a glimpse of my career journey
Udah lama banget ngga menulis di sini. Kalau yang namanya ide tuh pasti ada, cuman waktunya dan brain power buat mikir rangkaian katanya aja yang sekarang agak susah. Apalagi udah ngga terbiasa bikin tulisan yang agak panjang, hehe.
Jadi, hari ini, aku mau membicarakan mengenai career switching.
Sebenarnya switchingku ngga jauh-jauh amat, sih. Dari pekerjaan yang awalnya di bidang Komunikasi jadi ke Human Resources, yang kalau di Indonesia lebih identik sebagai bidangnya anak manajemen dan psikologi. Even though anak Komunikasi juga banyak yang masuk ke ranah HR ini sendiri.
Sejak kuliah, aku sebenarnya belum memiliki pandangan yang jelas mengenai apa yang akan aku lakukan selulus dari kuliah. Aku cuman mikir kalau aku senang ngobrol dengan orang, dan aku senang ketika obrolan tersebut bisa membantu atau bisa memberikan insight kepada pihak yang bersangkutan. Itulah kenapa aku senang ngebantu orang buat ngisi kuesioner, melakukan interview, atau sekedar membantu hal-hal yang kecil. Aku ngga necessarily amazing dalam menginisiasi suatu obrolan, tapi aku senang ketika bisa mendengarkan orang mau untuk terbuka dan bercerita ke aku.
Aku cuman berpikir bahwa I will be a Public Relations Officer one day, karena kerjaan dia yang paling dekat dengan keinginanku: bisa bercengkrama dengan banyak orang, melibatkan berpikir kreatif, ada kegiatan bikin event juga di dalamnya. Perfect.
Itulah kenapa, pas aku ada mata kuliah magang, aku pengen banget magang di agensi PR. Ngga kesampaian, tapi aku dapat tempat magang yang lumayan memberikan eksposur mengenai cara kerja orang Jakarta tuh seperti apa, hehe. Aku juga jadi tahu lebih banyak mengenai kerjaan secara betulan, karena selama ini cuman mendengarkan dari ceramah dosen atau gambaran dari alumni yang kebetulan visitasi ke kampus.
Di tahun 2019 ini juga, aku (secara ngga sengaja) terjun ke dalam dunia content writing. Dimulai dengan salah satu tulisanku masuk ke portal menulis lumayan ngetren (Terminal Mojok, salah satu anaknya Mojok). Senang sekali rasanya, karena selama ini aku hanya menulis untuk konsumsi pribadi. Ketika tulisan tersebut bisa dimuat oleh media, dan medianya juga besar, ada rasa bangga dan kepuasan tersendiri karena merasa tulisanku ngga jelek-jelek amat, hehe.
Sejak saat itu, aku punya 2 visi ketika nanti lulus dari Komunikasi: menjadi PR Officer atau menjadi penulis kondang. Titik.
Ternyata, petualanganku ngga semudah itu. Pandemi datang, ngebuat semua rencanaku tertunda atau terpaksa terhapuskan dari agenda. Menjadi PR jelas ngga bisa aku wujudkan, karena ngga ada agensi PR yang bagus di daerah (banyak orang yang belum sadar pentingnya PR buat usaha mereka). Aku masih mencoba menulis, tapi entah kenapa pengalaman tersebut menjadi kegiatan yang monoton dan ngga rewarding. Aku constantly mencari ide, padahal kegiatanku mentok di kamar kontrakan yang aku tempati saat itu. Aku juga bukan orang yang sangat kreatif banget, ngga bisa membuat ruanganku yang sempit menjadi wahana imajinasi.
Banyaknya penulis kondang dan berbakat juga membuatku berpikir ulang: apakah aku akan bisa bertahan di industri ini?
Aku selalu merasa bahwa menulis itu bisa dilatih, tapi ada beberapa orang yang memang dapet bonus ketika dilahirkan ke dunia ini. Salah satu bentuk bonusnya adalah otak yang kreatif dan kemampuan menulis yang bagus.
Pengalamanku di 2021 juga tidak membantu. Aku diterima bekerja di sebuah agensi social media management di Jogja, yang ternyata menjadi pengalaman kerja pertama yang juga bikin kapok. I basically handle 5-9 klien dalam sebulan, yang mana menurut semua temanku udah overload banget. Aku juga tidak mendapatkan mentorship dengan matang, ditambah ini pertama kalinya aku bekerja sebagai copywriter, sehingga konten yang aku produksi juga ngga bisa maksimal.
Sering banget aku mendapatkan revisi hingga malam hari. Biasanya, aku bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Itupun masih harus terima ketika beberapa klien memberikan revisi di atas jam normal, misalnya jam 3 pagi. Ditambah lingkungan kerja yang toxic dan bos yang demanding, rasanya aku hanya melakukan hal yang sia-sia saja.
Hingga pada suatu malam, aku berbaring di kamar kosanku sambil menatap langit-langit kamar. Aku memikirkan tentang karierku kedepannya. Apakah aku akan seperti ini selamanya? Berlari di roda putar, tidak membantuku beranjak kemana-mana, dan tidak mendapatkan balasan yang semestinya? Apakah emang bukan ini bidang yang sesuai untuk aku?
