Bukan Budaya yang Salah, Tapi Kita yang Harus Adaptasi
Pulang. Niatnya ambil jeda dan kalo bisa nyerap energi. Ternyata nggak selalu jadi kesempatan buat istirahat.
Lama di perantauan dengan lingkungan dan zona yang sedemikian rupa, justru membuat diri harus adaptasi lagi (meski budayanya nggak berubah).
Lingkungan membentuk cara pandang jadi makin berkembang: mulai dari memahami esensi dari sebuah tradisi, tujuannya apa, arahnya ke mana. Kalau menurut keyakinan nggak sesuai, ok stop.
Ketidak sesuaian kita pada suatu budaya mungkin memang pada akhirnya jadi pertempuran batin. Lalu mendorong overthinking.
Lama-lama makin dirasa, makin dipikir, ada cara pikir yang salah. Setidak sepakatnya kita pada sebuah budaya, jangan menyalahkan. Karena budaya itu sudah hidup, masih dilestarikan.
Yang salah adalah kenapa bukan kita yang beradaptasi?
Menganut ajaran Islam, adab bertamu itu salam 3x di depan rumah, bukan salam sambil langsung masuk sampai dapur. Tuan rumah yang biasa menutup aurat dan sedang beraktivitas tentu tidak siap menerima tamu.
Tapi budaya Jawa tidak mengenal itu. Tetangga dekat dan saudara dianggap bukan orang asing. Jadi, merasa "diizinkan" masuk sampai bagian rumah (yang menurut kita seharusnya itu area privat).
Bukan salah budayanya. Karena ya memang begitu yang sudah mengakar di masyarakat.
Kitanya yang harus kapanpun mengenakan pakaian menutup aurat.
Rewang atau sambatan sebagai bentuk gotong royong. Prinsipnya, aktivitas ini adalah kearifan lokal. Sedih juga kan kalo lama-lama luntur.
Kalo dalam prosesnya terselip budaya lisan yang negatif, ya itu biasa karena bagian dari bersosialisasi.
Kalo kita gak sepakat, jauhilah. Diem, berisikanya di otak aja.
Di desa ada beberapa tradisi orang-orang kuno yang menurut keyakinan kita gak masuk akal dan gak sesuai ajaran Islam. Tapi itu masih lestari.
Kalo gak sepakat, jangan reaktif untuk nyeramahin orang-orang tua. Pura-pura aja gak tau, tanya minta penjelasan.
Setelah diberi pemahaman dan itu masih gak bisa diterima, lakuin aja apa yang disuruh sebagai bentuk menghormati, tapi jangan ikut diyakini.
Begitulah. Pulang rasanya sama berisiknya. Bedanya, budaya desa ternyata bikin lebih kerja keras buat diterima.