Setelah melewati tiga hari dua malam yang menyenangkan di Penang dan sebelum lanjut ke Hanoi, aku dan Bu Dian, mamak kesayangan anak manusia dan anak kucing, melanjutkan perjalanan ke Bangkok, masih dengan Asean Pass. Btw kenapa di judul part 2, bukan karena ini kota kedua dalam trip Januari 2016, tapi sebenarnya aku juga mau ngepost tentang Phuket yang ku kunjungi dua tahun yang lalu karena ada temanku yang nanya hihihi tapi nanti yah. Nah, berhubung waktu di Phuket apa-apa gampang dan bisa booking di tempat, kami ya santai-santai aja. Toh waktu di Phuket orang-orangnya hampir semua berbahasa Inggris walaupun aksennya yang bikin agak bingung, jadi kami yakin, ini kan kota besar, jadi harusnya mau ke mana-mana lebih gampang, yah. Eh, kok aku nulisnya kesannya nanti mau ada apa-apa? Hahaha enggak kok, yang ini juga menyenangkan duooong!
Kami mendarat di Bandara Don Mueang Bangkok sekitar maghrib. Kalau sebelumnya waktu di Penang aku masih menggunakan Internet Telkomsel Roaming karena lagi promo cuma Rp100.000 untuk tiga hari di Malaysia, sedangkan di luar Malaysia dan Singapura masih harga normal, mending kita sekarang beli kartu SIM lokal aja, ya kan? Setelah mengambil bagasi, kami keluar ke arah kanan balai ketibaan (eh masih kebawa bahasa Malay :D), ada beberapa counter yang melayani turis. Aku menggunakan Happy Tourist SIM dari Dtac seharga 300 Baht (~Rp115.000), unlimited dan berlaku selama 7 hari. Gampang kok, tinggal pinjamkan HP dan paspor ke mbak-mbak counter, nanti doi yang pasang dan daftarin.
Transportasi di Bangkok sebenarnya gampang banget karena hampir semua tempat penting (baca: destinasi wisata) terhubung oleh BTS, MRT, dan Express Boat di Chao Praya River. Untuk BTS dan MRT, kalau kamu pernah ke Singapura, sistemnya kurang lebih sama. Kalau mau jalan-jalan, kamu bisa cek dulu rutenya di sini biar tau harus transit atau turun di mana, dan bisa hitung-hitung juga ongkos perjalanan kamu.
Sebenarnya dari bandara menuju tempat kami menginap pun bisa ditempuh dengan BTS. Berhubung kita sampai Bangkok sudah mulai malam dan rasa lelah akibat keliling George Town terakhir sebelum flight (dasar emak-anak ga puas-puas) baru terasa, kita pun langsung memutuskan untuk naik taksi. Berbekal hasil browsing dan tanya-tanya mbak-mbak counter kartu SIM bahwa perjalanan menuju pusat kota Bangkok dengan taksi berargo berkisar 300 Baht, kami dengan pede mendorong troli koper ke arah taxi counter di Gate 8. Ternyata, antrian taksinya aja panjangnya sampai hampir pintu Gate 7! Akhirnya balik ke kebiasaan di Jakarta kalau malas mengantri taksi, nyalain Uber dan Grab sekaligus, lihat yang mana yang dapet duluan huehehe oportunis lu. Jangan dicontoh ya, Kak. Jadi anak harus konsisten dan bertanggung jawab. Oke.
Setelah beberapa menit, ternyata emang gak bisa oportunis karena gak dapet-dapet GrabTaxi, tapi alhamdulillah dapat Uber. Di aplikasi Uber Bangkok sendiri ditulis kalau transportasi dari bandara menuju pusat kota Bangkok dipatok seharga 500 Baht (~Rp192.000). Gakpapa deh lebih mahal dari taksi biasa, daripada antri sampai besok baru dapet. Kesan pertama ketemu Uber driver Bangkok, dia yang kagok. Kebetulan dapetnya supir yang agak susah berbahasa Inggris. Misalnya waktu aku tanya berapa harga tol, dia garuk-garuk kepala sambil menjawab, “uhm… two… hm… two, fifteen… one hundred!” Loh, gimana, Bang? Ternyata maksudnya 2x tol masing-masing 50 Baht… Belakangan dia berusaha menjelaskan lagi kalau sebenarnya biaya tol sudah termasuk ongkos Uber-nya. Tau gitu doi ga usah susah-susah cari terjemahan angka, yah. Maaf ya, Bang!
