Tampak sudah cukup lama tidak menambah tulisan di wadah yang satu ini.
Mungkin, saya bisa menulis sedikit tentang itu dulu.
Mengapa produktivitas menulis saya sudah tidak lagi setinggi dulu?
Ada beberapa hal yang bisa menjadi jawaban untuk pertanyaan ini.
Saya tergoda untuk menjabarkannya satu per satu.
Sebenarnya, ini bukan tentang usia. Namun, saya rasa penting untuk menjadikan angka usia sebagai latar belakang konteks. Per saya menulis ini, saya berusia 37 tahun. Beberapa tulisan di wadah ini, dan atau masa-masa saya cukup produktif dalam menghasilkan tulisan ada di usia awal 20an sampai mungkin awal 30an.
Beberapa hal menjadi penyebab hal ini, sepertinya.
Di awal 20an, jumlah pikiran yang beredar di benak saya mungkin sungguh terlalu banyak, berantakan, dan sulit saya bendung. Saat saya bilang “terlalu banyak”, ada juga posibilitas bahwa ia terlalu banyak relatif terhadap volume kemampuan benak saya menampungnya. Intinya, relatif terhadap “ember pikiran” saya, “air pikiran” yang mengalir itu sungguh terlalu banyak, sehingga menulis menjadi salah satu wadah saya untuk sedikit menampung "air-air” yang tumpah itu.
Memang, ada juga kawan-kawan berdiskusi untuk jadi tampungan berbagi air, yang tentu sifatnya resiprokal. Mari sebut saja, semacam sebuah "bak mandi” bersama.
Balik ke masa-masa menuju pertengahan 30, banyak hal yang bisa dikatakan “terjadi” dalam perkembangan saya sebagai seorang manusia. Air-air yang mengalir tadi bisa saya alokasikan ke berbagai wadah. Pertama, ruang-ruang kelas. Ya, dengan profesi yang saya jalankan ini (guru), selalu merupakan hal yang mengasyikkan untuk saya membagikan hal-hal yang beredar di benak saya tentang kehidupan. Intinya, renungan-renungan yang biasanya perlu saya mainkan dalam tulisan (sewaktu saya di sekitar usia 20an), jadi bisa saya bawa di dalam kelas. Bisa jadi ada masalah yang bisa diperdebatkan di sini: Apakah dengan melakukan itu berarti saya adalah guru yang buruk? Atau justru guru yang baik? Ini tentu isu perdebatan etis. Sila diperdebatkan. Mungkin, disclaimer yang bisa saya sampaikan adalah saya tetap menjalankan tugas saya sebagai guru dalam menyelesaikan silabus yang sudah terencanakan di awal.
Berikutnya adalah kanal Youtube yang saya dan rekan saya buat sewaktu covid. Di situ rata-rata setiap episode sekitar 90 menit. Intinya, hal tersebut merupakan sebuah wadah juga untuk saya menumpahkan & berbagi pemikiran dengan manusia lain.
Satu lagi mungkin merupakan variabel yang menarik. Dari sekitar awal usia 30an, lingkaran pertemanan memang makin mengecil. Ada hal yang menarik memang di situ, teman2 yang masih ada di lingkaran tersebut, justru memang menjadi teman-teman yang makin nyaman untuk berbagi pemikiran dan cerita-cerita kehidupan. Mungkin juga, karena usia pertemanan yang bertambah, begitu juga dengan kedewasaan kami dalam berbagi cerita, pikiran, dan menjalani hidup secara garis besar.
Perihal kawan bercerita, sejujurnya ada satu hal yang membuat saya merasa sungguh sangat beruntung. Karena profesi yang saya jalankan ini sudah saya jalankan hampir 15 tahun, beberapa manusia yang tadinya duduk di ruang kelas saya pun sekarang sudah ada yang di usia awal dan pertengahan 20an. Suka atau tidak suka (saya tentu suka, beberapa dari mereka mungkin tidak. :D), banyak yang masih sering menjadi kawan berdiskusi dan berbagi pikiran dengan saya. Keberuntungan ini juga yang membuat saya memiliki wadah yang cukup menarik untuk saling menumpahkan isi pikiran dengan manusia lain.
Mungkin singkatnya, ember untuk mewadahi air-air pikiran saya yang terus mengalir ini, selalu tersedia saat saya membutuhkannya. Sehingga ember yang merupakan tempat untuk menulis secara rapih, sering saya belakangkan. Bisa jadi juga karena itu memang bukan ember yang praktis.
Satu lagi alasan yang sepertinya signifikan dalam menjelaskan alasan rendahnya produktivitas saya dalam menulis di wadah ini: Seringkali (mungkin mulai dari akhir 20an), yang saya perlukan adalah mengekspresikan tulisan-tulisan yang banal dan terlalu telanjang dari pikiran saya. Dengan kata lain, sebenarnya saya masih suka menulis, tapi banyak tulisan yang sifatnya terlalu pribadi, dan bukan renungan-renungan yang masuk dalam kategori “konsumsi umum.”
