Sesuatu itu terlihat berantakan untuk disebut sempurna, tapi aku cukup menyukainya
I'd rather be in outer space 🛸
The Stonewall Inn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

❣ Chile in a Photography ❣
No title available

Product Placement
NASA
tumblr dot com
The Bowery Presents
Fieri Frames

Origami Around
Color Me Curious
YOU ARE THE REASON

tannertan36
Phantogram Three

No title available
Not today Justin
cherry valley forever
ojovivo

pixel skylines
seen from Italy
seen from Jordan

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Latvia
seen from Pakistan

seen from Panama

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from United States
seen from Panama
@rumahtanpawajah
Sesuatu itu terlihat berantakan untuk disebut sempurna, tapi aku cukup menyukainya
"Kepalanya berisik sekali"
Ribut yang mengusik langit. Diam yang berisik. Membuncah dalam sepi. Melumat segenap malam dalam cerah. Lalu memuntahkan kembali darah yang terciprat dalam bejana itu. Dan ia mulai menari diantara kobaran api. Menyalak dengan hening. Merebak dalam relung yang tak terjamah. Membiarkannya berenang dalam lautan asa. Meraba, merasakan, tanpa sedikitpun melihat. Ia kemudian menangis pelan. Tanpa air mata. Tanpa isak yang begitu perih. Hanya ada seonggok daging yang tak pernah nampak rambut panjang nya. Loh?
Begitu kira kira percakapan ku dengan kepala. Sedikit menelengkannya berharap semua keluar melalui telinga dan usai begitu saja. Nyatanya aku lah dosa itu sendiri. Yang menuntut kebenaran pada sebuah pengadilan penuh bau busuk. Memotong tangannya untuk kepercayaan bahwasanya ia akan berbicara sebagai saksi.
Kau takkan pernah bisa melewati batasan itu. Selamanya tidak. Hingga kamu tak pernah menyadari bahwasanya semua sudah usai tanpa ada dirimu sebagai lakon utamanya.
Catatan Perjalanan
Lakon itu masih saja menatap kosong ke arah jendela. Entah apa tapi ia merasa raganya tertinggal dalam ular besi itu. Musik itu baru saja diputar seiring gemerisik antar gerbong yang lumayan berisik. Kemana kendaraan ini menuju, wahai yang telah melewati batas? Ia kemudian memeluk sepi. Tak ada lagi yang tersisa dari jiwanya yang kotor itu. Tak satupun. Ia berusaha untuk membuka mulutnya yang terkatup itu. Mengabulkan keinginan seorang ciptaan manis dan menawan. Menawarkan sejumlah senyuman pada seonggok tubuh kosong itu. Berharap lantunan lagu itu menyadarkan kepalanya. Bangun. Namun bodohnya semua tidak seperti kebanyakan film film. Ini semua karena perasaan busuk itu. Kenapa pula manusia diciptakan dengan kecemburuan? Bahkan di buku yang sering kubaca, dalam berbagai versi, iri atau cemburu adalah dosa terbesar kedua dalam serial 7 dosa besar. Dan begitu pula aku membenci diriku dalam berbagai bahasa, bentuk, helai, lembar. Ternyata kutukan itu masih ada. Aku masih belum mencintai diriku sendiri. Dan bodohnya aku mencoba mencintai orang lain dengan berbagai versi yang tak pernah ditujukan untuk diriku sendiri. Lalu bersiap untuk turun. Karena, sayang, tujuan itu sudah sampai pada ujungnya. Surga kini menjadi salah satu topik kita
Lalu untuk apa egois? Sepenting itukah dirimu sampai melupakan sekitarmu? Bodoh
Dan sampailah di pemakaman seorang lakon lain. Yang riwayatnya sudah diceritakan dalam bait yang dia sendiri tuliskan untuk kekasihnya. "Hidup adalah tentang bagaimana kehidupan esok hari", tulisnya dengan yakin. Tapi bagaimana jika tak ada hari esok?
