"Got a lipstick mark still in your coffee cup" - Back for Good by Take That-
RMH

Andulka

oozey mess

blake kathryn
đŞź
Stranger Things
Keni
Cosimo Galluzzi
Sweet Seals For You, Always

No title available
Noah Kahan
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

JVL

izzy's playlists!
sheepfilms
Mike Driver
TVSTRANGERTHINGS
EXPECTATIONS
ojovivo
One Nice Bug Per Day
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Singapore
seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from Iraq
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@mylittlebrain
"Got a lipstick mark still in your coffee cup" - Back for Good by Take That-
Saya & Kopi, dan banyak lainnya antara Saya & Kopi
Saya sudah suka minum kopi sejak kecil, sejak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Masih segar di ingatan saya dulu saya suka curi-curi menegak sisa kopi Julak Laki. Beliau adalah suami dari kakak perempuan mama saya. Rumah kami bersebelahan dan saya hampir setiap hari bermain di sana. Julak Laki minum kopi tubruk gelas duralex besar, dengan tatakan dan tutup gelas terbuat dari aluminium. Entah itu kopi jenis apa, yang jelas waktu saya kecil sampai SD kopi jaman itu dijual di warung-warung dibungkus dalam kantung plastik es lilin. Kopinya sudah berbentuk kopi bubuk. Saya candu menghirup baunya, sama candunya saya menghirup bau buku baru, kamus bahasa Inggris Longman Dictionary, dan uang kertas baru yang Nenek kasih saban beliau habis terima uang pensiun.
Ketika saya SD, muncul lah kopi produksi Nescafe. Abah bukan peminum kopi, tapi dia yang mengenalkan saya dengan kopi Nescafe ini. Saya pikir Abah yang waktu itu bekerja di sebuah bank swasta tentunya âsedikitâ lebih modern sehingga duluan mengenal produk Nescafe. Adalah suatu kemewahan bisa membeli sebotol kopi Nescafe, serasa level kesejahteraan meningkat.
Kemudian saya mengenal cara minum kopi dengan creamer. Abah tidak pernah melarang saya minum kopi, tapi dia selalu mengingatkan untuk tidak berlebihan. Sekarang saya jadi teringat, banyak hal yang Abah kenalkan ke saya walau pun dia tidak pernah benar-benar menguasainya: kopi tentu saja, selain bahasa Inggris, dan melukis dengan cat air. Yang terakhir, saya tidak pernah benar-benar menguasainya. Tapi paling tidak saya pecinta warna dan pecinta seni, waktu SD saya terkenal jago menggambar dan sekarang saya punya galeri.
Masih ketika saya SD, saya punya tetangga sebelah rumah. Tetangga baru dari Jakarta. Dan sebagai anak kecil Samarinda selalu terkesan dengan tetangga baru, dari Jakarta pula. Namanya Om Isam, lengkapnya Isamsaro. Om nya ganteng, berwajah agak kotak dengan kumis yang mempertegas karisma wajahnya. Saya kecil segan sekali dengan beliau. Om Isam juga bekerja di bank. Beliau peminum kopi berat. Om Isam memesan langsung biji kopi dari pulau Jawa dan menyangrai hingga menggilingnya sendiri di rumah. Konon Om Isam mencampur gula merah di seduhan kopi nya. Eksotis dan mistikal.
Lepas SMA, saya belajar bahasa Inggris ke Boston. Saya tiba di sana di penghujung musim panas memasuki musim gugur. Sekolah saya berada di puncak bukit dan bangunannya adalah bangunan tua bekas biara. Dindingnya adalah batu bata merah dan langit-langitnya tinggi-tinggi. Setiap pagi sebelum masuk kelas, saya selalu singgah di bookstore untuk membeli segelas kopi. Seingat saya, di sini ada tiga termos besar berisi kopi Arabika, Colombia, dan jenis yang satunya lagi saya lupa. Disposable paper cups atau gelas-gelas sekali pakai berbahan dasar kertas tersusun dengan rapi di samping termos-termos ini. Siapa pun yang ingin membeli kopi bisa mengambil sendiri gelas ini, memencet katup termos, dan mengisi gelas dengan kopi pilihan. Kemudian membayar satu dollar ke kasir, si Paula yang berambut sangat ikal dan sangat pirang dengan bola mata yang berwarna biru terang dengan bulu mata super lentik. Pilihan saya adalah kopi Colombia, dan saya suka mencampur dengan sedikit susu dan gula palem. Kenapa Colombia? Mungkin selain rasanya, saya punya kedekatan yang sangat akrab dengan teman-teman dari Colombia. Ketika Indonesia mengalami krisis moneter, dan kurs Rupiah terhadap Dollar di Samarinda jatuh dari Rp. 2.350,- sampai serendah Rp. 17.000, saya sempat stop membeli segelas kopi.
Tahun 2001 saya pergi ke Austria. Selama beberapa minggu di musim dingin bulan Januari sampai Maret saya tinggal di sebuah desa kecil di kaki gunung der Grimming, di negara bagian Steirmark atau Styria. Saya tinggal di rumah liburan milik Duta Besar Austria untuk Indonesia Bp. Viktor Segalla. Beliau setiap pagi minum kopi. Tentu saja. Dan beliau membuat kopi dengan menggunakan alat yang baru belakangan ini saya tau namanya, Moka Pot. Tentu saja moka pot nya tidak semodern yang saya liat sekarang. Bahannya terbuat dari aluminium tanpa variasi warna. Ia diletakkan di atas kompor listrik. Setelah terseduh sempurna, kopi dituang ke dalam gelas keramik. Dan kami sarapan di meja khas Austria dengan taplak kotak-kotak warna merah putih, menikmati sup kaldu ayam dengan irisan daun kucay ditemani roti kering, duduk menghadap jendela sembari memandang gunung batu tinggi menjulang, si Der Grimming bagian dari pegunungan Alpen. Ah..... saya kecil hanya mengetahui pegunungan ini dari kisah si Heidi.