Baiklah. Setidaknya saya sudah menjelaskan alasan mengapa produktivitas saya dalam menulis tampak terlihat rendah belakangan ini.
Sejujurnya, sungguh ada banyak tema di dalam pikiran saya yang hendak saya tulis. Dari perkembangan dan ramifikasi dunia AI, perkara abadi spektrum idealisme-realisme, menariknya dunia jelajah dan berkelana, warna-warni dunia pendidikan, menariknya buku-buku yang sedang saya baca (ada Nexus, Skin in the Game, dan The Evolution of Cooperation).
Namun, sepertinya, saya memilih untuk - bahasa kontemporernya - locked in dengan perkara abadi idealisme-realisme.
Baik, mari kita jabarkan sedikit tentang dinamika kedua ujung spektrum ini.
Sepertinya, saya sedikit perlu menarik wacana ini ke sebuah sisi yang agak terlalu personal (dalam konteks ini: selera saya). Dua minggu lalu, salah satu komika favorit saya: Indra Frimawan, baru saja menampilkan sebuah Special Show. Saya beri sedikit konteks. Ia adalah seorang komika yang memilih untuk hiatus selama satu tahun penuh di tahun 2024. Artinya, ia tidak memiliki pemasukan yang cukup signifikan selama satu tahun itu, dan juga memilih untuk menolak pekerjaan apa pun. Sedikit lagi latar belakangnya, ia memilih untuk hiatus di 2024, saat di akhir 2023, menurut analisis banyak orang dan juga ia akui sendiri, adalah tahun di mana namanya sebagai seorang komedian sedang tinggi-tingginya. Setidaknya relatif terhadap tingkat ketinggian namanya dibanding sebelum-sebelumnya.
Ada beberapa hal menarik di sini. Pertama, saat ditanya mengapa dia mengambil langkah semacam itu, jawaban-jawaban yang ia lontarkan kira-kira bernada begini: Kesuksesan yang saya dapatkan sampai 2023 ini, saya kira adalah hal yang memang saya inginkan dan dambakan, tapi setelah saya mendapatkannya, hal yang saya rasakan justru “Oh, begini, doang. Kok gua ga happy2 banget, ya?”
Saya persingkat sedikit. Dalam beberapa kesempatan di mana ia menjelaskan tentang hal seputar ini, ia selalu menjawab bahwa (parafrase saya) makna dalam hidup itu bukan ada di popularitas, uang, terus berada di bawah spotlight, mencapai sebuah titik yang sebelumnya kita labelkan dengan label “sukses”, hal-hal yang orang anggap keren. Ia mencapai kesimpulan itu setelah ia sudah berada di titik tersebut. Mungkin senada dengan apa yang pernah disampaikan Jim Carrey (yang juga seringkali dipakai Frimawan dalam menjelaskan hal ini), “I wish everybody can become rich and famous, so that they know it is not the answer.” Dalam Special Show tersebut pun, ia juga membawa kutipan “When money is easy, the price is a part of your soul.”
Tambahan menarik satu lagi, Frimawan ini adalah komedian yang identik dengan label “absurd.” Menariknya, ia memilih untuk mencoba mendalami apa itu absurditas. Bagi mereka yang pernah tersentuh dengan karya-karya Albert Camus, tentu akan mengaitkan absurditas dengan eksistensialisme Camus. Begitu juga dengan komika yang satu ini, ia pun bertemu dengan cerita Sisiphus yang dipaparkan oleh Camus. Dampaknya, ia menjelaskan ini dalam Special Show-nya. Sebagai penggemar Frimawan dan juga manusia yang pernah mempelajari filsafat, saya sangat senang melihat konsep filsafat eksistensialisme dimasukkan ke dalam ruang komedi. Pemandangan yang sungguh menarik buat saya saat itu. Bagaimana cerita Sisiphus? Sila cari tau sendiri saja, tidak perlu saya jelaskan di sini. :)
Balik ke permasalahan idealisme-realisme. Dalam Special Show-nya yang berjudul X0-Genesis itu, 90% isinya tentang komedi Frimawan dan sisi dia menjelaskan tentang idealismenya. 10%-nya lagi adalah hal yang sungguh menarik. Sebuah hal yang ia jadikan penutup dalam pertunjukan tersebut. Yang bahkan ia sebut juga sebagai Frimawan yang baru, Frimawan 2.0. Yaitu, betapa muaknya ia dengan idealisme-idealisme yang ia pakai dalam hidupnya selama ini.
