"Rasa tidak pernah salah, ia hadir bukan tanpa sebab, dan kamu bertugas mengendalikannya dalam koridor taat"
Kalimat itu pernah saya baca dalam sebuah buku. Buku yang sempat mikir ngapain beli ini, berasa jadi remaja awal yang sedang jatuh cinta, tahu-tahu sekarang merasa sangat berterima kasih kepada penulisnya karena buku itu ada.
Perihal rasa, adalah sesuatu yang manusiawi dan pasti dirasakan oleh siapapun. Namun menjadi sebuah masalah jika ternyata tidak mampu menyikapinya dengan bijak.
Sebut saja cinta adalah perjalanan sekaligus pelajaran. Perjalanan tempat kita saling menemukan, pelajaran tempat kita saling mendewasakan. Siapa yang bisa menebak kejadian yang akan datang? Begitulah sebuah perasaan, kita tidak bisa memprediksinya dengan tepat. Hari ini bisa benci, besoknya bisa suka. Selemah itu hati manusia.
Atas dasar ilmu karena tidak ingin jatuh terlalu dalam, Saya seringkali menyangkal dengan hadirnya rasa tersebut. Menyakinkan ke diri bahwa itu tidak mungkin, terlebih jika ternyata sosoknya jauh dari bayangan kriteria impian pada awalnya. Akibatnya terjadi penyiksaan batin.
Teman saya mengatakan apa sulitnya mengakuinya jika itu memang benar, perasaan itu jika ingin diajak kompromi harus diakui, tidak apa-apa. Ujian manusia salah satunya mengendalikan perasaannya ke arah yang benar.
And then, berdamai dengan diri, mengakuinya dan memohon petunjuk kepada-Nya. Menyadari, merenungkan dan menemukan kuncinya bahwa apa-apa yang hadir sebenarnya akibat dari tingkah yang kadang menganggap biasa sebuah dosa. Astaghfirullah :(
Setelah proses penerimaan, saya jadi sadar bahwa dalam fase kelalaian tersebut karena sedang jauh dari-Nya. Hati manusia yang sangat lemah akan semakin lemah jika semakin menjauh dari-Nya. Betapa 2021 ini sejak juni banyak sekali cara Allah ‘berbicara’ kepada hamba-Nya yang jahil dan lalai ini.
wahai Zat yang Maha Membolak Balikkan hati, tetapkan lah aku pada iman islam-Mu dan genggam lah hati ini untuk selalu mengingat-Mu bukan ciptaan-Mu.
Dan nyatanya hidup jauh lebih tentram dan damai ketika kita menjadikan hari hari hanya bergantung kepada-Nya. Tidak ada proses singkat untuk keluar kecuali terus berdoa dan berusaha. Sulit? Sudah pasti! Entah sudah berapa banyak tangis yang pecah akibat penyesalan. Pertanyaan yang sama hampir tiap hari menghampiri pikiran. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas diketahui dan berseberangan dengan value sebenarnya.
Kilas balik, Sejak awal tahun setelah membuat IDP saya menuliskan salah satu goals yang akan diusahakan untuk tahun ini, apa yang saya alami hari ini adalah salah satu jawaban dari goals yang pernah saya tuliskan dalam IDP tersebut. Januari-mei saya cukup disibukkan dengan penelitian tugas akhir, alhamdulillah berujung bahagia karena mei dinyatakan lulus sidang. Ramadhan di bulan april entah berapa kali saya merapal doa terkait arah karir setelah lulus. Berkontemplasi mau jadi apa setelah ini, bukannya dulu di sesi interview sudah sangat jelas kenapa sekarang malah berbalik arah. Dan berbagai pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiran. Lalu mengerucut kesatu tujuan dan itulah yang terus dipinta. Gayung bersambut, Allah seketika menjawab doa-doa tersebut. Tidak pernah tertebak sama sekali jalannya seperti ini. Lalu ngebatin, ini hadiah atau ujian?
Di tengah kebimbangan, kembali mengingat bahwa selalu libatkan Allah dalam setiap urusan. Ketuk semua pintu yang ada, lalu biarkan Allah menyapa kita dengan rencana terbaik-Nya.
Pada akhirnya mau bersama dengan siapapun jika Allah tak ridho maka tak akan terjadi. Berdamai dengan diri, berterima kasih ptelah mau diajak berjuang melewati fase ini. Berterima kasih ada pelajaran perasaan yang berulang kali dengan hikmah dan pelajaran yang berbeda. Mendoakan yang terbaik, bukan kah pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan yang memiliki tujuan yang sama?
Memaknai perasaan selalu banyak hal yang tidak terduga di dalamnya. Dan Selalu kagum dengan cara-Nya membuat seseorang jatuh cinta. Hal ini lebih rumit lagi. Bagiku, ia seperti sebuah wadah percobaan mengenal makhluk yang berbeda sudut pandang tapi melebur atas nama cinta. Cinta memang se dahsyat itu menyatukan semuanya. Segalanya jika dikaitkan cinta (apalagi cinta karena-Nya) hasilnya entah mengapa selalu diluar prediksi. Unpredictable.
Selamat belajar wahai diri!