Terlalu g bisa kalau ga ditulis sih
Jadi ceritanya baru kemarin sore saya kontrol kondisi tulang saya setelah patah dan tindakan pemasangan pen sekitar Juli tahun lalu.
Alur yang biasa, walapun sedikit lupa. Bahkan ternyata saya salah duduk antri di poli mata. Padahal biasanya poli tersebut adalah Orthopedi. Entah kenapa ruangan sudah berganti di pojokan tak terlihat. Akhirnya saya pun bergegas kesana alhamdulillahnya nomor antrian saya belum dipanggil.
Selang beberapa waktu tibalah saya dipanggil perawat untuk masuk dan diperiksa. Pelayanan ramah seperti biasa.
"Ada keluhan?" tanya dokter
"Hmm" gumam saya berpikir
"Tidak ada ya" jawab dokternya sendiri
"Langsung saja ke bagian radiologi untuk rontgen, kita lihat tulangnya" Perintah dokter
"Baik makasih dok" Jawab saya
Saya berjalan sendirian, dengan mantap ke bagian Radiologi. Rumah sakit ini sudah seperti rumah kesekian untuk saya. Kanaya lahir disini. Selama kehamilan pun saya kontrol di rumah sakit ini juga. Bahkan Rafif pernah opname disini karena panas tidak turun-turun.
Dinginnya ruang radiologi, masih tak sedingin hati saya saat itu. Tidak ada perasaan lega. Kalau manusia punya firasat biasanya terjadi. Terjawab sudah perasaan was-was dari pagi kemarin.
"Hasil rontgen sudah keluar, Bu silahkan masuk" ucap perawat
"Bagaimana dok?" tanya saya
"Kalau dikata bagus belum juga, ini masih ada garis" Jelas dokter
"Kenapa ya dok?" Tanya saya kembali
"Ya, ini belum waktunya untuk dilepas pennya" Jawab dokter kembali
"Banyak faktor, mungkin karena ada sesuatu di antara 2 tulang, bisa otot atau daging dll" Jelas dokter
"Solusinya kita tunggu, 3 bulan lagi kesini ya" ucap dokter
Saya pikir saya juga belum siap mental kalau harus diambil dalam waktu dekat. Tapi kalau dokter bilang bulan ini harus diambil, siap tidak siap saya harus operasi lagi, karena ada libur panjang bulan ini. Kalau 3 bulan lagi artinya bukan hari libur panjang. Sebagai ibu guru saya tidak mau izin terlalu lama meninggalkan anak-anak di sekolah.
"Kalau 6 bulan lagi bagaimana dok?" tawar saya
"Enam bulan lagi, tapi kalau masih ada garis, tetap akan saya ambil tindakan! InsyaAllah sih aman" jawab dokter
Lalu entah ada angin apa dokter malah menjelaskan hal-hal lain diluar kondisi saya. Tentang alat yang mahal, tentang kondisi skrup yang aus kalau jangka pengambilan pen terlalu lama dari pemasangan. Lalu beliau juga menjelaskan tindakan yang akan dia lakukan kalau sampai terjadi hal seperti itu.
Akhirnya mau tak mau saya juga bertanya kondisi sekrup saya apakah masih bagus. Beliau jawab tidak bisa dipastikan karena itu bisa terlihat setelah dioperasi.
"Biasanya, maaf ya anda pakai BPJS. Sering kami korbankan alat yang "mahal" hanya untuk melepaskan skrup aus. BPJS tidak mau tau hal itu" jelas dokter
Pikiran saya jadi kalut, banyak "jangan-jangan" Tapi akhirnya hanya bisa memasrahkan.
"Kalau begitu saya mau kontrol 3 bulan lagi saja dok" ucap saya
Ini sih diluar cerita kontrol, hanya saja dr "curhatan" Dokter ketangkap kalau dia g suka pasien BPJS, lebih suka yg pakai asuransi
Pernah saya baca "Ujian besar kalau kamu PNS di negeri Konoha"
Selain birokrasi yang membuat saya kecewa berat
Sekarang BPJS juga buat saya kecewa
Sebagai PNS bisa 24x gaji dipotong untuk BPJS. Bukan 12x ya. Tunjangan yang seharusnya dibayarkan full masih dipotong juga. Giliran mau pakai fasilitasnya (kalau bisa sih sehat terus biar ndak pakai) dapatnya pelayanan yang adanya apa dan apa adanya.
Saya pulang dengan perasaan campur aduk
Untung ada anak-anak yang menanti saya pulang. Walaupun senyum ceria mereka sedikit berubah saat tanya "mama gimana sudah sembuh?" Lalu saya jawab
"Tulang mama masih mah di temani sama pen.. Jadi belum bisa dilepas ya"
"Jadi mama masih sakit" Tanya Kanaya
"Iya.. Jangan minta gendhong dulu ya" Jawab saya
"Ndak papa mama, semoga mama cepat sembuh" Tambah Kanaya sambil kasih pelukan