Studi di Luar Negeri (1) how to keep istiqomah?
Tidak sedikit orang-orang di sekitar saya yang masih bertanya-tanya saat saya membuat keputusan untuk lanjut kuliah S2 di luar negeri pula. Buat apa perempuan belajar tinggi-tinggi dan jauh-jauh? Yakin nanti di sana iman dan pergaulannya bisa terjaga? Atau tanggapan-tanggapan lainnya seperti “wah kuliah di luar negeri, pasti pergaulannya jadi bebas, pemikirannya jadi liberal, ngerikk.”
Well, hidup dan belajar di negeri minoritas muslim apalagi jauh dari keluarga memang banyak tantangannya, dari segi beribadah, makanan halal, culture dan pergaulan. Maka dari itu sebelum memutuskan studi di luar negeri, saya sudah mengobservasi negara dan kampus tujuan terlebih dahulu. Dan dari semua target negara dan kampus , Alhamdulillah Allah memberikan Wageningen University, Belanda untuk saya menempuh studi master yang memang merupakan keinginan saya.
Alasannya, Belanda adalah negara eropa yang terkenal “muslim friendly”, tiap kota insyaaAllah ada masjid dan supermarket/restoran halal juga toko asia termasuk di Wageningen. Di Wageningen sendiri, mahasiswa Indonesia lumayan banyak, jadilah komunitas muslim Indonesia di Wageningen ini sangat terasa. Ada pengajian bulanan, kajian 2 pekanan bahkan kajian pekanan, cukuplah untuk menjaga iman yang sering naik turun ini.
Sebelum memutuskan berangkat, saya juga sudah menghubungi teman-teman yang sudah ada di Wageningen. Saya menanyakan beberapa hal, termasuk apakah berpakaian syar’I dianggap aneh di sana, apakah akan mengalami kesulitan atau diskriminasi dalam perkuliahan dan pergaulan, bagaimana dengan sholat? Dan kesimpulan yang saya dapat, Wageningen, insyaaAllah bisa membuat saya tetap menjadi muslimah yang istiqomah. Semakin mantap lah hati saya melangkah.
Untuk jurusan dan spesialisasi master yang saya pilih adalah jurusan yang cukup aman bagi muslimah, dengan kata lain saya memilih spesialisasi studi dan course yang tidak mengharuskan saya studi lapangan atau excursion. Kenapa saya bilang aman? Studi dilapangan mengharuskan kita berpakaian lapangan (seperti celana, kaos, boot) dan sangat memungkinkan untuk berhari-hari di lapangan bercampur baur laki-laki dan perempuan. Jadi untuk menghindari hal tersebut, saya memilih course yang di laboratorium saja, cukup aman dengan berpakaian baju lab yang kelonggaran itu. Hehe…
Eits, ternyata di laboratorium pun banyak tantangannya. Saat praktikum, biasanya kita bekerja berpasangan-pasangan, dan pemilihan pasangannya random. Duh, somehow ini bikin deg-degan juga, tapi tenang guys, kekuatan doa itu nyata adanya! Doaku, Ya Allah semoga dapat pasangan kerja yang cewek, rajin, dan pintar. Haha, komplit kan. Dan Alhamdulillah selama satu tahun mengambil course, saya tidak pernah berpasangan dengan laki-laki. Bahkan grup proyek besarku (Academic consultancy training) adalah cewek semua. Hanya saja, qadarullah saya mendapat supervisor thesis seorang laki-laki paruh baya. Ya gak papa sih, lumayan untuk menghindari drama baper yang biasanya terjadi di antara wanita. hehe
Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, doa ini juga makbul dalam proses kehamilan dan persalinan saya. Selama proses tersebut, saya sama sekali tidak pernah ditangani oleh laki-laki, mulai dari bidan, dokter, radiolog, suster, sampai petugas administrasi sekalipun. Kabar baiknya, di sini kita diperbolehkan memilih dokter laki-laki atau perempuan sebagai private general practionernya kita.
