Pelajaran Sejarah dan Percikan Imajinasi
Sejarah, yang kita tahu, hanya memotret sedikit sekali fragmen dari suatu masa, ketika sebetulnya ada banyak pelaku sejarah lain, yang mungkin jauh lebih penting, tapi luput dari sorotan.
Jauh sebelum kenalan dengan Bu Charlotte, P sudah terobsesi dengan sejarah. Jika ditanya siapa pun tentang cita-citanya, ia akan menjawab tanpa keraguan, “Sejarawan!” Bergeser dari yang sebelumnya, jadi paleontolog. Jangan ditanya, kenapa begitu. Saya tidak tahu. Dulu, saya belum kenal metode apa pun. Bahkan, saya tidak tahu bahwa orangtua bisa belajar mengenai metode pendidikan anak. Tidak ada bacaan yang terstruktur atau dilema buku sejarah apa dulu yang harus diberikan. Hanya mengikuti kemana maunya anak.
Kalau saya sering mengajaknya ke museum, itu juga karena P bahagia banget diajak ke museum. Awalnya, waktu tergila-gila dengan dinosaurus, melihat fosil dino yang gagah berdiri, di museum Geologi Bandung, membuatnya histeris. Pengalaman tak terlupakan buatnya. Lalu, kunjungan ke museum menjadi agenda yang selalu kami usahakan. Antara TMII dan Jakarta Kota, andalannya. Begitu pula, setiap kali ke luar kota, harus ada kunjungan museumnya.
Saat berkesempatan menginjakkan kaki ke London, hal pertama yang saya lakukan adalah membayangkan, seandainya P ikut, tempat pertama yang akan kami kunjungi pastinya Natural History Museum, karena ada fosil dino yang sangat besar di sana, ha…ha…ha...
Dalam hal ini, saya harus berterima kasih pada Larry Gonick, karena ia orang pertama yang berhasil memantik kecintaannya pada sejarah, lewat buku Komik Peradaban. Om Larry ini jebolan matematika Harvard, yang sudah berkutat menulis sejarah dalam komik, selama lebih dari tiga dekade. Gaya bahasanya jenaka, cerdas, tapi mengandung ironi dan sindiran. Saya tidak yakin bisa ditangkap oleh anak-anak, tapi P keranjingan.
Sampai kemudian, kecintaannya pada sejarah membuat saya ketakutan sendiri. Ada satu masa, ia ‘terperangkap’ di era Perang Dunia I dan II. Terpesona pada para tokoh yang berpengaruh dari masa itu, karena dianggapnya, sangat influential.
Kekhawatiran yang lain adalah ketika saya menyadari ada jurang budaya yang sangat jauh antara saya dan anak, karena anak lebih dekat dengan budaya Inggris, ketimbang budaya ibunya dan tanah tempat ia lahir dan dibesarkan. Gimana bisa, anak yang seumur hidupnya cuma di Depok, emak Jawa, bapak Sunda, kok jiwanya sangat keInggris-Inggrisan? Sepertinya, efek dari kesalahan pola asuh masa lalu, yang kebanyakan nonton TV. Sejak usia 4 tahun, tontonan kesukaannya adalah BBC Earth. Dia kenal baik semua presenter program-program BBC, sudut-sudut London, sejarah, sampai aksennya. Sementara sejarah negara sendiri, ia buta.
Saat awal mulai kenal CM, saya pikir, ini jalan keluar dari masalah saya. Metode ini lebih mudah masuk dan diterima oleh P, salah satunya karena faktor sejarah, CM menekankan pentingnya belajar sejarah. Dalam menyampaikan materi sejarah, mengikuti prinsip-prinsip belajar CM, rumusnya adalah: buku yang ditulis dengan baik dan menggugah, bacaan pendek, narasi, lalu menuliskan tokoh dan peristiwa sejarah yang relevan dengan yang dipelajarinya ke dalam Book of Centuries (BoC).
Di kurikulum CM, banyak buku-buku sejarah yang menarik, seperti Child History of The World karangan Hillyer dan Story of The World empat seri tulisan Susan Bauer. Saya sengaja menghindari memberikannya buku-buku sejarah Inggris, sebagaimana yang disarankan di AO, karena mengingat P yang menurut saya sudah terlalu condong ke Barat, dan kurang asupan lokalnya. Buku sejarah Inggris itu akan menjadi opsi terakhir, mungkin nanti di Form 3 atau 4, kalau dirasa wawasan sejarah lokalnya saya anggap memadai.
