Ngomongin tahun baru, kata-kata yang sering berseliweran ga jauh dari resolusi dan pencapaian. Orang-orang berlomba menampilkan pencapaian apa saja di tahun 2019. Bahkan ada yang ngepost archive story instagram dari bulan ke bulan. Ada yang sudah wisuda, menikah, punya anak, jalan-jalan ke negara ini itu. Ya mungkin niatnya kayak membawa kenangan kembali. Salah memangnya? Oh ya jelas tidak. Terserah mereka saja lah. Yang salah adalah hati yang tersentil iri ketika melihat itu semua. Seolah orang-orang ini selalu diberkahi kemudahan dan kebahagiaan dalam menjalani hidup, sedangkan diri ini penuh nestapa. Nah loh, jadi membandingkan hidup sendiri dengan orang lain kan. Yang lebih ga beres menjadikan pencapaian orang lain menjadi standar pencapaian diri sendiri. Di umur 22 tahun harusnya sudah lulus kuliah, usia 24 tahun sudah harus menikah, sebelum satu tahun menikah harus sudah punya anak, punya rumah dan kendaraan sendiri, setelah menikah harus honey moon, sebelum 30 tahun harus sudah S2, kerja tetap, dll dsb dst. Ya susah kalau sudah ikut standar pencapaian orang kebanyakan seperti itu. Dasarnya momen yang tepat seseorang untuk segala sesuatu dalam hidupnya kan berbeda-beda, ya? Jangan dipukul sama rata. Tidak mengapa kok kalau kita tertinggal dari orang lain, si A sudah 10 langkah di depan sedangkan kita baru mulai melangkah, misalnya. Tidak apa-apa kok kalau si B sudah menikah, sedangkan kita masih sibuk bekerja. Memangnya kenapa kalau si C sudah mau lulus S2, sedangkan kita masih sibuk ngurus skripsi? Ya gapapa sih, tapi apa kata orang? Ingat saja ini; Hiduplah untuk menghidupi diri kita sendiri. Jangan hidup untuk membeli omongan orang. Selamat tahun baru! Semangat bertumbuh! #aksarannyta #30haribercerita #30hbc2001 https://www.instagram.com/p/B6xvIGpAQij/?igshid=mehdyoo3xbzs



