Ini tentang menjadi baik. Yang aku sendiri tak mengerti bagaimana mengartikannya dengan benar. Karena sedikitpun aku tak pernah menuliskannya dengan benar. Bahkan dengan wajah yang tenang sekalipun. Ah, ya, Manusia memang begitu, bu. Terkadang aku membencinya sebagaimana aku membenci diriku sendiri sebagai perwujudan manusia itu sendiri. Terobsesi pada objek dunia yang belum tentu menjadi miliknya sepenuhnya. Oi, itu mengerikan sekali. Dan bila saja ia memperhatikan sekitar, mungkin gejolak dalam rlung hatinya itu bisa padam barang sedikit. Dan mungkin saja air mata yang selama ini ia tahan bisa mengalir pelan dengan sendirinya. Memeluk dirinya sendiri ternyata semelelahkan itu. Tidak ada perandaian. Ini semua murni tanpa tabir yang menutupi seada adanya. Wajahnya sudah lelah, tapi ia dituntut untuk menyanggupinya. Titik.
Yang bisa kupikirkan saat ini hanyalah skenario terburuknya tanpa memperhatikan apa apa yang sudah menjadi baik untukku. Nyatanya pikiran pikiran buruk itu selalu menang. Bawa aku pada ketenangan, kali ini saja. Hingga mataku kembali terpejam dengan atau tanpa tabiat yang menakutkan. Rupanya membuka mata membuat ku sempoyongan. Lebih baik begini saja, ya. Tidak ada lagi dalih yang keluar dari mulut manismu itu. Dan aku semakin jatuh pada jurang yang sama. Untuk kedua kalinya. Tolol
Hanya satu yang kuizinkan untuk menyaksikannya dan itu aku sendiri. Pada kenyataannya kata "will" Itu aku sendiri tidak tau akan bagaimana menjadi kenyataan. Dibalik keinginannya untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat untuk meninggalkan semuanya dengan cepat, termasuk kehidupan itu sendiri, ada angan angan yang rapuh penuh tawa. Ya, dia hanya tertawa untuk menertawakan nasib itu sendiri. Tidak ada lagi keajaiban, tidak ada lagi yang kekal. Hanya aku, aku, dan celah yang curam itu. Karena itu ia memilih untuk menertawakan nya alih alih bergantung pada semak belukar itu.
Suasana saat itu terlalu tenang untuk bisa disebut damai. Langkah kakiku dibawa menuju sebuah kafe sederhana yang bernuansa "komplek". Aku bahkan tidak begitu bisa mendeskripsikannya dengan sempurna. Yang kuingat hanyalah interior penuh kayu yang saat itu sempat kau bahas. Disitu ada pria berumur yang sudah duduk tenang.Nafasnya begitu teratur sembari menggerak gerakkan jarinya secara perlahan menyusuri lembaran menu yang terhampar diatas mejanya. Seakan ia sudah menungguku untuk berbincang panjang tentang anak gadisnya.Aku menarik kursi. Derak kursi kayu itu terdengar pelan. Sedikit memberi perhatian pada pelanggan sekitar. Juga pandangan pria tadi. Matanya teralih dari buku menu tadi sembari tersenyum teduh. Memulai perbincangan dengan penuh semangat. Aku tidak begitu ingat detilnya. Yang kutau dialog antara kita membuatku hangat. Seakan menerimaku untuk merasuk kedalam damai. Hingga raut wajahnya berubah sedikit khawatir ketika handphonenya berdering. Menampilkan sebuah nama yang dengan begitu dingin membuatnya terseok seok untuk mengembalikan senyumnya kembali. Tapi hanya sebentar, sebelum suara dari handphone tersebut mulai terdengar. Pelan. Penuh tekanan. Hanya begitu saja beliau memberi kekhawatiran singkat. Hingga suaranya memberi kabar bahagia. Membuatku dan pria tadi tersenyum sumringah. Dan interior kayu yang sempat kau bahas menjadi saksinya. Bahwa aku-
