sepasang
aku dedaun lembap yang merindu kau merayap jadi embun pagi, lingkar cinta dari cincin yang tak jera memenjara jejari manismu ruang hampa yang mengharap dan menghirup kau sebagai udara
kau lorong ruang yang menyedot-surut lewat sorot tatapmu lelampu gedung teater yang jatuh di punggung pemanggung lentik bebulu mata yang ciamik mericik semusim kemarauku
aku pecahan huruf yang kau susun sambung mengusir sumbang baris-baris puisi yang menghendaki kau sebagai isi segala kenang