Peran sekolah dalam belajar sejarah, bisa saya katakan, sangat minim. Sependek ingatan saya, sejarah hanya pernah diberikan sekali, di Pelajaran IPS kelas 5, tentang perjuangan kemerdekaan melawan Belanda. Selebihnya, nyaris tak ada pelajaran sejarah. Bahkan sampai sekarang.
“Boleh dibilang kekurangan terparah dalam kurikulum sekolah adalah tidak adanya pengenalan yang komprehensif, cerdas, dan menarik pada sejarah. Kesalahan fatal kalau kita tidak mempelajari sejarah negeri kita sendiri, juga kalau memulai pelajaran sejarah dari sejarah negeri sendiri. Sikap hidup kita tidak bisa waras kecuali kita paham bahwa bangsa-bangsa lain itu hakikatnya seperti kita juga meski berbeda, mereka juga punya sejarah seperti kita meski berbeda, bahwa mereka juga punya pujangga dan seniman, punya karya sastra dan budaya nasional.”
Di kelas 5 itu, untuk mengimbangi materi sekolah, ia membaca Sejarah Nasional Indonesia. Buku ini sangat jauh dari menarik, kalau dibandingkan dengan CHoTW atau Story of The World. Setidaknya, dari buku ini, anak mendapatkan gambaran utuh tentang negeri ini dalam periodisasi.
Walau buku itu juga sangat membosankan buat saya, tetapi karena dasarnya P suka sejarah, ia enjoy saja bacanya. Dan anehnya, nama, tanggal dan tahun-tahun penting dalam periode penjajahan dan kemerdekaan, bisa diingatnya tanpa hafalan.
Menginjak Form 3, sedikit demi sedikit menata teknis CM, masih jauh dari memadai, sesuai dengan pemahaman saya juga yang masih terbatas. Seperti BoC, itu juga baru-baru ini dipraktikkan.
Dalam setiap minggunya, porsi bacaan sejarah lumayan banyak. Meliputi sejarah lokal, biografi tokoh bersejarah (lokal), sejarah seni, sejarah sains, biografi tokoh sains, dan sejarah agama. Jadi, kalau satu buku habis, buku penggantinya diusahakan menempati komposisi yang sama. Dilengkapi dengan subyek-subyek lain, yang sebetulnya semua subyek itu mengandung dimensi sejarah juga. Misalnya, kemarin saat membaca tafsir surat al Balad, ada cerita tentang Darwis Thaib, kader penting PNI, partai yang didirikan Hatta, menganggap ayat-ayat dalam surat al Balad adalah dasar yang teguh dari ajarah Keadilan Sosial. Ia lalu mempopulerkan Marhamisme (dari kata marhamah yang artinya kasih sayang, tolong menolong). Sayangnya, Marhamisme tak sempat tersiarkan karena Darwis keburu sakit, sebelum membawa nilai-nilai cita-cita dan kupasannya terhadap surat al Balad pada para pemimpin lain untuk didiskusikan. Dari situ, P jadi tergerak melakukan riset sendiri tentang PNI, Partai Masyumi, sampai tentang pergolakan revolusi fisik Bukittinggi dan PRRI/Permesta.
Berhubung dalam situasi wabah, saya meminta P membaca The Great Influenza, referensi tentang sejarah pandemi flu Spanyol. Tokoh-tokoh sains yang dipelajari juga meliputi orang-orang yang berperan dalam penanganan wabah, baik di dalam maupun di luar negeri.
Untuk remaja seusianya, mengutip CM, pelajaran sejarah sangat penting, "untuk menambah bobot pada keputusan, pertimbangan melakukan aksi, dan kematangan perilakunya. Gara-gara tidak ada kematangan ini bangsa kita telah dicemplungkan ke dalam lautan huru-hara sosial yang penuh badai.”
Sejarah adalah tentang belajar memahami diri, mengenal siapa kita, asal usul, identitas, dan jati diri kita.
Belajar sejarah bukan hanya untuk pendidikan anak semata, tapi juga, dalam visi CM, kecintaannya pada sejarah akan melekat pada diri anak sampai ia dewasa, ia akan tetap membaca dan mendiskusikan sejarah. Belajar sejarah juga buat kita, para orangtua.
Miris sekali dengan minimnya pendidikan sejarah di sekolah. P juga sedih saat teman seusianya buta sejarah, dan bahkan pelajaran sejarah yang didapat di SD, seolah hilang tak berbekas. Hal pertama yang dilakukan P saat masuk SMP adalah skrining, siapakah di sekolahnya yang suka sejarah. Ia sempat putus asa, setelah beberapa bulan tak menemukan satu pun makhluk sejarawan yang ia cari. Belakangan, ada sih, satu dua anak, yang dia bilang tahu sedikit tentang sejarah; suka tank dan perang.
