My dearest husband and my precious daughter,
The life we live may be rough, but we'll always try to create our own rainbows amidst the storm. With countless tears, countless smiles, countless efforts, we'll never surrender. Be resilient <3
The Mom.

Product Placement
Noah Kahan
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Love Begins
🪼
ojovivo

★

PR's Tumblrdome
𓃗
sheepfilms
🩵 avery cochrane 🩵
TVSTRANGERTHINGS
Show & Tell
Claire Keane

tannertan36
trying on a metaphor

❣ Chile in a Photography ❣
No title available
The Bowery Presents
we're not kids anymore.
seen from United States

seen from United States
seen from Sweden

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Guatemala

seen from Guatemala
seen from Guatemala
seen from Guatemala
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
@sophinoid
My dearest husband and my precious daughter,
The life we live may be rough, but we'll always try to create our own rainbows amidst the storm. With countless tears, countless smiles, countless efforts, we'll never surrender. Be resilient <3
The Mom.
Punya anak adalah keputusan yang saya ambil secara sadar, bersamaan dengan resiko-resikonya. Tapi yang tidak pernah saya prediksi adalah bahwa saya harus melalui kesulitan-kesulitan di dalamnya sendirian.
On a sleepless night, all I want is my husband. Cause every time my daughter cries, I cry too.
Ya Allah, ampunilah hamba yang masih sering berkata "andai saja ini", "andai saja itu" di setiap situasi sulit yang melanda. Semoga Engkau selalu meridhoi setiap langkah yang diambil oleh keluarga kecil ini. Sesungguhnya Engkau maha kuasa, lagi berkehendak.
Sumber Kidul, 10 Februari 2024
Dulu, setiap penolakan rasanya sangat melukai egoku, tapi seiring berjalannya waktu, Aku akhirnya bisa menerima bahwa tidak apa-apa menjadi tertolak. Selain karena ditolak tidak selalu berarti tak memenuhi kriteria, menjadi tak memenuhi kriteria pun juga tak ada salahnya. Toh manusia memang tempatnya kurang dan salah.
Aku akhirnya menyadari, bahwa dengan menerima sosokku yang tak sempurna membuat hidupku terasa jauh lebih mudah... dan tenang.
Prambanan, 6 Juni 2023 @sophinoid
Marriage is (literally) not for everyone.
Setelah kembali ke Tanah Air dan menikah, hidup saya berubah 180 derajat. Jika ada yang bertanya, "Apakah menikah itu enak?", saya akan jawab bahwa menikah itu tidak mudah. Tentu saja ada banyak hal-hal menyenangkan dalam pernikahan, tapi jangan salah, cobaan dan hal-hal menyebalkannya pun tidak kalah banyak. Bayangkan saja, dua manusia dengan latar belakang yang berbeda, setelah akad diucapkan, secara tiba-tiba tinggal dalam satu atap, bertemu setiap hari untuk sepanjang sisa hidupnya. Jangankan berbeda visi dan misi, berbeda cara memencet pasta gigi saja bisa jadi masalah.
Maka saya katakan, marriage is not for everyone. Bagi orang-orang yang tidak punya tujuan dalam pernikahan, menikah hanya akan menambah masalah. Karena romantis dan uwu-uwu hanya bumbu saja, sisanya adalah saling memahami dan kerja sama dalam menggapai tujuan dari ibadah terpanjang dua insan.
Tujuan kami sudah jelas: menyempurnakan separuh agama dan memperbanyak umat Nabi Muhammad SAW. Terdengar template dan klise, namun sejatinya kedua tujuan tersebut bukan lah tujuan yang mudah untuk digapai. Maka ketika bahtera rumah tangga kami dihantam ombak besar, kami sadar bahwa tujuan besar akan memiliki banyak rintangan besar. Setidaknya, keyakinan itulah yang akan terus menghidupkan asa kami dan melindungi kami dari kata menyerah.
Ya Allah, semoga setiap jerih payah yang kami tuangkan untuk mempertahankan rumah tangga kami berbuah ridha-Mu. Amin.
NB: tulisan ini ditulis dengan penuh kesadaran oleh @sophinoid yang baru menikah 4 bulan dan akan diperbaharui secara berkala sesuai pengalaman yang bersangkutan dalam dunia pernikahan hihihi
Sleman, 7 April 2023 M | 17 Ramadhan 1444 H @sophinoid
Sering sekali saya dengar orang-orang di sekitar saya berceloteh,
“aib bagi seorang guru untuk mengungkit-ungkit masalah gaji”.
