Sekali lagi, tulisan ini seharusnya saya buat di bulan November lalu. Namun berhubung ada satu-dua keadaan, ditambah dengan kejadian hilangnya laptop, butuh waktu bagi saya untuk memulai kembali menulis di sini.
Di antara hal yang ingin saya biasakan dalam setiap tahunnya ialah mencoba merefleksikan kegiatan literasi saya. Sejak memutuskan untuk menjadikan literasi sebagai hobi, saya merasa perlu untuk membuat satu-dua tulisan berkenaan dengannya. Utamanya untuk melihat seberapa jauh saya menikmati hobi ini, dan seberapa bermanfaatnya hobi ini.
Menginjak tahun ke dua puluh dua saya diberi kesempatan untuk hidup, ketertarikan saya ke buku juga semakin dalam. Kondisi ini ditambah dengan lingkungan asrama yang memang mendukungnya. Coba saja, jika kalian menyempatkan untuk mampir ke Bentala, maka pemandangan yang pertama kali tersuguhkan adalah jajaran buku yang memenuhi dinding-dindingnya. Tak hanya secara fisik, seringkali, obrolan-obrolan yang menghiasi ruang asrama ini tak bisa lepas dari buku-buku itu. Maka tak heran, kami semua mau tidak mau menjadi dekat dengan dunia literasi.
Di tahun ini pula, secara kuantitas, koleksi buku saya meningkat dengan peningkatan yang lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Dari 162 buku yang saya miliki per 14 November 2019, meningkat menjadi 236 buku per 14 November 2020. Artinya, terjadi penambahan sebanyak 74 buku di jarak selama satu tahun tersebut. Angka tersebut lebih banyak daripada tahun sebelumnya yang “hanya” mengalami peningkatan sebesar 57 buku dalam setahun. Namun meskipun mengalami peningkatan, saya belum bisa berpuas diri. Saya teringat dengan perbincangan suatu ketika dengan Ustadz Anton di asrama mengenai koleksi buku yang beliau miliki. Beliau memperkirakan, koleksinya ada di kisaran 2000 buku, yang berarti koleksi saya sekarang kurang dari 15% dari total yang beliau miliki. Padahal, umur kami tidak begitu terpaut jauh, hanya sekitar 10 tahun. Artinya, jika 10 tahun ke depan penambahan koleksi buku saya diasumsikan ada di angka 100 buku per tahun, maka angkanya masih jauh dari jumlah yang beliau miliki di umur yang sama. Sehingga di titik ini saya merasa sedikit menyesal karena terlambat terjun ke dunia perbukuan.
Berkaitan dengan jenis buku yang saya beli, saya mencoba untuk menjadi semakin selektif dalam memilih buku. Pasalnya sederhana, keterbatasan anggaran ditambah dengan keperluan studi yang semakin mengerucut membuat saya mulai memilah-milah mana buku yang perlu saya beli dan mana yang tidak. Buku-buku seperti novel misteri mulai jarang saya beli, utamanya karena buku tipe ini jarang saya baca ulang (bahkan terakhir, saya memutuskan untuk menjual beberapa di antaranya). Sebagai gantinya, saya mulai mencoba menjajal novel dengan sastra khas Indonesia. Alasannya sederhana, keinginan saya untuk mengambil “rasa” dalam menulis bisa saya temukan di novel-novel tersebut. Kalau pun ada novel terjemahan yang saya beli, itu karena memang nilai yang terkandung di dalam novelnya lah yang ingin saya cari, bukan karena kesenangan semata.
Selain pergeseran jenis novel, semakin ke sini saya juga mencoba untuk memfokuskan koleksi buku saya ke tema-tema yang menjadi fokus studi saya ke depan. Sains, utamanya relasinya dengan agama menjadi prioritas tertinggi dari buku-buku yang ingin saya miliki. Tak lupa buku-buku sains populer terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) juga menjadi incaran. Hal ini tidak terlepas dengan kepentingan saya untuk membaca pemikiran sains yang tumbuh di masyarakat umum, mengingat KPG lah yang memimpin wacana sains saat ini --terlepas dari ketidaksetujuan saya terhadap nilai-nilai yang ada di buku terbitannya. Dengan fokus ini, saya berharap ke depannya untuk mampu berkontribusi secara total di wilayah keilmuan yang saya geluti, yakni sains.
