Sore - Isteri dari Masa Depan
Postingan ini lumayan late post sih. Kayaknya udah dua minggu lalu gue nonton film Sore, Isteri dari Masa Depan dan masih kebawa hangatnya. Baru kali ini gue nonton film Indonesia yang kursinya penuh dan habis scene ending, para penonton berdiri dan tepuk tangan.
Film ini dibagi menjadi tiga segment Segmen Jonathan, segmen Sore, dan segmen waktu. Gue lupa urutan detail tiap segmen tapi gue nggak pernah lupa rasa capeknya ngelihat sore masuk labirin waktu. Mengulang kejadian berkali-kali. Mencoba skenario demi skenario agar Jo bisa hidup dengan baik. Sampai gue awalnya bingung. Ini tuh cinta atau obsesi sih?
Ada banyak emosi yang di permukaan terlihat serupa tapi akar rasanya beda. Sore tidak terobsesi mengubah Jonathan. Ia sedang berduka. Dan duka yang tidak tertampung sering kali mengeras menjadi rasa bersalah.
Film ini menjadi menarik karena duka tidak hanya dilukiskan lewat tangisan. Tapi lewat fantasi orang yang benar-benar sedang kehilangan. Penuh upaya, penuh perulangan, penuh logika yang tidak masuk akal bagi dunia luar tapi sangat nyata di kepala orang yang sedang berduka. Dan dari setiap upaya Sore inilah kita masuk ke lapisan lain dari hubungan antar manusia yaitu:
Kesiapan untuk mencintai dan menerima cinta.
Karakter Sore dan Jonathan terlihat sangat kontras di film ini. Sore sangat hadir untuk Jonathan. Sementara Jonathan bahkan tidak bisa hadir untuk dirinya sendiri. Setiap nemu masalah, alih-alih menyelesaikan malah lari ke kerja, ke alkohol, ke rokok. Masalah hidup Jonathan di film ini tuh bukan cuma soal gaya hidupnya yang buruk. Tapi keberanian dia untuk duduk dan mengupas semua masalah hidupnya tuh hampir nggak ada. Ini yang membuat cinta mereka terasa timpang.
Cinta Sore untuk Jonathan adalah cinta yang hadir dalam versi paling repot. Cinta yang bertahan di hadapan seseorang yang bahkan tidak tahu bagaimana caranya dicintai. Yang setiap hari hidup dengan cara menyakiti. Entah menyakiti dirinya sendiri ataupun menyakiti orang lain. Di titik ini hubungan Sore dan Jo sudah mendekati hubungan yang toxic. Untungnya di bagian ketiga film ada satu segmen khusus yang membahas tentang waktu.
Saat Sore menghilang, kita mungkin mengira dia dihukum oleh waktu. Tapi menurut gue, ada tafsir lain. Ada satu elemen cinta yang sering kita lupakan yaitu ruang.
Waktu memisahkan mereka bukan untuk menyakiti. Tapi untuk memberi Jonathan ruang. Untuk melihat, berpikir, dan mungkin⦠mulai menumbuhkan keberanian yang dulu tak pernah ia miliki.
Yang membedakan antara obsesi dan cinta yang bertahan bukan cuma niatnya. Tapi ruang yang diciptakan. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk berubah. Ruang untuk menyadari sesuatu tanpa ditekan.
Sore mencintai Jonathan dengan cara hadir. Tapi waktu membantu mereka berdua dengan cara menjauhkan. Dan kadang, kita perlu keduanya.
Karena cinta bukan hanya tentang tetap bersama. Tapi juga tentang memberi seseorang kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Tanpa kita sebagai pengatur, tanpa tekanan untuk segera āpulihā, tanpa ilusi bahwa cinta bisa menggantikan kewajiban seseorang untuk membenahi hidupnya sendiri.
Ada cinta yang bertahan. Ada cinta yang melepas. Dan ada cinta yang diperkenalkan oleh waktu kepada Sore dan Jonathan. Waktu yang bercanda memaksa Sore berputar dalam labirin waktu demi memberikan pemahaman bahwa cinta yang sehat hanya bisa tumbuh dari dua manusia yang tahu cara mencintai dirinya sendiri.











