& Komplek Undercover 2
Local Indonesian Fanfiction AU
CAST
Fuma: Fuad (Satpam)
EJ: Elang (Abang Fotokopian)
Jo: Jonathan (Penyewa Ruko Kamera)
Yuma: Yusril (Kurir ShopeeFood)
K: Yudha (PNS Muda)
Taki: Riski (Anak Kostan)
Harua: Haris (Anak Kostan)
Maki: Mario (Anak Kostan)
Nicholas: Nicho (Juragan Kostan)
Genre: Situational Comedy, Slice-of-Life
wc: 10,978
& Komplek memang gak pernah normal. Tapi sore itu, dengan liwetan, sambal, kamera jadul, dan keluarga dadakan—tempat ini resmi berubah jadi rumah yang... haus yang haus ramai, hangat, dan absurd.
Chapter III: Iseng Doang
& Komplek sepi. Tapi Yusril, penghuni kamar nomer 5—abang ShopeeFood yang baru balik narik—lagi nyari minuman dingin di kulkas kostan. Di situlah dia lihat sesuatu... aneh.
Yusril (WA grup kostan):
“Gengs... barusan gw liat Mario keluar kamar 9. Pakai hoodie, sarung tangan, dan masker scuba. JAM 2 PAGI 😭😭😭”
Haris:
“APA DIA WEREWOLF?”
Riski:
“Atau dia bukan Mario... tapi Mariyono.”
Pagi harinya.
Koh Nicho, sang juragan kostan, duduk santai pakai singlet. Haris, Riski, dan Mario duduk melingkar di teras.
Koh Nicho:
“Mario, tadi malam kamu ngapain jam 2 pagi?”
Mario (menyibak rambut blondenya):
“Jetlag, Koh. Aku lapar. Mau beli nasi goreng. Tapi kan malu diliatin warga... jadi aku nyamar.”
Riski:
“Lu malah kayak jadi bahan konten ‘penampakan di kostan’.”
Haris:
“Bro, jujur... gw sempet siapin air garam.”
Riski:
“Buat apaan, Har?”
Haris:
“Rendem tahu, biar tinggal digoreng.”
Pak Fuad (tiba-tiba muncul dramatis):
“Saya akan gelar investigasi internal. Tapi sementara ini, semua penghuni kostan dilarang keluar pakai hoodie tengah malam. Kecuali... mau ditangkap warga.”
Beberapa jam kemudian, di papan pos satpam:
PERINGATAN KEAMANAN
Siapa pun yang berkeliaran jam 2 pagi dengan atribut mencurigakan WAJIB melapor ke pos satpam, atau akan dianggap sebagai makhluk tak dikenal berkaki dua.
Hormat kami,
Fuad – Satpam & Komplek
Sore itu.
& Komplek terasa makin aneh. Elang panik karena stempel “RAHASIA” di tempat fotokopinya hilang. Yusril baru sadar: aqua dingin di kulkas kostan berubah jadi air asin. Haris kehilangan sepasang sendal jepit—anehnya, diganti sepatu sneakers chunky wanita.
Fuad (aktifkan mode siaga):
“Temen-temen warga, kita lagi darurat... Ada maling!”
Pak Fuad langsung kumpulin semua penghuni kostan di halaman depan.
Fuad:
“Jangan panik. Tapi kita semua korban. Elang kehilangan stempel, Haris kehilangan harga diri—eh maksud saya, sendal. Yusril kehilangan... rasa percaya pada kulkas.”
Riski:
“Pak, mungkin ini... ulah jin?”
Mario (masih loading):
“……”
Tiba-tiba, dari balik gerobak gorengan muncul sosok berbaju putih motif cherry. Namanya Iis, adiknya Mas Yudha.
Iis (nyengir):
“Maaf ya, aku iseng aja. Aku pikir stempel ‘RAHASIA’ itu bisa buat buka brankas. Eh, taunya cuma buat cap amplop undangan.”
Fuad (naik darah):
“UNDANGAN RT ITU SAKRAL, IIS! KITA MAU PILIH KETUA RT!”