Walhasil, atas segala perjalanan literasi saya selama setahun ini, perlu rasanya saya ucapkan alhamdulillaah, rasa syukur yang amat dalam atas segala kesempatan untuk bergelut di dunia yang sarat ilmu ini. Tinggal bagaimana konsistensi serta produktivitas dalam menghasilkan karya yang perlu ditingkatkan ke depannya. Semoga kita semua senantiasa diberikan semangat untuk belajar dan tak pernah lelah untuk mencari ilmu. Aamiin
nb: daftar koleksi buku saya dapat diakses di sini.
Yogyakarta, 29 Januari 2021
Dan Yusuf, mari kembali serius
Sebenarnya saya sudah menyiapkan tulisan yang agak panjang tentang kisah bagaimana akhirnya saya mempunyai 2 partner baru berupa HP dan laptop. Namun karena ada kecelakaan sedikit, tulisan itu akhirnya hilang -meskipun sesungguhnya tinggal dipublikasikan. Maka akhirnya saya coba sampaikan paragraf penutupnya saja.
Intinya, kita tidak akan pernah tau tentang apa yang akan kita alami. Sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi baik untuk kita, pun sebaliknya. Seperti saya yang mengalami kehilangan laptop di kala proses pengerjaan skripsi. Setelah mencoba meridai dan mengambil hikmah darinya, banyak hal baik datang bertubi-tubi hingga akhirnya sebulan setelahnya saya telah mendapatkan laptop (yang meskipun second tapi lancar jaya, bahkan mengalahkan laptop yang dicuri), dan HP baru untuk menggantikan HP lama yang sudah berumur lebih dari 4 tahun. Di titik ini, tidak ada ruang bagi saya untuk tidak bersyukur. Tinggal bagaimana ke depannya saya harus memastikan agar rasa syukur itu tereksekusi dan tidak hanya berhenti di lisan.
Yogyakarta, 13 Februari 2021
Dan Yusuf, dengan 2 partner baru
“Kau benar-benar tidak ingin menanam mawar merah?”
Siang itu angin dingin sedang berhembus, menggerakkan gantungan yang sengaja kupasang di langit-langi teras pekarangan ini, menjadikannya berdenting dan menghasilkan suara yang menenangkan. Cuaca memang sedang cerah seperti musim kemarau pada umumnya. Kombinasi antara terik matahari di siang hari ditambah dengan angin dingin yang datang memang menjadikanku tergerak untuk kembali ke tempat ini, sekadar menikmati dan mengamati perkembangan pekarangan bunga yang kutanam ini.
“Bukankah mawar sedang populer akhir-akhir ini?”
Akhir-akhir ini entah mengapa bunga mawar memang sering kulihat ada di mana-mana. Orang-orang di sekitarku berlalu-lalang membawanya, entah masih berupa benih, atau pun yang sudah mekar. Ada pula yang belum memlikinya namun menyatakan harapannya untuk segera memilikinya.
“Lantas?”
Aku? Aku memilih untuk tidak menanamnya saat ini, Tidak, bukan tidak ingin, aku menginginkannya, namun tidak saat ini.
“Mengapa?”
Pekarangan luas yang menjadi taman bunga ini memang terlihat begitu indah dari luar. Orang yang sekadar melintasinya mungkin mudah terpesona melihatnya. Namun di sisi lain, masih perlu usaha keras untuk memperbaikinya. Tak jarang, badai datang menghancurkan bunga-bunga yang sudah susah payah kutanam. Pun juga masih sering aku mengabaikannya hingga muncul rerumputan liar yang merusak keindahan pekarangan ini. Kuakui, aku memang masih harus belajar untuk merawatnya. Apalagi, saat ini aku sedang ingin menanam bunga-bunga lain, dahlia, dandelion, parsley, tulip, akasia, dan sejenisnya.
“Lantas kapan?”
Mawar merah? Bagiku, ia adalah bunga yang spesial. Ia perlu ditanam di tempat dan waktu yang tepat. Jika tidak, maka ia akan tumbuh tak terkendali, dan durinya akan melukai, tidak hanya aku, mungkin orang lain juga. Pun bahkan ketika katakanlah ada yang ingin memberikannya padaku, aku butuh waktu. Dengan kondisi pekaranganku saat ini, setidaknya paling cepat aku perlu waktu 1,5-2 tahun untuk membereskan semuanya, sampai tiba saatnya untuk menanam bunga itu. Terlebih...
