Ditaklukan dan Menaklukan
Kalian pernah membuka keran dengan kucuran air yang sangat deras? Yang ketika tersentuh kulit kita terasa tekanannya bahkan terasa seperti terpukul. Itu hanya bagian terkecil dari kekuatannya.
Di tanggal 20 November kemarin dapet kesempatan bermain bersama alam. Melihat orang lain yang berpelukan bersama alam, iri. Ternyata mereka ikut sebuah trip dan membayar sejumlah uang untuk berinteraksi dengan alam secara langsung, dengan menggunakan alat keselamatan yang telah disediakan penyelenggara.
Mereka terjun, turun dengan perlahan, dipandu aliran air. Bukan arum jeram, atau susur sungai yang mereka lakukan. Melainkan raffling melalui air terjun.
Lupa deh, mereka punya sebutan tersendiri untuk olahraga ekstrim tersebut, yang jelas mau melakukan kegiatan itu juga.
Setelah banyak pertanyaan yang dilontarkan ke panitia, akhirnya memantapkan niat untuk terjun langsung menikmati turun dengan sudut vertikal 90 derajat dan ketinggian sekitar 50 meter dari tanah.
Untuk kali pertama setelah lebih dari 10 tahun menggunakan safety equipment. Dari mulai harness yang super proper, pelindung tangan, pelindung kaki, helm dan sarung tangan. Dulu juga pernah pake harness, tapi biasanya kita buat dari webbing aja. Oh juga disediain sepatu karet anti slip sama mereka. Equipment siap, waktunya jalan ke bibir air terjun.
Dengan pengaman sementara turun untuk berkenalan dengan riak yang ada di hulu. "Pyasss" dengan mudahnya kaki kita dikontrol secara acak oleh air. Butuh penyesuaian dan fokus yang besar untuk berdiri tegap.
Sedikit berbeda, tali yang biasa dipakai untuk raffling hanya satu, tapi untuk keamanan yang lebih terjamin mereka menggunakan dua tali. Berat, tapi aman. Bahkan kalo lepas tangan dari tali, kita ga akan merosot dengan sendirinya. Setelah diberikan arahan, kita langsung bergerak perlahan untuk turun.
Sedikit demi sedikit.
15 sentimeter demi 15 sentimeter
Jauh banget anjing.
Di 10 meter pertama sudah terasa kehancuran. Semua air bergerak sesuai dengan arah grafitasi menyerang sekujur tubuh. Mata sulit melihat, kaki susah berpijak di kontur yang berundak. Yang bisa dilakukan hanya melanjutkan perjalanan menyusuri tali yang dirasa paling aman.
10 meter kedua. Bergalon galon air masih menimpa seluruh tubuh secara bersamaan. Bulir-bulir air dengan ukuran badan orang dewasa berjatuhan tanpa menunggu apa kita berpijak dengan baik atau tidak, apakah kita berdiri seimbang atau tidak. Air ga peduli keadaan. Dia hanya bergerak sesuai dengan kodratnya. Kita yang menyesuaikan.
Kita bisa kehilangan keseimbangan karena tekanan dari air dan sulitnya mencari pijakan, dan akhirnya terlempar kekanan kiri, bahkan sangat bisa kita terayun kedepan dan menabrak batu-batu yang menyusun air terjun tersebut.
Saat kita kelelahan, kita akan terjatuh dalam posisi duduk berkat harness yang kita kenakan. Tapi butiran air yang turun bergalon-galon itu semakin menambah ke-putus-asa-an. Air itu menundukkan kepala kita yang terbiasa mengadah, merendahkan diri kita yang sombong namun tidak seberapa ini.
Sedikit pilihan yang bisa kita ambil pada saat merasakan itu. Antara mau melanjutkan turun, atau melanjutkan turun. Ya, apa lagi? Kita sendiri disini, kita sudah dibekali alat dan cara penggunaannya, kita harus bisa mengoperasikan sendiri. Ini udah setengah perjalanan. Mau gelantungan sampai kapan?
Mau ga mau ya kita harus turun, kembali kumpulin mental, cari pijakan, tahan tekanan dari air yang terjun kearah wajah dan badan.
10 meter ketiga, bulir air mulai terpecah menjadi butiran yang sedikit lebih kecil, bernafas jadi lebih mudah karena tidak lagi ada banyak bulir air sebesar tubuh manusia yang menghempas di tubuh kita
10 meter keempat adalah spot foto yang sangat bagus, kita ditarik oleh pemandu yang dibawah, disebut belayer, keluar dari hujaman air untuk didokumentasikan oleh mereka ataupun teman kita.
10 meter terakhir, tali semakin ringan karena batas 2 tali sudah terlewati, bisa foto diatas batu yang tersiram dengan pecahan air terjun. Lalu selesailah interaksi kita dengan teman alam kita.
22 november 2022