Nyatanya, yang kita lihat sekarang, pelajaran sejarah seperti diremehkan. Seringnya, kita ramai-ramai merayakan sejarah hanya berhenti pada seremonial. Peringatan 17-an, menyanyikan lagu-lagu kemerdekaan; memperingati hari Kartini, mengenakan kebaya dan kostum daerah; hari kesaktian Pancasila, menonton G30S/PKI, dan sebagainya, dirayakan berulang kali setiap tahun, besar-besaran, tapi kita lupa menggali dan merefleksikan gagasan besar dan tokoh-tokoh penting, yang melatari peristiwa-peristiwa bersejarah itu.
Menengok masa lalu, menatap masa depan
Kita sering mendengar jargon pendidikan, untuk membentuk generasi yang punya daya saing tinggi secara global, untuk menguasai teknologi, untuk menjadi bangsa yang maju, untuk menjadi yang terdepan, dan semua jargon (yang sifatnya masih di ranah materialistis) lainnya. Kita perlu belajar sejarah, untuk menjadi bangsa yang lebih baik, untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Keyakinan CM tidak salah dengan meyakini bahwa mempelajari sejarah adalah landasan yang sangat penting untuk membuat kita mampu menjadi bangsa yang maju. Saat ini, kalau ingin tahu tentang seperti apa situasi masa depan dan bagaimana kita mempersiapkannya, orang akan menoleh pada sejarawan. Bukan ahli teknologi, matematika, atau sains. Orang banyak bertanya pada Yuval Noah Harari, yang buku-bukunya banyak membahas tentang masa depan.
Hal yang menarik buat saya adalah ketika CM bilang bahwa belajar sejarah itu adalah upaya untuk menghidupkan imajinasi anak. Catat ya: imajinasi. Itulah kenapa, sangat penting memberikan buku sejarah yang tidak sekadar fakta kering. Sejarah bukan sekadar tanggal dan tahun, nama-nama tokoh, rentetan peristiwa, yang harus dihafalkan. Sejarah adalah tentang seperti apa situasi masyarakat pada waktu itu, karya-karya apa saja yang lahir pada masa itu; sastra, arsitektur, lukisan, musik, dan sebagainya. Era demi era. Bacaan sejarah yang bagus akan memercikkan imajinasi anak, sehingga akan tercipta gambaran utuh yang filmis di benak anak.
Saya jadi teringat dengan cerita yang dituturkan Bandung Mawardi di TR 3, “Tahukah kalian, apa hubungan antara sepeda dan kebangkitan nasionalisme?” tanyanya. Ia lalu mengutip novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), ada cerita tentang peran sepeda dalam menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi itu merupakan pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilannya dari bengkel itu, digunakan untuk hidup dan disumbangkan untuk Boedi Oetomo. Seandainya ada banyak cerita-cerita semacam ini, dari berbagai sumber, anak bisa merelasikannya dengan lebih utuh dan menyenangkan.
Benar apa yang dikatakan Yuval Noah Harari di buku Sapiens, “Sejarah adalah sesuatu yang dilakukan sedikit orang, di saat banyak orang yang lain pergi membajak sawah dan membawa ember air.” Sejarah, yang kita tahu, hanya memotret sedikit sekali fragmen dari suatu masa, ketika sebetulnya ada banyak pelaku sejarah lain, yang mungkin jauh lebih penting, tapi luput dari sorotan. Semakin banyak fragmen yang kita temukan, makin banyak juga pelajaran hidup yang bisa digali. Betapa ruginya kita, kalau sampai yang fragmen saja, kita luput mempelajarinya. Sebuah kerugian yang amat besar.
Sebagai penutup, saya tertarik sekali dengan kata-kata CM di Volume 1,
“Sejarah harus memperkaya ruang imajinasinya dengan seribu kisah, baik tragis maupun heroik. Sejarah juga harus terbentuk dalam dirinya, tanpa dia sadari, prinsip-prinsip yang akan dia gunakan nanti untuk menilai tindakan bangsa. Prinsip yang sama adalah apa yang akan dia gunakan untuk mengatur ‘negara-negara anggota’ di dalam dirinya. Semua inilah yang seharusnya dia dapatkan dari pelajaran sejarahnya.”