RIWAYAT SEORANG ASTRONOT
Kisah ini bermula ketika seorang astronot berhasil lepas landas menuju antariksa menggunakan roket gagahnya.
Roket itu menembus atmosfer Bumi dan mulai melayang-layang menapaki sebagian kecil Bima Sakti. Sang Astronot menatap pekatnya langit melalui jendela, "Ada apa diluar sana?" tanyanya dalam hati.
Lalu, matanya disambut oleh konstelasi bintang yang biasanya hanya ia lihat menggunakan teleskop dari Bumi. Seketika rasa takut dan gelisah lenyap, digantikan oleh secercah harap.
"Akankah dia menemukan bintang-bintang lain yang jauh lebih indah?"
"Bintang-bintang ini, rupanya lebih indah jika dilihat dari dekat"
Dan benar saja.... Sirius, bintang yang paling terang jika dilihat dari Bumi, berpapasan dekat roketnya. Warnanya putih kebiruan. Ah, dia jatuh cinta. Keputusannya meninggalkan Bumi adalah pilihan yang tepat. Sirius berkedip-kedip. Sinarnya tak hanya menembus kaca jendela roket, tapi juga hati Sang Astronot.
Tapi, jiwa petualangannya membuat tangan Sang Astronot memutar setir kendali roket. Tidak. Ia tak bisa terus menerus mengagumi Sirius. Ia harus melihat yang lain. Demi ilmu pengetahuan.
Roket itu melaju kencang. Melewati bebatuan, melayang-layang menembus kegelapan. Hingga ia tiba di Sabuk Orion. Dia tersenyum hangat, seperti bertemu kawan lama rasanya. Orion, seorang pemburu dengan pedang dan perisai. Jiwanya diisi oleh Alnilam, Mintaka, dan Alnitak. Sang Astronot ingat betul bagaimana Orion sering membantunya untuk menunjukkan arah Barat. Juga mengingatkannya bagaimana seharusnya seorang pria berdiri gagah di kakinya sendiri. Meski begitu, Sang Astronot selalu ingat untuk tidak sombong dan merasa lebih hebat dari orang lain. Karena dengan begitu, ia takkan berakhir tragis seperti Orion, dibunuh dengan kejam oleh Gaia dan kalajengkingnya.
Kemudian, Sang Astronot melaju lagi bersama roketnya untuk melihat teman-teman lamanya yang lain. Ia bertemu Ursa Minor, Crux dan Skorpius. "Terima kasih banyak ya kalian!" ucap Sang Astronot pada mereka bertiga. Bagaimana tidak? Mereka bertiga sering membantu sang Astronot mencari arah. Bukan hanya itu, mereka juga membantu nelayan menentukan arah berlayar dan petani menentukan arah angin. Sang Astronot menatap haru ketiga kawan lamanya itu. Ia sering menatap mereka dari Bumi, tapi kini ada tepat dihadapannya.
"Aku rindu Bumi. Tapi, aku juga ingin bertualang demi ilmu pengetahuan!"
Dia ragu-ragu. Jika dia meneruskan petualangannya, dia akan menemukan banyak bintang, planet dan asteroid baru untuk dipelajari. Meski begitu, dia harus bertarung dengan rindu. Tapi, jika dia pulang ke Bumi, dia akan kembali menjadi pengamat antariksa yang hanya bisa mengira-ngira saja, tanpa bisa melihatnya secara nyata. Dan kemungkinan besar dia akan menyesal.
Tiba-tiba saja radar roketnya menangkap sesuatu. Sang Astronot bergegas menatap layar monitor. Ia tatap lamat-lamat layar itu sembari mencari-cari apa yang ditangkap radar roketnya. Saat menemukannya, mata Sang Astronot berbinar. Ia melaju perlahan bersama roketnya menuju benda luar angkasa itu. Dia ingat betul, ketika masih kecil, Sang Astronot mengaguminya dari jendela kamar ketika malam menjelang. Dahulu, dia bingung, kenapa terkadang bentuknya bulat sempurna, terkadang bentuknya seperti sabit.
Perlahan, dia arahkan roketnya mengikuti orbit benda angkasa itu. Dan sampailah Sang Astronot di atmosfer terdekat dari benda luar angkasa itu.
"Halo... rupanya, dari dekat kau memang selalu bulat."
"Semua orang melihatku dari jauh. Dengan jarak sejauh itu, kalian hanya bisa mengira-ngira. Lagipula aku memang selalu bergerak." jawabnya
"Kau tidak seterang biasanya jika dilihat dari dekat. Kenapa? Apa kau malu?" tanya Sang Astronot
"Maaf kalau kau kecewa. Aku bukan bintang. Aku tidak menghasilkan cahayaku sendiri. Dari jauh, aku terlihat terang karena memantulkan cahaya matahari."