Kesan pertama lihat jalan raya di Bangkok, mirip banget suasana Jakarta. Tapi macetnya lebih terurai-able berhubung fly over-nya aja ada yang sampai tingkat tiga paralel ke atas gitu. Mejik, gak? Buat aku ya mejik, rasanya kayak pertama ke Jakarta (padahal dari kecil tinggal di mana emangnya?) Untuk alamat, aku menunjukkan ke si abang alamat dalam aksara Thailand yang aku dapat dari website tempat aku menginap, Cooper.
Tempat menginap aku yang ini lagi-lagi direkomendasikan oleh Dea. Begitu masuk, kita langsung berada di common room yang gemes parah! Kursi-kursi dan pernak-pernik lucu, furnitures yang di-decoupage, kursi ayunan rotan, aduh ini sih cita-cita rumah sendiri yah hihihi.
Ini kursinya gak ada yang sama loh hihihi
Begitu masuk, kita akan disambut dengan ceria oleh Mey yang bahasa Inggrisnya mematahkan stereotip broken english orang-orang Thai yang terbentuk selama perjalananku di Phuket dan di perjalanan dari bandara dengan si abang Uber tadi hehehe. Mey ini orangnya ramah dan helpful banget. Sebelumnya, aku sempat cerita kan, gimana di Phuket mau ke mana-mana gampang karena agen wisata menjamur di mana-mana persis di Kuta-Legian, Bali. Makanya dengan santai aku nanya ke Mey agen wisata terdekat karena lusa aku mau ke Pattaya. Ternyata, jeng jeng, Mey bilang agen-agen wisata sudah tutup (waktu kami mengobrol sekitar pukul 9 malam) dan kemungkinan tetap tutup dua hari ke depan karena pas banget aku sampai Bangkok itu Jumat malam. Wah gagal dong rencana awalku untuk menghabiskan 1 hari di kota Bangkok dan 1 hari di Pattaya. Dipikir-pikir, iya juga sih, Phuket kan seperti di Bali yang emang tempat wisata, jadi agen wisata ya gampang dicari baik weekdays maupun weekend, sedangkan Bangkok kan lebih ke kota seperti Jakarta yang bukan fokus di wisata saja.Naik bis atau sewa mobil sebenarnya bisa, tapi lumayan juga bisa 2-3 jam seperti ke Bandung. Berhubung kami masih ada satu negara tujuan lagi setelah Thailand, daripada capek-capek keluar kota, Mey pun menyarankan beberapa destinasi wisata dalam kota. Mey membantu aku pun gak tanggung-tanggung loh walaupun dia gak dapet komisi, karena dia bukan agen juga sih hihi. Mey memberikan aku peta wisata Bangkok, nunjukkin rute melalui internet, ngasihtau semua moda transportasi yang paling gampang, sampai nulisin alamat dalam aksara Thailand kalau aku memutuskan untuk naik taksi lagi.
Sambil mempelajari rute jalan-jalan besok dari Mey, baru ingat kalau belum makan malam. Berhubung Mey juga ragu kalau makanan sekitar guest house halal, akhirnya aku memutuskan untuk ambil aman: pesan KFC! Hahaha. Tapi beda, loh. Mey dengan sabar menjelaskan satu persatu menu yang ada di website KFC Thailand (katanya tiba-tiba laper banget, tapi masih kepo nanya satu-satu) Sebelumnya Mey nanya dulu, kamu suka yang spicy-spicy, gak? Pokoknya menu yang ada zabb zabb-nya artinya spicy, dan takutnya gak semua orang luar suka. Akhirnya aku memesan Spicy Chicken Rice dan Spicy Chicken Lemon Rice yang surprisingly enak banget buat aku hehehe. Ternyata spicy yang dimaksud bukan berarti pedas, tapi berbumbu, kurang lebih seperti salad dengan bumbu khas Thailand. Aku emang kebiasaan nyoba yang aneh-aneh, walaupun misalnya nanti gak suka ya gakpapa, yang penting kan udah coba dan gak penasaran. Eh gak sangka ternyata doyan banget hehehe. Setelah mendapat bekal pengetahuan tentang perjalanan besok hari dari Mey dan selesai menghabiskan ayam KFC yang aneh tapi enak, kami pun beristirahat di private room yang gak kalah lucu dari ruang tamunya. Benar-benar cozy kayak kamar di rumah sendiri, pas untuk mengumpulkan tenaga untuk esok hari.
