Gerimis sore itu
Gerimis sore itu, datang bersamaan dengan sisa sisa cerita di kedai kopi. Aku berbalut kemeja putih kebesaran menyapamu dari balik garasi kayu dan dedaunan layu. Lalu?
Cinta berbalik arah menuju hutan belantara. Senyap dan pengap. Ruang-ruang kosong itu mencarimu di antara keramaian kota. Di antara serangkaian cahaya lampu. Di antara para pemusik jalan raya. Di antara ratusan bait tentangmu yang terlanjur menjalar. Dan ribuan pertanyaanku yang lelah berlayar.
Ah, tau apa kamu tentang rindu? atau puisiku. Tiba-tiba hidup ini seperti hitungan anak-anak saat bermain petak umpet. Lima puluh dihitung cepat atau satu sampai sepuluh lambat-lambat. Lagi-lagi perkara waktu.
Gerimis sore itu sudah melewati hujan deras di pelupuk matamu. Bahkan bertemu pelangi yang tak lagi merah kuning kelabu.
Masihkah belantara? atau.. hanya sementara?
25 April 2016, 01.22