Tapi ternyata manusia itu yang mendobrakku. Memaksaku untuk sadar dan bergerak. Bahkan sebait puisi tak lagi bisa menerawang parasnya. Hanya aku dan hembusan nafasku. Jauh di bawah temaram lampu taman dimana kita menari dalam untaian singkat berwarna biru. Tenggelam dalam tawamu dan mencatatnya dalam dalam di relung yang tak terjamah. Saat mata kita beradu, menawarkan beribu tanya tentang kita. Hingga semua utuh. Picisan yang selama ini kosong tak berpenghuni yang sempat kurelakan adanya. Tak ada lagi sekat yang menjadi mimbar di sela sela sore merekah. Rapuh "seperti rahim ibu" dan merengkuh tubuh yang sempat lusuh. "Ah, untungnya aku terpesona olehnya", ya.
Aku masih belum cukup untuk merayumu sekuat tenaga. Aku masih belum cukup untuk mengejarmu sekuat tenaga. Maka dari itu aku bungkam. Sesuatu yang sangat kubenci dari diriku sendiri kini menjelma sepenuhnya didalam diriku
Tombol kirim itu terasa berat untuk kutekan. Seluruh rangkaian kata sudah kuuntai sedemikian rupa hanya untuk merayakan hari raya dengan sederhana. Sesederhana mengucapkan kata maaf lahir batin. Tapi jariku terhenti ketika hendak mengirimkannya. Lagi lagi seperti tahun tahun sebelumnya. Aku masih sepengecut itu.
Setidaknya tulisan ini kupersembahkan untuk melepas perasaan megah tadi pagi. Ketika semua sunyi memenuhi ruang kosong pikiranku. Bermandikan sinar matahari yang mulai menyingsing. Kubawakan kisahku, kicau burung gereja yang berduka nestapa mendengarkan, menawarkan trauma. Menari pelan diatas rumput yang basah oleh embun pagi. Kupikir tanganku sudah mulai terpikat. Tapi wajahku takkan pernah. Ini semua menjadi surat terakhir sebelum aku menutup 3 tahun aku menulis dengan sangat buruk. Berpikir bahwa aku sudah berubah, nyatanya masih jauh dari kata pahlawan. Tapi aku bersyukur bisa bertahan sejauh ini. Setidaknya seluruh omong kosong dan segala pikiran kosong yang memenuhi relung pikiranku sudah tertuangkan pagi itu. Bersama bait bait yang kulantunkan pelan. Hanya saja aku sendiri yang paham maknanya. Ya, ya. Sedikit tarian dan senandung pelan. Selamat kembali menjadi manusia, Tho.
Dan bagaimana jika mata kita berpapasan saat itu. Saat wajahmu yang terakhir kuingat selalu itu mulai pudar oleh hal hal yang mengganggu pikiranku. Maka hari ini kita duduk saling pandang. Satu jam saja dengan yang wajah yang kian membusuk. Bahwasanya ceritamu yang selama ini merenggut hidupku pernah membuatku berbakti pada nestapa janjiku. Kita hampir mati. Hindia meneriakkannya dengan lantang. Namun suratmu kan kuceritakan bahwa aku pernah dicintai seada - adanya, sekurang - kurangnya.
Maka, akan kutuliskan semua itu bahkan ketika tanganku bersimbah darah.
Tulisan tulisan yang masih menggerayangi pelataran hijau itu. Yang masih basah dibasuh hujan tadi malam. Yang masih sejuk dibilas angin subuh. Dan menuliskannya menjadi ibadah yang meng aminkan seluruh ke-egosentrisan rumput yang bergoyang
Hari itu matahari tidak begitu terik. Tapi cukup untuk membuatku berkeringat sedikit. Tetap saja itu tak mengurungkan niatku untuk tetap memakai sweater pemberian seorang kawanku dua tahun lalu itu. Sweater hitam usang yang warnanya mulai pudar itu masih saja kupakai mana kala aku bepergian. Rasanya nyaman tanpa harus berganti ganti pakaian luar yang lain. Setidaknya warnanya masih cocok dengan warnamu.
