Aku: Kenapa aku selalu merindukanmu?
Dia: Karena kau tak pernah membiarkanku pergi.
Aku: Aku tak akan pernah meninggalkanmu.
Dia: Untuk apa? Kita toh tak pernah berjanji untuk berjumpa di surga. Karena di surga tiada kita kan perlu asmara. Asmara cuma lahir di bumi, di mana segala berujung di tanah... Mati.
Aku: Rendra pernah ke surga?
Dia: Aku rasa dia benar. Asmara di tempat yang semuanya pasti tanpa cemburu dan curiga.. Hambar. Jadi kalau sudah mati ya sudah, tak usah berkhayal ada cinta sehidup semati.
Aku: Tega kau berkata seperti itu.
Dia: Aku lebih tak tega melihatmu menderita seperti ini.
Dia: Ya, kau menderita. Seperti para janda pelaku sati di India.
Aku: Jika aku menderita, apakah itu salah?
Dia: Jelas salah. Tuhan menciptakan cinta bukan untuk membuat kita menderita.
Dia: Hei, aku sudah bertemu dengannya.
Dia: Itulah masalahmu, selalu menganggapku masih ada.
------------------------------
Aku: Untuk malam ini, berbohonglah kepadaku.
Dia: Berbohong bagaimana?
Aku: Berbohonglah dan katakan kau mencintaiku.
Dia: Aku menawarkan persahabatan, yang lebih abadi dari cinta.
Aku: Aku tak mementingkan keabadian.
Aku November... Bulan badai dan hujan... Dan dingin
Aku November... Cintai aku meski hanya berpekan-pekan... Berhari-hari... Berjam-jam...
Karena kau tahu? Aku benci kemarau.
Aku: Bukan. Nizar Qabbani.
Dia: Seandainya kita bertemu di waktu yang berbeda, sungguh bodoh jika aku tak mencintaimu.
Aku: Sayang dunia tidak dibangun dengan kata 'seandainya' kan..
Dia: Kau sudah tahu. Bisakah kita menyudahi ini?
Aku: Menyudahi yang belum pernah kita mulai. Kau lucu..
------------------------------
Kupikir Stirling sudah mulai lelah berulang kali kupaksa mengalunkan The Phantom of The Operanya, pun aku.
Malam pula pasrah ketika gelapnya perlahan memudar, pun aku.
Dan beberapa gelas kopi yang telah tandas ini... Ah, sudahlah. Toh sebenarnya aku bukan salah satu penikmatnya. Hanya saja, siapa yang tak butuh teman untuk sekadar berbagi... Kopi, malam, gerimis, memori. Apalagi? Dia. Iya, dia.