Memanen Pangan dari Sampah, Solusi Akar Rumput KBA Tegeh Sari Denpasar
Sore itu, sekelompok ibu-ibu langsung menyambut begitu kami memarkirkan motor dekat warung. Dengan cekatan, pakcoy dan nanas diblender. Kemudian, diberikan kepada kami. Rasanya segar dan manis. Begitu nikmat menjadi pendamping dari bakso ikan lele dan mi bayam brasil yang baru dihangatkan. Kelompok ibu-ibu itu adalah pemilik permata hijau di jantung Kota Denpasar bernama Kebun Berdaya Sari Dewi. Esoknya, buah tangan mereka siap disantap dalam gelaran Festival Pangan Sehat di Lapangan Lumintang, Denpasar.
Siapa sangka, dari tangan mungil para ibu mampu menyulap apa yang dianggap nirguna menjadi harta karun tersembunyi. Dari kebiasaan memilah sampah dan mengompos sisa organik sejak tahun 2020, Komang Ariani dan tim punya cukup media tanam untuk pembibitan dan penanaman. Sebidang tanah dengan ukuran sekitar 8x8 meter ditambah ruang kosong sepanjang jalan dan pojokan rumah-rumah warga di Gang Sari Dewi itu pun menghasilkan aneka nabati seperti cabai, tomat, serai, umbi-umbian hingga bayam brasil.
Menariknya lagi, panen sayuran itu terbatas sebagai konsumsi internal, melainkan melahirkan inovasi pangan B2SA (beragam, bergizi, seimbang, dan aman). Di antaranya dalam bentuk aneka keripik hingga nugget. Dalam perjalanannya, produk wirausaha dari Kebun Berdaya Sari Dewi bertambah. Musababnya, para ibu dari waktu ke waktu mendapatkan pelatihan ternak ikan lele hingga budidaya jamur.
Sebelum memanen hasil seperti sekarang, Kebun Berdaya Sari Dewi yang tergabung dalam Kampung Berseri Astra (KBA) Tegeh Sari menyadari permasalahan sampah yang terjadi di Bali seiring dengan meningkatnya jumlah populasi. Hingga akhir 2017 saja, penduduk Bali sebanyak 4,2 juta ditambah sekitar 16,4 juta turis asing dan domestik yang datang per tahunnya dikutip dari artikel bertajuk “Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali” yang diterbitkan Mongabay Indonesia pada 2 Juli 2019. Dari aktivitas manusia sebesar itu, dihasilkan sampah mencapai 4.281 ton setiap harinya dengan persentase yang terkelola hanya 48 persen.
Ironisnya, mayoritas sampah di Bali merupakan sisa organik yang bersifat terurai di alam sehingga idealnya bisa dikelola. Namun, 70 persen sampah itu berakhir di TPA Suwung. Apalagi, penyumbang sampah terbanyak mencapai 50 persen datang dari Denpasar, Badung, dan Gianyar. Daerah yang didiami warga KBA Tegeh Sari. KBA Tegeh Sari pun terpikir untuk menempuh cara yang berbeda dari orang umumnya yang membuang begitu saja sampah campurnya ke TPA Suwung atau membakarnya di rumah. Pilihan jatuh pada pengelolaan sampah berbasis sumber.
Tidak selalu berjalan mulus, 85 KK di Gang Sari Dewi, khususnya dan 1.300 KK di Banjar Tegeh Sari, umumnya, tadinya sulit membiasakan diri memisahkan sisa dapur, bekas upacara agama, residu, maupun sampah plastik sekali pakai. Maka dari itu, dibangunlah sistem yang memuat manajemen sampah yang mana pemilahan berlangsung dua kali pada tingkat individu maupun komunal.
Setelah dipisah di masing-masing rumah tangga, sampah anorganik dibawa ke bank sampah yang menjadi milik bersama. Sementara itu, sampah organik ditabung ke 24 teba modern (sumur kompos) dan hampir 1000 biopori yang juga dimiliki oleh banjar yang berlokasi di Kelurahan Tonja, Kecamatan Denpasar Utara itu.
Kebingungan warga tergerus seiring waktu dengan adanya petugas edukasi, petugas bank sampah maupun petugas pengangkut sampah residu yang rutin melayani. Selain itu, dukungan dari lembaga adat juga memiliki peran penting. Perangkat dari banjar dinas maupun banjar adat berkolaborasi dalam gerakan lingkungan kolektif yang dirintis lebih dari 20 tahun lalu itu sebagaimana termuat dalam artikel berjudul “Pulau Surga Darurat Sampah, Banjar Tegeh Sari Bawa Secercah Harapan” yang diterbitkan Nusa Bali pada 29 Oktober 2023.
“Melalui Yayasan Tegeh Sari, perangkat banjar dinas dan adat berkolaborasi khususnya dalam mengelola sampah dan literasi lingkungan,” ucap I Putu Adi Tama, Sekretaris Banjar Adat Tegeh Sari.
Berdasarkan data yang dihimpun dari PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Bali pada 2021, dalam satu tahun berjalan saja, warga KBA Tegeh Sari mampu 100 persen memilah sampah yang mana 79 persen sampah organik yang dihasilkan hampir seluruhnya sudah dikomposkan maupun menjadi pakan ternak. Lainnya, sampah anorganik dalam setahun sebanyak 5,5 ton sudah disetorkan ke bank sampah. Tersisa, residu yang dibawa ke TPA Suwung dalam jumlah yang minimal yakni 17,99 persen saja.