Cahaya di Ujung Terowongan
Saat itulah, Tuhan mempertemukan aku dengan salah satu mentor yang keren. Dia juga lulusan Komunikasi, tetapi dia bekerja sebagai HR. Tiap aku mendengarkan ceritanya, aku mendengarkan perpaduan antara passion, rasa senang, dan perasaan fulfilled karena dia mengerjakan hal yang dia senangi. Sebuah perasaan yang aku cari.
Akhirnya, dengan ilmu yang masih 0 dan nekat, aku memutuskan untuk approach dia.
Dan mulailah petualanganku di bidang baru yang masih sangat asing sebelumnya. Well, aku udah tertarik dengan HR dari pas kuliah. Cuman, karena ngerasa itu bidangnya anak Psikologi dan Manajemen, akhirnya aku ngga pernah berpikir untuk mencoba masuk ke bidang tersebut.
Sampai akhirnya mentorku memperkenalkan dan memberikan gambaran apa saja yang akan dikerjakan oleh seorang HR. Di momen itulah, aku sadar bahwa inilah bidang yang aku cari; bisa ngobrol dengan banyak orang, membantu menyelesaikan permasalahan mereka, membantu menemukan talent yang cocok dengan kebutuhan perusahaan, dan ngga harus bekerja dikejar target banget (we still have target, tapi at least ngga se-intens targetnya anak marketing atau sales).
Aku juga baru sadar bahwa apa saja yang aku kerjakan seumur hidup selalu bermuara pada satu hal: membantu. Sejak masih kecil, aku selalu bertanya kenapa aku yang terpilih untuk dilahirkan ke dunia ini. Apa yang diharapkan semesta kepadaku? Apa yang bisa aku berikan? Dan sebagai apa aku ingin diingat?
Aku yang masih kecil kemudian melihat ke sekelilingku. Ke keluargaku yang senang berbagi dan membantu orang lain. Mau mengulurkan tangan, sekalipun tidak ada kepastian bantuan tersebut akan kembali atau tidak. Harus merayakan setiap achievement yang kami dapatkan, karena dengan demikian, kami bisa berbagi ke lebih banyak orang.
Dari situlah, aku terdorong untuk bisa membantu orang lain. Aku mengikuti organisasi anti narkoba di sekolah, karena ingin mengampanyekan hidup sehat. Aku ikut BEM di bagian advokasi dan kesejahteraan mahasiswa, karena ingin membantu meringankan beban orang lain agar mereka tetap bisa fokus berkuliah. Aku pernah berada di fase sebagai SJW feminis hard core yang kerjaannya menuntut keadilan, karena merasa this world is fucked up.
Butuh waktu, tapi akhirnya aku sadar bahwa ini yang aku mau.
Setelah menjadi HR selama kurang lebih 2 bulan, aku ngga bisa berhenti bersyukur karena aku berani mengambil keputusan ini. Aku senang bisa melakukan apa yang aku kerjakan sekarang. Would be a lie kalau aku bilang bahwa aku selalu bersemangat dalam mengerjakan tanggung jawabku, tetapi aku berusaha untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya.
Ucapan terima kasih dari mereka yang merasa ‘terbantu’ olehku juga menjadi penyemangat, bahwa ternyata aku juga bisa mendapatkan kepuasan lain, selain kepuasan materiil, ketika bekerja.
Bidang HR juga bukan sesuatu yang membutuhkan ‘bakat’. Aku merasa semuanya bisa dipelajari dan diasah melalui jam terbang. Mencari kandidat yang bagus dari ratusan CV, mengukur kemampuan mereka lewat interview, mencari pokok permasalahan dari curhatan karyawan, menyelesaikan konflik, semuanya bisa diasah seiring berjalannya waktu kerja. Bukan sesuatu yang murni ‘pemberian’ Tuhan.
I am still scared sometimes, karena ngga banyak juga anak angkatanku yang bekerja di bidang ini. Aku takut dianggap ‘merebut rezeki orang’ dan cuman dianggap sebagai ‘anak privilege bisa kerja di HR karena kenal sama manajernya’. But oh well, life gotta be like that sometimes.
Aku juga merasa ‘takut’ karena menulis adalah duniaku sejak dulu. Aku sudah menulis belasan cerpen, memublikasikan sebuah novel, menulis di berbagai media dan diskusi buku, menjadikannya pekerjaan tetap dan freelance, hingga akhirnya aku memutuskan bahwa menulis akan menjadi hobi yang aku kerjakan di akhir pekan. Masih membuatku gelisah, but I know that I just need to remind myself that I am not going to leave this writing world anytime soon. Aku juga masih memiliki banyak mimpi di bidang ini. Hanya saja, untuk sekarang, aku memiliki fokus dan dunia yang lain.
Sudah setahun lebih aku masuk ke dunia profesional. Dari yang awalnya magang di CSR, kemudian kerja sebagai penulis konten, lalu jadi copywriter di agensi, tipis-tipis masuk ke marketing, dan sekarang jadi HR. Crazy to think kalau semuanya terjadi hanya dalam span 1,5 tahun.
Kemana langkahku selanjutnya? Aku ngga tahu. Hidup masih menjadi misteri yang ngga aku pahami. Semoga kemanapun aku pergi, aku tetap bisa menekuni hal yang aku senangi dan bisa memberikan kepuasan dan arti. Lebih dari sekedar materi.