Sebuah kalimat yang terlalu naif menurut hemat saya. Padahal, sudah menjadi maklum bagi kita semua bahwa orang-orang pada umumnya bekerja untuk mencari penghidupan. Bukannya guru juga sebuah pekerjaan? Lalu, aib dari mananya ketika seorang guru berbicara soal gajinya yang jauh dari kata layak? Saya rasa semua guru juga tahu kalau profesi mereka adalah profesi yang mulia; mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi memangnya orang-orang berprofesi mulia tidak boleh bicara tentang gaji?
Orang-orang naif itu lagi-lagi berceloteh, "pekerjaan yang mulia ini biar Allah yang membalasnya di akhirat". Maksudnya apa? Maksudnya manusia-manusia dengan pekerjaan mulia (yang di konstitusi disebutkan sebagai mencerdaskan kehidupan bangsa) ini tidak apa-apa untuk tetap punya penghidupan yang tidak layak? Maksudnya semakin kecil gajinya, semakin besar pahalanya? Gila. Orang-orang naif itu kenapa, sih, tidak bisa membiarkan urusan pahala dan ikhlas itu agar menjadi urusan antara hamba dan Tuhannya saja?
Ironis sekali. Ketika para perusak moral generasi penerus bangsa dibayar mahal, guru-guru malah dibayar sekenanya. Ketika guru-guru protes karena gajinya yang kecil, aib katanya membicarakan masalah pendapatan. Naif.
Kita terlalu terbiasa dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa sampai-sampai menelan mentah-mentah makna harfiah dari sebutan tersebut. Akhirnya, guru benar-benar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Jasanya mengajar sampai tenggorokan kering dari jam pelajaran pertama hingga jam pelajaran terakhir itu tidak ada harganya, ya karena guru memang pahlawan tanpa tanda jasa. Saking malunya membicarakan masalah gaji karena dianggap aib, pada akhirnya, keadaan guru yang jauh dari kata sejahtera ini dinormalisasi bahkan oleh para guru itu sendiri.
Sampai tulisan ini ditulis, saya masih terus berpikir: Bisa tidak, sih, para guru di negara ini memperjuangkan kesejahteraannya tanpa harus dipandang tabu?
Sleman, 7 April 2023 M | 17 Ramadhan 1444 H @sophinoid
Never have I thought in my life that I'll be the top scorer in my major ✨
Semakin beranjak dewasa, saya semakin sibuk dengan pikiran "Kenapa saya selalu menjadi pilihan nomer sekian?". Kepercayaan diri saya serasa digerogoti setiap kali memikirkannya. Rasanya, tidak diingat sama sekali lebih baik daripada hanya diingat sebagai pilihan alternatif.
Menyakitkan rasanya memenuhi permintaan orang yang datang hanya saat ada maunya, tapi di saat dunia baik-baik saja, saya seolah-olah tidak ada.
I've been too selfless to the extent that I can't see that I really am worthy.
Quarter Life Crisis
Menjadi diri sendiri dengan segala krisis identitasnya sungguh sangat melelahkan. Malam ini, seorang gadis yang baru saja menyelesaikan studi strata satunya di Universitas Al Azhar tersedu-sedu meratapi keadaan. Ia stres bukan kepalang lantaran harus memikirkan bagaimana nasib kelanjutan studinya setelah kembali ke tanah air.
"Di ujung usiaku di Mesir ini, kenapa aku baru bertanya-tanya sih: sebenarnya motivasiku belajar filsafat itu apa?"
Ia terus mengacak-acak rambutnya, mencari kalimat yang tepat untuk dituliskan di motivation letter yang sedang Ia susun sebagai salah satu syarat pendaftaran program magister. Semakin acak-acakan rambutnya, semakin acak-acakan pula hatinya.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ada pertanyaan yang lebih besar dari sekadar apa yang perlu Ia tulis di motivation letter yang sedang Ia garap. Jauh di dalam hati kecil miliknya, Ia bertanya-tanya, sebenarnya segala perjuangan yang sejak dulu Ia lalui dalam kehidupan perkuliahan ini demi siapa? Apakah benar ini semua demi diri sendiri yang ingin terbebas dari belenggu kebodohan? Apakah benar ini semua dilakukan demi mencari ridho Allah semata? Apakah benar ini semua dilakukan karena Rasulullah SAW bersabda "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga"?
Jangan-jangan yang selama ini coba diraih hanyalah euforia sesaat saat mendapat nilai memuaskan, atau sekadar rasa ingin dipuji karena berprestasi, atau beban untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Semakin dipikirkan, semakin sangsi Ia akan dirinya sendiri.
Ia menutup laptop dan mengakhiri sesi mengetik sambil menangisnya. Kemudian, Ia mengambil ponsel miliknya dan mulai mengetik pesan singkat untuk Ayah Ibu di rumah,
"Bu, kayaknya aku mau gap year dulu untuk benar-benar mikir: sebenernya tujuan belajarku tuh apa?"
Kairo, 22 Oktober 2022 @sophinoid