Sekali-sekali, Pak Segalla mengajak saya nongkrong di kedai kopi di sore hari sambil menikmati macam-macam pastry lezat khas Austria. Yang paling terkenal khas Austria, dan juga populer di Jerman dan banyak negara Eropa lainnya, adalah Apfelstrudel. Kue apel dengan sentuhan kayu manis, resep klasik yang konon berasal dari kerajaan Austro-Hungarian sejak tahun 1600an. Kadang, Pak Segalla mengajak saya bertandang ke rumah tetangga. Tuan rumah juga suka menawarkan kopi dan kue-kue ala Austria, duduk mengobrol di meja makan, ditemani kucing Austria yang tidur mendengkur di pinggir jendela kayu. Suatu kali, Pak Segalla mengajak saya pergi ke kampung yang jauh di pelosok Austria, untuk mengunjungi sahabat lamanya. Dia seorang wanita setengah baya, berpakaian tradisional khas perempuan Austria, dengan celemek. Saya ingat dia sangat antusias ketika Pak Segalla datang ke rumahnya, dan dengan hebohnya dia mengatakan betapa gembiranya dia pernah mendengar wawancara Pak Segalla sebagai diplomat melalui radio. Ketika kami pulang, dia menyangui kami sekotak pastry khas Austria bernama Lebkuchen. Pas saya buka dan cicipi, ya ampun kue ini mirip sekali dengan kue lidah sapi khas Samarinda dan Tenggarong.
Suatu hari saya mendapat kejutan. Pak Segalla menyuruh saya berkemas dan kami berdua pergi ke stasiun kereta. âEllie, perjalanan kita akan menempuh waktu 7 jam. Saya tidak akan memberi tahu kamu kita akan kemana, tapi kamu bisa mengira-ngira sendiri dengan waktu 7 jam perjalanan dengan kereta kita mungkin akan tiba di negara mana karena dengan waktu tersebut kita sudah keluar dari negara Austriaâ. Kereta yang kami naiki bukan kereta express, yang artinya ada beberapa tempat perhentian. Di jam-jam awal kami masih melewati pegunungan Alpen yang bersalju, kemudian pegunungan berlalu dan mulai memasuki lahan lapang. Petugas pemeriksa tiket kereta awalnya adalah seorang yang berbahasa Jerman, artinya kami masih di batas negara Austria, mungkin Jerman. Lalu, petugas berganti, dan dengan logatnya saya bisa menebak: kami pergi ke Italia. Kota pertama yang saya kunjungi adalah Venesia, lalu Florensia, singgah beberapa jam di Pompeii dan terakhir Roma. Dan tentu saja oh tentu saja, di sini saya mencicipi Espresso pertama saya. Pengalaman pertama tentu saja berasa unik, ketika kopi yang pekat dan kaya rasa mengejutkan langit-langit mulut dan langsung membuat melek, dan di hari-hari setelahnya ia kemudian menjadi satu kebiasaan. Setiap hari selama di Eropa saya minum kopi.
Kembali ke rumah di Samarinda, tentu saja yang paling membuat saya tersiksa adalah susahnya mencari kopi selezat kopi yang saya nikmati di Eropa. Kopi Nescafe tidak lagi terasa pas di mulut, dan saya merasa lebih pas dengan kopi yang dibeli di warung, seperti kopi yang saya minum dari gelas Julak Laki.
Tahun 2004, saya melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Saya ingat, setiap pagi sebelum berangkat kuliah saya menenggak satu mug berisi campuran satu sachet kopi coffee mix yang saya campur dengan satu sachet susu kental manis. Selama 3,5 tahun jadi anak kost, coffee mix jadi teman akrab di pagi hari dan kala musim ujian buat mata melek begadang.
Tapi sekarang, jantung saya tidak kuat karena setelah minum campuran ini jantung jadi berdebar-debar tidak nyaman. Entah itu karena kopinya, atau campuran susu dan gula yang menjadikannya memberi efek demikian, atau mungkin karena faktor U demikian orang-orang suka menyebut faktor usia yang menua, saya tidak pernah lagi bisa cocok minum kopi dengan campuran susu dan gula, terutama susu kental manis. Jantung berdebar-debar dan perut kembung dan mual.
Kalau saya sudah begini dan mengeluh, Mama saya bilang, âmakanya......badanmu tidak cocok dengan kopi, badanmu itu badan perempuanâ. Atau Mama bilang, âjangan minum kopi, tidak baik untuk jantungâ. Pengetahuan ini yang terpatri di kepala Mama, dan karena ini dia melarang Abah yang suatu hari ingin minum kopi.
Abah waktu itu sudah sekitar 10 tahun paska terkena serangan stroke, sehingga sejak saat itu beberapa organ vital tubuhnya mulai berkurang produktivitasnya. Asmanya sering kambuh dan ada masalah dengan jantungnya. Namun di awal tahun 2009 kondisinya membaik dan suatu hari dia ingin minum kopi.
âEllie, tukarkan pang aku kopiko, aku handak minum kopiâ
âKopiko itu permen, Abah handak permen kah atau handak kopi yang sachet?â
Saya lalu membelikan kopi sachet karena maksudnya hanya untuk sekali minum. Karena Mama khawatir dengan masalah kesehatan Abah dan efek kopi yang selalu dianggapnya tidak baik, Mama membuatkan Abah kopi hanya setengah sachet dengan banyak air.
Dan Abah pun protes, âKopi apa ini? Kedada rasanya! Encer!â
Kalau ingat itu, sebenarnya Mama dan saya agak menyesal karena tidak memberikan Abah kopi yang enak sesuai dengan keinginannya. Dalam kepercayaan adat kami, keinginan orang tua yang sepuh sebaiknya dituruti karena khawatir itu adalah keinginan terakhirnya. Dan kopi yang sungguh encer dan tidak enak itu jadi kopi terakhir yang dinikmati Abah.
Sedih kalau ingat itu. Tapi saya yakin Abah bisa dan senang melihat kesibukan dan kegembiraan yang terjadi di rumah beberapa waktu terakhir ini. Dan saya yakin dia pasti merestui saya dan apa yang saya lakukan ini.
Jadi, suatu hari sahabat saya Rifki dan Hilda curhat betapa mereka tidak punya teman berbagi passion kopi selain dengan saya dan Tino. Saya ingat di Samarinda sudah mulai ada kedai-kedai kopi yang menyajikan kopi pilihan dengan cara seduh selayaknya kopi dibuat. Kami mulai follow beberapa akun Instagram kedai kopi di Samarinda. Sampai suatu hari kami mengadakan private brewing di rumah saya dan saya memperkenalkan Rifki ke beberapa teman. Singkat cerita, pertemuan ini ditambah dengan menangnya Rifki di suatu kompetisi barista menjadi awal semakin terbukanya pertemanan dengan sesama pecinta kopi di Samarinda. Beberapa kali private brewing ini diadakan di rumah saya dengan mengundang lebih banyak teman dan bertemu dengan teman baru.