Oh ya, kalau kamu kayak aku yang sebelumnya udah jalan-jalan dari kota lain dan ngerasa kurang enak aja bawa-bawa baju kotor dalam koper, di lantai bawah Cooper ini ada mesin cuci dan pengering, kok. Kamu tinggal masukin baju-baju kamu ke mesin, masukkan 90 Baht (~Rp35.000) dengan koin pecahan 10an yang bisa kamu tukarkan ke Mey, dan tutup. Mesinnya sudah diprogram otomatis, masuk koin langsung jalan, jadi kamu gak usah bingung-bingung pilih tipe pencucian, volume air, dkk. Setelah cuci juga bisa kamu tinggal karena proses pengeringannya sendiri bisa sampai 2 jam, tetapi ada housekeeper yang bakal memindahkan baju kamu dari mesin cuci ke mesin pengering serta mengantarkan baju bersih ke kamar kita.
Alamat: 50/27 Thanon Pan, แขวง สีลม เขต บางรัก, กรุงเทพมหานคร 10500, Bangkok
Koordinat Google Maps: 13.723410, 100.522933
Khlong Lat Mayom Floating Market
Di Bangkok dan sekitarnya, floating market atau pasar terapung memang gak cuma satu. Salah satu yang paling terkenal adalah Damnoen Saduak. Tapi sayangnya untuk menuju ke yang satu ini kita harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam ke luar kota Bangkok, tepatnya di Ratchaburi. Selain itu, floating market ini juga sudah terlalu banyak turis, jadi terlalu komersil. Mey pun menyarankan kami untuk pergi ke Khlong Lat Mayom yang lebih berasa otentik karena penduduk lokal pun masih sehari-harinya belanja di sini.
Perjalanan juga lebih mudah dan cepat. Kami berangkat dari Surasak BTS Station yang hanya 10 menit berjalan kaki dari guest house menuju ujung Siom Line, ke Bang Wa BTS Station. Karena kami pada hari itu rencananya mau banyak jalan-jalan naik BTS, Mey pun menyarankan untuk membeli BTS One Day Pass seharga 140 Baht (~Rp54.000) untuk bebas mengendarai BTS seharian, unlimited ride loh. Dari Stasiun Bang Wa, kita cukup naik taksi selama kurang lebih 20 menit dengan tarif sekitar 80 Baht (~Rp30.000). Oh ya, taksi di Bangkok cukup aman kok, yang penting sebelum masuk dan duduk kamu konfirmasi dulu ke si bapak supir, pake argo ya, Pak! Sebenarnya aku sudah dibekali surat cinta dari Mey yang berisi alamat tujuan dalam aksara Thailand untuk ditunjukkan ke supir taksi. Tapi, bapaknya udah jago kok, disebut Khlong Lat Mayom langsung capcus (walaupun pada waktu itu aku selalu nyontek kertas Mey karena lupa terus namanya, baru afal sekarang hahaha). Untuk perjalanan kembali ke Stasiun Bang Wa kami kembali mengendarai taksi dengan bantuan aplikasi GrabTaxi. Seneng yah, sekarang ke negara orang pun aplikasinya masih sama hihihi.
BTS One Day Pass (140 Baht)
Karena ini pasar tradisional di mana penduduk lokal benar-benar berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari, disarankan untuk datang ke sini pagi-pagi, pas sekalian sarapan atau brunch. First ground rules of eating at a new place is eating what the locals eat! Pilihan kami jatuh kepada pla pao atau ikan bakar garam karena ngiler aja sih waktu masih jalan-jalan lihat-lihat, kok hampir semua pengunjung pasar makan ikan gede-gede banget hihihi. Cara makannya pun kita nengok pengunjung sebelah: dibuka kulitnya, makan langsung dagingnya. Berhubung aku kebiasaan seperti kucing yang maunya coba-coba, penasaran dong, kenapa kulitnya gak dimakan? Ternyata kalau kulitnya doang keras dan asin, Kak! Tempat kita makan pun lucu, seperti picnic table dari bambu yang di setiap ujungnya ditempel trash bag besar. Jadi sehabis makan tinggal geser piring beserta sisa-sisa makanan ke samping, langsung bersih.
