AKU INGIN SEPERTI ORANG LAIN #1
Dari perkenalan singkat tentangku waktu itu, mungkin aku akan bercerita tentang masa - masa kecilku kali ini. Jujur aku adalah anak yang di kekang oleh orangtua, terutama bapak. Tapi masa kecilku bukan berarti tidak bahagia, aku cukup bahagia bisa merasakan main kelereng, tos-tosan gambar, meng-mengan, mencari capung, main bola, petak umpet, nonton power rangers, dan masih banyak lagi permainan klasik era anak kelahiran 90-an dibanding anak - anak sekarang yang hanya bermain game di hp.
Namun, aku tidak cukup liar, aku dibatasi dan dihantui rasa takut dengan bapak, takut dimarahi apabila aku melanggar aturan. Sering sekali aku bila bertemu dengan teman - teman kampungku, aku dijuluki “ nyengceum, ngendog, anak rumahan, anak mamih, dan yang lainnya ah aku sudah tidak ingat”. Bisa dibilang kulitku lebih putih dari teman - temanku. Pernah sewaktu - waktu temanku datang untuk mengajak bermain, tapi bapak yang menyaut “ Asgar nya lagi tidur”. Aku dulu jadi lebih senang bermain sendiri dirumah, dengan koleksi mobil - mobilan kecil, membuat sirkuit diatas ranjang, seakan - akan aku berada di Monte carlo. Namun, aku tidak seperti itu bila disekolah SD, aku termasuk anak yang jago dalam bermain bola. Bisa dibilang dikelasku, aku adalah Thiery Henry. Nama Asgar selalu disebut oleh kelas sebelah bila bertanding main bola di lapang sekolah, seseorang meninstruksikan temannya untuk menjagaku. Aku sering mencetak gol kala itu, dan pada akhrinya aku terpilih sebagai pemain di tim futsal SD dengan mengenakan nomor punggung 11, bangganya waktu itu ketika kaka kelas menyerahkan kaos tim futsal kepadaku.
Tapi, yaitu tadi di kampung, aku selalu dipandang sebelah mata, karena image seorang Asgar sudah seperti itu di kepala mereka. Aku pun ingin seperti mereka, liar, bebas, tanpa dicari orangtua bila pulang terlalu malam, tapi aku tak seperti itu, aku takut dimarahi.