Saya sebut ini âDreamsprojectâ. Karena salah satu mimpi yang sedang saya wujudkan adalah membangun dan mengembangkan galeri yang berisi foto-foto Samarinda tempo dulu, dan sebagian koleksinya adalah milik Abah. Dan galeri yang saya namakan Galeri Samarinda Bahari ini menjadi tuan rumah untuk acara private brewing ini. Ia mewadahi bertemunya orang-orang yang bersedia berbagi passion, impian, dan saya yakin semua orang yang datang ke sini datang untuk berbagi. Melalui private brewing, sambil icip-icip kopi kita berbagi cerita, kecintaan, dan ide-ide untuk mewujudkan impian masing-masing.
Maka ia saya sebut pula dengan sebutan âberbagi impianâ, dreams are shared. Sama dengan pengetahuan, ia tidak dimiliki dengan egois oleh seseorang, pun ia tidak bisa tanpa dibagi. Impian pun, kadang, begitu. Saya tak mungkin bisa mewujudkan impian galeri saya tanpa bantuan dukungan dari teman-teman yang percaya dengan impian saya.
Bagi saya, impian dan kopi memiliki satu hal yang sama, mereka harus dibagi. Apalah artinya impian kalau hanya saya yang menikmati hasilnya sendiri. Dan terus terang, saya sekarang merasa kesepian kalau menikmati kopi sendirian.
Terkecuali malam ini, saya menikmati kesendirian menyeruput kopi Arabica Gayo dari Beladro.
Eh tidak, saya tidak benar-benar sendirian! Saya ditemani dengan ingatan-ingatan saya tentang pengalaman saya mengenal dan bersama kopi, saya ditemani Abah, saya ditemani oleh ngiangan celoteh Rifki yang bercerita tentang kopi, dan kepingan-kepingan cerita teman-teman yang bersama saya akhir-akhir ini.
Kata orang, kopi bikin susah tidur. Tapi tidak untuk saya. Saya sudah menuliskan cerita tentang saya dan kopi ini selama tiga jam setengah, dan ini sudah menjadi lima halaman. Dan saya sudah sering menguap sekarang.
Saya akan pergi tidur sekarang dan bermimpi.
Esok hari saya bangun dan kembali melanjutkan mewujudkan mimpi saya menjadi nyata.
Oh ya, selamat untuk Rifki dan Hilda untuk Rumah Seduh Kopi Semenjana.
Tak sabar untuk kembali pulang ke Samarinda, segera.
Today last year, I was on stage to give a talk. Lots of surprises ever since. Today this year, I completed my Mandi Kembang. I have to be ready for more big surprises of life.
My little brain needs joke to understand (my) life.
I know I am crazy. Let me be. And let me get through my crazyness. It's part of learning who I am, my limit, breaking the limit, and gain new knowledge and skill. Life it is.
Negative Energy Cleansing Project Day 1: Get rid of any broken glasses. After 1x24 hours my little brain processing a new (still) illogical knowledge (I will tell you later I promise, the clue is that it is related to my previous post), Mama and I decided to start with this. I was told that any broken glasses or mirror must not be kept in the house, well not only that it may hurt, but it transmits bad energy which can affect not only your physical health but also your psychological, even spiritual health. So I started it this morning with the broken glasses of my shoes cupboard and the cupboard in Mama's bedroom. And just now when I was doing my yoga pigeon pose in my private room in office, suddenly I remembered another broken glasses of a big bookcase in this room. Equipped with my leather gloves I usually wear for riding motorcycle I dared myself to take down those broken glasses from the frame. Still difficult to digest this 'bad luck' of a broken glasses. But I think at one second I meditatively gazed through it I got to understand that a broken glasses surely transmits a negative energy for its sharp and no longer perfect shape. Perhaps it's something physical, but just like you can't see the air, you can't see the negative energy transmitted by something broken. Just because you can't see it, it does not mean it does not exist. And why still keep something broken (for so long)?
The great battle to victory is always at the end. It is full of treachery, despair, confusion, prejudice, scepticism, and the unexpected. In hopelessness, it is either quit the battle, or keep on moving till the end. Glad that Pandora had opened her jar. For the Hope that gives strength to the weakening heart.
My little brain is trying to survive.
Hey look! I get married! Mandi kembangnya berhasil ;P gyahahahaha
Upaya(ku) Menikah: Antara Mitos, Doa, Tradisi Lokal, & Pemantasan Diri (?) Â
 Ternyata di Google ada 265 juta artikel tentang âStop bertanya pada saya kapan saya menikahâcurahan banyak penulis dan blogger baik di Indonesia maupun di barat sana. Baiklah pemirsa, pembaca, rekan, dan keluarga, saya akan menambah satu lagi tulisan tentang itu.
Hari ini Jumat, waktu menunjukkan 08.23 Wita. Saya duduk di sini, di ruangan kerja saya di sebuah yayasan sosial, sembari mendengar lagu berjudul âMarry Meâ yang ditulis oleh musisi Amerika Pat Monahan dari grup Train yang sering dinyanyikan oleh band-band di acara resepsi pernikahan. Sejak berangkat dari rumah sudah berulang-ulang lagu ini diputar di playlist saya.
Dan saya belum mandi.
Jadi ceritanya, saya tidak boleh mandi sampai nanti siang. Sekitar tengah hari nanti, pas disaat khutbah Jumat, saya akan melakukan âritualâ mandi kembang dengan banyu doa. Anda heran? Ya, saya juga heran kenapa saya (masih) mau dan rela melakukan ini. Dua minggu yang lalu, keponakan saya melangsungkan pernikahan. Salah satu kerabat yang sudah sepuh yang pernah jadi ibu angkat almarhum abah bertanya kepada mama, âanak ikam sudah kawin kah?â âhandak kah ku olahkan banyu gasan mandi? Amun handak kena ku olahkan. Biasanya kabul aja pang.â
Dengan hati-hati, karena kami sudah sering bertengkar karena ini dan mama paham sekali betapa sensitifnya saya terkait hal ini, mama menyampaikan maksud Nenek tersebut yang berkeinginan membuatkan air doa dengan hajat supaya saya cepat menikah. Tersentuh dengan perhatian dan ikhtiar dari Nenek, saya pun mengiyakan. Ya, saya bersedia menerima tawaran tersebut karena saya pikir si Nenek tidak bawel berkomentar macam-macam, justru âmembantuâ secara âkonkritâ. Beda dengan keluarga lain yang bisanya cuman bawel dan melontarkan komentar yang bikin telinga saya panas, dan keluarlah tanduk taring dan buntut setan saya terbakar amarah.