Dengan meminimalisir timbunan sampah organik ke TPA, berarti sudah mengurangi pula produksi gas metana yang lepas ke alam. Gas metana yang dihasilkan dari sampah organik yang sedang terurai ini merupakan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Bahkan, gas metana ini begitu berbahaya karena menimbulkan panas yang melebihi karbon dioksida dalam kurun waktu 100 tahun.
Hasil pengukuran di TPA Suwung pada 2024, proyek MERIT (Methane Emission Reduction Initiative for Transparency) mendapati gas metana tertinggi ada pada zona tidak aktif tanpa penutup tanah dengan nilai 0,4896 g/m2/jam. Berarti, pelepasan gas metana tetap terjadi meski suatu zona sudah tidak terdapat aktivitas pembuangan baru. Hal ini menjadi alarm bersama, mengingat, volume sampah terbanyak di TPA Suwung yang didata proyek MERIT merupakan sampah organik sebesar 60 persen dikutip dari artikel bertajuk “Sampah Organik Dominan di Bali tapi Tak Terkelola dan Hasilkan Gas Metana” yang diterbitkan Bale Bengong pada 17 April 2025.
I Made Sudarma, salah satu tenaga ahli proyek MERIT berpendapat bahwa untuk mengurangi gas metana, pengelolaan sampah berbasis sumber bisa menjadi solusi. Cara inilah yang mampu mengurangi timbunan sampah organik di TPA. Siti Ainun, tenaga ahli lainnya, juga merekomendasikan teknik pengomposan aerob untuk mengurangi gas metana.
Hadirnya gerakan kolektif di KBA Tegeh Sari tidak hanya berdampak dari segi lingkungan saja, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dirasakan oleh Komang Ariani selaku Ketua Kebun Berdaya Sari Dewi bahwa hubungan warga menjadi erat sejak bahu-membahu mengelola sampah maupun berkebun. Apalagi, awal kemunculan Kebun Berdaya Sari Dewi pada 2020 silam didasari kondisi pandemi Covid-19. Ketika itu, warga KBA Tegeh Sari mulai berkebun bersama di lahan-lahan tidak terurus di wilayah mereka guna menjaga ketahanan pangan. Lalu, berlanjut di kediaman masing-masing.
“Kami merasakan hubungan warga makin erat dan bisa melihat lingkungan kami menjadi bersih dan anak-anak sudah tidak membuang sampah secara sembarangan. Lingkungan kami juga menjadi hijau karena kami memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan kompos dan media tanam sayur-sayuran (seperti) tomat, cabai di pekarangan rumah kami. Buka bank sampah juga sehingga hasil pemilahan sampah anorganik bisa kami tabung dan menghasilkan rupiah,” ungkap Komang Ariani.
Kebun Berdaya Sari Dewi yang merupakan bagian KBA Tegeh Sari Denpasar merupakan wujud nyata dari apa yang disebut ekonomi hijau. Terkadang kita berpikir terlalu jauh ketika mendengar frasa ‘ekonomi hijau’. Padahal ada bentuk sederhananya yang berawal dari sisa dapur yang dikelola secara komunal. Kebun Berdaya Sari Dewi menunjukkan bahwa keterbatasan ruang maupun kesulitan membangun kebiasaan baru masih bisa diusahakan.
Bermula dari pemilahan sampah hingga menciptakan ketahanan pangan di gang sempit. Bahkan, masih bisa dikembangkan lewat jalur kewirausahaan di mana menjual olahan panen sayur mereka. Finansial bertambah, timbunan sampah berkurang. Pada akhirnya juga membentuk sirkular karena sampah sisa produksi bisa dipilah dan dikomposkan kembali.
Sisa rasa yang diolah bertahun-tahun bersama ini layak menyebar, menjadi napas kota yang menginspirasi. Bagaimana permasalahan sampah yang pelik mampu terpecahkan dengan solusi sederhana dan dampaknya luar biasa. Sudah saatnya kita mulai berbenah dengan mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh KBA Tegeh Sari. #APAxKBN2025
Referensi:
Anton Muhajir. (2019). Inilah Data dan Sumber Sampah Terbaru di Bali. [Online]. Tersedia pada: https://mongabay.co.id/2019/07/02/inilah-data-dan-sumber-sampah-terbaru-di-bali/. Diakses pada: 4 Oktober 2025.
Channel Youtube Kebun Berdaya Sari Dewi: https://youtube.com/@kebunberdaya3564?si=bdw-Uz0-b9Md9t2E.
Channel Youtube PPLH Bali: https://youtube.com/@pplh_bali?si=Wg3FkW4mFKVNkHN4.
I Gusti Ayu Septiari. (2025). Sampah Organik Dominan di Bali tapi Tak Terkelola dan Hasilkan Gas Metana. [Online]. Tersedia pada: https://balebengong.id/sampah-organik-dominan-di-bali-tapi-tak-terkelola-dan-hasilkan-gas-metana/. Diakses pada: 5 Oktober 2025.
Rat/Ian.(2023). Pulau Surga Darurat Sampah, Banjar Tegeh Sari Bawa Secercah Harapan. [Online]. Tersedia pada: https://www.nusabali.com/berita/153678/pulau-surga-darurat-sampah-banjar-tegeh-sari-bawa-secercah-harapan. Diakses pada 4 Oktober 2025.
Sumber foto: https://www.kembaliberdaya.org/cerita-dari-lapangan/kebun-berdaya-sari-dewi.