Di pasar ini aku menemukan gak cuma makanan olahan yang jelas beda sama di negara sendiri, tapi juga buah-buahan yang baru pertama kali aku lihat. Misalnya buah kecil yang bentuknya seperti kentang tapi rasanya seperti jagung dan buah yang seperti gelang warna-warni. Karena penasaran, aku pun membeli beberapa untuk dibawa dan ditanyakan kepada Mey. Belakangan aku baru tahu ternyata si kentang rasa jagung itu sejenis chestnut dan buah yang seperti gelang itu sejenis tamarind. Dikasih tau juga sih namanya dalam bahasa Thailand, tapi lupa hehehe.
Setelah puas lihat-lihat makanan dan buah-buahan ajaib, kami mengantri untuk mengikuti canal tour. Kita bisa mengelilingi sekitar pasar untuk melihat rumah asli penduduk lokal yang bermukim di sekitar sungai dengan kapal selama kurang lebih satu setengah jam dengan membayar 50 Baht (~Rp19.000). Kalau biasanya kita lihat di bagian depan rumah sekitar komplek adanya garasi mobil, di sini kita bisa lihat garasi kapal di setiap rumah. Gemes, kan? Setelah sekitar setengah jam mengarungi sungai, kita pun berhenti di salah satu model rumah tradisional. Di sana kita bisa melihat tipikal rumah Bangkok dan ruangan-ruangan di dalamnya. Sayangnya, tour guide kami yang tercinta hanya menjelaskan dalam bahasa Thai karena peserta tur lainnya mayoritas pun penduduk lokal. Aku dan sekitar 4 orang asing lain yang tidak mengerti pun pasrah aja berhubung guide nya juga cuma bisa senyum pasrah karena doi sendiri gak bisa bahasa enggres… Tapi sempat kagum juga sih sama pengunjung lain, padahal ini kan yang dijelasin juga hal-hal yang udah akrab sama mereka, wong kebudayaan mereka sendiri, tapi masih mau ikut tur seperti ini, mempelajari lagi kebudayaan sendiri. Jadi pingin jalan-jalan ke anjungan-anjungan di TMII…
This slideshow requires JavaScript.
Alamat: หมู่ 15 บางระมาด, 30, Bang Ramat, Taling Chan, Bangkok 10170
Koordinat Google Maps: 13.762052, 100.415876
Tiket Canal Tour Ride: 50 Baht
Nampaknya Ibu Dian belum puas mengambil puluhan foto street art waktu di Penang. Beliau udah browsing dan pesan duluan, pokoknya harus ke museum 3D. Tadinya kami berencana untuk mengunjungi Art in Paradise Pattaya. Untungnya di dalam kota Bangkok juga ada cabangnya, tepatnya di dalam Mall Esplanade lantai 4. Dari Stasiun Bang Wa, kami berganti ke Sukhumvit Line di Siam BTS Station, kemudian naik MRT dari Sukhumvit sampai ke Thailand Cultural Center.
Sebelumnya aku pernah ke galeri yang bertema sama yaitu Trick Art 2012 Grand Indonesia dan Artphoria 2013 Lotte Shopping Avenue di mana kita bisa mengambil foto dengan angle tertentu sehingga hasil foto terlihat seperti nyata atau 3D. Bedanya, yang di Bangkok ini jauh lebih besar, lebih banyak koleksi gambarnya, dan lebih sedikit ngantrinya hehehe. Untuk harga tiket masuk juga memang lebih mahal untuk wisatawan asing yaitu 400 Baht (~Rp154.000), tapi yang penting emak seneng, ya kan? Di sana juga ada pegawai yang siap mengambilkan foto jadi kita bisa sama-sama foto dalam satu frame tanpa mengorbankan orang lain untuk minta fotoin hehehe.
Masih di Khlong Lat Mayom. Boong deng
Alamat: 99 Esplanade, Room No 408, 4th Floor
Rachadapisek Road Din Daeng Bangkok 10400
Koordinat Google Maps: 13.765834, 100.570313
HTM: 400 Baht
Grand Palace & Wat-wat Sekitarnya
Nah ini tempat wajib yang dikunjungi kalau ke Bangkok. Untuk menuju ke sini, kita bisa naik BTS sampai ke Stasiun Saphan Taksin, kemudian berjalan sekitar 5 menit ke Sathorn Pier lalu menaiki Chao Phraya Express Boat bendera orange. Sebelumnya aku diceritain nih waktu Dea pertama kali sampai dermaga, dia masih bingung naik darimana, dan gak sengaja menyebutkan kata Grand Palace waktu bertanya ke temannya. Walaupun Dea ngomong dalam bahasa Indonesia, tapi ternyata petugas sana ada yang sempat menangkap kata Grand Palace dan langsung menggiring Dea dan pasukannya ke counter tiket kapal untuk turis seharga 150 Baht (~Rp57.000). Jadi gimana dong? Namanya tempat baru pasti bingung kan mau ke mana?