Beberapa bulan lalu, om saya tiba-tiba menelpon mama hanya ingin bilang begini: âsuruh ay ellie tu bangun tengah malam sembahyang Tahajjud, lengkapi dengan Dhuhaâ. Well, anjuran yang sungguh mulia memang. Tapi saya tersinggung mendengarnya. Secara waktu itu saya juga sedang sangat sensitif di hari-hari menjelang ulang tahun saya yang ke 35 (dan saya masih lajang di usia segini), dan saya pun meledak, âmemangnya aku harus umumkan dan tunjukkan ke semua orang kalau aku shalat Tahajjud dan Dhuha? Dan memangnya mereka pikir aku tidak pernah berdoa meminta hajat menikah?â
Saya tahu, saya bukan satu-satunya di dunia ini yang mengalami ini. Tapi tetap saja adalah sesuatu yang sangat amat mengganggu mendengar komentar dan pertanyaan, âkapan kawin?â. Apalagi kalau pertanyaan tersebut ditambah dengan tuduhan, âkamu sich berkarir terus sampe lupa menikahâ, atau âmakanya jadi perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, gimana cowok berani melamar?â, âkamu nyari pasangan yang gimana sich? Gak usah terlalu pemilih!â, dan jeleknya lagi kalau dituduh âkamu sich gak berusaha!â
Berusaha???
Sini saya beri tahu soal berusaha, lebih jelasnya lagi, berusaha untuk menikah. Anda mau tahu apa yang sudah saya upayakan? Silahkan anda sebutkan, InshaAllah sudah saya upayakan (saya benci menjadi terbuka dan meng-klaim ini, semestinya biar ini menjadi urusan saya dengan Tuhan saja).
Bagi mereka yang relijius dan Islami, anjuran yang sering mereka beri ke saya adalah: Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, dan banyak bersedeqah. Sini saya beri tahu, selain amalan shalat ini, amalan yang baik yang bisa dilakukan demi memanjatkan hajat menikah adalah rutin membaca Surah Al-Fajr setelah selesai membaca wirid shalat Subuh ketika matahari terbit. Tips ini saya dapat dari Ustad Heri dari Pesantren Ibadurrahman di L3 Separi waktu saya mengantarkan klien saya untuk terapi Narkoba dengan pendekatan spiritual dan herbal. Beliau sebenarnya memberi tips ini untuk klien saya dan ibunya, âamalan ini Bu supaya Insha Allah hidup menjadi semakin terang dengan cahaya Allah, bagi yang berkeluarga agar selalu sakinah mawaddah wa rahmah, dan bagi yang belum menikah agar segera dipertemukan jodohnya.â Dan saya pun mencuri tips ini.
Beberapa upaya relijius Islami yang saya sebutkan di atas belum semuanya. Awal tahun 2012, saya melakukan ritual Rukyah atas saran salah seorang staff saya di yayasan. Ramlah berkata pada saya, âcoba jeung Rukyah, saya tidak lama setelah Rukyah, Alhamdulillah saya menikah. Ini ikhtiar saja jeung. Pantas dicoba. Kalau mau nanti saya bantu buatkan janji jadual rukyah. Ada sahabat saya juga perempuan lajang juga mau ikhtiar Rukyah ini.â
Saya pikir, why not? Mungkin dengan Rukyah, saya bisa âmembersihkan diriâ dari enerji-enerji negatif yang membelenggu saya dari perbuatan saya di masa lalu. Mungkin aja nich dengan Rukyah jin-jin dan setan-setan yang âmengikatâ saya dengan âcinta masa laluâ yang masih tidak bisa saya lepaskan itu bisa âterusirâ dari tubuh fisik dan non-fisik saya.
Dan saya pun melakukannya. Ritual Rukyah, dalam hal ini Ruqyah Syarâiyah, yang ternyata baru saja saya Google istilah Bahasa Inggrisnya adalah Exorcism (oh dear, jadi ini Islamic Exorcism?), adalah ritual pengobatan untuk penyakit atau menghilangkan gangguan jin atau sihir dengan membacakan ayat-ayat Al-Qurâan.Â
Rukyah biasa sich ya seperti itu. Tapi yang saya lakukan, agak sedikit berbeda. Rukyah saya lakukan pada malam hari antara Magrib dan Isya selama 1 jam. Saya diminta duduk berendam di sebuah kolam. Bayangkan saya duduk berendam di kolam di malam yang gelap di area pesantren yang jauh di luar kota Samarinda. Awalnya, saya diminta berwudhu, dan sisa air wudhu diguyurkan ke kepala saya membasahi rambut oleh petugas Rukyah. Lalu saya masuk berendam di kolam. Duduk di air kolam yang dingin dan diperdengarkan lantunan ayat-ayat Al Qurâan yang âdipercayaâ mengusir setan dan jin adalah perjuangan buat saya. Perjuangan untuk bertahan melanjutkan ritual dikala pikiran sudah mulai meragukan upaya yang saya ambil itu, âseriously ellie, this is stupidâ, âapakah ini akan berhasil?â , âeh apaâan itu yang tadi menyentuh kaki ku di dalam air?â, âhadooooh air nya dingin banget sich?â, âlama banget yaâ, âini kenapa ngaji nya keras banget sich suaranya?â. Dan menguatkan hati dengan menyabarkan diri sendiri, âsabar ellie, ini ikhtiarâ, âYa Allah, bersihkan lah aku dari enerji-enerji buruk gangguan jin dan syaitanâ.
Setelah Rukyah, jujur saya tidak merasa lega. Tidak ada ketenangan batin yang saya dapatkan. Saya juga tidak merasa âbersihâ. Bilas mandi tidak sempurna dikarenakan fasilitas terbatas, dan saya sudah sangat menggigil kedinginan. Perjalanan pulang di malam hari di jalan yang berbatu-batu sendirian mengendarai motor, lelah, dingin, saya mengumpat sepanjang jalan. Mengumpat sambil beristigfar. Mengumpati lelah dan bodohnya upaya, dan beristigfar karena telah mengumpat dan mengeluh.
Rasa lelah lahir batin justru menyelimuti saya sampai keesokan harinya.
Saya ingat, esoknya saya âmengaduâ ke Hypnotherapist saya. Ya, salah satu upaya saya yang lain dalam rangka mempermudah menuju menikah adalah dengan mengikuti Hypnotherapy. Saya ikut sesi terapi ini dengan maksud supaya saya bisa melupakan hal-hal buruk berkaitan dengan cinta masa lalu, agar saya bisa lebih relax dan membuka diri untuk hal-hal baru, salah satunya adalah âcinta yang baruâ.
