Menjadi (Orang) Baik.
Saya senang membaca buku yang setiap babnya membuat saya merenung. Buku Haemin Sunim dengan judul Love for Imperfect Things: How to Accept Yourself in a World Striving for Perfection adalah salah satunya. Buku yang ‘sederhana’ namun sesuai untuk memantik saya memikirkan banyak hal. Tulisan berikut adalah refleksi atas bab pertama: Self Care.
—
Menjadi (orang) baik, saya kira, adalah cita-cita banyak orang. Seseorang yang cukup baik untuk dijadikan pasangan hidup, sebagai bagian dari keluarga, jadi anak buah atau pemimpin, dan teman bicara. Baik, adalah kualitas yang sering digunakan ketika diminta untuk menggambarkan seseorang. Meski terlalu umum karena kita butuh penjelasan lebih lanjut, baiknya seperti apa?
Baik juga harapan banyak orang. Kita mengharapkan pasangan hidup, anggota keluarga, anak buah atau pemimpin, dan teman yang baik. Wah, sepertinya hidup berjalan lurus dengan seseorang yang baik.
Tapi apakah menjadi (orang) baik adalah hal yang baik?
Saya merasa Haenim Sunim mengingatkan agar menjadi baik tidak menjadikan kita tidak berani bicara yang berbeda atau menyampaikan kritik. Baik semoga tidak membuat kita menghindari konflik karena khawatir tidak mampu meresolusinya dengan cara yang tepat. Baik tidak sama dengan ketidakmampuan berkata tidak. Bersikap baik diharapkan tidak membuat kita (sebenarnya) merasa kesulitan dalam menjalankan kehidupan.
Be good to yourself first, then to others
Kutipan di atas sering kita dengar, tentang menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu, karena sejatinya hanya orang-orang yang mampu yang dapat membantu orang lain. Jangan sampai, jangan sampai, menjadi baik adalah sebuah pengorbanan.
Saya pikir-pikir, menjadi baik bukan sesuatu yang utama yang ayah saya harapkan dari saya. Akan tetapi, sepertinya dari ibu saya, iya. Ibu saya berharap saya menjadi perempuan yang baik. Ayah saya, saya kira, lebih berharap saya menjadi orang yang bermanfaat. Baik, sepertinya juga bukan kualitas utama yang orang lain lihat dari saya. Meski saya merasa diri saya cukup baik, yang saya maksud disini adalah saya cukup perhatian dengan orang lain, tetapi saya kira orang lain melihat saya sebagai seseorang yang galak, sehingga banyak membuat orang segan. Dalam lingkungan pekerjaan, saya lebih dekat dengan impresi dingin dibandingkan hangat. Saya sadar, beberapa rekan bukan menganggap saya sebagai seseorang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Buat saya sedikit tidak masalah, selama orang-orang tertentu, seperti abang ojeg, satpam di toko, atau orang-orang yang tidak saya sangka sebelumnya bisa bertanya dan bercerita banyak hal kepada saya.
Saya percaya bahwa menjadi baik bukan berarti tidak bisa berbeda.
Menjadi baik mungkin jangan dijadikan sebagai cita-cita.
Baik, adalah perbuatan, maka silakan dilakukan saja.
Baik adalah cara.
Baik bukan sesuatu yang menjadi tujuan, baik adalah perjalanan.
Maka, dalam perjalanan itu semoga kita semua dikuatkan untuk tetap bicara yang berbeda dan menyampaikan kritik, menghadapi konflik dengan resolusi yang tepat, dan berkata tidak dengan cara yang baik. Semoga menjadi baik yang demikian membuat kita merasakan damai yang membawa pada rasa bahagia.
Terakhir, baik bukan berarti tanpa cela. Semoga kita juga menerima setiap cela yang ada dalam diri kita. Bukan berarti kita tidak baik, kita akan selalu mampu baik di waktu yang akan datang.
Love,
Zahra

