Suara denting bel itu sedikit mengagetkan penjaga toko buku yang sedang kita hampiri. Menyambut hangat kedatangan kita berdua lengkap dengan kamera ditangannya. Ia meminta izin dengan sopan untuk mengabadikan foto kita berdua di toko buku itu. Kebetulan ada seekor anak kucing yang antusias ikut berfoto. Dan warnanya masih sama dengan warnamu.
Hingga dipertengahan jalan, kamu mengerang kesakitan. Pelan. Kamu tak pernah meninggikan suaramu agar aku khawatir denganmu dan aku selalu tahu itu. Dan itu juga yang membuatku semakin khawatir. Hanya saja, kamu tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan itu. Ke taman paling dekat dengan posisi kita saat itu.
Kali ini warnanya berbeda. Beberapa warnanya hijau, warna kesukaanku. Beberapa diantaranya warna biru, warna yang dulu sempat kamu sukai sebelum berganti ke hijau toska. Mengayuh alat sepeda sepedaan. Antusias ketika melihat lampunya menyala setiap kali kita kayuh dengan kencang. Atau menatap bingung satu benda yang kita sendiri tidak paham konsepnya sama sekali. Itu lucu. Dan kita tertawa. Mencoba beberapa benda aneh lainnya.
Lalu, kita berhenti didepan corong besi yang saling terhubung di kedua ujungnya. Aku mencoba mengucapkan beberapa kata yang dibalas dengan tawamu yang meledak. Itu menggema di corong besi itu. Aku tertawa. Menyambut tawanya. Sebelum akhirnya besi itu menjelma menjadi ular besi yang panjang. Yang siap melahapmu dan mengantarkanmu pada kepulangan. Dan aku memelukmu erat. Tak peduli betapa ramainya stasiun kala itu. Lama. Karena kupikir itu pelukan terakhir yang akan kupertaruhkan di separuh hidupku.
"Mampir lah kalau sempat". Dan aku masih saja belum mencintai diriku sendiri. Titik.
Menjadi manusia berarti menerima luka. Karena melukai dan terluka adalah bagian dari memanusiakan seseorang. Mengurai kata lara menjadi luka lama yang tak kunjung sembuh. Membiarkannya tumbuh subur tanpa tau itu menggerogoti nya perlahan dari dalam. Membuat nya ingkar di sepertiga malam yang sempat ditengadahkannya pada sang ilahi. Membuatnya berdarah, hampa tak beraturan. Dalam genggam yang kian meretak, tak berkesudahan mengucurkan peluh. Mengerang kesakitan, melantangkan kericuhan. Membuatnya kembali mengerami luka yang tumbuh akibat ulah ia sendiri. Ya, ya. Malaikat meng-amin kan. Dan aku menengadahkan tangan. Amin.
Hidup tak pernah semudah itu. Serumit itu juga tidak. Segala sesuatunya selalu dekat, ucap guruku kala itu. Sekelumit untaian rasa ragu masih menyelip di pelipisku. Beberapa kali abai dengan sekitar membuatku mabuk perjalanan. Semua tak terkendali. Ruang genggamku retak yang bahkan tak pantas untuk disyukuri. Lantas untuk apa aku tertatih tatih berjalan menyusuri impian yang kubuat atas dasar nama resolusi menjadi lebih baik? Itu semua tercatat dalam barisan kata yang sempat kunikmati aromanya kala hujan bulan desember mulai rancak. Cukup membuatku teduh tatkala kursi besi yang dingin mulai hangat kembali. Obrolan sambat yang mengitari meja bundar itu. Tak ada makanan, hanya tatapanku yang semakin sedu dibuai malam. Suara kendaraan mulai jarang, membuatku yakin untuk pulang dengan melaju. Tak ada lagi nyinyiran itu. Hanya aku yang tertawa diatas kuda besi yang melesat maju menerabas angin malam. Pulang. Menyederhanakan maksud kehidupan, kasih.