Piaraan tak kasat mata: pilu!
Aku pernah dihinggapi kupu-kupu begitu banyak di perutku. Rasanya seperti naik balon udara saja. Hampir aku terbawa angin.
Tapi, hap! Aku selalu sigap berpegangan pada batang pohon besar di tanah. Kemudian genggamanku turun perlahan hingga bagian paling rendah di sana, menjadikan akar pohon sebagai jangkar. Dengan begini aku tidak akan jatuh, bukan?
Aku juga pernah dibelai angin hingga berdesir. Mengayun lembut tepat di sorot mataku. Membuatnya sayu. Memanjakan raga yang terlalu kuat menggenggam akar bahkan entah karena takut apa. Karena aku yakin tidak ada yang akan jatuh dari akar pohon.
Ah tapi jangan salah, angin yang satu ini sangat mahir menggoda. Membuat nyaman dan dingin di waktu yang hampir bersamaan. Tapi kumohon jangan terlalu merendahkanku seperti itu. Aku tidak terlalu lemah dalam hal ini. Kuraih pijakan paling datar dan rendah semampuku. Aku harap angin tidak serta merta menyeretku ke dalam pusarannya yang membuat mual. Disini datar dan aku yakin mampu mengendalikan diriku dengan mudah.
Aku sangat aman sekarang. Aku menang. Aku bisa berdiri tegap menantang angin. Berlarian menerjang angin. Lalu berputar dengan bebas. Bersahabat dengannya dan merasa baik. Sangat asyik, bukan?
Lalu pada suatu malam kutemukan seseorang sedang menangkup kedua telapak tangannya di wajah. Ia sesenggukan dan terlihat sangat buruk. Sayup-sayup kudengar lirih suaranya. Tentang melepaskan, katanya. Ah baiklah, ini hal kecil. Bahkan yang ia lepas tidak menghilang darinya, hanya pergi sebentar. Aku tidak berkata-kata lagi padanya, hanya membukakan pelukku untuknya segera.
Berusaha paham, mungkin ia begitu merasa berat. Padahal kupikir apanya berat? Bahkan angin selalu meninggalkan setiap pohon yang dibelainya, bukan? Ah, biar saja.
Keesokan harinya seseorang dengan riang menghampiriku. Aku bangga, katanya. Lalu ia kembali menari dengan lincah. Tarian hasil kolaborasinya dengan angin. Angin yang sama yang hampir menjatuhkanku waktu itu. Diucapnya terima kasih padaku. Oh, ternyata ia berterima kasih atas pelukku kemarin malam. Lalu dengan begitu bangga ia berkisah. Senangnya, ia telah merasakan dua dunia bersama angin yang sama.
Usai menari sambil melagukan irama indahnya, ia menyapaku. Begitu bahagia. Sorot matanya menyiratkan sebuah kemenangan. Kamu begitu antusias, kataku. Ia menjawab dengan senyum terkembang dan mata tertutup seolah membayangkan hari-harinya bersama angin. Sangat manis.
Satu tetes haru terjun bebas dari sebelah mataku. Ribuan pilu ternyata telah membendung pelupuk mataku yang satunya. Bersiap dengan apapun yang akan terjadi. Entah keluar dari persembunyiannya atau kembali diseret ke atas. Terima kasih, kau begitu tegar.
Aku bahkan tidak menyadari kehadiran mereka dalam diriku. Aku tidak tahu bahwa ribuan pilu bersembunyi disana dan siap mengejekku usai lolos dari persembunyiannya. Apa-apaan aku ini!? Aku bahkan tak tahu mereka telah ikut tumbuh bersama ketakutan dan keberanianku sejak hampir terjatuh kala itu.
Yang aku tahu sekarang mereka sangat banyak jumlahnya. Dan mereka tengah menyerangku sekarang. Dengan aku yang tanpa pegangan dan pijakan datar.
Pilu itu bertumbuh. Menjadi piaraanku yang tak kasat mata.
(09.13 AM, atas kisah 12 jam sebelumnya.)