cre : @wordstionary

seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from Yemen
seen from United States

seen from Hungary

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Australia

seen from T1
seen from United States
cre : @wordstionary
Kepulangan Tuan Putri
Entah apa yang membuat tuan putri tertahan disana. Ingin pulang, kembali pada kediaman penuh ketenangan, tapi dunia seolah menghukumnya, keadaan belum mau dia kembali. Sebab dulu inilah pinta sang tuan putri, "seandainya aku bisa pergi dari tepat ini, maka aku akan pergi" kalimat itu terngiang-ngiang di benak sang tuan putri.
Bertahun tahun yang lalu seperti sebuah keajaiban, dia benar-benar pergi dari tempat itu. Ya akhirnya si tuan putri telah bebas.
Apa sebenarnya yang membuat tuan putri ingin sekali pergi?
Jenuh, muak, semua berputar pada hal yang sama, tuan putri ingin tantangan, dan banyak hal lain memicunya untuk beranjak dari zona nyaman yang selama ini melingkupinya.
Lalu kini, semua itu tlah didapat, beserta bonusnya; kehilangan yang bertubi-tubi, merasa sendiri ditengah lautan manusia, ditinggal berulang kali, memendam kesedihan, kekhawatiran akan banyak hal, kebingungan dalam setiap langkah, banyak sekali ketakutan, hingga kesakitan tuan putri.
Tuan putri kecewa pada dirinya sendiri. Ingin rasanya dia bersikap egois, tapi sungguh tak bisa, dia telah merasa bersalah terlebih dulu. Setakut itu membuat orang lain kecewa, hingga dia kian terbebani oleh perasaannya sendiri.
Tuan putri dibutuhkan disana, dia mengerti, tapi dia tak bahagia, terlalu banyak paksaan. Dia sangat tahu bahwa dirinya juga dibutuhkan, tapi tidakkah ada yang mengerti bahwa dia juga membutuhkan. Tuan putri kecewa!
Dalam deras hujan bersambut air mata, sang putri memohon ampun, barangkali dahulu dia terlalu sombong, menganggap remeh perjalanan orang lain, melalaikan rasa syukur yang seharusnya dia jaga.
Yang dia tak tahu bahwa kehidupan luar sangatlah keras. Dia terlanjur keluar dan dia bertekat untuk kembali, seterjal apapun jalannya. Dunia telah membuatnya babak belur, kini dia menuntut balas atas itu, dunia harusnya tahu bahwa bukan seperti ini maksud dari pintanya.
"sebentar, ada yang harus kubawa dari sini.! Aku telah melalui hari dengan penuh tekanan, mengumpulkan duri-duri tajam yang melukai. Padahal sebelum ini hariku bagai di negeri dongeng, aku melakukan apapun sesukaku, orang orang menyambutku. Aku tahu ada yang salah, aku tidak bodoh untuk tahu bahwa tak selamanya manusia berada diatas, roda kehidupan itu benar-benar ada. Tak ada yang bersalah disini setiap orang akan mendapati rodanya berputar suka tidak suka. Bagaiman bisa kamu akan sampai pada tujuan bila rodamu tak berputar.
Aku akan kembali dengan pelajaran berharga, aku akan kembali membawa serta hasilnya. Aku akan pulang karena sedari awal kutahu disini bukanlah tempatku. Sampai disini aku memang melalui banyak hal, tapi bukankah itu sepadan dengan hasil hasil yang ku peroleh. Aku berharap banyak dari hasil tsb, yang akan membawaku pulang dengan raut berseri membingkai wajah serta dalam keadaan hati yang selamat.
Dia berubah, tuan putri berubah. Kini dia bukan lagi si tuan putri, kini dia menjelma menjadi sesosok bidadari dunia tanpa sayap.
Jalan terjal yang dilaluinya untuk kembali membawanya pada bingkai kehidupan baru yang menentramkan, entah apa yang telah dilakukannya. Dadanya seakan penuh oleh untaian-untaian lirih penuh kebaikan.
Hingga dia tahu arti kembali yang sesungguhnya, arti pulang yang sebenarnya.