Beberapa kali saya ikut sesi Hypnotherapy, dan well, tidak berhasil. Tapi saya jadi belajar untuk mampu âmenghipnotisâ diri sendiri dikala saya butuh untuk relax, tetap berpikiran tenang saat kondisi lingkungan sedang tidak kondusif, dan mantra-mantra penyemangat diri sendiri.
Zakat dan sedeqah juga secara tidak langsung menjadi bagian upaya. Setiap saya bayar zakat profesi dan sedeqah, si penerima zakat/sedeqah selalu mendoâakan saya: âYa Allah, berikanlah mba Herliati Rahmi jodoh yang terbaik untuknya dan dapat segera menikah sakinah mawaddah wa rahmah.â
Ibu sahabat saya pernah memberi saran, âdek ellie, kalau pas dek ellie menghadiri acara Ijab Qabul pernikahan, berdoâa lah. Karena pas saat Ijab Qabul, malaikat-malaikat banyak berterbangan di atas pengantin. Maka panjatkan doa, malaikat-malaikat akan mengaminkan.â
Saya pun melakukannya.
Jadi, demi untuk menikah, Anda sudah tahu upaya saya dari pendekatan relijius Islami seperti Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, amalan bacaan doa-doa, dan Ruqyah. Saya jelaskan begini sebagai upaya saya agar tidak lagi dituduh (terutama oleh keluarga) bahwa saya tidak berupaya secara pendekatan agama.
Upaya-upaya lain yang tidak masuk akal, let me think, mencuri kembang melati dari pengantin perempuan, menerima kain tapih bekas mandi calon pengantin perempuan, dan menyimpan beras kuning dan memakan permen-permen dari acara tradisi hantaran atau âtampung tawarâ konon dipercaya bisa membuat kita segera menikah. Belum lagi pantangan yang tidak boleh dilakukan anak gadis atau perempuan lajang yang kalau dilanggar bisa membuat lambat menikah: tidak boleh bernyanyi di dapur, jangan bangun kesiangan, jangan berdiri di pintu nanti jauh jodoh, bla bla bla dan sebagainya.
Saya pun sudah melakukannya, dan sebagian memang saya langgar, seperti bernyanyi di dapur.
Apalagi?
Oh. Upaya memperbaiki diri pun (sudah) saya lakukan.
Suatu hari, setelah setengah harian saya tugas lapangan yang membuat darah mendidih sampai ke ubun-ubun, saya kembali ke kantor dengan menggerutu. Bertemu dengan atasan saya, tumpahlah segala keluh kesal curhat dengan si Boss. Tiba-tiba, seorang rekan kantor yang seorang pengacara, sekonyong-konyong menginterupsi pembicaraan dengan berkata: ânah, sikap begini nich yang bikin kamu gak kawin-kawin!â heck, wtf!
Maksud dia adalah, agar seorang perempuan dapat dengan mudah dinikahi, maka perempuan harus memiliki sifat yang anggun dan lembut, tidak boleh marah-marah. Omong kosong!
Dan saya spontan membalas, âhey dengar ya, saya menikah atau tidak menikah itu tidak ada hubungannya dengan masalah yang saya bicarakan, dan urusan saya menikah itu urusan saya pribadi, urusan saya dengan Tuhan, dan kalau pun saya tidak ditakdirkan menikah oleh Tuhan, saya ikhlas!â
Saya lalu berlalu, mengambil wudhu, shalat Zuhur, dan tak kuasa menahan linangan air mata membasahi mukena, bukan sedih atau marah karena apa yang dikatakannya kepada saya, tapi saya terharu menyatakan kepada Tuhan bahwa saya ikhlas apa pun yang Ia gariskan dan tetapkan untuk saya.
Toh kejadian ini menjadi pelajaran. Hari-hari kemudian saya selalu ingat untuk mengkontrol diri saya agar tidak marah meledak-ledak di depan umum, terutama di depan laki-laki.
Seorang rekan lain pernah pula mengingatkan saya, âmungkin kita jadi susah menikah karena masih ada dosa dengan orang tua yang membuat orang tua kita mungkin masih dongkol dan tidak ikhlas dengan kita.â
Dalam kepercayaan tradisi Banjar dan Kutai, terutama yang dianut orang-orang jaman dulu bahari, bahwa cara untuk minta ampun kepada kedua orang tua tidak cukup hanya dengan mengatakan minta maaf. Maka, tradisi di keluarga saya yang pernah Ayah saya ajarkan adalah, bahwa dosa paling besar kepada orang tua adalah durhaka kepada Ibu, dan cara minta ampun adalah dengan mencium dan membasuh kedua telapak kaki Ibu, dan meminum air basuhan tersebut.
Suatu hari, Mama dan saya membahas hal tersebut, dan saya mengutarakan maksud untuk melakukan itu. Mama, yang juga selalu bersemangat berikhtiar, menyanggupi. Jadi, suatu sore kami menyiapkan perlengkapannya. Mama terlebih dahulu membersihkan kedua telapak kakinya dengan sabun dan mengeringkannya dengan handuk. Beliau juga menyiapkan pinggan kaca dan air mineral. Saya pun membasuh kedua telapak kaki mama yang sudah âsterilâ itu dengan air mineral yang ditampung di pinggan kaca, dan kemudian meminum air basuhan tersebut. Saya ucapkan dengan sungguh-sungguh bahwa saya minta ampun minta maaf atas segala perilaku perbuatan yang pernah menyakiti hati mama. Mama pun dengan tegas menyatakan beliau memaafkan segala kesalahan saya, mendoâakan hidup saya, mendoâakan apa pun hajat baik saya (tidak hanya hajat menikah), dan kami berdua berpelukan dengan berlinang air mata.
Saya lega dan merasa damai. Saya banyak belajar untuk lebih bersabar dan santun dalam sikap saya terhadap mama.
10.55 Wita. Saya harus berhenti menulis karena sudah waktunya pulang untuk ritual mandi kembang.
14.20 Wita. Baiklah, saya kembali. Terasa lebih segar, dengan âaura yang lebih terbukaâ. Ya tentu saja, saya kan sudah mandi, mandi kembang lagi.
Technically, mandi kembang tadi a little complicated buat saya yang moderen dan praktis. Jadi persiapannya adalah air yang sudah dari semalam ditaburi bunga mawar dan melati yang diambil dari halaman mama, banyu doa atau air yang sudah dibacakan doa-doa oleh si Nenek pada malam Jumat, yaitu tadi malam, peduduk yaitu terdiri dari semangkok beras, buah kelapa yang masih utuh, gula merah, dan jarum yang satu paket ini akan diserahkan kepada si Nenek sebagai pemberian. Ritual mandi pun tidak di tempat sembarangan. Tidak boleh dilakukan di kamar mandi yang ada wc nya. Jadi saya harus melakukannya di luar kamar mandi. Aneh buat saya. Lalu, saya pun harus mandi dengan menutup tubuh dengan kain tapih atau sarung. Cara mandi yang sangat sopan tapi ribet.
