Jadi hari ini gatau kenapa pengen nulis, simply buat mencurahkan isi kepala aja dan keresahan yang kesel banget sama orang-orang dimasa pandemi ini. Mungkin yang jadi trigger dari postingan ini adalah pas ga sengaja scrolling twitter trus nemu tweet yang share berita dari NY Times tentang kondisi covid-19 di Indonesia.
Berikut link dan cuplikan beritanya.
Jadi dari situ bikin aku mikir kalo kirain diem di rumah dan stop mikirin whatever that’s been happening (re: covid-19), it would slowly fades atau seengganya ku kira curvanya udah landai. Terus beberapa hari ini, mulai lagi ngikutin berita dan ternyata kasus covid-19 masih di angka 400-500/ hari; sadly, isn’t it?
Dan hari ini per tanggal 29 Mei 2020, kasus nya masih menginjak angka 600-an. Indonesia juga udah berniat mau menerapkan konsep “the new normal” dengan beberapa tahap dari 1-5, meanwhile hari ini juga muncul berita bahwa Korea Selatan gagal dalam penerapan “the new normal” bahwa terjadi lonjakan kasus sampe sekitar 70an kasus di Seoul. So have you ever thought that ini Korea Selatan yang negaranya tanggap dan rakyatnya aware, penerapan konsep new normal gagal which forced them go back and do the social distancing all over again dan berencana menutup public space lagi. Apa kabar Indonesia yang rakyatnya aja bebal, kalo tetep dilaksanakan new normal dengan awareness dan kesiapan yang kurang what we might call it? Genocide party?
Lalu muncul pertnayaan seperti:
“yaudah kan covid urusan pemerintah”
Iya, mereka dah lagi ngurusin nih, although perhaps ga semaksimal negara lain but we had one job, one single job to stay at home eh malah masih keluar rumah dengan alasan “bosan”. Pemerintah udah baik-baik menghimbau, melarang, menginfokan tapi tetep aja ga didengerin, eh nanti giliran dikerasin dikit baru deh teriak otoriter. Rakyat kaya gini delete aja; you are the real virus.
“ya tapi gue gabisa diem mulu dirumah. Gue stres butuh udara segar, butuh nongki”
So you think that you’re the only one? Well, news flash fella, we are all suffering. Yang stress, yang lonely, overthinking mikirin duit/kerjaan/sekolah ngga cuma kamu saja, sob. There you are bragging about being in a very hardship because you feel like “rindu ini berat”, what a waste of flesh called brain. Delete.
People be like “ini kapan covid selese sih, ya ampun cape gue yada yada”
• ngantri beli baju lebaran di mall
• party, party, party sampe rindu ini mati
Ironic, isn’t it? You know what? RIP LOGIC.
At first, awalnya mikir kalo pandemi ini seengganya bakal udahan di Juni, that would be 3 months since the 1st case appear back in early March, dan setelah liat kelakuan rakyat +62 yang masih bebal, berkerumun, dan ga peduli made me realize that I guess it would be the whole 2020.. imagine being home for the rest of the year, not being able to do whatever you used to do with your family and friends. I knew that covid-19 ini ga akan fully disappear in few months dan pastinya kalo curva nya udah datar, social distancing bakal terus dilakukan for at least two years ahead sampe seengganya ada vaksin/obat atau ada cara penanganan yang lebih tepat; again I obviously knew that but the realization that this whole year we are going to do the stay at home terus dan cuma ngandelin antibodi, well... for exactly how long?