Tipsnya adalah, langsung jalan pede aja ke arah yang banyak orang antri, kemudian naik kapal yang berbendera orange, bayar tiketnya di kapal. Intinya, jangan sampai kelihatan banget kalau kamu itu turis. Kalau untuk muka-muka Indonesia, lolos aja sih karena muka-muka kita kan mirip sama Thai, yang penting mukanya jangan bingung. Kalau ditanya, langsung jawab dengan tegas: Tha Chang! (kalau mau langsung ke Grand Palace) atau Tha Tien (kalau mau ke Wat Pho dulu). Memang sih, kalau tiket turis itu 150 Baht udah bebas naik turun di dermaga manapun, tapi kalau kamu naik bareng-bareng penduduk lokal, kamu cuma cukup bayar 13 Baht (~Rp5.000) sampai Tha Chang. Lumayan kan? Kalau kamu ragu turun di mana, kamu bisa hitung, kamu turun di dermaga ke berapa, atau tanya penumpang sebelah kamu, atau kalo kamu pemalu, sambil lihat di GPS aja. Tapi sayang sih kalau malu-malu, siapa tau jodoh kamu orang Thailand yang ketemunya di kapal itu, gimana?
Pada waktu itu aku turun di Tha Tien karena masih ragu mau ke Grand Palace atau Wat Pho duluan. Pada akhirnya memutuskan ke Grand Palace duluan karena mikirnya kan lebih gede, jadi bakal makan lebih banyak waktu. Lumayan juga sih menyusuri sisi luar tembok luar royal complex ini yang rasanya gak habis-habis, ternyata emang gerbangnya di sisi yang dekat Tha Chang. Ditambah langit yang selalu cerah, manstap. Dua kali ke Thailand selalu bulan Januari, puanasnyaaaa hihihi sampai awan aja lupa mampir. Yah namanya juga liburan ya…
Karena yang kita kunjungi itu kompleks negara dan kuil, ada dress code khusus yang mutlak harus dipatuhi, antara lain gak boleh celana/rok pendek, sandal, sleeveless, serta baju berbahan tipis. Karena panas banget, aku pikir gakpapa pakai pashmina yang walaupun dipakai menutupi pundak seperti cardigan. Tapi ternyata distop di pintu masuk dan harus meminjam baju di museum tekstil di sebelah gerbang utama dengan deposit sebesar 200 Baht per piece (kemeja untuk atasan atau/dan kain untuk sarung) yang akan dikembalikan ketika keluar dari kompleks. Ketika mengantri masuk tempat peminjaman, aku baru sadar ternyata ada petugas yang memperingatkan dengan toa kepada pengunjung yang lewat jika bajunya gak sesuai dress code. Sayangnya, entah karena broken english atau suara si Mbak yang malu-malu, jadi kebanyakan pengunjung gak ngeh kalau lagi diperingatkan. Ah mungkin toanya aja yang gak jelas ya, Mbak…
Setelah membayar tiket masuk untuk turis asing sebesar 500 Baht (~Rp192.000), kita bisa masuk dan melihat-lihat Wat Phra Kaew atau Temple of The Emerald Buddha. Setelah melewati kompleks yang berisi kuil-kuil yang cantik-cantik, barulah kita bisa melihat The Grand Palace, istana tempat raja-raja Thailand jaman dulu, walaupun sekarang juga masih dipakai untuk acara-acara kenegaraan.
Alamat: Na Phra Lan Rd, Phra Nakhon, Bangkok, Khwaeng Phra Borom Maha Ratchawang, Khet Phra Nakhon, Krung Thep Maha Nakhon 10200, Thailand
Koordinat Google Maps: 13.750611, 100.491334
HTM: 500 Baht
Sekali lagi, mana lengkap jalan-jalan tanpa nyobain makanan lokal? Nih beberapa makanan yang aku coba di Tha Tien Market sebelum pulang
Coconut Ice Cream. Wah, ini sih wajib, apalagi panas-panas gini. Jadi es krim dari kelapa, ditaro dalam batok kelapa, dikasih kelapa, kelapaception! Di tempat lain biasanya dikasih topping macem-macem dari kacang sampai ketan. Tapi yang di depan Wat Pho ini cuma dikasih kacang aja udah enak banget, gak bohong. Untuk harga aku lupa, yang pasti lebih dari 10 Baht, kurang dari 40 Baht hihihi.
