Jan : stase anak dimulai, libur sebelumnya sungguh tak terasa, stase yang katanya penuh dengan drama, karna para konsulen yang terlalu menjiwai profesinya kemudian sering tak sadar menjelma jadi anak-anak, *ups bukan semata-mata kata ku, itu kata konsulen anak yang kukenal, dia persis bicara begitu
Mar : stase dalam rumah sakit ku selesai, memulai stase terakhir di dunia perkoasan, sebut saja PBL di luar kota, tepatnya purwakarta, putaranku tak dapat puskesmas daerah kota, sedikit menjorok ke dalam, tapi masih terjangkau.Dibentuklah kelompok lagi untuk kesana, hemmm kelompokku berdrama
Apr : bulan yang selalu kutunggu sekaligus bulan yang paling pantang berekspektasi. Dari awal bulan aku sudah dijanjikan tiket menonton itu, tepat di hari ulangtahunku, iya kampung jazz 2018, monita tahalea lengkap dengan gerald situmorang, mymp, raisa, dan teman-temannya. Senang memang menonton konser sampai larut malam, berteriak dan bernyanyi, menyaksikan penuh kagum sang musisi kemudian melebur dengan berbagai macam penonton, aku tak pernah bosan.
Mei : sesuatu yang besar terjadi! Momentum itu akhirnya ku dapatkan, berawal dengan sakit hati dan keterpurukan dan kemudian menumpuk meluap menjadi sebuah ledakan dahsyat, Tuhan beri kesempatan pada waktu dan tempatnya, pelukan dan air mata dari orang yang melahirkanku masih tersa hingga kini, memang segalanya harus diungkapkan, hari itu keluar ungkapan cinta yang selama ini hanya terkubur dalam-dalam dan diam. Satu selesai, kemudian yang satunya, ada yang harus diselesaikan sebelum hari “penghakiman”ku (re :kami) keluar dari rumah sakit pendidikan itu, seorang malaikat datang dalam wujud yang lain, terimakasih itu bisa selesai. Selesai dunia perkoasan, tapi ternyata itu bukan benar-benar akhir, menuju “penghakiman”nya pun aku setengah mati, hidup kemudian mati lagi, keringat dingin, mual, pusing, pikiranku melayang-layang, banyak kekhawatiran dan pertanyaan dalam kepalaku, bagaimana kalo mengulang? Bagaimana menyampaikan pada orangtua ku? Bagaimana kalau harus menambah biaya lagi? Bagaimana kalau.... ah sudahlah, terlalu banyak bagaimana, kuputuskan menyerahkan pada yang Maha Luarbiasa, YES! Hanya karna berkatNya, aku bisa menghubungi wanita pertamaku, yang kupanggil ibu, dengan haru. Koasku resmi selesai.
Jun : babak baru dimulai, persiapan ujian sekali seumur hidupku, harapku hanya sekali. Mulai mempelajarinya dari awal, cicil menyicil, karna aku tau aku bukan seseorang yang cerdas, semua butuh extra effort :D sambil semuanya berjalan, aku tetap saja “menginap” di rumah sakit, mungkin aku tak bisa jauh dari itu. Dimulai mba di rumahku, hingga wanita pertamku yang harus masuk kamar operasi, dia memang bebal, keras kepala, tapi sangat kusayangi, semua berjalan lancar, “jaga malam” ku pada mereka tak sia-sia.
Agustus : hari penentuan hampir tiba, semenjak dimulainya bulan ini, semua alarm tubuhku aktif, cemas, bingung, panik, takut, nangis, mual, tak bisa tidur, kesensitifan juga bertambah 1000%, semua. Sampai harinya tiba, hanya bisa berserah dan berdoa, semoga bulan-bulan kemarin bekerja tidak sia-sia, dan selalu tidak ada yang sia-sia berkerja dan berdoa pada Bapa
Sept : bulan penuh pertaruhan harga diri ku juga keluarga, terlalu emosional. Aku menantikan pengumumannya, pikiran paling buruk sudah kujalani, karna pikirku, aku harus selalu mempersiapkan diri untuk hal itu. Bulan ini juga aku melepaskan kakakku menjadi milik orang lain, yang sudah tak bisa lagi “seenaknya” ku pinjam dan ku bawa. Masalah baru, diundangan sudah tertera gelarku, setiap yang melihat itu selalu menyelamatiku, aku tersenyum simpul dan mengaminkan dalam hati, lalu bagaimana kalau gelar itu tak bulan ini kudapatkan? Bagaimana kalau 3 bulan lagi? Atau bagaimana kalau aku tak pernah mendapatkannya? Atau jalanku memang bukan disitu? Aku pulang ke bandung sendiri menunggu detik-detik seluruh manusia bisa mengakses hasilnya, karna pikirku, aku akan lebih tenang berada di kamar ku saat itu terjadi. Malam itu seperti biasanya aku tak bisa tidur, badanku gelisah, tak berhenti memperhatikan layar hp, setiap notifikasi masuk jantung ku berdebar, tanganku berkeringat, kapan muncul hasil itu. Hingga akhirnya badanku lelah sendiri menahan kantuk, lalu tertidur. Aku terbangun pagi2, kurang lebih pukul 5.20, terbangun dengan notifikasi hp yang berulang-ulang, HASIL KELUAR, tangan ku gemetar membuka isi pesan di grup, ku klik selanjutnya, mulai mencari universitasku, tangan dan mataku cermat mengurut abjad demi abjad. NAMAKU! Iya ada NAMAKU, tertera Margaret Yosephine Estevania! IYA, di kedua hasil tesnya ada NAMAKU, aku menjerit sedikit dan tak berhenti bolak-balik melihat layar itu, kututup kubuka lagi dan terus ku ulang, aku tak percaya, aku masih takut itu hanya candaaan, sampai salah satu temanku menelepon dan memberikan selamat, iya dia juga sama-sama lulus, pertanyaan pertamaku yang ku lontarkan pada nya “Ini beneran?!” lalu dia menjawab iya menyakinkanku. Aku bahagia dan rasa syukur mengalir, aku melipat tangan dan menutup mataku, iya semua ini hanya harna Dia. Lalu ku mulai mencari kontak orangtuaku dan memberitahukan mereka satu persatu. Aku bersyukur :”)
Okt : janji diikrarkan, di hadapan para orangtua dan seisi gedung, di saksikan pada pemuka dari berbagai agama, SUMPAH di lafalkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, akhirnya aku resmi menambah gelar di depan namaku, akhirnya ku yakin, tempatku dan jalanku disini, caraku memuliakan Dia lewat profesi ini. Rekaman 6 tahun lalu seketika muncul, mulai dari rasa ragu memilih jurusan, peguruan tinggi, berargumen dengan sana sini, menetapkan hati dan semua proses yang sudah dijalani. How great is our God!
Des : yaps natal, natal naposo ku saat aku hanya menjadi jemaat, menikmati setiap rangkaian acaranya, tersenyum karna pernah berada pada posisi tersebut, bangga menyaksikan seluruhnya. Kembali aku bersyukur pernah ada dalam bagian dan proses itu.