Gelap.
Semua suara yang ramai kami dengungkan itu, cuma jadi gemuruh tak penting saja, kah?
Segala petisi hingga aksi yang mati-matian kami gaungkan di penjuru laman media hingga jalanan, hanya kau anggap pembuat onar saja, hah?
Berdarah-darah emak bapak, om tante, pakde budeku memperjuangkan reformasi bertaruh nyawa, tapi justru di tanganmulah demokrasi kembali terbujur kaku kau tikam ambisi berkali-kali. Memuakkannya lagi, alasanmu adalah atas nama rakyat.
Apa? Apa lagi kegaduhan yang hendak kau rencanakan? Belum cukup gelap kabar berita penuh duka di lini masamu itu? Ah, iya. Tontonanmu mungkin sebatas inspirasi joged, model beragam senjata tercanggih, dan juga kesuksesan negeri-negeri tetangga yang mau kau tiru tanpa belajar itu.
Kalau-kalau ibu pertiwi sekarang menyaksikan huru-hara negeri ini, pastilah ia sedih dan geram. Semua lagu-lagu syahdu tentangnya itu kini hanya jadi lagu pengantar tidur yang semu.
Sebenarnya, tak banyak yang kami minta. Penuhi saja dulu hak-hak kami sebagai rakyat. Eh, boro-boro dipenuhi, hak kami justru dipangkas dan dicuri, lalu kami yang sedang menuntut hak kami ini dibilang pembangkang tak tahu diri yang tak nasionalis. Heh! Ringannya lidahmu itu diatas kesengsaraan kami.
Sekarang seperti percuma saja. Apapun yang kami lakukan, toh kamu akan tetap ngeyel memenuhi maumu dengan kawan-kawan terkenalmu itu.
Para tokoh akademis kau abaikan, jalur ilmiah kau kesampingkan, lantas malah dengan bangga berlagak pahlawan kesiangan yang seolah menyelamatkan dan menumpas semua masalah. Padahal kalau kau mau sedikit saja membuka mata, telinga, dan hati nuranimu yang mulai membusuk itu, kau akan melihat dirimulah tokoh utama penyebab porak-porandanya bangsa kita.
Ah, iya, tentu kau tak merasa demikan, kan? Konstitusi negeri ini saja kau kangkangi demi posisi RI tertinggi, mana ada itu malu dan instrospeksi diri di kamus hidupmu?
Aku marah sekali. Tapi aku lebih marah lagi karena kemarahan ini tentu tak akan sampai padamu. Siapa pula aku, hanya sapi perah yang bekerja untuk menyetor pajak ke pundi-pundi jarahanmu. Aku satu diantara beratus juta lainnya yang serupa. Kalau kau hutang, seluruh rakyat menanggung. Tapi kalau kau butuh mengobrak-abrik isi undang-undang, cukup kau undang saja kawan-kawan oportunismu itu untuk menginap barang dua malam di tempat elit sambil mengobrol dan menggubah sana-sini. Satu-dua hari corat-coret revisi, besok pagi ketuk palu dan sim salambim, jadi seperti yang kau mau.
Ah. Muak. Muak sekali aku. Pekerjaan negeri ini masih banyak yang perlu dan prioritas, tapi mengapa konsentrasi petinggi-petinggi yang dikata elit itu justru membuat rakyat semakin tercekik dalam kesulitan?
Malam ini masuk 10 hari terakhir Ramadhan, dan sepertinya ini adalah Ramadhan pertama dimana banyak doa-doa kulangitkan untuk negeri ini beserta seluruh rakyat yang jadi tumbal kekuasaan serakah para tirani.