Bagaimana dengan sholat? Sholat bukan lagi hal yang asing di kampus Wageningen sendiri karena komunitas muslim yang cukup banyak. Ada ruangan khusus yang layak (seperti musholla) di salah satu gedung buat kita sholat berjamaah. Jika waktu mepet, saya biasa sholat di tangga darurat, silence room, atau kelas kosong. Lucu kadang kepergok sholat di tangaga darurat, tapi toh mereka tidak peduli. Wkwk. Untuk wudhu, amannya jika tidak ingin susah mengangkat-ngangkat kaki di wastafel toilet, jagalah wudhu dari rumah, kalaupun batal di kampus, bagian kaki bisa cukup di usap-usap saja (mengingat kaki juga adalah aurat wanita). Menjaga wudhu menurutku sangat penting, apalagi untuk cewek kadang makan waktu lama hanya untuk wudhu saja, belum kalau harus wudhu di wastafel (btw, di sini toilet kering ya) yang kadang bikin toilet jadi becek, alhasil harus ngeringin dulu kan. Disamping itu, waktu break di tengah kuliah hanya 15 menit, kalau sudah ada wudhu, bisa langsung lari cari tempat buat sholat. Anyway, kalau kita minta izin buat sholat ke dosennya, mereka juga bakal ngerti kok, jadi jangan ragu buat minta izin keluar atau izin telat (mengingat kita juga harus menjaga adab terhadap guru, ye kan).
Makanan Halal? Tenang kita tidak akan mati kelaparan karena kesulitan mendapatkan sumber makanan halal di Belanda khususnya di Wageningen. Konsekuensinya kita memang harus lebih berhati-hati terutama ketika berbelanja di swalayan umum, cek ingredientnya, cek EU codesnya. Nah kalau di swalayan halal, insyaaAllah semua produknya aman. Daaann, demi murah dan halal, usahakan memasak sendiri guys! Pernah juga sih ditawarin makanan gitu sama teman-teman bule, jika ragu ya di tolak aja, mereka tidak akan tersinggung insyaaAllah. Atau ada kumpul-kumpul masak-masak gitu sama temen-temen, bisa diusahakan, kita menawarkan diri untuk berbelanja, jadi bisa memastikan kehalalan makanan kita.
Oke sepertinya itu dulu yang bisa saya share dalam tulisan kali ini. Kuliah keluar negeri memang banyak godaannya, tapi sungguh saya menyaksikan sendiri bagaimana kuliah di luar negeri menjadi jalan sebagian mereka mendapatkan hidayah, berhijrah. Ada yang dulu di Indonesia, jarang ke majelis ilmu, sekarang bergitu bersemangatnya menuntut ilmu agama. Ada yang dulu belum berpakaiannya syar’I, sekarang sedikit demi sedikit mulai memakai rok, bahkan gamis hingga akhirnya jilbab menutupi dada. Alhamdulillah. Terkadang, menurut pengalaman saya pribadi juga, menjauh dari zona nyaman itu membuat kita lebih mengenal diri sendiri dan sang pencipta, lalu kemudian menyadari tidak ada yang dapat kita bergantung kepadanya selain Allah.
Saran saya sebelum memutuskan untuk berkuliah di luar negeri bukan hanya mempertimbangkan rangking universitas atau keindahan keelokan negaranya, tapi yang paling penting adalah lingkungannnya yang kiranya akan sangat berpengaruh pada iman dan keistiqomahan kita.
Ini adalah kali kedua saya merantau, salah satu motivasi untuk terus menjadi baik selama di perantauan adalah kedua orang tua saya, terutama Aba saya (yang sebelum menikah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas saya) yang selalu mendukung penuh pendidikan saya baik moriil maupun materiil, yang menaruh penuh kepercayaannya kepada saya di saat yang lain menyangsikan keputusan saya untuk bersekolah ditempat yang saya inginkan. Dan mungkin, saya bisa bilang bahwa Aba adalah orang yang paling terdepan mendukung cita-cita saya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin di tempat yang terbaik. Yang kedua tentunya setelah menikah (menempuh studi S2 ini), adalah suami saya, yang saya tau pengorbanannya melebihi siapapun, yang hak-haknya sebagai seorang suami sering terabaikan selama masa studi saya. Bayangkan saja, kalau kita tidak terus mencoba untuk menjadi baik dan malah menabung dosa selama di perantauan, akan sangat mungkin kita menyeret mereka ke neraka, tega kah? (Naudzubillah)…
Musim Semi Wageningen, 8 Juni 2019


















