ego dan perasaan
setiap manusia teranam ego nya masing-masing, setiap perbuatan dan perlakuan selalu ego yang di terdepankan, entah itu membuat nya senang atau tidak, yang penting peran ego adalah menang.
di setiap organ tubuh nya bahumembahu menyempurnakan ego yang belum maksimal, disana ada perjuangan yang enggan iya praktekan.
semakin kita asah ego semakin tak tau juga ada perasaan yang tumpul dan halus
semakin kita menghidupinya semakin tak peduli juga ada perasaan yang telah kering dan mati
semakin kau jaga dan merawatnya semakin juga kau menghidupi perasaan-perasaan yang telah gugur dan kering.
apakah ini ego dalam diri? ketika banyak perasaan yang menghampiri lalu pergi tak peduli, entah seberapa tulus yang menjiwai. bukan masalah tak menerima, semuanya hanya meninggal kan bekas, lalu hilang, yaa begitulah.
hati memang tak berubah warnanya, tak juga pergi kmana mana, bila kau memaksakan, ada organ lain yang tak menerimanya, ada periahal kecewa yang kau ketik di mediasosial nantinya.
kalau sudah tersimpan simulasi perasaan ya sudah praktekan jangan sampai mendalaminya atau terikat, itu melelahkan.
beberapa rasa di luaran sana yang terlantar dan tak punya rumah, sebanyak apa kecewa yang membeku di setiap masing masing nya jiwa, bukanya perihal kecewa kita yang atur, bukan nya bahagia kau yang kelola, bukan nya perasaan sudah menjadi teman
rasa itu satu, walau bisa ber ubah ubah bukan berati harus di paksakan juga bukan, bukan harus semua rasa bisa masuk dan mendalami nya juga kan.
rasa punya mata ia bisa melihat tanpa harus mendalaminya.
sepi juga punya etika, tak bisa kau paksa paksa dan iklas terbawanya, semuanya butuh waktu, tak usah mempercepat atau melambat biarkan berjalan menemukan jawaban dalam setiap perbuatan.
-rifki










