.
Hubungan saya dengan mama tidak selalu baik. Saya bahkan masih berusaha betul-betul memaafkan mama saya atas kejahatan yang dilakukannya terhadap dirinya sendiri. Kejahatan yang bodoh. Hari ini mama sudah setengah abad. Semoga mama diberkahi dengan kebijakan yang akan membantunya menjalani hidup dengan lebih tentram.
Day 1 : yourself or your persona Literally gambar saya. Ekspresi datar.
Day 2 : someone you like Papa saya, kredit untuk mengajari saya menggambar di masa balita
Day 3 : one, some, or all of your friends Wafi. Keponakan sih tepatnya, tapi buat dia saya teman sebaya (karena saya dan ibunya satu peer group, mereka seringkali sepaket sebelum adiknya wafi lahir)
Day 4 : an animal younreally think is cute Panda merah itu menggemaskan banget. Kayak boneka hidup.
Day 5 : your favorit outfit Favorit jaman masih gadis. Simpel dan effortlessly cool hahaha. Palet warna sekitar putih-abu-biru-navy-hitam.
Sedang iseng beginian, lumayan ngurangin kejenuhan housechores emak2.
Surat untuk Leyla : 27-01-2017 Hai Leyla. Belakangan mama banyak berpikir nak soal pernikahan orangtuamu ini. Sudah setahun 4 bulan mama jadi istri. Mama rasa perlu mama ceritakan menjadi istri dan menikah itu bagaimana sejauh ini, just because. Mudah-mudahan nanti kamu akan merasakan jadi istri dan ibu juga nak, nanti pasti pengalaman dan persepsi mama akan berbeda dengan sekarang. Selama satu setengah tahun kurang ini, hal pertama yang mama temukan adalah pembuktian dari kalimat "expectation is the root of heartache". Mama sudah berteman dengan papa cukup lama, dan banyak hal yang ternyata belum mama tahu dari papa. Banyak hal yang mama ekspektasikan tidak kejadian, dan tentu mama agak patah hati. Kalau dipikir ulang, papa pasti begitu juga, agak patah hati karena berekspektasi pada mama. Wajar kita berekspektasi nak, kamu akan melalui tahap itu juga nantinya. Saran mama, pastikan marahnya tidak terlalu lama, kasihan suamimu hehehe. Mudah-mudahan papa dan suamimu nanti juga kasian pada kita kalau marah lama-lama. Berbekal pelajaran itu, mama berusaha untuk meregulasi emosi. Ini lebih susah lagi dibandingkan kesadaran untuk melihat dari perspektif pasangan kita. Perempuan apalagi, yang katanya 'berpikir dengan emosi'. Kita secuek apapun tidak akan lepas dari drama adaptasi pada pasangan. Hal lain yang sejauh ini mama pelajari adalah, "diam itu emas". Tapi bukan berarti diam yang merajuk ya nak. Kadang kita perlu diam untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu, apalagi istri harus menurut pada suami. Nah, tambahkan 'tunduk' pada list yang harus diceklis dalam pernikahan nak. Jadi istri tidak senatural jadi ibu, jauh lebih sulit hehehe. Jangan lupa tambahkan pada ceklis untuk berusaha akrab dengan keluarga pasanganmu. Nak, pernikahan mama baru sebentar, kalau masa pernikahan mama dan gajah yang hamil dimulai bersamaan, ia bahkan belum melahirkan bayinya. Jadi, biarkan mama membagi pengalaman ini dati sudut pandang istri newbie ya nak. Lain kali mama akan bagikan pembelajaran apa yang mama dapatkan setelah menikah melewati 5 tahun. Yang akan selalu relevan, "libatkan Allah dalam semua aspek kehidupan kita nak, insyaAllah selamat."
2015
Ada 365 hari ke depan (terhitung hari ini). Saya punya proyek untuk membuat kesan atau kutipan, pikiran random dari yg paling ringan sampai yg agak-agak muram di hari itu ditambah ilustrasi sederhana. Harus playful, dan witty. Ah… Gak yakin. Taunya ujung-ujungnya cuma jadi komedi sarkas. Setidaknya itu cukup witty. Haha.
Yang jelas, ini harus direalisasikan. *langsung menyesal gak beli baru/service scanner*
Harus produktif! Selamat berganti kalender, selamat liburan, selamat mencari kegiatan baru dan pengalaman baru.
Mudah-mudahan tahun ini status di KTP udah ganti. Aamiin Ya Rabb…
Alhamdulillah. Kesampaian :)