Di tengah keributan...
Muncul Bu Ri—berjilbab, tenteng dua kresek besar, dan tatapan penuh kasih.
Bu Ri (teriak dari gerbang):
“Riskiiiii! Bunda bawain kamu baju dalem, setrika, sama rendang beku!”
Riski (malu-malu):
“Bun, plis jangan sebut ‘baju dalem’ di depan umum...”
Haris (celetuk):
“Aku juga butuh rendang, Bun...”
Bu Ri (bagi-bagi isi kresek):
“Yang penting jangan lapar! Ini rendang, ini sabun, ini... boneka yang biasa tidur bareng kamu, Riski.”
Fuad:
“Bunda Bu Ri, Anda luar biasa. Tapi mohon lain kali jangan taruh barang anak di pos satpam. Saya kira itu paket misterius!”
Setelah “sidang terbuka” di halaman kostan...
Mario:
“Dia maling, tapi kreatif. Masa sepatu Haris diganti sneakers chunky cewek.”
Haris:
“Sakit hati gw... Tapi pas dicoba, pas juga sih.”
Fuad (berdeham):
“Saya putuskan... Iis harus kerja sosial. Setiap sore, dia harus jaga komplek bareng saya. Dan... nyapu halaman kostan sambil nyanyi dangdut.”
Iis (ngangguk pelan):
“Pak, itu tuh kemarin saya minjem doang... Tapi gapapa sih. Asal boleh milih lagu. Kan ditemenin Bapak juga.”
Dengan makin banyaknya penghuni yang kembali (beserta dramanya), & Komplek mulai terasa seperti reality show... tanpa kamera.
Chapter IV: Syukuran Riski
Hari itu, cuaca di & Komplek cerah berawan. Tapi yang lebih mencolok dari langit adalah suara Bu Ri dari halaman kostan, bawa megafon pinjeman dari RT:
Bu Ri (teriak):
“WARGA & KOMPLEK YANG MAU LIWETAN, SILAKAN TURUN! SYUKURAN KECIL-KECILAN—YANG GAK MAU, JUGA BOLEH IKUT!”
Riski, anak kost baru, cuma bisa pasrah lihat bundanya ngatur halaman kostan kayak mau hajatan. Di tengah tumpukan daun pisang, panci besar, dan ayam goreng kalasan, Riski duduk sambil nyesel karena kemarin bilang, “Iya Bun, kostannya asik.”
Riski (pelan):
“Asik... tapi rame kayak TPS...”
Satu per satu penghuni kostan berdatangan:
• Koh Nicho, sponsor meja lipat dan bangku plastik.
• Yusril, nyumbang kerupuk putih dua kaleng.
• Haris, nyumbang nasi (dari magic com disebelahnya).
• Mario, nyumbang... dirinya sendiri.
• Iis, Datang bawa cobek buat nyambel.
• Elang, nyumbang es teh manis satu dirigen.
• Jonathan, tetangga ruko kamera, muncul sambil bawa kamera polaroid.
• Pak Fuad, bawa peluit, walau gak ada yang minta.
• Mas Yudha, kakak Iis, datang pakai baju dinas PNS meski hari libur.
Mas Yudha (masuk pelan, nyari adik):
“Iis! Kamu ngapain lagi bawa-bawa cobek ke liwetan orang?”
Iis (santai):
“Ini kostan gue juga dong, Mas... Lagi pula sambel gue laku keras.”
Jonathan:
“Saya dokumentasikan ya. Biar jelas siapa nyumbang apa.”
Bu Ri (senyum lebar):
“Alhamdulillah, ini sekaligus syukuran pindahnya Riski ke kostan ini. Terima kasih ya udah nerima dia. Sekarang... kita makan!”
Tepat saat nasi liwet digelar, datanglah sosok yang dinanti: seorang perempuan berpenampilan simpel, sweater oversized dan jeans, rambut dikuncir asal, tapi aura leo nya bikin semua minggir.
