Wah rindu sekali rasa menggebu-gebu menyusun list buku yang harus dibeli, bersemangat kerja karna ada PO buku yang dinanti, apalagi pas paket buku udah sampai depan rumah wuah(≧∇≦)/
Terakhir kali beli buku kayanya November, tapi ternyata isinya cukup mengecewakan, ngga sepadan sama harganya. Lantas aku dibuatnya enggan percaya PO buku yang viral. Bukan gara-gara itu aja, tapi juga sibuk nyelesaiin lukisan-lukisan untuk 3 orang spesial. Dan akhir-akhir ini list belanja penuh dengan list yang tak terduga.
.
Hei sejak kapan list belanja isinya pemenuhan 'gaya'? Ada sepatu, jaket, sweater, kemeja flanel, beuhh! ayolah bukannya selama ini penampilan ku menjadi nomer sekian, dibandingkan pemenuhan kualitas isi kepala?!
.
Ditambah banyak kebutuhan rumah yang ikut menyesaki list belanja: ada termos, kotak bento, stiker kaca, spon cuci, lampu, hemmm sudahlah jangan dilanjut pusing aku dibuatnya.
.
Nah, tiba-tiba sore tadi saat melihat postingannya yang menggoreng isu logo halal MUI yang baru—yang aneh bin ngga penting buat apa faedahnya, aku menemukan seorang tokoh pegiat kreatif yang menyebut bidangnya desain kriminologi kreatif—unik kan?
.
Beliau sesekali memposting soal buku bacaan yang menurutnya menarik dan berkesan. Salah satunya buku ini, 'The Lyrics of Self-Acceptance'
.
Buku kumpulan lirik dan sajak berbahasa Inggris, disertai ilustrasi. Buku yang digarap seorang ilustrator selama 2 tahun di tengah hiruk pekerjaannya, konsultasi dengan art-terapis, dan latar belakang yang tak aku tahu.
.
Ngga yakin sih aku bakal paham seutuhnya, mungkin hanya manggut-manggut setuju karna bisa menerjemahkan. Tapi sepertinya menarik, penulis menuang sisi pribadi, yang barangkali pun banyak dialami generasi dikit-dikit self healing dan menggaungkan mental awareness.
.
Entah kapan bisa kebeli, berdoa aja, ngga ada yang tahu rejeki Allah datengin darimana yakan?











