Agak aneh rasanya aku menulis untuk seseorang yang belum pernah bicara denganku. Bukan sama sekali belum pernah, hanya kami tidak punya banyak kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain.
Aku mengenal dia saat tahun 2019, sebagai calon anggota UKM dimana aku saat itu berperan sebagai Badan Inti di UKM tersebut. Nggak banyak interaksi diantara kita, hanya sebatas aku sebagai seniornya, dan dia menghormatiku selayaknya junior. Interaksi terakhir yang masih kuingat adalah ketika agenda kerja bakti bebersih sekretariat dan dia ikut membantu memasang banner struktur organisasi, dan terakhir yang kuingat adalah masa kaderisasi dimana saat itu dia bertindak sebagai 'ketua suku'.
Lihat? Singkat? Sangat.
2020, saat badai COVID-19 menyapu kebebasan seluruh umat bumi, termasuk aku yang saat itu berpikir aku harus bertahan untuk diriku sendiri. Saat itu pula, aku hampir jarang aktif di kegiatan UKM. Fokusku saat itu hanya skripsi, skripsi, skripsi, dan lulus kuliah tanpa menggendong embel-embel Majelis Permusyawaratan Organisasi (disingkat MPO). Tanpa sadar, aku merasa egois karena harus meninggalkan angkatan dibawahku untuk bertarung membopong nama baik UKM dengan interaksi yang sesulit itu.
Percepat waktu sampai ke tahun 2024, dimana aku sudah bekerja merantau. Dia baru menyelesaikan studinya. Sudah niat akan berkunjung ke acara wisudanya, tapi raguku lebih tinggi dari niatku. Lagi-lagi aku cuma bisa lihat prosesinya dari siaran langsung di YouTube.
Setelahnya, aku merasa sepertinya aku 'diawasi' melalui beberapa media sosialku. Heran bercampur sedikit takut karena dia sampai follow akun kedua dan akun portofolio fotoku. Tapi, aku nggak ambil pusing, pikirku "ah, paling dia cuma mau keep-in-touch dengan orang-orang yang dia kenal."
Masalahnya, dia terus memantau kegiatan bermedia sosialku, mulai memberi reaksi ke instagram story, memberi tanda suka pada postinganku, sampai dia (lagi-lagi) mencoba mem-follow akun keduaku. Aku juga penasaran, kenapa dia melakukan itu?
Rasa penasaran itu malah terus-terusan tumbuh dan beralih ke perasaan suka. Aneh? Sama, aku juga pikir gitu. Aku nggak pernah berinteraksi lagi dengan dia, bahkan ketika kami saling mutual di media sosial pun dia nggak pernah menyapaku. Hanya meninggalkan jejak, lalu hilang.
Ah, aku lupa, rasa suka itu muncul perkiraan di triwulan kedua atau ketiga di tahun 2024? Aku nggak yakin. Tapi semenjak itu, aku juga penasaran tentang bagaimana hidupnya setelah dia lulus.
Masuk pada Desember 2024, dimana aku baru saja putus hubungan dengan seseorang yang sudah buatku capek setengah mati, aku merasa benar-benar kesepian. Notifikasi dari akun dia masih belum sepenuhnya mati, nama akun dia tetap muncul ketika aku posting instagram story, dan akunnya tetap memberikan reaksi. Rasa sukaku semakin bertumbuh, dan kenyataan yang paling membuatku mual adalah aku nggak punya alasan untuk mulai menyapa dia. Dan bisa jadi, begitu pula dia.
Kejadian bagaimana aku terlalu bahagia saat dia tetap melihat akunku terus terjadi hingga di awal tahun 2026 ini, walau aku sudah punya kekasih. Bagaimana rasa suka yang belum tuntas masih belum bertemu dengan titik akhirnya, bagaimana rasa suka yang belum tersampaikan ini pada akhirnya jadi nggak mungkin terjadi, bagaimana rasa suka yang belum terucap ini pada akhirnya cuma jadi onggokan yang terpojok di sudut memori.
Aku menulis ini bukan berharap dia juga menyadari keberadaanku di akun ini, dan bukan juga membuatnya sadar bahwa ada seseorang yang sudah mengamatinya juga dengan hatinya selama ini. Kuharap, setelah tulisan ini selesai didraf, perasaan yang masih mengakar ini cukup aku yang tahu. Biarkan perasaan yang kurasakan ini tetap menjadi onggokan yang terpojok tadi. Sampai pada akhirnya, aku bisa 'menyapu' kenangannya hingga bersih.
Terakhir, untuk pria Handil itu, terima kasih banyak sudah mengijinkanku untuk menyukaimu.
P.S. Kalau kamu baca tulisan ini sampai selesai, cepat hubungi aku ya. Katakan aja, "aku sudah lihat."