Waktu mandi, atau lebih tepatnya mengguyur tubuh dengan air-air tersebut, harus tepat ketika Imam naik mimbar untuk khutbah. Jadilah, untuk memastikan waktunya tepat kami memutar stasiun radio yang langsung menyiarkan acara Shalat Jumat.
Setelah semalaman dan sepagian saya bawel mengomel mengeluh betapa ribetnya teknis pelaksanaan mandi, ternyata ketika dilakukan saya bisa bersabar. Saya menikmati menit demi menit tahapan mandi tersebut. Dari mendengar azan, kemudian mama mengguyurkan air kembang dengan perlahan sambil membaca shalawat dan saya pun dengan ikhlas membacanya. Dan terakhir, mama mengguyurkan banyu doa.
Pengalaman mandi yang sangat meditatif buat saya. Yang saya nikmati ternyata adalah kesegaran dari upaya yang dilakukan. Dan saya merasakan cinta yang sungguh besar meresap ke tubuh mendinginkan kepala saya yang panas dengan kecamukan pikiran keraguan dan kekhawatiran serta melegakan dan menyabarkan hati saya melalu guyuran air yang membawa cinta Mama dan Nenek yang telah membuatkan banyu. Semoga doa mereka dikabulkan Tuhan.
Mandi kembang ini masih harus dilakukan di dua Jumat lagi. Tidak apa, saya akan meneruskannya sampai tuntas dan menikmati ritual tradisi lokal kepercayaan keluarga saya dari adat Banjar dan Kutai ini.
Semalam, saya bertanya kepada diri saya: apakah saya ingin menikah? Dan semalam jawabannya cukup mengejutkan diri saya: tidak. Dan saya tidak terlalu jelas kenapa jawaban yang muncul dalam benak saya adalah tidak.
Sekarang, dengan kepala dan hati yang lebih âademâ saya memahami, adalah bukan pernikahan yang saya inginkan, tapi hidup yang berkualitas dan mulia bersama pasangan hidup yang saya cintai, dan yang âhadir terpilihâ untuk saya.
Kalau om dan tante saya (yang Masya Allah umma ay super bawel itu) selalu bilang âlakasi!â , saya tidak mau lekas-lekas gegabah menjatuhkan pilihan dan memburu orang yang dekat dengan saya sekarang untuk menikah.
Menikah bukan perlombaan, siapa yang cepat dia yang unggul dan menang dan yang belum menikah dianggap lambat dan lamban, dan betapa ruginya tidak bisa segera menikmati hidup. Jadi apakah menunggu menikah baru menikmati hidup?
Menikah bukan standard suksesnya hidup seseorang yang kalau belum menikah masih belum dianggap âsuksesâ terlepas berprestasinya ia dalam pendidikan, mapannya ia dalam pekerjaan, populernya ia dalam pergaulan.
Anyway.
Yang jelas, mandi kembang ini adalah upaya terakhir saya untuk menikah dengan pendekatan cara atau kepercayaan tradisi adat. Cukup sudah saya melakukan ritual-ritual yang belum mampu saya cerna dengan otak, tapi saya sangat menikmatinya kok.
Dan tulisan âNikahâ atau âGet Marriedâ yang saya tempelkan di dinding mengikuti The Secret nya Rhonda Byrne yang jika dilihat setiap hari maka akan tertanam di pikiran saya dan termanifestasikan dalam perilaku saya sehari-hari yang dapat membuat saya segera menikah atau dinikahi, I swear, tahun ini tahun terakhir saya menuliskan dan menempelkannya di dinding, atau di mana pun.
Maka, saya biarkan Semesta memberi saya kejutannya. Dan saya tidak akan mendikte Tuhan lewat doa untuk segera memberi saya jodoh dan menikah.
Tahukan Anda, bahwa setiap saya Shalat Tahajjud, meskipun sebelum shalat saya meniatkan akan berdoa âYa Tuhan, berikan saya jodoh dan segerakan saya menikahâ, tetap saja ketika saya bersujud, permohonan yang muncul dari qalbu saya justru adalah:
âTuhan, mampukan dan bimbing saya melakukan yang terbaik, berikan saya yang terbaik dari Mu, dan saya percaya dan menerima apa pun yang Engkau berikan pada saya kemarin, hari ini, dan besok adalah yang Terbaik dari Mu. Laa haula wa laa kuwwata illabillahil âaliyil adhiim.â
P.S. untuk sepupu-sepupu saya yang saya cintai, tolong dong kasih tau Mama mu yang bawel itu untuk lebih bijaksana dalam berkomentar dan please shut up and stop asking when I get married!
P.S.S. Apakah Anda tahu, bahwa pertanyaan âKapan kawinâ termasuk tindakan Bullying??? Now, you know!
21st October Trip
Up, Up and Away at the Albuquerque International Balloon Fiesta
Starting on October 5th, hot air balloon enthusiasts from around the globe descended upon New Mexico to kick off the nine-day Albuquerque International Balloon Fiesta. The gathering draws 750 balloons and up to 100,000 daily spectators, making it the largest hot air balloon festival in the world.
Explore more photos from this yearâs balloon fiestaâfrom the unique âspecial shapeâ balloons to the evening balloon glowsâby browsing the #balloonfiesta hashtag and visiting the Albuquerque International Balloon Fiesta location page!
Video Highlight: Yoga on Instagram
Since launching video, weâve seen physical fitness come to life on Instagram. The balance and strength of yoga have made videos of its poses particularly striking, and weâve gathered a list of some of the most awe-inspiring yogis on Instagram. Follow them for daily 15-second doses of handstands, downward dogs, sun salutations and more:
Patrick Beach, Seattle-based instructor: @patrickbeach
Caitlin Turner, Scottsdale-based instructor: @gypsetgoddess
Brian Miller, Montreal-based instructor: @brianmilleryoga
Laura Kasperzak, mother and yoga enthusiast: @laurasykora
The Almost Forgotten Writing - a True Story (which later on pissed me off somehow): Up in the Sky
  It was a sunny afternoon almost sunset. To the west I could see the twilight. I was sitting on the right side facing the east where the sky was still bright.
