Lelaki, Kopi dan Celoteh Bidadari Kecil:
Pagi belum belum meninggi, tapi waktu seolah melambat, hidup seperti berhenti berlari.
Kopi diseduh perlahan, seperti doa yang tak ingin tergesa, pahitnya jujur, hangatnya menetap.
Lalu datang suara kecil itu, celotehan lantang bidadari mungil, memecah sunyi tanpa melukainya.
Ia tak bertanya tentang letih, tak paham soal gagal. Suaranya mengalir seperti pagi yang belum tercemar kecewa, membuat hati yang retak belajar bernapas kembali.
Uap kopi naik perlahan, membawa kenangan dan keheningan yang damai. Di antara denting cangkir dan tetes air panas, tawa polos itu hadir sebagai pemanis yang tak pernah ada di menu.
Bahagia tak selalu riuh. Kadang ia hanya secangkir kopi, dan satu suara kecil yang diam-diam menyelamatkan dunia di dalam dada.
Tak perlu mewah, tak perlu ramai, cukup secangkir kopi dan satu suara kecil yang membuat dunia terasa utuh.
Bahagia rupanya sesederhana ini: menikmati pahit dengan hati yang hangat, ditemani celotehan yang mengajarkan kita cara mencintai hidup tanpa syarat.

