Ini sungguh merupakan hal yang sangat menarik, sebenarnya. Karena kemuakkan dan kekesalan dalam paparan dia tentang idealime tersebut adalah perihal uang. Ia menceritakan bagaimana setelah hiatusnya itu, uang di saldonya bahkan hanya 800,000 rupiah. Ia menceritakan bahwa ia pernah mendapatkan tawaran sebesar 1.2 M di masa kampanye Pilpres, namun ia tolak. Ia mengekspresikan betapa menyesalnya ia menolak tawaran tersebut.
Ada hal yang sungguh sangat menarik di sini. Atas nama merampingkan & menyederhanakan, posisi yang saya mau ambil di sini adalah diktum Nassim Taleb yang berbunyi, “You are rich, if and only if, the money you refuse tastes better than the money you accept.” Berdasarkan premis ini, bisa dikatakan bahwa saat Frimawan menolak tawaran tersebut, ia memang sedang dalam kategori rich (dengan asumsi, it tasted good for him). Demi kepentingan pernyederhaan lagi, saya hendak mengkategorikan bahwa komika yang satu ini merasa telah selesai dengan idealisme-nya, lalu hendak masuk ke dalam dunia realisme.
Tampaknya, saya perlu juga sedikit menjelaskan mengapa spektrum ini disebut dengan spektrum idealisme-realisme. Dalam tradisi / sejarah filsafat, ada perpecahan memang antara Aristoteles dan Plato. Plato adalah pendiri Akademia di Athena, Aristoteles adalah salah satu murid Plato di situ. Plato memiliki pemikiran bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah bayangan dari dunia ide (Plato’s cave). Sementara bagi Aristoteles, tidak demikian. Yang ada di dunia ini, that is all there is to it. There are no other things! Plato dianggap sebagai Bapak Idealisme, Aristoteles sebagai Bapak Realisme.
Tentu, ini berbeda jauh dalam pemakaiannya di masa kontemporer. Yang paling umum biasanya: Seorang yang dianggap idealis adalah manusia yang tidak terlalu mementingkan uang, sementara seorang realis diidentikkan sebagai orang yang oportunis yang selalu mengambil apa yang bisa dijadikannya uang. Contoh mendasar mungkin: Seorang musisi idealis tidak hendak membuat lagu yang sifatnya terlalu dasar, mainstream, dan terlalu mengedepankan keinginan pasar. Seorang musisi realis justru dengan seluruh jiwa raganya berusaha keras untuk menciptakan musik yang diinginkan pasar. Memang ada dinamika menarik di sini: Pasar itu adalah suatu entitas yang penuh dengan ketidakpastian. Artinya, akan ada beberapa pengecualian di mana musisi yang idealis ternyata musiknya dicintai pasar, dan musisi yang terus berusaha menciptakan yang diinginkan pasar, justru tidak pernah disukai oleh pasar. Tapi, bukan itu arah tulisan ini mau saya bawa.
Demi mencegah penjabaran yang terlalu kompleks, saya hendak langsung saja mencoba memaparkan sebuah posisi yang setidaknya berupaya untuk menambahkan beberapa pemikiran yang agak lebih berat ke sisi spektrum idealisme. Hal penting yang menurut saya selalu menjadi hal yang menarik dalam sisi spektrum yang satu ini adalah: Ketegasan warna yang biasanya dipancarkan oleh manusia-manusia yang hidup di spektrum ini. Bahasanya Apple dalam puisi Think Different: “They change things. They move the human race forward.” Saya rasa, sangatlah penting untuk selalu berupaya dalam mencegah keredupan cahaya dari warna-warni yang bisa diciptakan oleh manusia-manusia ini.
Saya mengerti, realisme adalah hal yang tidak boleh juga kita tinggalkan terlalu jauh. Akan tetapi, selama kebutuhan akan magnet-magnet realisme ini hanyalah sekadar kenyamanan dan stabilitas, ada hal penting yang perlu dikhawatirkan di situ. Saya sederhanakan: Selama sekumpulan manusia di suatu pulau memilih untuk selalu mengedepankan kenyamanan dan stabilitas, sekumpulan manusia di pulau itu tidak akan pernah melihat dunia di luar pulau itu. Tidak akan mungkin ada pesawat terbang atau kapal yang bisa membuat mereka pergi melihat isi dari pulau-pulau lain, atau bahkan menciptakan pulau baru.
Tentu ada permasalahan di sini. Salah satunya adalah terganggunya kenyamanan dan stabilitas. Di mana fluktuasi dianggap sebagai sebuah gangguan, bahkan ancaman.
Demi penyederhanaan juga, secara menyebalkan saya hendak secara ekstrim memberikan analogi pentingnya fluktuasi dalam monitor elektrodiagram jantung manusia. Tentu terlalu bermasalah jika tidak ada fluktuasi. :)
Begitu, demikian, kira-kira hal yang hendak saya paparkan dalam sebuah tulisan kali ini.
Semoga kita terus bersemangat dalam menjelajah dunia di luar pulau masing-masing.