I looked out of the window to the beautiful white clouds. How much I was thankful for such a sunny weather. It was a bit raining down there, and the rain drops touched the glass of the window. I was afraid of flying, going up through dark clouds and finally flying in such a sunny weather did help to calm down my fear.The sunlight boosted my happiness and confident somehow. And so I was relaxed.
Everyday brings its own unique happiness,
don't expect just receive and enjoy it!
 The take off was successful though I wondered why the plane was shaking a bit. As the sign of safety belt was off, I opened my book and started to continue reading.
Soon I was falling deep in my new book; the Project of Happiness by Gretchen Rubin. Once in a while I smiled alone as I agreed with the ideas proposed or with the funny stories told. I had my sticky note with me, pretty sticky note with the illustration of Eiffle Tower and city of Paris written on it to mark sentences that I wanted to remember. I was reading slowly as I was enjoying each words written.
I was peacefully happy, reading something which more or less mirrored my own happiness project.I had been in the greatest shape of my life since my 33th birthday last October. My life was opening wide with so many unexpected amazing yet challenging opportunities. My heart and mind were opening to embrace the good things life was offering.
Be prepared
for every day lovely surprises
that Life presents to you
 âExcuse me missâ, a flight attendant called me. Giving her my puzzled look I said, âYes? Me?â
âAre you travelling alone? Do you mind to come to the cockpit?â
âMe?â
âYes, do you mind? The pilot simply wanted to talk with youâ
âErrr .... okayâ
My heart started to beat faster and harder, and I got totally nervous. Did I do something wrong?What happened? My eyes were a bit blurred for sudden change from the small letters of the book to the vague scene of the alley: the passengers, flight attendants with their blue and red uniform and french twist hairdo, and the cabin lights. Oh my goodness what was happening, was there something emergency the pilot wanted to talk to me? My knees weakened yet I could manage to walk through the alley. The flight attendant who called me turned her face and smiled, âItâs okay, our pilots just wanted to get to know you!â
I was stunned. Me?                                                    Â
 Make sure you look great when you are travelling,
especially at the airport.
You never know who will give eyes on you.
 I was asked to wait, sitting on the place where flight attendant usually seated in front of the pilot compartmentâs door. Another flight attendant was sitting there. She was wearing blue jacket and looked more authoritative.
With friendly smile she greeted me and responded my confusion, âIt is okay, our pilots just wanted to get to know you, if you donât mind. If you mind, it is okay. Do you mind?â
âBut I am not having birthday today. I donât mind at all just a bit surprised. Okay, I take the invitationâ
And I was let in.
As the door opened two young men wearing in the uniform greeted me.
âHelloâ, what a friendly warm greetings.
âApologize for disturbing your flight, do you mind sitting here with us? Thank you so much for coming hereâ
They mentioned their names, and I said mine, trembling of surprised and excited, âHi, Iâm Ellie.â
 Walk with dignity, be confident with yourself
for you are unique on your own way.
 The one on the left, apparently the pilot, said in Bahasa, âHe wanted to get to know you real bad, he had been watching you since you walked down the stairs and got into the aircraft!â
The one on the right smiled sweetly. Clear blue eyes of a young handsome man with brown hair greeted me warmly. He looked like Edward, surely much more human as shown on his blushing cheeks.
 Keep in mind girls,
when you are head over heels on a handsome guy,
behave and be yourself!
 âWow, it is really surprising that Iâm called in here, Iâm not having my birthday today!â
âHey you can speak English, thatâs great! You arenât afraid are you? This is my first time flying the plane.â
âHa ... really?â
âNo, kiddingâ
âaaah...â
âHey you, itâs not polite to let her sit there, get her the seatâ said the Pilot to his co-Pilot, yet he was the one who opened the extra seat for me.
There I was, sitting behind the two pilots, in the cockpit. At the front under the front windows and above me laid control panels with lots of buttons and screens. This was what they called a Mode Control Panel used to to control Heading(HDG), Speed(SPD), Altitude(ALT), Vertical Speed(V/S), Vertical Navigation(VNAV) and Lateral Navigation(LNAV).
And I saw two steering wheels in front of these two men. There was another panel looked like a table in between the two pilotsâ seats, still with lots of switches, and in between there were two plastic glasses filled with peanuts and crackers. There was tissue box on the floor and beside each of the pilotsâ seats there were trash bags. I noticed the emergency buttons on the right and left side. On my side I saw the pilotsâ hats hung, and jackets with yellow green light strips.
âWhere do you live? Do you live in Jakarta? Are you on business trip?â
âNo, I donât live in Jakarta. I just came back from Bandung for a socialization held by Ministry of Law and Human Rights. Iâm going back home to Samarinda.â
 âIâm sorry, whatâs your name again?â
âFabianâ with French accent.
âAre you French?â
âNo, Iâm from Belgium, but I can speak Frenchâ
And so the conversation was flowing smoothly with lots of jokes in between.
âHey would you like something to drink? I can call the flight attendant to get you a drinkâ
âNo, I am fine, thank youâ
âItâs okayâ and he pushed a button while saying, âthis is the button to call the flight attendant in, and this one is the button which we can greet the passengersâ
The flight attendant came in and Fabian asked for a drink for me.
âWhat would you like to drink Miss?â
âErrr... just mineral water pleaseâ as I noticed I had dry throat of nervous and excitement.
The conversation went on again. Fabian enthusiastically explained about what was going on in the cockpit: the radar, the buttons, how the plane went on, the temperature, the altitude, and the flyover. And the pilot once in a while added the information.
âHow is the weather? Are we flying in good weather?â
âOh sure, here is where you can see the weather you know. See, the green part means soft clouds, while the orange and red one mean bad weather.â
âWe are shaking a bit!â I said.
âYes, itâs because of the wind, and some clouds. You know, clouds contain of water so when we get through it we get turbulence a bit, but itâs okay, donât worry.â
I noticed the altitude button with 35,000 shown.
âAre we on 35,000 feets high?â I asked.
âYes, here you can see yes.â
âCan we go higher?â
âWell, it depends on the weight of the plane. Now, this is the maximum height we can goâ and Fabian showed the screen with the information.
âThe higher we go, the stronger the windâ
âAnd how many passengers are now?â
Fabian looked at the paper posted on his steering wheel, â201 passengersâ
âAh, 201 passengers, one is sitting in the cockpitâ I said.
âHahaha, yes, well, 200 passengers at the back, one at the frontâ he laughed and looked at me.
The sky was getting more twilight. And Fabian was talking about air traffic while an aircraft passing, âLook!â he threw his look to the west.
