aku menyukai hujan, tapi aku tidak suka basah karenanya
will byers stan first human second
No title available

JBB: An Artblog!
🪼

Discoholic 🪩

PR's Tumblrdome
I'd rather be in outer space 🛸
Stranger Things

Kiana Khansmith

祝日 / Permanent Vacation
DEAR READER
Alisa U Zemlji Chuda
cherry valley forever
taylor price
styofa doing anything
Mike Driver
Keni
Three Goblin Art
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Not today Justin

seen from United States
seen from Italy
seen from Australia

seen from Germany
seen from Brazil
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Japan

seen from United States

seen from Mexico
seen from United States
seen from Mexico
seen from Mexico
seen from Sweden
seen from T1
seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@sunikha
aku menyukai hujan, tapi aku tidak suka basah karenanya
Aku menemukan tatapan milikmu. Lagi.
Aku menemukan tatapan milikmu. Lagi.
Sorot mata itu, yang entah mengisyaratkan apa.
Yang sampai saat ini aku tidak tau maknanya apa.
Aku menemukan tatapan milikmu. Lagi.
Tersembunyi di balik bahu-bahu, yang tersusun rapi di barisan dua banjar kebelakang.
Aku menemukan tatapan milikmu. Lagi.
Tapi sudah tidak seantusis dulu.
Enam pekan lalu.
Dan kau yang membuat aku seperti itu.
Ada sekat yang meskipun tidak terlihat,
Tapi sudah cukup membuatku tak ingin lagi mau mendekat.
Aku menemukan tatapan milikmu. Lagi.
Aku selalu menyukai langit, karena ia adil pada semua penikmatnya. Ia selalu menyuguhkan hal yang sama. Yaitu keindahan.
Kemanakah?
Kemanakah akan kubawa mimpiku?
Mimpi yang selama ini tertimbun sampai berdebu
Kemanakah akan kubawa mimpiku?
Mimpi yang selama ini ingin menapaki seluruh penjuru
Kemanakah akan kubawa mimpiku?
Mimpi yang selama ini menumpuk mencari waktu
Kemanakah akan kubawa mimpiku?
Mimpi yang selama ini wujudnya selalu kurindu
Kemanakah akan kubawa mimpiku?
Merekalah tempatku pulang :)
Sejauh apapun aku melangkah, pun sebanyak apapun aku menemukan orang-orang baru, merekalah yang tetap menjadi tempatku untuk pulang. Pun sekaligus menjadi alasanku.
Jatuh cintakanlah aku pada lelaki yang juga jatuh cinta padaMu
Jatuh cintakanlah aku pada lelaki yang membuatku lebih jatuh cinta padaMu
Jatuh cintakanlah aku pada lelaki yang membuatku lebih dekat denganMu
Jatuh cintakanlah aku pada lelaki yang membuatku merasa diterima, membuatku merasa berharga.
Indonesiaku.
Jangan tanyakan apa yang Indonesia berikan padamu. Tapi tanyakan, apa yang kamu berikan pada Indonesia.
Sahabat itu, yang saling mengingatkan. Bukan saling meninggalkan :)
Sebatas Tulisan
Hanya sebatas tulisan, tidak apa-apakan?
Pura-pura merindu, pura-pura mendamba
Hanya sebatas tulisan, tidak apa-apakan?
Pura-pura mencinta, pura-pura berharap
Dan pura-pura lainnya yang juga pura-pura
Hanya sebatas tulisan, sungguh tidak apa-apakan?
Bolehkah aku menyukaimu?
Bolehkah aku menyukaimu?
Tanpa takut kalau yang lain tau
Bolehkah aku menyukaimu?
Terang-terangan tanpa berpikir kedepan
Bolehkah aku menyukaimu?
Tidak dengan diam-diam dan selalu terpendam
Bolehkah aku menyukaimu?
Cinta memang tidak datang tepat waktu, tapi cinta datang tepat pada waktunya.
jatuh cinta dengan caraku
Allah, aku jatuh cinta pada langitMu
Yang menjadi tempat bertemunya awan-awan kelabu