Som Tam (Papaya Salad), 40 Baht (~Rp15.000). Walaupun dibilang salad, ini lebih tepat dibilang rujak sih, atau asinan? Yang jelas enaaaak banget, suegerrr.
Pad Thai. Nah yang ini lupa foto hihihi. Tapi tau dong, pad thai itu sejenis kwetiaw gorengnya Thailand. Karena ragu halal atau enggak, aku pilih yang seafood.
Sebenarnya masih banyak Wat yang bisa dikunjungi seperti Wat Pho tempat The Reclining Buddha atau menyeberangi Chao Phraya ke Wat Arun, Temple of Dawn. Tapi berhubung hari sudah sore, mungkin kelamaan istirahat habis mengelilingi Grand Palace yang luaaaas banget gak mungkin habis dalam sehari, atau kelamaan jajan di sepanjang jalan menuju kembali dan di pasar Tha Tien, mengintip Wat Pho pun antriannya masih panjang, kami memutuskan untuk pulang karena jam operasi Chao Phraya Express Boat hanya sampai pukul 6 sore. Bisa sih, kalau mau pulang naik taksi atau nyambung BTS lagi, tapi gak seru dong hihihi.
Bonusnya, aku sempat ketemu beberapa kucing liar di pasar ini yang jinak-jinak banget. Sebenarnya gak semua kucing liar sih, ada satu kucing yang dipiara sama aki-aki yang punya lapak loakan di pinggir jalan. Pertamanya kaget, kok kucingnya diiket kayak anjing kan kasihan? Ternyata habis itu baru diceritain kalau si Tongtong (kalau gak salah inget dan salah denger) itu kaki belakangnya pernah terlindas mobil jadi gak bisa jalan. Tapi si Tongtong (dan akinya) ramah banget, malah waktu mau difoto, si aki langsung mengintruksikan, “Tongtong, action!” Akhirnya ketemu kucing siam beneran di Siam!
Kucing centil tak bernama
Oh ya, bonus cerita satu lagi! Sampai hari terakhir, ternyata aku masih kepikiran Spicy Chicken Rice KFC yang aku ceritakan di awal post ini. Mikirnya, KFC aja, ada lah yaa di bandara, bisa lah ya sebelum flight ke Hanoi. Tapi ternyata di Bandara Dong Mueang cuma ada McDonald’s. Tiba-tiba keinget waktu trip ke Phuket terakhir lupa coba Pineapple Pie nya McD Thailand yang Mey pun juga ngerekomendasiin banget. Kalau suka ke Singapura (dan anak junk food juga haha), pasti tau dong The Mighty One Dollar McD’s Apple Pie? Nah, kalau di Thailand, adanya Pineapple Pie dan yang terbaru: Corn Pie! Rasanya? Rasanya sedih kenapa McD sini gak jualan pie juga… Enak banget! Apalagi yang corn pie, kirain gimana asin ketemu manis, surprisingly aku nyesel cuma beli satu hihihi. Psst, french fries di sini pun somehow lebih garing lebih gurih. Mungkin lebih mecin, tapi sekali-sekali boleh doooong kan di Jakarta aja aku juga udah jarang beli fast food hihi. Oh ya, walaupun uang Baht-ku sudah habis, sisa dollar untuk ditukarkan ke Vietnam Dong di Hanoi, tapi di McD ini bisa bayar pakai dollar kok. Mereka yang konversikan ke Baht, plus kembalian yang juga dalam bentuk Baht.
Setelah (kurang) puas nyemilin McD’s pie, langsung deh ke destinasi terakhir trip aku kali ini: Hanoi. See you in next post!
It’s Always Sunny in Thailand Part 2: Bangkok Sawadee kha! Setelah melewati tiga hari dua malam yang menyenangkan di Penang dan sebelum lanjut ke Hanoi, aku dan Bu Dian, mamak kesayangan anak manusia dan anak kucing, melanjutkan perjalanan ke Bangkok, masih dengan Asean Pass.