[bag.3 - Memori dan Mimpi]
aku terbangun, kaget. Ternyata aku tertidur di sofa panjang ini. Masih dengan buku yang berserakan dibawah, serta selimut hangat yang menutupi kedua kakiku. Rasanya seperti tidur yang amat panjang. Tapi, kenapa langit masih gelap dan bertabur bintang. Jendela kaca ini membuatku tau kalau hari belum berganti pagi.
Aku berangsur dari sofa, duduk sebentar disana, lalu bangun untuk mengambil segelas minuman dingin di dapur. Menenggaknya dengan cepat, tandas juga. Aku kehausan. kutambah lagi air dari botol kaca yang tersimpan di mesin pendingin, meminumnya kembali. Hausku hilang.
Aku diam sejenak, mengingat mimpi itu datang lagi. Mimpi yang sama, yang berulang selama hampir sebulan terakhir sejak aku meninggalkan rumah. Adegan yang sama, saat sebuah pintu tertutup, dan sesosok monster datang hingga mengejarku yang berlari menjauhinya. Saat kupikir sudah aman dan monster itu tidak terlihat, ternyata beberapa sosok menyeramkan berada diarah aku berlari. Mengejarku yang terjatuh, berlari kesana kemari, hingga akhirnya aku jatuh ke jurang yang sama. Dan persis seperti tadi, aku selalu terbangun Ketika adegan dari mimpi jatuh kedalam jurang itu terulang kembali. Jantungku masih berdegup kencang, seakan ingin melupakan semuanya, aku melangkahkan kaki menuju tangga untuk berpindah tidur diatas.
Sebelum menaiki tangga, aku melihat sekeliling, mencari dimana Nat tertidur. Meski ada sebuah ruangan lain di dekat dapur yang aku tidak pernah masuk kedalamnya, aku meyakinkan diriku jika Nat mungkin memang sudah tertidur disana, yang mungkin itu adalah kamarnya. Sesampainya di atas, diruang kamar yang aku bisa tertidur sambil menatap bintang-bintang, suara tawa dan berisik membuyarkan keinginanku untuk memejamkan mata. Seraya turun dari tempat tidur dan melihat kearah sumber suara lewat jendela dikamar ini. kudapati beberapa anak kecil dan orang-orang lalu lalang dijalan. Namun, mereka semua saling bersapa satu sama lain, membawa sebuah kantong tas kain ditangan masing-masing.
Aku melihat ke arah lain di sebrang jalan yang agak jauh dari rumah ini. Disana, beberapa orang sedang bermain di taman, ada yang bersepatu roda, dan juga menggunakan skuter mesin untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada yang berjualan, ada yang membeli, dan sungguh seperti kegiatan orang-orang pada umumnya. Namun mereka melakukannya dibawah terang bulan dan bintang yang gemerlap. Kuurungkan niatku untuk tertidur malam ini, aku membuka lemari, mencari baju hangat yang bisa kupakai keluar rumah, menuruni tangga dan mengenakan sepatu kets merah, karena hanya itu yang aku punya.
Banyak sekali orang yang lalu lalang disini. Ada yang bersantai sambil tidur-tiduran diatas rumput di taman, ada yang berlari-larian dengan anak-anaknya, beberapa sedang makan Bersama keluarga atau teman-temannya di beberapa rumah makan yang saat siang kulihat tokonya tertutup rapat. Aku membawa uang saku yang diberikan Nat saat ia keluar kepasar kemarin. Katanya, untuk jaga-jaga siapa tau aku membutuhkannya. Meski Nat adalah anak kecil, ia lebih seperti orang tua yang menjaga aku anaknya. Dengan perasaan sedikit malu, Nat mengambil tanganku, memberikan sebuah kantung berisi uang yang jumlahnya tak kuhitung seberapa banyak.
Aku membeli sekaleng minuman dingin pada mesin otomatis yang berada tepat di samping lapangan basket. Karena hanya disini pengunjung tidak terlalu banyak yang bermain, aku bisa duduk-duduk santai sambil meminum minumanku dengan nyaman. Entah kenapa, lapangan basket mengingatkanku pada Zig. Dia sahabatku yang kini jauh sekali dariku. Entah masalah apa yang aku perbuat, kini kami bahkan sudah memasuki tahun ketiga tanpa berkomunikasi. Meski terbilang, rumah kami begitu dekat. Zig selalu suka bermain basket denganku, meski aku bukan lawannya yang Tangguh, kami hanya bermain demi menghabiskan hari dari rumitnya permasalahan keluarga kami masing-masing. Zig yang ditinggal oleh ayahnya sedari kecil, dan dibesarkan oleh ibunya, dengan kasih sayang yang amat luar biasa, menjadi pribadi yang menyenangkan, ramah, namun tetap terasa jika ia kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Sementara aku, keluargaku lengkap, bahkan kini aku memiliki ayah tiri sebab ibuku menikah lagi. Memiliki adik yang aku tidak terlalu akrab dengannya sebab hidupnya begitu dimanjakan oleh ibuku, sedangkan aku dibiarkan sendiri, berharap belajar mandiri meski seorang perempuan yang tidak memiliki ayah sekalipun. Dirumah aku bahkan enggan berlama-lama, setiap kali aku dirumah, ibu selalu meminta ini dan itu sehingga aku harus berkali-kali juga mencari uang demi kebutuhan kami dirumah.
