"Jangan marah pada yang bersalah tersebab cinta..."
Demikian kaidah yang disampaikan gurunda. Mengingatkan kembali pada sebuah kisah keteladanan yang indah, menyejarah, sekaligus penuh hikmah.
Hari itu di Madinah, Rasulullah ﷺ sedang berada di rumah ibunda kita, 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Tak berselang lama, Rasulullah kedatangan tamu. Betapa senangnya sayyidah 'Aisyah karena berkesempatan untuk menjamu tamu-tamunya Rasulullah, yang tentunya akan membuat hati Rasulullah berbahagia karenanya.
Namun, belum sempat niat baik itu terlaksana, datanglah seorang utusan dari istri Rasullah yang lain membawakan makanan yang sudah terhidang di piring. Rasulullah pun terlihat bahagia atas adanya inisiatif tersebut. Itulah yang kemudian membuat ibunda kita 'Aisyah cemburu. Karena sayyidah 'Aisyah merasa bahwa dirinyalah yang lebih berhak menjamu tamu-tamunya Rasulullah, sebab hari itu Rasulullah sedang berada di rumahnya. Berarti tamu-tamu Rasulullah adalah tamu-tamunya. Kenapa tiba-tiba ada yang lancang mendahuluinya untuk menjamu tamu Rasulullah yang ada di rumahnya tanpa meminta izin padanya terlebih dahulu?. Begitulah kira-kira sudut pandang ibunda kita 'Aisyah saat itu.
Maka dengan hati yang sedang terbakar api cemburu, sayyidah 'Aisyah langsung mengambil piring berisi makanan itu, lalu membantingnya di hadapan para tamu hingga pecah berhamburan. Para tamu pun dibuat terlongo keheranan. Setelah itu sayyidah 'Aisyah langsung masuk ke dalam biliknya.
Marahkah Rasulullah pada sayyidah 'Aisyah?
Tidak. Beliau ﷺ tahu sayyidah ‘Aisyah membanting piring karena marah, marahnya tersebab cemburu, dan cemburunya itu karena cintanya ia pada Rasulullah.
Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah?.
Beliau ﷺ dengan tenang dan dengan nada suara yang tetap datar (biasa) meminta maaf kepada para tamunya tanpa sedikit pun menyalahkan siapa-siapa. Beliau juga tidak membuat drama pembelaan diri di hadapan para tamu atas nama harga diri. Tidak. Rasulullah tidak seperti itu. Kalimat permintaan maafnya pun singkat saja dan sangat bersahaja.
“Gharat Ummukum. Maaf ya, Ibu kalian lagi cemburu”.
Bahkan sebagaimana dikisahkan Anas ibn Malik radhiyallahu 'anhu dalam riwayat Imam Bukhari, setelah itu Rasulullah ﷺ tanpa gengsi memunguti pecahan piring yang berserakan, lalu menghidangkan kembali makanan yang masih bisa dimakan, seraya mempersilahkan tamunya untuk menyantap makanan dengan penuh kesantunan.
Saat kecemburuan dan kemarahan sayyidah ‘Aisyah telah mereda, lalu sayyidah 'Aisyah menyesal dan ingin menebus kesalahannya, Rasulullah ﷺ pun hanya tersenyum seraya bersabda, “Piring (yang pecah) diganti dengan piring (yang baru)”. Sesederhana itu. Tanpa nasihat panjang lebar yang kadang justru membuat luka baru.
MasyaAllah, betapa indahnya akhlak yang diteladankan Rasulullah ﷺ.
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik pada keluargaku (istriku) .” (HR.Tirmidzi)
Jangan marah pada yang bersalah tersebab cinta. Karena sungguh, sebagian besar kesalahan yang dilakukan orangtua kita, saudara kita, pasangan kita, putra-putri kita, juga semua yang mencintai kita dan sebaliknya; bukan disebabkan niat jahat, maksud buruk, ataupun kesengajaan untuk menyakiti. Kesalahan itu sering lahir justru tersebab cinta.
Begitu pula halnya dalam dakwah. Ada tempat dan waktunya di mana cinta mengalahkan hukum. Tentu itu tidak selalu berlaku. Namun dalam dakwah ini, kita diajarkan untuk tidak tergesa marah pada mereka yang mungkin mengamalkan sesuatu yang salah, tapi kesalahan itu timbul dari cintanya pada Allah, pada dinullah, pada Rasulullah ﷺ dan para pewarisnya.
Barangkali itulah sebabnya mengapa Rasulullah ﷺ tidak marah pada Malik ibn Sinan Al Khudzri yang menghisap darah dari luka Rasulullah di Perang Uhud lalu tak mau memuntahkannya. Bukan karena Malik Ibn Sinan tak taat pada perintah, tapi karena begitu besar cintanya pada Rasulullah.
Beliau ﷺ lalu bersabda tentangnya, “Siapa yang ingin melihat penduduk surga, lihatlah lelaki ini.” Ucapan itu pun akhirnya terbukti dengan syahidnya Malik Ibn Sinan Al Khudzri di perang Uhud.
Jangan marah pada yang bersalah tersebab cinta. Sebuah kaidah yang semoga Allah memampukan kita untuk mengamalkannya.
Ya Allah, karuniakan kami hikmah untuk tidak hanya memahami yang tersurat, tapi juga memahami yang tersirat. Jadikan kami bagian dari ulul albab. Aamiin yaa Rabb.