Kejadian tak mengenakkan tadi memantik memori sebuah kisah penuh makna yang pernah didengar di sebuah taman syurga kala itu.
Ada seorang sahabat yang datang kepada kekasih kita: Rasulullah, dengan maksud meminta hukuman atasnya karena zina yang telah ia perbuat.
Sayangnya, perjumpaannya yang pertama dengan Rasulullah tidak langsung disambut dengan hukuman, namun hanya direspon dengan kalimat lembut: "Mungkin kamu hanya menyentuhnya".
Penjelasan detailnya saat menjawab respon Rasulullah di perjumpaannya yang pertama tidak membuat Rasulullah memberikan vonis hukuman atasnya. Kembalilah ia menemui Rasulullah dengan tujuan yang sama. Lagi-lagi, respon Rasulullah tidak jauh berbeda. Datanglah ia untuk yang ketiga, dan keempat. Hingga sampailah pada hitungan kelima dia mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. Kali ini Rasulullah mulai meresponnya dengan pertanyaan-pertanyaan mendetail, kemudian Rasulullah menjatuhi hukuman atasnya.
Begitulah suri tauladan kita, Rasulullah Shallallaahu 'Alayhi Wa Sallam, kesempurnaan akhlaknya membuat kita tak menemukan celah barang se-atom-pun untuk tidak mencintainya. Do'a yang selalu ia panjatkan untuk umatnya, mestinya membuat kita benar-benar malu saat kita lebih sering melupakannya dalam tiap tingkah laku kita daripada senantiasa ittiba' kepadanya.
Bagaimana mungkin, seorang dengan hati yang mencintai Rasulullah, namun tutur kata dan perbuatannya sering menyudutkan dan menghakimi orang lain bahkan saudaranya sendiri?
Yaa Rasulullah, maafkan kami, jangan kau hapus kami dari umatmu.