Kepada Kesendirian
Langit kala itu segelap katun berkeabuan. Dedaunan berhasil jatuh dari ranting tertinggi pada setiap pohon, angin dalam beberapa detik enggan untuk berlaju lebih lamban. Di setiap jalan sempit yang susah untuk dihampiri, kucing-kucing lebih dulu mengetahui aroma apa yang mereka cium sehingga lebih dulu mengerti untuk apa-apa yang mereka akan lakukan sebelum hujan terlepas. Aku pulang lebih awal dari rentetan hari dimana penuh dengan perkuliahan dan turunanya, sebab jembatan runtuh dan lampu merah di setiap perempatan terdengar memanggilku berulang-ulang. Mendapatkan kabar bahwa nenek beberapa waktu kedepan mungkin tidak tertolong dengan bantuan konvensional.
Untuk setiap jalan yang aku laju dengan sedikit perhatian, aku melihat di sekitar bahwa setengah matahari tidak sepenuhnya terang, kabut menyelimuti sekitar dan beberapa bagian membuat aku membayangi kalau matahari semacam ini sama halnya saat nenek berada di dermaga, berpelukan hangat dalam seperkian menit untuk memberikan pesan bahwa perjalanan laut akan lebih dingin kepada ibuku. Aku menyaksikan tanpa pandangan yang cukup mengerti, mengapa mereka terbaring lama dengan tatapan yang tidak kabur satu sama lain dan selebihnya Ibuku pudar dari pandangan untuk tahun – tahun yang berat.
Rumah dipehuni kepala yang menunduk, berisikan ucapan baik semacam do’a dan pujian untuk nenek. Aku melihat, mata nenek masih memandangi sekitar dalam waktu yang singkat setiba aku datang. Entah dengan baik atau tidak, aku tidak tau persis kalau saja nenek akan menuju padang gurun, menembus langit yang aku tidak meyakini kalau batasnya lebih dari ku kira, dan menukik tajam pada halaman Valhalla atau tampias air dari Firdaus? Yang membuat aku lebih yakin sebentar lagi bahwa ibu akan mengajak nenek untuk tidak lagi melihat purnama yang cukup benderang seperti tadi malam, mereka satu sama lain akan bercengkerama lebih lama, mengusap raut pipi yang sama mudanya dan menggelar tiker di dekat telaga kausar.
Sementara itu aku tengah mengerjakan ukiran pada papan kayu kasar yang sedikit kehujanan dibersamai dengan gemuruh para tetangga yang hadir untuk mengucapkan istirja secara bersamaan. Sesuai pesan nenek: Hari akan hadir dalam rencana yang tidak akan terselesaikan, dimana setiap jiwa akan berlabuh untuk terakhir kalinya pada sandaran, kendaraan yang kita persiapkan akan jauh membawamu lebih mudah pada tempat yang kita selalu ceritakan. Kemudian, petir sama pecahnya pada ruangan yang bergejolak itu, tetesan air pipi semakin melesat berjatuhan, aku menghela nafas panjang lalu bersandar pada tembok bata yang tidak berhasil diselesaikan dengan cat dinding.
Petir jatuh menghantam langit dan menghasilkan bising yang menggema seperkian detik di lengang alam. Aku memikirkan bagaimana ucapan yang tepat untuk menghangatkanya. Sementara, bibir dan jari – jemarinya membiru serta kelopak mata semakin kencang itu mulai perlahan menutup dua bola mata yang masih sayu sedikit terbelalak. Jantungnya tidak berdetak lagi. Hadirnya mendadak padam untuk pertama kalinya.
Bibi ku masih menutup wajah dengan lengan, tangan kirinya mengusap kepala anaknya yang tidak tau apa yang dirasakan oleh ibunya. Ia gundah, suaminya masih terjebak kemacetan di jalan pulang selepas izin untuk lebih awal meninggalkan pekerjaan. Ku dapat sesekali air matanya tidak metes lagi, wajah merahnya tidak lagi bertambah dan derajat letak kakinya yang duduk sila pun perlahan mulai miring menunduk. Tidak butuh waktu lama, jenazah segera dikhidmatkan.
Hujan masih menderu kencang. Kilat petir datang berhamburan, aku mendengar gelak suara tangis orang salih bersahut-sahutan serupa ilalang di tengah lapang yang diterpa badai topan menyeluruh. Sore yang mendung ini adalah waktu yang baik memandikan sang mayit dengan gugur daun yang tumbuh kembang menutupi perkarangan halaman rumah kami. Sementara, teman-teman sebaya nenek mulai menerka waktu yang barangkali akan terjadi dalam waktu dekat tiap harinya. Mereka menorehkan kedua telapak tanganya melakukan sama persis seperti para tamu yang hadir, ucapan-ucapan sejuk mengalir dari rongga mulut dan terjatuh ke samping.
Satu hari sebelum dimandikan, nenek bangun dalam lelapku, genggam lentera di tangan yang sebelumnya gelap. Ia sadar sekelibat dari koma. Aku terpekur memandangi mata yang kian dipenuhi kesulitan melihat. Di ruangan yang penuh dengan cairan-cairan pembantu peredah rasa nyeri, aku benar-benar menangkap bahwa yakinku nenek terbangun di tengah malam saat aku bergantian untuk menjaga sebelum derai takdir yang tidak berpihak datang untuk mengganti rencana-rencana yang telah ku susun.
Di malam panjang yang kau bisikan kesepian, aku akan berhasil menyelesaikan pusaramu dengan keriuhan yang telah kau buat. Biarkan aku tetap menelusuri disetiap celah-celah jemari dinginmu dan melengkapkan rasa derita dan perih untuk mengetahui bagimana cara mengajari bahwa meratapi kesendirian adalah kematian itu sendiri.










