Family on G String

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from T1
seen from Greece
seen from South Korea
seen from United Kingdom
seen from South Korea

seen from Italy
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from Kazakhstan
seen from Tajikistan
seen from Kazakhstan
seen from Brazil
seen from Kazakhstan

seen from Australia
seen from United States
Family on G String
waiting for his master rather than water
Kilas Balik
Aku ingin memuntahkan rantai inti yang sangat panjang kali ini. Menerbangkan sudut pandang lusuh yang kurekam sejak lama. Pada hari yang kuanggap sebagai pelunasan empat tahunmu yang rumit. Kuselipkan keseluruhannya di antara jeda-jeda penghormatanku. Dan kupastikan kau menangkapnya dengan kilatanmu sendiri.
Mari awali cerita ini dengan perputaran kembali pada tahun-tahun penyesalan itu. Pada tragedi penyapuan ilusi. Waktu itu baru saja matahari tenggelam bersama para impian, yang kita terka bersama dari kejauhan. Di tempat itu, di antara daratan dan laut, kita menjelajahi kebebasan pasca ujian kelulusan.
Lalu ketika besi raksasa beroda melaju menuju persinggahan, kau mendatangiku tiba-tiba tanpa rambatan suara. Kepanikanku menjejaki jiwa hingga berlalu tanpa kata. Aku tahu maksudmu, tetapi Sang Perompak membatasi arah. Aku tahu telah mengacaukan malam itu, padahal langit sedang berkedip dengan jutaan kornea putihnya yang bercahaya.
Tidak pernahkah kau sadari bahwa gerakan itu adalah kesalahan alam bawah sadar, yang bertindak sebelum sampai ke otak? Jika tidak pernah ada sedikitpun rasa yang tabu padamu, langit merah tidak akan membawaku sejauh itu. Tetapi mungkin kepinganmu terkoyak petir, atau terlanjur menjadikanku penyihir. Aku tidak berani melempar diksi apapun, lalu tertelan waktu.
Kemudian jam pasir terus menukik berkali-kali hingga tiba pada masa ketika keangkuhanmu mengusikku. Aku menutup kotak cerita tentangmu, tanpa pernah mengira hal itu telah demikian meruntuhkanmu lagi. Maksudku adalah bukan untuk mengusirmu, hanya saja auraku sedang beku. Sampai saat ini pun penghakiman terus kulimpahkan pada jejakku yang dungu.
***
Hari-hari berlari, menarikku ke permukaan. Ujung pundakmu dapat kulihat lagi pada skema perjumpaan masa lalu. Kita tidak bicara. Tidak saling sapa. Aku merasa ada muram yang belum selesai, dan rasa bersalah yang mengintai. Pada akhirnya yang kupilih adalah diam, melapurkan kejanggalan menjadi hal yang biasa. Siapa yang menyangka, di ujung hari itu keajaiban mengangkasa. Jaring-jaring yang dulu kusut mulai terurai kembali. Sisa halilintar meraung-raung di kepala. Kemudian sesederhana padam yang mematikan nyawa, jutaan padi bangkit dari rundukannya. Kita kembali, menapaki skenario baru yang lebih hidup dari sebelumnya.