---
20 Januari 2019
Allaah yang akan menuntunmu. Percayalah apa yang tak baik menurutmu belum tentu itu buruk buatmu. Allaah lebih tahu baik buruknya sesuatu. Dialah Allaah yang Maha Mengetahui, luasakan prasangka baikmu, sebab Allaah tak pernah dzolim pada hambaNya.
Seharusnya dengan adanya kematian seseorang...
Seharusnya dengan adanya kematian seseorang…
Seharusnya dengan adanya ‘kematian seseorang’ itu akan lebih mengingatkan siapa diri kita sebenarnya. ketika memang banyak yang bilang bahwa ‘setiap kita sedang menunggu antrian kematian’ atau seperti ungkapan Imam Syafie ‘Betapa Banyak Manusia yang Masih Hidup dalam Kelalaian, Sedangkan Kain Kafannya Sedang Ditenun.’
seharusnya itu menjadi patokan setiap kita untuk selalu mengingat, bahwa…
View On WordPress
SEPERTI SENDIRIAN...
Rasa-rasanya harus berjuang sebatang kara. Melangkah sendiri di tengah badai kehidupan. Sepertinya semua mulai melangkah mundur perlahan-lahan.
Merasa sepi diri ini.
Kenapa sih harus berjuang sendiri? Kan saat ini lagi butuh dukungan, butuh semangat? Gimana ceritanya bisa kuat kalo gak ada yang menemani?
Realitanya, ya memang begitulah kehidupan.
Pada akhirnya harus berjuang sendiri. Pada akhirnya harus melangkah kuat sendiri. Sulit memang, tapi disaat seperti inilah kapasitas sebagai manusia akan terlihat. Seberapa pantas diri bertahan, seberapa kuat diri berpijak.
Being alone doesn't mean you're lonely.
Toh, biarpun saat ini apa-apa sendiri, kan bisa jadi lebih fokus, bisa bertumbuh jadi lebih baik. Lagipula pada akhirnya juga akan tau siapa teman sejati, siapa yang mudah melepaskan, siapa yang patut dipertahankan.
.
.
- @arioagio -
Bismillah, Menuju Hari H....
Tantangan terbesar sebelum menikah adalah melalui fase penjagaan diri. Di fase ini ketika kamu berada dalam usia dewasa, hormon-hormon kedewasaan mulai tumbuh dengan normal, maka di saat itu perasaan ketertarikan lawan jenis akan begitu kuat.
Di fase menanti ini, maka kita harus semakin memusatkan energi kita untuk menjaga diri sebaik mungkin. Sebab, testimoni dari banyak yang sudah mengalami justru semakin mendekat ke hari H-lah ujian ini yang paling berat. Ada saja ujian yang melenakan, dengan berbagai macam cara.
Disinilah kemudian kita perlu menyediakan bekal, bekal yang menjadi faktor kunci keberhasilan. Apakah itu? Namanya adalah tarbiyah dzatiyah. Merupakan usaha setiap diri mukmin untuk membina, mengarahkan, menempa diri sampai pada kesempurnaan diri.
Entah itu pembenahan dari segi akal, dari segi ruh maupun dari segi jasad. Bagaimana cara membenahinya? Tentu saja dengan memberikan asupan yang baik dan benar paling tidak terhadap 3 unsur tadi, akal senantiasa diisi dan ditambah dengan ilmu-ilmu syariat, ruh dengan terus taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah maupun jasad senantiasa membiasakan pola hidup yang sehat.
Jika ruh, senantiasa dihiasi dengan nuansa taqwa kepada-Nya insyaallah ujian apapun yang melanda, kita akan terjaga akibat keteguhan iman kita, punhalnya pikiran dan jasad yang selalu senantiasa dipenuhi dengan hal-hal bermanfaat.
Allahua'lam bish showab.
*judul cuman clickbait ye. mon maap.
Beberapa hal dalam hidup, bisa dengan mudahnya membuatmu jatuh. Pelan - pelan, mereka merobohkan pondasi pertahanmu yang sudah lama kamu bangun. Semudah mengucapkan sesuatu yang mereka anggap biasa saja padahal bagai petir yang menyambar di kepalamu. Sehari, dua hari bahkan bisa berminggu - minggu, bersemayam, terbayang - bayang, hingga lelah hatimu.