Riski (senyum grogi):
“Guys, kenalin... ini Danish. Pacar gue.”
Langsung hening.
Elang (bisik ke Yusril):
“Danish? Namanya kayak merk biskuit...”
Yusril:
“Tapi auranya kayak bisa nepak meja rapat RT.”
Haris:
“Nepak lu kali mas yus maksudnya?”
Mas Yudha:
“Yang penting, bisa diajak liwetan.”
Pak Fuad (sopan):
“Selamat datang, Mbak Danish. Di sini, yang penting makan, kenyang, baru debat.”
Mario:
(ngangguk ngangguk aja padahal gak ngerti)
Liwetan pun dimulai. Sambal terasi Iis sukses bikin Haris berkeringat, ayam suwir tandas, dan jengkol jadi rebutan. Iis makin sibuk motong timun buat lalapan, sambil ngegodain Elang. sementara Mas Yudha menjaga jarak—tapi matanya ngawasin adiknya kayak CCTV jalan tol.
Bu Ri:
“Yang penting itu rukun, nak. Biar kostan kayak keluarga. Kalau ada masalah, ngomong. Kalau gak ada masalah, bikin.”
Riski:
“Bun... itu bukan prinsip hidup sehat.”
Mas Yudha (potong):
“Itu prinsip Iis dari kecil.”
Menjelang maghrib, semua kenyang. Danish bantu Iis cuci cobek dan peralatan lainnya, Jonathan motret suasana, dan Mas Yudha... akhirnya ikut duduk juga.
Menjelang maghrib, suara sendok garpu sudah mulai melemah. Panci nasi hampir kosong. Daun pisang mulai kering. Sambal tinggal minyak. Kerupuk tinggal serpihan. Tapi suasana masih hangat, penuh obrolan ngalor-ngidul.
Di pojok, Danish duduk di sebelah Riski, sambil bantuin Iis ngelap cobek. Entah kenapa, mereka udah akrab aja dalam hitungan jam.
Iis:
“Lu bisa bedain mana sambel yang diulek pake cinta dan yang diulek pake dendam?”
Danish (sambil ngelap):
“Yang pake dendam biasanya pedesnya nyisa sampe dua hari.”
Iis:
“Iya tuh, sambel gue. Cocok.”
Di teras, Jonathan lagi motret Pak Fuad dan Bu Ri pakai kamera polaroid. Begitu hasilnya keluar, Pak Fuad terharu.
Pak Fuad:
“Jarang-jarang saya keliatan senyum. Biasanya muka saya cuma muncul di laporan ronda.”
Bu Ri:
“Lho Pak, senyumnya manis kok. Boleh difotoin sama saya juga, gak?”
Pak Fuad:
“Eh, boleh Bu… tapi nanti file-nya buat pribadi aja ya, hehehe.”
Sementara itu, Mario dan Haris sedang sibuk...
Mario:
“Gw masih gak percaya sendal lu diganti sepatu ini, Har.”
Haris:
“Aneh tapi nyaman sih. Mungkin kaki gw jiwa ceweknya dominan.”
Elang (datang sambil ngipasin muka):
“Maaf, nasi uduk abis ya?”
Mas Yudha (datar):
“Dari tadi gak ada nasi uduk. Itu nasi liwet.”
Elang:
“Yah… pantes rasanya beda.”
Tiba-tiba, dari arah gang, terdengar suara klakson mobil. Semua menoleh. Sebuah mobil city car putih parkir dengan penuh gaya. Pintu terbuka, dan keluar seorang wanita dengan blazer navy, dan aura dominan. Rambutnya tergerai, bibir merah, kacamata hitam.
Mario (berbisik):
“Siapa tuh... kayak kepala galeri seni?”
Koh Nicho (langsung berdiri):
“Mich!”
Semua langsung terdiam. Koh Nicho berdiri kaku. Ci Mich, istri sah juragan kostan, akhirnya muncul ke permukaan cerita.
Ci Mich:
“Kamu bilang liwetan kecil-kecilan, Nicho. Tapi ini kayak acara nikahan outdoor.”