Meski demikian, relungmu masih kuraba. Satu per satu gelap dan pekat merambati sekat. Titik-titik mengadu pada penelusuran keingintahuanku, memulai pilu. Baru kusadari bahwa sebenarnya kau baik-baik saja di sana. Dalam dimensi lain, pesona wanita penuh lara dan muslihat telah berhasil memenuhi lukamu. Menukar tumpuan dan senja, juga antara pagi dan ambisi. Bayanganku sudah mati sejak terakhir bertemu. Kau mencoba lupa tanpa bercerita pada mereka. Kau biarkan nisanku berpapasan dengan asa. Bagimu saat itu, dia lebih nyata.
Makin menyelamimu, risau makin bergemuruh. Jatuh. Terlilit alur yang sudah berlalu. Meski sumpahmu melengking, memastikan tidak ada yang tertinggal. Tetap saja pendaratanku tersesat. Bagai orang pesakitan, aku terluka dan gila di saat yang sama. Mengutuki malamku yang pernah mengabaikanmu terlalu lama. Mengutuki langkahku yang terlambat. Mengutuki sang wanita yang menjerat.
Aku memujamu di atas batas kewarasanku. Melebihi cinta. Melebihi pengabdian. Merayap mencapai racun empedu.
Bagaimana tidak, kau pusatkan satu titik gerimis buta. Digetarkannya debu menjadi galaksi bahagia.
Bagaimana tidak, kau leburkan jutaan rasa. Ditepiskannya sepi tanpa diminta.
Kita terikat dalam damai. Memeluk tanah tua bersama. Menggugurkan firasat aneh yang mendistraksi nestapa.
Tahun-tahun penyesalan itu kini abadi di atap ruang terkunci. Kau coba meledakkannya berkali-kali dengan aliran frasa yang membasahi pagi. Kian pudar, kian tersisa sedikit sekali. Oleh sebab itu, aku ingin mencatat hari ini sebagai ingatan terakhir badai yang terhenti. Biarkan janji tiga bulan lalu dimulai lagi. Mengindahkan dunia baru yang akan kita tapaki sampai mati.
19 September 2019
00:09
Z
올해 초 인도 여행 중에 갠지스강에 간 적이 있다. 그때 나는, 갠지스에 도착하는 순간 갑작스럽게 찾아온 평화와 고요함에 압도당했고, 그 순간 내가 이 곳을 떠나고 싶어하지 않을 것이라는걸 본능적으로 느꼈다. ‘여긴 호불호가 완전 갈린다던데 맘에 안들면 얼른 다른데로 가버려야지’ 하던 내가 정신차려보니 결국 전체 일정의 절반을 바라나시에 쏟고 있었다. 거기엔 치열한 경쟁도, 남의 시선을 신경쓰는 일도, 내내 귀에서 떠나지 않던 경적소리도 없었다. 그런 곳에서 2주쯤 지내다보니 영원할 것만 같은 고요와 평화를 두고 가기 싫었다. 여행이란게 항상 그렇다. 익숙한 것을 두고 와야 한다. 그건 여행을 떠나기로 결심한 순간부터 시작이다. 그때도 그랬다. 바라나시를 떠나기가 두려웠다. 또 다시 귀를 찌르는 듯한 클락션 소리와 사기꾼들이 가득한곳으로 돌아가기 싫었다. 나는 익숙함과 편안함의 유혹에 너무나도 나약한 사람. 세상에서 가장 낯선곳에 와있는 그 순간마저도 그 사실만큼은 변하지 않았다. 평소처럼 강가를 산책하다 문득 그런 내가 몸서리치도록 싫어진 나머지 그 길로 바로 기차표를 끊으러 나섰다. 자이살메르로 향하는 24시간 짜리 밤기차. 자이살메르 사막에서 바라보는 밤하늘과 다람살라의 고즈넉한 풍경을 떠올리며 한밤중 기차에 몸을 실었다. 그렇게 도착한 곳에는 생각보다 초라한 사막과 기대만큼 고즈넉하지는 않은 풍경이 나를 맞이하고 있었지만 떠나온 것에 대한 후회는 없었다. 그래도 그 곳에는 내가 기대하지 않았던 순수함이 있었다. 유난히 긴 눈썹을 가진 낙타들의 눈동자, 수줍게 건네는 티베트 할머니들의 미소. 결국 익숙한 것을 두고 온 덕에 그들의 순수함을 만날 수 있었다. 여행 내내 찾아오는 익숙한 곳을 떠나야만 하는 두렵고도 설레는 그 순간. 어쩌면 그건 일종의 시험인지도 모른다. 낯선 곳이 이방인에게 던지는 통과의례. 평생 여행하며 살기를 마음먹은 나는 죽기전까지 몇 번이나 이런 시험에 들까. 어쩐지 싫지만은 않은 물음이다.
150919 IU at Melody Forest Camp cr: Moonlight
오늘부터 지난 9월 19일에 있었던 “가론: POETRY JAM” 영상들이 Cheese & Soju를 통해 공개 됩니다(매일 오후 12시쯤 하나씩 공개 될거라는 소문이...).
150919 IU @ Melody Forest Camp cr: 글라라
150919 IU @ Melody Forest Camp cr: 글라라