Mereka terus mengobrol. Mereka berbincang-bincang tentang antariksa, tentang mimpi-mimpi Sang Astronot, tentang ketakutan si benda luar angkasa itu pada ketidakpastian ruang hampa disana. Hingga pada
suatu titik, benda luar angkasa itu berkata,
" Astronot, akan ada suatu masa dimana aku akan terlihat menyeramkan. Dilihat dari Bumi lebih parah, akan terlihat seperti gerbang neraka telah terbuka. Pada saat seperti itu, saat aku pada sisi gelapku, apakah kau dan roketmu akan keluar dari atmosferku?"
Sang Astronot terkejut, lalu tersenyum sembari menjawab, " Saat gerhana? Aku rasa itu adalah sesuatu yang ilmiah. Dan semua orang pasti punya sisi gelap. Aku juga punya."
Benda langit itu bergerak-gerak bersamaan dengan jadwal rotasi dan revolusinya, sembari mendengarkan kisah masa lalu Sang Astronot.
"Apa rasi bintang favoritmu?" tanya Sang Astronot tiba-tiba.
"Cassiopeia. Kau?"
"Orion,Ursa Minor, Crux dan Skorpius." jawab Sang Astronot
"Biar kutebak. Karena mereka adalah penunjuk arah mata angin saat kau di Bumi?" ujar si benda langit
Sang Astronot terkekeh. "Iya." jawabnya singkat sembari tertawa
"Kau sangat mudah ditebak."
Setelah melewati banyak jadwal rotasi dan revolusi. Sang Astronot bertanya,
"Aku selalu penasaran, kenapa rasi bintang favoritmu adalah Cassiopeia?"
"Kau seorang astronot, kenapa tak kau gunakan roketmu untuk melihatnya sendiri?" jawab si benda angkasa
"Ya, aku ingin melihatnya. Aku..... aku harus melihat bintang yang lain, benda angkasa yang lain. Siapa tau Cassiopeia akan jadi rasi bintang favoritku juga, dan siapa tau ada rasi bintang diluar sana yang akan jadi favoritmu. Aku akan mengambil gambarnya dan menunjukkannya padamu!"
Sang benda angkasa mengangguk setuju. Dia bahagia melihat Sang Astronot kembali muncul jiwa petualangnya. Dia bangga melihat Sang Astronot mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Dan dia suka bagaimana Sang Astronot membagi dunianya. Meski begitu, kepalanya dipenuhi asumsi- asumsi dan ketakutan-ketakutan menyeramkan.
Bagaimana jika Cassiopeia ternyata tidak ada apa-apanya bagi Sang Astronot?
Bagaimana jika dia tak kembali?
Bagaimana jika dia melupakannya?
Bagaimana jika dia kembali ke bumi?
Atau lebih buruk, bagaimana jika dia menemukan bintang lain?
Sedang dia bukanlah bintang. Yang bisa dia lakukan hanyalah memantulkan cahaya matahari dan menjaga Bumi tetap pada orbitnya. Tapi, dia telan semua ketakutan dan kegelisahannya itu. Dia tersenyum simpul lalu berkata, "Pergilah astronot, kau harus melihat Cassiopeia. Lagipula masih banyak galaksi yang harus kau jelajahi. Nanti, kita lihat bintang favorit siapa yang lebih keren!"
Sang Astronot tertawa, menganggukan kepalanya dan menyalakan mesin roket. Roket itu mengudara, perlahan bergerak menjauhi atmosfer si benda langit. Sang Astronot melambaikan tangan dari jendela roketnya. Lalu, roket itu melaju kencang menembus pekatnya langit antariksa.
Begitulah kisah Sang Astronot yang baik hati dan mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan.
Begitulah riwayat seorang Astronot yang pernah mengisi ruang atmosfer sebuah benda angkasa belasan tahun cahaya lamanya.
Bulan menatap sekali lagi pekatnya langit antariksa.
Astronot itu mungkin hanyalah salah satu orang yang pernah menginjakan kakinya disana. Dan jelas bukan yang pertama.
Namun, roketnya pernah mengambang tenang di atmosfernya, tanpa merusak orbit.
Bulan berputar-putar sembari diam-diam berharap roket itu kembali kepadanya.
Ribuan tahun cahaya jauhnya, sebuah roket terbang rendah di antara rasi bintang Cassiopeia.