Dan untuk lepas dari kepahitan itu, kamu mencoba untuk berdamai kembali. Mulai membangun lagi kepercayaan diri dan kekuatan untuk tetap menjalankan hidup sebagaimana mesti.
Mungkin masalahnya akan terdengar remeh oleh mereka, tapi siapa yang tahu, kalimat bisa lebih mematikan daripada pembunuhan sendiri?
Kamu berlebihan?
Terdengar berlebihan di telinga mereka, bukan berarti semua orang harus setuju. Gapapa kita gak setuju, gak semua orang setuju dengan kata - kata mereka.
Kita ini memang hidup di antara perbandingan dan perbandingan. Kamu banding dia, dia banding aku, aku banding kamu, dan seterusnya. Mereka begitu karena mereka gak ngerti porsimu.
Yah, maka dari itu kita belajar mencintai diri, ya, fungsinya biar kuat sama hal yang begitu. Jadi, sebetulnya, hidup itu memang akan lebih mudah tanpa omongan orang lain.
Yang penting sekarang, sembuh dulu aja, mungkin dengan robohnya tembok pertahanan kamu yang sekarang, kamu bisa lebih ahli dalam pembangunan. Bisa bikin pondasi yang lebih kuat, lebih kokoh, lebih mewah. Hihihi.
Dah ya, semangat.
Boleh aku menelpon lagi nanti?
Kamu pernah tau gak, saat rasanya kamu memiliki sesuatu yang ingin sekali kamu sampaikan tapi tertahan, ya tertahan seperti ingin tapi tidak ingin, ada nafas yang berat sekali untuk dihembuskan dan pada akhirnya yang keluar hanya helaan saja. Terkadang aku sudah siap, sudah percaya, kakiku sudah berdiri tapi lagi-lagi seakan aku kehilangan wajah. Kau pernah lihat kaca Riben?, Kau pernah berdiri didepannya?, Ya! kau pasti mengerti tak seorangpun dapat melihat mu dengan itu, lebih tepatnya belum ada yang menyadari kalau kau ada dihadapannya dan ingin menyampaikan sesuatu.
Bayangkan kau mencoba menelponnya dari belakang kaca Riben, terdengar suara kalbu dari Raisa Andriana sebuah lagu yang tidak ingin aku dengar lagi dari ringtonenya hari itu, dia berbicara seolah paham apa sebenarnya yang ingin aku sampaikan. Sebuah kegundahan?, Bukan!, Sebuah peristiwa?, Bukan!, Sebuah kisah?, Bukan juga!.
Kau tau apa?, "Aku hanya ingin bercerita, dan kau mendengarkannya". Tapi sudahlah, bolehkah aku menelpon lagi nanti?.
Aku hanya ingin sendiri.
Assalamualaikum
Refleksi Pagi
Gakpapa capek sebentar, nanti pulang kita istirahat...
Denyut pagi masih terasa, seakan langkah-langkah kecil masih berjalan di bukit kembar diantara cerita tuan Koasa. Baru saja aku bertemu mereka kemarin pagi membawa kotak makanan berisi penuh dan hampir tidak bisa ditutup. Mungkin sendok mereka terlalu besar sampai tiga tahunpun sepertinya terlalu singkat untuk tidak menghabiskannya. Tapi sekarang kotak-kotak itu sudah kosong, ada yang mereka bagi, ada yang mereka buang, dan ada yang mereka berikan, yang pasti yang aku ingat mereka tidak makan untuk sendiri. Benar-benar mereka membagi air untuk tumbuh bersama sampai akhirnya mereka terpisah di muara.
Ahhh.., Tuhan baik sekali, meninggalkan duka dan luka untuk kami, sekarang kotak-kotak itu sudah kosong, mereka sudah pergi..
Kau tau?
Pagi ini aku kembali duduk di teras, menunggu suara kaki-kaki itu lagi, biasanya ada yang melambaikan tangan dari bahwa.
Ternyata aku baru sadar kalau malam itu adalah lambaian terakhir bertemu mereka.
Tuhan baik sekali anakku..tapi ceritamu masih bersambung, dan kita harus bertemu lagi bersama tuan Koasa.
Gakpapa capek sebentar untuk bertemu, nanti pulang kita istirahat...
Ahad, 1.5.21
Wisuda SMP-SMA Dea Malela