“Terlebih?”
Aku teringat dengan pekarangan sebelah yang telah dipenuhi dengan buket bunga krisan...
Yogyakarta, 1 Agustus 2020
Dan Yusuf, kembali ke pekarangan
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ - ٩
“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu)“
(QS asy-Syams: 9)
Selepas salat isya’, Mas Naufa tiba-tiba bergerak menghadap ke rak asrama. Terdiam sejenak, meneliti satu per satu judul buku, beliau akhirnya mengambil salah satunya. Tazkiyyatun Nafs, begitu yang tertulis di wajah buku tersebut. Karena buku itu hanya ada satu di asrama, maka dapat dipastikan buku itu adalah buku milik saya. Melihat hal itu, tiba-tiba terlintas sejarah tentang bagaimana saya mendapatkan buku tersebut. Seingat saya, buku itu saya dapatkan ketika dalam forum kajian khusus menyambut mahasiswa baru yang diadakan Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM). Buku tersebut dibagikan secara gratis selepas acara. Jujur saja ketika itu, sebagai peminat kajian pemikiran, saya tidak begitu tertarik dengan tema-tema tentang hati. Karena bagi saya, urusan hati adalah urusan yang bisa dilatih sendiri tanpa perlu mengkajinya secara serius. Maka buku tersebut saya simpan begitu saja tanpa pernah membacanya. Hal yang ternyata saya sesali di kemudian hari.
Ingatan saya melayang kembali, kali ini ke paruh kedua tahun 2018. Saya baru menuntaskan tugas sebagai ketua RDK ketika Mas Yusuf tiba-tiba menawari saya untuk bergabung dengan liqo’-nya. Liqo’ tersebut sebenarnya adalah sisa liqo’ kepengurusan tahun sebelumnya. Tak perlu waktu lama bagi saya untuk langsung menyetujuinya, mengingat pembina liqo’-nya, Ustadz Anton, tidak lain dan tidak bukan adalah pengampu Forum Mengeja Hujan (FMH), forum yang mengupas tentang pemikiran dan peradaban di JS. Namun ternyata bayangan liqo’ yang “keren” itu sirna ketika saya mengetahui bahwa materi yang dibahas adalah tazkiyyatun nafs. Hati kecil saya sempat berkata, “Sudah susah-susah liqo dengan ustadz sekelas Ustadz Anton, kok yang dibahas tazkiyyatun nafs sih!” Tetapi berhubung saya terlanjur mengiyakan, maka saya coba untuk tetap mengikutinya.
Di pertemuan-pertemuan awal, bisa dikatakan saya kesulitan untuk mengikutinya secara sungguh-sungguh. Waktu liqo’-nya yang malam hari, ditambah dengan temanya yang menurut saya “itu-itu aja” menjadikan saya mudah mengantuk bahkan tertidur ketika liqo’ berlangsung. Belum lagi kitab rujukannya yang menggunakan teks Arab gundul membuat saya terkadang tidak bisa mengikuti materi yang sedang dibahas. Namun semakin lama, saya mulai memiliki perasaan yang berbeda.
“Bahasan ini, adek-adek sekalian. Sekalipun adalah bahasan yang sebenarnya kita semua sudah paham, tetapi penting untuk terus diulangi. Agar kita selalu merefleksikan diri kita, dan mengembalikan nafs kita kembali ke fitrahnya.” Kalimat yang diulang-ulangi oleh Ustadz Anton ini lah yang sedikit demi sedikit mulai menyentuh hati saya dan berhasil memberikan sensasi yang berbeda. Di titik ini, saya menangkap makna sesungguhnya dari tazkiyyatun nafs. Pada dasarnya, jiwa kita adalah jiwa yang suci, hati kita pun sesungguhnya adalah elemen yang bersih. Hanya saja, dosa kita lah yang menyebabkan ia terkotori dan menjadi gelap. Apabila jiwa kita mulai terkotori, maka secara alami kita akan merasakan ketidaknyamanan, yang dapat mewujud ke stress atau semacamnya. Sehingga perlu bagi diri kita untuk berusaha membersihkan jiwa kita, mengembalikan ke fitrahnya, agar jiwa kita menjadi jiwa yang tenang. Proses ini lah yang disebut dengan tazkiyyatun nafs. Tazkiyyatun nafs bisa dilakukan dengan banyak hal, dari mulai dzikir, sholat, membaca al-Quran, dan masih banyak lagi. Lebih lanjut lagi, tazkiyyatun nafs secara sederhana juga dapat diterapkan dengan mengurangi hal-hal yang bersifat duniawi, seperti makan dan tidur. Dari kesemuanya, poin yang terpenting dari tazkiyyatun nafs adalah bagaimana kita bisa melatih hati ini untuk senantiasa berada dalam ketundukkan kepada Allah Ta’ala.