And he continued explaining things about aviation.âOh, so sorry we talk so much I made you missed the sunset. Look the sunset on your left!â.
I donât care I said deep in my heart.
âHow do you know we are going on the right track to the destination?â
âAh, you see this? We are just going straight from one spot to another spot arranged by traffic controller. Itâs very easy, we are just going straight. See here?â he said pointing to the radar. I saw pink line with the aircraft going straight.
It was getting darker outside of the window, I couldnât see anything but dark. From afar there were lights like stars. âWe are now above Palangkarayaâ pointing to letter PLK on the navigation display which was showing the current route and information on the next waypoint, current wind speed and wind direction. I looked out of the windows in front of me and I saw lights signing that there was a small city down there.
The two pilots were really relaxed. Once in a while they took their bottles of mineral water to have some drink. âYou know, the air is dry up here so we must drink lots of waterâ
Regularly, Fabian talked on his headphone, connecting to the controller I guessed.
âThe plane is very smart. It keeps us updated with the condition of the plane and the condition outside the plane. Here, listen to this!â and he pulled of the headphone from his head and handed to me and asked me to wear it and listened to it. I heard a woman voice from this auditory display giving aircraft status information which I had no idea about yet was excited listening to it.
It was complete dark outside as I looked through out the window.
âHey the moon is so bright. Can you see?â
âReally? I canât see anything but starsâ as I realized there were stars outside the window in front of us.
âYou canât see from your seat? Do you want to see? Come on see the moon itâs beautifully bright much better than we see from the groundâ
And Fabian took off his safety belt, âcome, sit here on my seat so you can see the moon! Can she sit here captain?â he asked for the Pilotâs approval. âSure, but make sure you donât touch anything okayâ
âOh my goodness!â that was all I could say while moving to his seat and he moved to mine. We switched seats. And I saw the moon which looked so close to the plane, and the stars and the bright clear sky.
 That special moment was specially special in that very moment, just leave it that way!
Every moment is special on its own way!
 Just for seconds I sat there I asked to move back, âOkay itâs enough, I shouldnât sit here for too longâ
âAh itâs okay, no problemâ
âNo, no.â
They let me sitting there in the cockpit till landing, well upon my request. The pilot asked Fabian to ask for permission from the cabin chief. She came in, smiled and nod her head, âYeeeesss, itâs okayâ. One flight attendant helped me to fasten my seatbelt.
When the time for landing came, they were busy concentrating and communicating with the controller, and I, of course, shut my mouth, afraid of disturbing the process of landing. The height got down slowly from 35,000 feets to 25,000 to 10,000 to 5,000. The wheels on the control panel rotated regularly. Fabian pushed some buttons under the instruction of the pilot. There was a voice from the aircraft system directing the pilot I guessed.
Fabian had explained before that the aircraft went landing facing the wind so it can make it easier for the aircraft to slow down for landing. Sometimes the plane needs to flyover to get the right direction of the wind. This time it didnât have to.
I saw Balikpapan from above, slowly we were aproaching the ground. I saw the lights of the runaway in front of me. I started to say my prayers in my heart, both wishing for protection and a lot of thank-you-God. My heart was beating nervously for the landing and for the almost ending of this amazing cockpit experience.
I remembered my sister Anis, my best girlfriends Hilda and Upichan, and of course Ferry, my friend who was always afraid of flying. And I wanted to scream out loud, âguys, I wish you were here with me experiencing this crazy surprise!â
The plane touched down smoothly.
It turned to the left to park. The pilot asked me to stay until all passengers left the aircraft. Fabian switched on some buttons, and when he switched on the light button, then he realized something, âOo, maybe notâ and laughed.
âThe people must not see that you are here with usâ
âHaving you here in the cockpit is exceptional. Rarely happens.â
 When thing just sounds too good to be true, it probably is.
 âSo come on Fabian, whereâs your camera, I take the picture of you two!â
And we took position ready for our picture to be taken.
âAh come on Fabian, come closer to her donât be shy!â
Fabian was only smiled, shy smile.
âWhen are you going to fly again?â he asked.
âI donât knowâ                                                                                  Â
 How much I want to fly again tomorrow to see you!
Yet, we see each other when we are destined to see each other again.
 Well, he asked me this question few times during the flight.
âNext time, I will stay so we can meet up again. Perhaps you can take me to see your sister singing.â
âOh sure.â
âYes, Fabian. Make request to get the schedule to Balikpapan again. So you two can catch up with each other!â
Fabian smiled and nod.
Then the pilot went up, asked me to stand up while he set my chair back to its place. He checked whether all of the passengers had left the aircraft.
âCome on you two, take time for farewell kiss bye, I wonât seeâ.
Fabian smiled again, and I got so shy too, âOh no noâ
After the pilot let me out of the compartment, I went back to my seat to take my bags from the cabin. Then I went to the exit door where Fabian was already there standing at the door. We exchanged our Blackberry pin numbers.
âKeep in touchâ
âWhatâs your pin number? Donât tell me you donât rememberâ
I laughed, yes I suddenly forgot my numbers.
Then we shook hands and said good bye.
âThank you so much for the invitation, I do appreciate it. Have a nice flight back homeâ
And I walked down the stairs, leaving Boeing 737 behind me, yet keeping tightly the vivid pictures of this amazing surprising cockpit experience in my mind.
 The time between meeting
and finally leaving is
sometimes called falling in love.
â˘Lisa Loebâ˘
Artist by Carlos Vila
Have you ever seen a painting of an elephant? Probably. What about a picture of an elephant painting a painting of an elephant? No? Well meet Suda who lives in Maetaeng Elephant Park in Chiang Mai, Thailand. The park was created to provide a unique and safe environment where all elephants are treated well and are free of harm from poachers. In the early years, Suda along with other elephants would paint abstract brush strokes on paper, and slowly over time, they learned to produce two and three dimensional art. They have an incredible ability to trace back over their original brush stroke. Elephants have a keen memory and show that here by being able to repeat the same paintings and techniques.
Caption Source | Meet the Elephants |  Park Website
A Summer Walk by jasontheaker on Flickr.
UP 2.0
Daredevil IT manager attempts to cross the Atlantic simply by clinging to helium BALLOONS⌠but winds could blow him anywhere from Iceland to MoroccoÂ
European Butterflies plate from âEuropas bekannteste Schmetterlinge. Beschreibung der wichtigsten Arten und Anleitung zur Kenntnis und zum Sammeln der Schmetterlinge und Raupenâ (circa. 1895), F. Nemos.
http://hdl.handle.net/10013/epic.28790.d001Â via Wikimedia.