Zig, satu-satunya temanku yang begitu tau kondisiku. Zig tau bagaimana suami ibuku yang bertingkah aneh kepadaku. Zig tau alasanku tidak betah dirumah saat aku libur bekerja. Zig tau jika adikku begitu malas untuk sekedar membantuku membereskan rumah saja. Zig bahkan tau, setiap kali aku ke lapangan basket, aku teringat pula memori dengan mendiang ayahku yang dulu sebelum meninggal sering mengajakku bermain basket meski aku tidak suka hal itu.
“Zig, bagaimana kabarmu sekarang?” gumamku tanpa sadar.
Minuman telah habis, langit tampak hampir fajar, orang-orang kini mulai pulang satu persatu. Aku melihat langit, menengadahkan kepalaku sambil melihat gugusan bintang yang tampak kemerah-merahan. Apa aku memang sekosong ini? Pikirku. Karena sampai sekarangpun, tidak ada tanda-tanda orang mengenali wajahku, berharap ibuku sadar dan membuat sebentuk papan pengumuman bahwa anak perempuannya menghilang. “APA BENAR-BENAR TIDAK ADA YANG MENCARIKU?” “APA AKU TIDAK BERHARGA UNTUK SIAPAPUN?” tak sadar setengah berteriak aku mengucapkan pertanyaan-pertanyaan itu, seorang laki-laki yang usianya mungkin sebaya denganku menjawabnya.
“Apa kini langit juga bisa berbicara pada orang-orang?” “kenapa aku tidak bertanya juga yaa?” sahutnya seraya berjalan kearah tempat duduk ini.
“maaf, suaraku pasti mengganggumu”
“tidak, aku hanya penasaran, apa perasaanmu kini sudah lega?” tanyanya sambil melihat kearah langit yang dipenuhi bintang-bintang.
“entahlah, hanya saja hidup ini terlalu sepi, bagaimana bisa tidak ada yang mencariku sama sekali sementara aku sengaja berlari semakin jauh”
“kalau begitu, bukan mereka yang tidak mencarimu, tapi kau yang sengaja tak ditemukan” jawabnya santai dan kini mata kami berpandangan beberapa saat.
“aku memang berniat begitu, tapi ternyata.. ah sudahlah” sahutku ingin menyudahi pembahasan ini dengan seseorang yang aku bahkan tak kenal siapa.
Seakan membaca isi hatiku, ia lalu menyodorkan tangannya. “Schafer, Yale Schafer. Kau bisa memanggilku Yale. Dan kau?” aku membalas tangannya, “Sabine” ucapku singkat seraya melepas tangannya.
“Hari sudah mau petang, kau tidak Bersiap pulang? Atau kau sama sepertiku, warga pendatang yang bertanya-tanya pada keanehan langit disini?”
Entah bagaiamana aku menjawab, aku hanya ingin cepat-cepat pulang, aku takut Nat mencariku.
Kutinggalkan Yale sendiri di lapangan, tanpa jawaban. Hanya sebuah senyum yang aku sendiri tak tau maksudnya.
Saat hendak masuk kedalam rumah, Nat tengah duduk diruang tengah, dengan raut wajah khawatir, ia seakan menunggu kepulanganku.
“Kau darimana saja, apa kau tersesat?, kenapa tidak memintaku jika perlu sesuatu?” tanyanya bertubi-tubi. “
“Maafkan aku Nat, aku hanya mencari udara segar” sahutku seraya menenangkan Nat yang kebingungan. Kini aku berlari ke dapur, mengambilkan sebotol minuman dingin dan dua gelas untuk Nat dan aku. “jangan khawatir Nat, aku tidak tersasar sama sekali, aku hanya pergi ke lapangan basket depan sana” seraya menyodorkan gelas pada Nat.
“Syukurlah Sab, aku khawatir jika kamu pergi lagi” bagaimana jika kesedihanmu makin bertambah sebab rumah ini tidak menyembuhkanmu sama sekali. “beritahu aku jika kau memerlukan sesuatu, aku akan berusaha menjadi teman, ibu, adik, atau ayah yang baik untukmu” ucapnya dengan wajah yang serius.
Aku tersenyum mendengarnya. Entah kenapa, saat melihat Nat dan rumah ini, perasaan nyaman datang lagi. Seakan masalah hilang begitu saja saat kau memasuki rumah tanpa daun pintu itu.
“kau mau sarapan apa Sab? Aku akan membuatkannya untukmu”
“terserah kau saja Nat, apapun kuyakin semuanya enak jika diolah dengan tangan ajaibmu” sahutku mencandainya. Aku berjalan ke atas, merebahkan tubuhku diatas Kasur sembari melihat atap rumah yang kini sudah tertutup kembali. Hari sudah pagi, kenapa aku ngantuk sekali.