Orang tua saya suka memelihara burung perkutut dan puter untuk kesenangan (menikmati suara dan kesibukan). Senagai anak kecil menjelang ABG saya patuh membantu (kadang2 😁) membersihkan tempat makan minum dan sangkar bambunya. Walau kandang2 itu diletakkan berderet di depan kamar terapi saya tidak bisa menikmati senikmat ortu saya terhadap hewan berbulu itu. - Satu kali saya memegang dan mencoba menembak burung gereja (baca: menembak burung gereja) dengan senapan angin, senapan yang dipompa (dikokang) baru siap ditembakkan. Dor! Satu burung jatuh di kejauhan, dan setelah saya periksa, korban mengalami hancur kepalanya. Sejak itu sampai berita ini diposting saya tidak pernah menembak burung lagi. Lebih 40 tahun lalu. 👨 - Satu masa saya tinggal di perumahan yang lekat dengaan lingkungannya, dimana segala macam burung berterbangan behas di sekeliling. Tidak ada satupun manusia yg mengganggu. Justru bantak diantaranya yang memberikan makanan burung2 tsb pada bird feeder. Di tempat itulah saya merasa aman. Para burung itu selalu "saya tembak" menggunakan kamera semi SLR atau bahkan kamera hape. Hidup terasa sangat hidup. Pepohonan dan isinya yang berisik bercuit itu adalah keindahan luar biasa. ✌😁 - Sejak itu saya sedih jika melihat binatang (bahkan burung bernyanyi) yang terkurung dalam sangkar. Ikan yang terbungkus akuarium gemerlap, atau lainnya yang seharusnya hidup bebas dialam, tetapi hidupnya hanya seputaran makan-minum-ee-tidur dalam ruang maha sempit, seumur hidupnya. 😭 - Banyak orang yang menyukai alam tapi begitu arigannya sehingga inginnya dikuasai untuk dirinya sendiri. Dan, masih berani mengucapkan Selamat Hari Lingkungan Hidup 5 Juni ini ☹️☹️☹️ - Tak apalah... Ada bagian dari jiwanya yang masih terjerat keakuan dunia 😔 - - #HariLingkunganHidup #5Juni https://www.instagram.com/p/CPuh-V1DoM7/?utm_medium=tumblr













