10 centimeter
Kala itu aku menikmati sore dengan duduk santai di area outdoor sebuah toko roti bersama tiga orang temanku. Mereka bertiga bukanlah teman sebayaku, kami memiliki perbedaan umur lumayan jauh. Teman pertama terpaut empat tahun. Teman kedua, mungkin tujuh atau delapan tahun. Dan terakhir, adalah seorang gadis mungil yang baru saja kukenal di hari itu. Aku tidak tahu berapa umurnya, yang jelas ia masih duduk di bangku SMA.
Meskipun memiliki variasi umur, obrolan kami seperti seumuran. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari roti yang kami makan, perkembangan style, jalanan yang ramai saat itu, kehidupan sekolah, work life dan masih banyak lagi. Pembicaraan kami mengalir begitu saja, aku bahkan tidak merasakan adanya age gap dengan mereka, terutama adik SMA ini. Walau aku yakin, ia pasti merasa sedikit canggung denganku yang baru saja mengenalnya di hari itu.
Di tengah perbincangan kami terdengar suara handphone berdering. Sayup terdengar percakapan teman bungsuku saat ia menerima telpon.
"Iya, Pa, di pinggir jalan."
"Nanti ada kok keliatan."
"Iya."
Salah satu temanku berbisik padaku.
"Tiap hari."
"Hah?" Maaf, aku tak bisa membaca gerakan mulutmu, teman. Bisa ulangi kembali apa yang tadi kau ucapkan?
Ia membentuk bibirnya lebih jelas, "Tiap hari. Dijemput sama Papanya."
Rupanya ia sedang berkoordinasi dengan Ayahnya yang sedang berada di perjalanan untuk menjemputnya. Aku sedikit iri padanya yang masih memiliki seorang Ayah. Hati kecilku berkata, "Aku juga ingin."
Selang beberapa waktu, sesosok lelaki paruh baya berbadan tegap muncul mengenakan kemeja biru dongker. Ia menyapa kami, termasuk anaknya yang sedang duduk membelakanginya.
"Papa, mau pesen dulu ya. Ada yang mau nambah?" Tanyanya setelah menyapa kami.
Kami menggeleng, "Enggak, Om."
Ia kemudian masuk untuk memilih roti yang dipesan, sementara itu kami melanjutkan kembali pembicaraan kami. Tak lama ia keluar dan memberika kode pada anaknya untuk pulang. Mereka berdua akhirnya pamit dan berjalan menuju tempat mobilnya di parkir.
Aku masih mengamati punggung Ayah dan anak yang berjalan berdampingan saat menyebrangi jalan. Kejadian hari itu seakan membawaku kembali pada memory di mana Bapa adalah satu-satunya orang yang setia mengantar jemput, subuh, pagi, siang, sore, bahkan malam.
Sekolah diantar.
Ngampus diantar.
Kerja diantar, kadang dijemput.
Pulang kemaleman dijemput.
Haaaa..... Aku rindu. Aku merindukan punggung tuamu yang berjarak hanya 10 centimeter dari tempatku duduk. Aku rindu angin malam yang menemani kami berdua sampai ke rumah. Aku rindu keriput di wajahmu yang tak pernah lelah menungguku. Aku rindu...
Bahkan setelah tujuh tahun engkau pergi, rasa rindu itu masih tetap sama, Pa. Tak pernah berubah, sekalipun.


