Setelah menangkap makna tersebut, perlahan saya mulai berubah. Jika sebelumnya saya meremehkan persoalan yang bersifat “hati” ini, maka setelahnya saya menjadi lebih berfokus kepadanya. Maka, beragam pertanyaan mulai menghampiri. Sudahkah diri ini melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, hanya kepada-Nya? Atau jangan-jangan segala aktivitas, termasuk ibadah, mencari ilmu, bahkan “dakwah” yang selama ini dilakukan hanya berlandaskan ego pribadi? Apalah arti harta yang banyak dan ilmu yang luas ketika hati ini tidak tenang? Terlebih bukankah manusia akan mencapai tingkatan tertinggi justru ketika berada dalam ketundukan yang terdalam kepada Allah Ta’ala?
Sayangnya saat ini liqo’ tersebut sudah tidak berlanjut karena kesibukan beliau yang semakin padat, meskipun alhamdulilah, saya mendapatkan penggantinya di kelas Aqidah yang dilaksanakan di asrama dengan pembina yang sama, Ustadz Anton.
Tersenyum mengingatnya, saya akhirnya membuka buku Tazkiyyatun Nafs bersama Mas Naufa. Sampai kemudian saya baru menyadari setelah sekian lama, bahwa buku itu adalah versi terjemahan dari buku yang kami daras bersama di liqo’ yang telah saya ceritakan sebelumnya. Pada akhirnya saya terharu, karena ternyata jalan yang Allah buat begitu indahnya, begitu indahnya sampai kita tidak akan paham kapan hati kita akan dibalik untuk kembali ke jalan-Nya.
Yaa muqallib al-quluub, tsabbit qolbi ‘alaa diinik
Wahai sang pembolak-balik hati, tetapkan hatiku di atas agama-Mu
Yogyakarta, 4 Juni 2020
Dan Yusuf, dalam refleksi yang pertama
Saya menyukai kegiatan membaca tulisan pribadi milik teman-teman saya. Bukan apa-apa, hanya saja sebagai seseorang yang relatif penyendiri dan tidak banyak bicara, hal tersebut adalah cara bagi saya untuk memahami mereka. Berangkat dari tulisan tersebut, saya bisa memperkirakan seperti apa kehidupan mereka, mengerti lebih dalam tentang sifat mereka, serta yang terpenting adalah menentukan bagaimana saya bersikap kepada mereka. Nampaknya, hal ini saya dapatkan sebagai akibat dari 2 perkara yang tumbuh di dalam diri saya semenjak bangku sekolah dulu.
Perkara pertama adalah kebiasaan saya membaca novel. Kebiasaan yang saya dapatkan semenjak duduk di bangku sekolah dasar ini membiasakan saya untuk meresapi peran dari suatu tokoh, tentang konflik yang dia rasakan, dan bagaimana perkembangannya dalam menghadapi dinamika konflik yang terjadi. Maka membaca tulisan teman bagi saya sama seperti membaca novel dengan tokoh utamanya adalah teman saya itu sendiri.
Perkara yang kedua adalah tingginya perhatian saya di dunia psikologis. Entah bisa disebut pengalaman buruk atau bagaimana, di bangku SMP saya mempunyai teman dekat yang sempat memiliki ketidakstabilan psikis. Ketidakstabilan ini bahkan muncul sampai berada di tingkatan suicidal thought. Sebagai pendengar utama dari masalah yang menimpanya, tentu sedikit banyak saya belajar mengenai psikologi praktis. Hal ini selanjutnya menyebabkan saya menjadi pribadi yang suka menganalisis kepribadian seseorang, dan alasan di balik terbentuknya kepribadian tersebut. Maka karya berupa tulisan lah yang menjadi salah satu instrumen bagi saya untuk menganalisis kepribadian dari penulis.