Aku jatuh cinta pada awanMu
Yang menjadi tempat singgahnya uapan air, yang kemudian jatuh sebagai hujan
Aku jatuh cinta pada hujanMu
Yang membuat genangan air tercipta kala rindu
Sungguh Allah,
Aku jatuh cinta padaMu lewat mereka
Tanpa Suara
Darimu, yang dulu suka melihat dari atas berlatarkan langit biru
Kurangkai dalam untaian bahasaku
Untuk sebuah tutur potret jiwaku
Pada kekaguman melangit
Entah derajat apa yang pantas
Kepadamu bernama AF
Atas nama itu, kutulis ceritaku
Saat dunia berisikan sajak nan indah
Aku berusaha, meraba, merasakan
Begitu syahdu dan fantastis
Entah sampai kapan terus begitu
Sesekali menerjemahkan mimpiku
Sesekali meyakinkan rasaku
Sesekali mengokohkan obsesiku
Kuberani ungkapkan padamu
Menyapamu tanpa suara
Sajak Pagi
Aku jatuh cinta pada sajakmu
Yang sudah lebih dulu menyapaku
Sebelum kokok ayam menyentuh udara di balik pintu
Aku menyukai ucapan selamat pagimu
Meski hanya terhitung sekali membuka pagiku
Semoga masih ada waktumu
Sekedar menulis tentangku
Untukku
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ayam-ayam bangun pagi
Walau tak mengaji
Walau tak sekolah, semut-semut justru lebih pagi
Embun-embun meleleh oleh rangkakan matahari
Matahari menampakan sedari tadi
Mengawali hari
Dengan pagi yang berseri
Aku ucapkan dengan kerendahan hati
“Selamat Pagi”
Teruntuk insani
Yang bahagia raga, jiwa dan hati
Yang selalu ceria tak henti
Menambah hariku ini
Indah tak tertandingi
Dibanding lain hari
Bersyukurlah dalam hati
Untuk hari ini
Pada Rabb sang Illahi
Atas segala nikmat yang telah diberi
Selepas Acara
Selepas acara, yang katanya “lomba debat orasi sumpah pemuda”
Masih dengan perasaan yang begitulah.. Campur aduk.
Sebenarnya, tulisan ini bukan tentang acara itu, tapi tentang seorang teman (baru) yang menjadi salah satu peserta lomba debat itu. Ketua dari kelompokku yang beranggotakan 3 orang. Seorang ketua dengan 2 sayapnya. Yang 2 hari lalu memintaku untuk menjadi sayap kanannnya dalam acara lomba itu. Yang terasa sangat mendadak. Yang terus terusan meyakinkanku “tidak apa-apa”, meski nyatanya sangat “apa apa” sekali.
Teman baruku itu menyebalkan sekali, meskipun sangat memukau. Dengan sifat misterius yang tidak terduga, yang tidak bisa ditebak. Yang kadang sangat ramah dan menyenangkan tapi 5 menit kemudian bisa tiba-tiba menyebalkan, di ajak bicara tidak memperhatikan. Sesekali membuatku merasa diacuhkan.
Aku masih ingat betul hari pertamanya memasuki kelasku, menjadi bagian dari keluarga yang tadinya beranggotakan 38 menjadi 39. Tidak seperti biasanya, bukannya kalau akan kedatngan siswa baru akan ada isu-isu terlebih dahulu? Tidak sama sekali untuk temanku. Waktu itu, pelajaran jam pertama Bahasa Indonesia. Saat itu, kelasku sedang mepresentasian masing-masing dari auto biografinya. Kemdian tiba-tiba Pak BK datang mengetuk pintu dan langsung masuk kelas. Mengantarkan teman baruku itu. Oleh Ibu Bahasa Indonesia, ia langsung diberi kesempatan untuk mengenalkan dirinya. Dengan logat Betawinya yang kental, ia dengan santainya memperkenalkan dirinya yang disambut gelak tawa teman-teman kelasku karena tingkahnya yang lucu di depan kelas. Rasanya, ia teman yang menyenangkan untuk kesan pertama. Setelah itu, ia duduk dikursi paling belakang, barisan kedua dari pintu.