Koh Nicho:
“Ini… spontan uhuy, yang. Bukan pesta. Syukuran aja.”
Ci Mich:
“Terus kenapa kamu gak bilang? Aku dateng dari toko langsung kesini. Pegel berdiri 5 jam di depan etalase, eh liat suami gue makan jengkol. Aku liat dari story Pak Fuad.”
Koh Nicho:
“Nasi liwet masih ada... daun pisangnya juga belum angkat.”
Ci Mich:
“Oke. Tapi sambalnya harus sambel Iis. Aku tau sambel mana yang bikin tetangga cerai.”
Semua tertawa. Iis langsung maju, kasih sambal cadangan. Ci Mich menyendok nasi, ayam, lalapan, lalu mulai makan dengan khidmat. Setelah tiga suapan, ia menatap semua warga & Komplek.
Ci Mich:
“Baru kali ini saya liwetan di kostan.”
Riski (malu-malu):
“Ini acara syukuran kecil-kecilan aja ci... Bunda saya heboh.”
Ci Mich (senyum):
“Enggak, Dek Riski. Justru ini baru ‘rasa’ rumah. Kalo kostan kayak gini tiap hari, saya bisa pindah tidur sini.”
Koh Nicho:
“Jangan, yang. Di rumah masih banyak utang cucian.”
Ci Mich:
"Laundry aja."
Malam makin gelap. Sisa daun pisang sudah dibersihkan, cobek disusun rapi, gelas plastik dicuci gantian. Angin malam membawa aroma sambal terakhir dan suara jangkrik pelan.
Mas Yudha (menyapu pelan):
“Aneh ya, acara kayak gini bisa bikin orang yang tadinya asing jadi akrab.”
Yusril:
“Mending gitu mas, daripada kembali seperti layaknya orang asing yang tau rahasia masing-masing.”
Danish:
“Mas yus, mau tissue?"
Riski yang cemburuan ngeliatin pacarnya dengan boombastic side eye.
Pak Fuad:
“Liwetan bukan sekadar makan. Ini... diplomasi rakyat.”
Jonathan:
“Boleh saya kutip itu buat caption Instagram?”
Jam 9 malam.
Satu per satu kembali ke kamar masing-masing. Tapi obrolan masih terus berjalan di grup WA:
Koh Nicho:
“Thanks buat semua yang ikut liwetan. Yang gak ikut, makasih udah gak protes.”
Pak Fuad:
“Peluit standby. Keamanan aman.”
Riski:
“Thanks ya semuanya. Danish bilang kalian asik.”
Mas Yudha (ngetik singkat):
“Saya titip Iis ya. Jangan diajak bikin hal aneh.”
Iis:
“Lah justru aku yang ngajak.”
Danish:
“Makasih ya semuanya. Aku seneng bisa kenal kalian.”
(Dipaksa join group padahal gak tinggal di & Komplek)
Elang:
“Danish, kalo mau cetak foto pacar kamu pake seragam SD waktu kecil, bisa ke tempat fotokopi ya.”
Riski:
“MAS ELANG???”
Iis:
“Gue mau bikin sambal batch baru besok. Ada yang mau pre-order?”
Ci Mich:
“Nicho udah tidur. Tapi terima kasih buat semuanya. & Komplek ternyata lebih hidup dari yang saya kira.”
Pak Fuad:
“Saya akan cetak ulang aturan jam malam. Tapi... mungkin kita bisa bikin liwetan tiap bulan.”
Haris:
“Boleh asal gak ada jengkol.”
Mario:
“Padahal enak ris, aku baru pertama kali nyobain jengkol berkat kalian.”
Malam itu, di antara perut kenyang dan hati lapang, & Komplek resmi naik level. Dari kostan biasa jadi komunitas absurd bersahaja. Dan Ci Mich? Mungkin gak langsung jatuh cinta sama kostan ini, tapi dia mulai paham... kenapa Nicho betah lama-lama di sini.
END.
