Pada akhirnya, mengutip kata-kata Fernando Baez dalam bukunya, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, bahwa “Tulisan adalah kepanjangan dari pikiran-pikiran penulis.” Maka apa pun yang tertulis, baik itu sedikit atau banyak, serius atau pun bercanda, mampu merepresentasikan pikiran dari sang penulis. Tak terkecuali tulisanmu, iya kamu!
Langit siang itu menghitam, butiran air perlahan mulai berjatuhan, turun menghujani bumi Yogyakarta. Gelanggang mahasiswa terlihat lengang saat itu. Maklum, UAS telah lama berlalu, menyisakan insan-insan yang masih memiliki satu-dua kewajiban di kampus, atau mahasiswa yang memang sengaja tidak pulang karena satu dan lain hal. Di pojok Barat bagian gelanggang, di antara sekretariat UKM dan kafetaria, berdirilah mushola gelanggang, bangunan kecil berbahan kayu yang lebih mirip gazebo. Di lantai-lantainya, terhampar jajaran sajadah panjang berwarna merah yang sudut-sudutnya dilipat untuk menghindari tampias air hujan. Di bagian belakang, beberapa mukena terpampang sekenanya, mungkin karena penggunanya terburu-buru mengembalikan ke tempatnya. Saat itu, sholat dzuhur baru saja selesai dilaksanakan. Beberapa jamaah mencoba menerobos derasnya hujan, namun masih ada 3 orang yang memutuskan menetap sejenak di sana, termasuk aku.
Aku termenung, melihat tetesan-tetesan air yang menyentuh tanah sampai membuat genangan, yang mana di atasnya terapung daun-daun berwarna kekuningan yang telah gugur dari pohonnya karena angin dan hujan. Pikiranku berkelana menuju suatu tempat, di suatu pekarangan di mana terdapat beberapa macam tumbuhan. Tumbuhan yang sangat beragam, tumbuhan yang masing-masing memiliki sejarahnya tersendiri. Beberapa ada yang sengaja kutanam, namun ada juga yang tumbuh begitu saja. Mereka lah yang selama ini memberikan warna padaku, warna tentang “aku”. Hujan masih berlanjut, aku pun melihat sudut-sudut pekarangan itu. Kemudian aku terdiam, melihat satu jenis tumbuhan yang baru muncul. Lamat-lamat kuperhatikan, tumbuhan ini masih berbentuk seperti rerumputan, nampaknya hujan telah membuatnya tumbuh subur. Setelah kucermati lebih dalam, ada yang familiar, bentuknya mengingatkanku pada satu tumbuhan yang kupangkas tempo hari, tumbuhan yang membahagiakan namun juga menyakitkan di satu sisi. Aku pun berencana memangkasnya, namun aku kembali terdiam. “Ada yang berbeda,” bisikku. “Tidakkah kau melihat bahwa ia tumbuh dengan sangat lembut dan perlahan? Kelembutan yang tidak dimilki oleh tumbuhan-tumbuhan terdahulu yang sejenis dengannya.” Aku kembali terdiam. Ditemani suara hujan yang masih deras, aku urung memangkasnya dan hanya memperhatikan tumbuhan itu. Sampai akhirnya kuputuskan, “Biarlah, biarlah ia tumbuh secara alami, tak perlu aku merawatnya, pun tak perlu aku memangkasnya. Biarlah waktu yang akan menjawab, akankah ia menjadi kering dan mati suatu saat? Atau sebaliknya berbunga di suatu waktu yang tepat?” Entah hasilnya seperti apa, pada akhirnya aku hanya ingin berdoa, agar air hujan yang menumbuhkannya membawa rahmat padanya.