Hari Jum’at itu berjalan dengan cepat. Teman baruku itu dengan cepat beradaptasi dengan teman-teman kelasku yang MasyaAllah beragam sekali sifat, watak, latar belakang dan ceritanya yang berbeda. Ia mudah menarik simpati teman-temanku, bukan hanya dari kelas, bahkan anak-anak tenarpun dengan mudah bergaul dengannya. Terbukti dengan cepat ia sudah mengikuti berbagai macam ekstra di sekolah. Ia naik daun di sekolah. Hampir semua guru mengenalnya. Karena memang ia anak yang aktif dalam pelajaran. Sering mendominasi saat diskusi.
Teman baruku itu menyukai msuik barat, sepertiku. Bedanya, ia lebih up to date tentang msuik. Bukan hanya pecinta musik, ia juga menyukai dunia basket, teater, dan meskipun tidak terang-terangan sering menulis, tapi aku tau ia berbakat dalam hal-hal menulis. Lewat caption postingannya di medsos, atau coretan-coretan kecil dibuknya. Ia juga mengikuti berita-berita politik, masalah negara dan semacamnya. Dalam proses menjadi Khafidz. MasyaAllah sekali. Multi talent. Ia juga pribadi yang humoris, easy going. Menyenangkan dan sepaket dengan menyebalkan juga. Tidak sepertiku yang hanya memeikirkan “Kapan jam kosong?” atau “libur panjang kapan, pengin pulang!”. Temanku itu justru memikirkan “bagaimana cara memajukan kelas”, “tentang permasalahan akhlak siswa” dan sekelumit hal yang menurutku memusingkan sekali.
Aku salut sekali. Meskipun sekali lagi, ia menyebalkan. Sungguh, ia bisa dijadikan teladan, dalam banyak hal. aku kadang berpikir “kenapa tidak pindah dari kelas X saja?”. Karena nyatanya, sejak adanya temanku itu, kelasku lebih berwarna. Ia bisa diandalkan dalam banyak hal. Memimpin rapat kelas, membuat guru merasa dihargai saat mengajar, dan menjadi pemenang lomba orasi saat acara Sumpah Pemuda. Sungguh tidak terduga. Biasanya, lomba-lomba seperti itu selalu dimenangkan oleh kelas-kelas unggulan.
Begitulah, temanku itu misterius, dibalik semua sifat menyenangkan dan menyebalkannya.
Ini tentang kamu #Part2
Aku hanya pernah tersenyum padamu satu kali. Malam itu.
Saat semua orang didominasi dengan busana putih-hitam. Pun denganku yang menegnakan kerudung putih yang melingkar sampai perut, baju dengan motif bunga bunga hitam kecil beralaskan warna putih, rok rimpel hitam. Malam itu, aku berdiri di dekat bundaran dengan air yang melingkari sepanjang tepinya. Menyambut dengan senyum ramah, dan di balas dengan senyuman yang lebih ramah. Malam semakin melangkah ke tengah, membuat langit malam terasa sangat sepi, tapi suasana menjadi semakin ramai. Lebih banyak orang yang datang.
Segerombolan laki-laki datang, tidak dengan busana putih –hitam. Melainkan beraneka ragam. Aku mencarimu di antara mereka yang berwarna warni. Sampai kutemukan sosokmu. Dibalut busana batik dengan corak garis lengkung yang saling terhubung, merah muda. Warna kesukaanku. Kau tengah menatapku dari jauh. Sekali lagi, selalu ada sesuatu di caramu melihatku, yang membuatku kontan tersenyum. Senyum paling tulus, paling lebar malam itu. Dan kau, membalasnya dengan dua anggukan kecil. Aku memalingkan muka, menutupi letupan letupan yang tengah muncul disekitarku.
Aku hanya pernah tersenyum padamu satu kali. Selebihnya, tidak pernah.
Rinduku tidak akan pernah usai. Satu sembuh, yang lainnya kambuh.