𝙰𝚁𝚃𝙸 𝚂𝙴𝙱𝚄𝙰𝙷 𝙽𝙰𝙼𝙰 Namanya Endang Kurnia Ningsih, seorang perempuan berdarah campuran yang terlahir di daerah Suliki kabupaten Payakumbuh Sumatra Barat dari seorang Ayah lelaki Jawa dan Ibunya seorang perempuan dari Minang. Pada saat itu Bapaknya Endang bertugas sebagai Komandan sektor Polisi disana. Karena namanya yang Jawa banget dimasa kecil dia sering dipanggil jawir oleh teman-temannya (jawir singkatan dari “Jawa Ireng,” yang biasanya merujuk pada seseorang yang memiliki logat atau ciri khas tertentu yang dianggap identik dengan masyarakat Jawa, khususnya yang berkulit gelap) hal yang kemudian membuat dia menjadi minder hingga Endang kecil sempat berfikir untuk mengganti namanya yang kemudian ia sadar adalah sikap konyol paling absolut yang pernah dia lakukan. Karena keseringan dipanggil Jawir yang membuat endang kecil mulai kesal dan malu akhirnya dia mengajukan pertanyaan yang bentuknya lebih kepada protes pada Bapaknya kenapa dia dikasih nama itu. Jawaban sang bapaknya sederhana, seperti kebanyakan orang tua saat memberi nama pada anak anaknya pastinya selalu terselip doa dan pengharapan didalamnya, sebab nama akan menjadi identitas seumur hidup, Bapaknya memilh Nama Endang yang dalam bahasa Jawa itu artinya Diambil dari nama putri seorang begawan yang memiliki perilaku mulia. Mereka memilih nama ini yang berarti putri cantik mulia pembawa anugrah. Seperti harapan Bapak dan Ibunya agar kelak Endang kelak memiliki sifat, karakter, dan nasib yang baik di masa depan. Dan bisa membawa kebaikan bagi orang lain. Sejak saat itu Endang tak lagi malu menyandang namanya, bahkan mulai mensyukuri dan bangga dengan darah jawa. Juga mulai tertarik dan menyukai hal hal yang berkaitan dengan budaya jawa, ingat dulu saat remaja di TVRI ada program musik keroncong , ludruk dan wayang yang bapaknya gak pernah absen disepan TV endang suka nemenin, dan sipbapak dengan senang hati menjelaskan isi cerita dan tokoh dalam wayang itu, dan setelah belajar Dengan mas Guru jadi tahu bahwa banyak cerita wayang itu yang terbelokan. Begitulah sepenggal tentang endang dengan namanya, yang dalam perjalanan hidupnya sudah melalui banyak hal susah dan senang. Yang dia kemudian begitu mensyukuri keberadaan nya saat ini di SKPM dengan pembelajaran SMSD labagaiman dia bisa terus berevolusi memurnikan jiwa mencapai Hidup surgawi.
PR #7 Refleksi tulisan sendiri PR#2 Endang K. N
Saya sadar ketika membaca ulang tulisan saya bahwa saat menulis sering terpaku/ terjeda berapa saat karna mikirin kalimat yang pas agar kalimatnya singkat tidak berulang namun padat akan makna agar yang ingin sampaikan bisa dimengerti oleh pembaca, dan paragraf demi paragraf memiliki benang merah satu sama lain. Kurangnya membaca selama puluhan tahun ( ada kisahnya juga kenapa saya berenti mbaca) membuat saya tidak memiliki referensi yang aktual baik itu tentang kosa kata dan diksi, juga gaya bercerita yang tidak kekinian.
Sebenarnya masih banyak kenangan dari masa kecil saya yang bisa saya tambahakan pada tulisan tersebut agar benang merah dari tulisan lebih terasa dan kuat namun saya gak berani membuat cerita yang agak panjang karna ada kekhawatiran alurnya jadi meleceng kemana mana karna kebiasaan saya yang kalau bercerita suka loncat loncat tidak fokus pada satu topik, hingga benang merahnya jadi hilang, sikap ini yang kadang juga kebawa bawa saat saya menulis.
Kelemahan lain kadang karna kelamaan mikir seperti yang saya bilang diatas akhirnya saya jadi asal cepet kelar padahal tulisqn saya bisa lebih dikembangakan lagi agar makna yang sampai leboh utuh ke pembaca, balik lagi karna takut malah meleceng dari alur akhirnya saya tulis sedadanya, juga karna mengejar tenggat waktu , ingin cepat ngumpulin Pr dan pencitraan juga ujung ujungnya.
Saya sadar masih harus terus belajar menulis, tentunya sekarang dengan berkesadaran, mengasah kemampuan saya untuk jadi bisa menulis dengan baik.