Yogyakarta, 26 Desember 2019
Dan Yusuf, yang gugur di rerumputan ketika hujan
Akhir-akhir ini, demam kopi telah melanda masyarakat, utamanya di Yogyakarta. Kedai-kedai kopi menjamur memenuhi setiap sudut kota. Dari yang berukuran besar dan relatif mahal, hingga yang berukuran minimalis dengan gaya yang sederhana. Saya pribadi pun tak lepas dari demam tersebut. Aromanya yang khas, ditambah dengan rasanya yang sedikit pahit-asam memang menarik perhatian. Maka jangan kaget jika hampir setiap hari kalian melihat saya menyeduh kopi hitam tanpa gula. Karena bagi saya, kopi adalah kawan yang pas untuk menemani kegiatan mendaras buku sekaligus menuliskan pikiran-pikiran yang sudah mulai berguguran.
Namun lebih dari sekedar kenikmatan, kopi memberikan nilai-nilai lebih yang berarti bagi saya. Sejarahnya yang tak bisa lepas dari aktivitas keilmuan para ulama membuat saya senantiasa meresapi nilai-nilai perjuangan mereka dalam setiap hirupan kopi. Maka kita perlu menanyakan pada diri sendiri, sudahkah kegiatan menghirup kopi telah memberikan segenap manfaat bagi kita? Atau jangan-jangan, kita hanya terjebak mengikut tren menikmati kopi yang berujung kesia-siaan?
Yogyakarta, 17 November 2019
Dan Yusuf, menikmati kafein
Tepat satu tahun yang lalu, saya meluncurkan daftar koleksi buku yang saya punyai. Tujuan saya sederhana, selain untuk mendata buku, daftar ini juga berguna untuk menampilkan informasi kepada orang yang ingin meminjam buku saya. Tak lupa ditambahkan pula keterangan mengenai posisi buku tersebut, apakah sedang dipinjam atau sedang menganggur di rak.
Namun ternyata, saya menemukan kegunaan lain dari daftar buku tersebut, yakni melihat pertumbuhan koleksi buku saya. Dengan fitur history di “Google Sheet”, saya coba mengecek versi bertanggal 14 November 2018, tahun lalu, Saat itu, buku yang tercantum berjumlah 108 buah. Saya coba bandingkan dengan versi saat ini yang ternyata telah mencapai 162 buah. Artinya terjadi pertambahan sebanyak 54 buah buku. Karena setahun ini saya melepas 3 buah buku (Dunia Sophie, How to Master Your Habits, dan Risalah untuk Kaum Muslimin versi repro), maka total selama setahun saya telah mendapatkan 57 buah buku, atau dalam kata lain lebih dari 1 buku per minggu. Lebih lanjut lagi, saya coba memperkirakan pengeluaran selama setahun ini di dunia perbukuan. Mengingat buku-buku saya memiliki harga yang variatif dari yang paling murah Rp10.000,00 (Membendung Arus Liberalisme), yang paling mahal seharga Rp268.000,00 (Risalah untuk Kaum Muslimin) dan jumlah buku yang berharga di atas Rp150.000,00 sangat sedikit jumlahnya, maka saya coba asumsikan harga rata-ratanya sebesar Rp70.000,00. Dengan asumsi tersebut, maka didapatkan pengeluaran untuk buku selama setahun ini kurang lebih sebesar Rp3.990.000,00, atau jika dibulatkan menjadi senilai 4 juta rupiah. Jika dianalisis lagi, nilai tersebut setara dengan 47% dari total beasiswa bidikmisi yang saya terima per tahun,
Pertanyaan pun menghinggapi otak saya pagi ini, dengan anggaran sebesar itu sudahkan saya mendapatkan hal yang sebanding? Apakah pengeluaran itu benar-benar bermanfaat dan tidak menjadi sia-sia belaka? Saya terdiam dan tidak bisa menjawabnya dengan yakin. Namun satu refleksi yang saya coba renungi pagi ini, bahwa setidaknya saya yakin pengeluaran tersebut tidak akan sia-sia, karena apa yang saya dapatkan bukan kenikmatan sesaat, namun investasi masa depan. Maka di titik ini, saya kembali mengazamkan diri untuk senantiasa mendaras buku-buku tersebut, menyibukkan diri di dunia literasi sambil sesekali menelurkan karya-karya tulis buatan pribadi. Agar kelak, saya bisa membuktikan bahwa pengorbanan yang saya lakukan ini tidak sia-sia.
Yogyakarta, 14 November 2019, 04.28
Dan Yusuf, membaca Dua-Satu